![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
Ling Qing Zhu memperhatikan pemuda di hadapannya. Dia teringat pada wajah kecil dan menggemaskan seorang anak laki-laki. Sosok dengan pipi putih dan ditaburi rona kemerahan alami. Anak itu mempunyai bulu mata hitam yang panjang dan tebal, dia memiliki garis bibir berwarna merah muda dan sangat menawan.
Saat ini di hadapannya, garis-garis wajah itu tidak jauh berbeda dari yang pernah dirinya lihat. Ling Qing Zhu berekspresi tenang, namun sejujurnya dia sangat gugup sekarang ini.
Sambil menarik napas dalam-dalam, tangan Ling Qing Zhu terulur dan menyentuh lembut pipi pemuda di hadapannya. Tindakan ini membuat sosok yang menawan itu tersentak dan berkedip beberapa kali.
Tanpa nada, Ling Qing Zhu berkata. "Aku tidak pernah menuntut hak apa pun darimu. Aku sangat tahu dan mengerti dengan benar bahwa kita tidak bisa seperti pasangan yang lain pada umumnya. Aku tidak menikahi pendekar biasa, tapi seorang Xiao Shuxiang."
Ling Qing Zhu berujar pelan, "Selama ini kita berdua saling menjaga jarak. 'Dekat... Tapi tidak boleh terlalu dekat.' Aku tahu alasannya. Kau dan aku tidak ingin menjadi kelemahan bagi satu sama lain,"
Tangan Ling Qing Zhu kembali menepuk pelan tangan pemuda di hadapannya dan berkata, "Ada orang-orang yang mengincar kelemahan orang lain untuk menyerang. Bagi dunia, tentu tindakan tersebut adalah pilihan yang pengecut. Tapi perlu diingat bahwa dalam sebuah perang, tidak ada aturan apa pun."
"Kekhawatiranmu..." Ling Qing Zhu berujar, "Aku sangat menghargainya. Tapi aku sungguh baik-baik saja. Di saat semacam ini... Aku tidak memikirkan apa-apa selain bagaimana aku bisa membantumu menghadapi semua masalah yang ada. Sementara hubungan yang ada di antara kita... Biarkan berjalan dengan perlahan."
"................" Xiao Shuxiang memperhatikan gadis di hadapannya dan mengembuskan napas. Dia tersenyum lembut dan berkata, "Saat berbicara denganmu... Rasanya kau lebih dewasa daripada aku."
"Orang bilang saat seseorang berumur, mental mereka akan kembali pada anak-anak. Kupikir, itu yang sedang terjadi padamu."
Xiao Shuxiang terperangah, dia tidak percaya bisa mendengar ini dari Kucing Putihnya. Dia pun langsung protes dengan berkata, "Memang aku sudah setua apa? Oh, ya ampun. Nona, perhatikan baik-baik. Apa suamimu yang luar biasa ini terlihat seperti tua bangka bau tanah?"
Ling Qing Zhu tertawa kecil, tindakannya membuat Xiao Shuxiang terlonjak. Pemuda menawan itu terkejut bukan main dan bahkan sampai terbata saat berkata, "Ka-kau..! Apa kau baru saja tertawa?"
"Tidak," suara Ling Qing Zhu tenang, tetapi masih ada tanda-tanda yang membuktikan bahwa penglihatan Xiao Shuxiang yang sebelumnya tidak salah.
"Kau monster," Xiao Shuxiang syok dan berujar, "Jelas-jelas aku melihatmu tertawa."
"Tidak mungkin. Kau pasti salah lihat,"
"Kau berbohong..! Kau tidak bisa menipuku, Kucing Putih." Xiao Shuxiang memperhatikan gadis di depannya dan mendesis, "Sh... Aku jadi berpikir... Apa kau benar-benar Kucing Putihku?"
"............ Entahlah. Sebaiknya kau berhati-hati, bisa saja aku orang lain." Ling Qing Zhu bangun dari tempat duduknya dan berjalan ke sisi tempat tidur yang lain. Dia dengan tenang berbaring di samping Lan Xiao dan membuat Xiao Shuxiang tertegun.
"Aiya, dia selalu punya kejutan." Xiao Shuxiang menyilangkan tangan dan menatap ke arah Kucing Putihnya tersebut.
"Matikan lampunya jika tidak ada yang akan kau lakukan," Ling Qing Zhu berujar tanpa membuka matanya. Dia berbaring dengan satu tangan yang memegang Baiyi.
Xiao Shuxiang menarik napas dan juga mulai ikut berbaring. Dia melihat Lan Xiao yang tertidur sangat pulas, tepat di antara dirinya dan Ling Qing Zhu. Dia pun lalu mengarahkan pandangannya pada gadis berambut putih itu dan mulai buka suara.
Xiao Shuxiang berujar pelan, "Kau yakin akan tidur? Aku masih ingin bicara denganmu,"
"............ Kau sudah melakukan banyak hal dan pasti lelah. Jadi istirahatlah. Kita akan bicara besok,"
Xiao Shuxiang mengibaskan tangan dan lilin yang menjadi penerang di kamar ini mulai padam. Dia menatap langit-langit kamarnya yang gelap sambil berpikir. Ada banyak hal yang terjadi belakangan ini dan benar ucapan Kucing Putihnya, dia memang agak kelelahan.
__ADS_1
*
*
Di tempat lain, Lan Guan Zhi pun terlihat akan beristirahat. Sebelumnya menemui Patriarch Lan Xu Jian karena XiongZhang-nya tersebut membawa kabar bahwa GrandElder Sekte Pedang Langit dan Alkemis Zhou Yan sudah kembali.
Tetua Besar Sekte Pedang Langit mengadakan pertemuan dengan para guru. Lan Guan Zhi sendiri diminta datang sebab dia merupakan sosok penanggung jawab atas pemberian hukuman para murid di sekte ini sekaligus fakta bahwa dia adalah GrandElder masa depan tempat ini.
Feng Ying ikut dengan Lan Guan Zhi walau dia tidak turut terlibat dalam pertemuan itu. Feng Ying hanya duduk di atap bangunan sambil melihat keindahan bintang di atas sana dan menunggu sampai pertemuan selesai.
Sesuatu yang dibahas oleh GrandElder dan yang lainnya adalah tentang pemindahan Sekte Pedang Langit. Sebuah tempat bernama Shén yún shān [神云山] atau Gunung Shenyun.
Lokasi itu berada di tempat yang jauh dari kehidupan para manusia awam. Wilayahnya masih berada di Kekaisaran Matahari Tengah, namun otoritas kekaisaran tidak terikat dengan tempat ini. Gunung Shenyun merupakan salah satu tempat suci dan dihuni oleh anggota klan Lan.
".................."
Lan Guan Zhi tidak bisa beristirahat dengan tenang malam ini. Dia terus memikirkannya dan belum menemukan solusi yang tepat dari permasalahan yang ada.
Sekte Pedang Langit yang diketahuinya menerima murid tanpa memikirkan marga mereka. Sementara sekte yang berada di Gunung Shenyun lebih dominasi oleh klan Lan.
Ciri dari Sekte Pedang Langit adalah pakaian putih dengan corak gelombang air dan sebuah pita dahi. Untuk Lan Guan Zhi dan Patriach Lan Xu Jian sendiri, pita dahi mereka mempunyai corak yang serupa dan ini hanya ada pada anggota inti klan Lan. Di sisi lain, murid yang tidak berasal dari klan tersebut menggunakan pita dahi yang polos tanpa corak apa pun.
".................."
Lan Guan Zhi tidak bisa tidur. Dia mempunyai tanggung jawab untuk membuat keputusan yang paling bijaksana. Sekte Pedang Langit didirikan di Kota Bintang Biduk, dekat dengan kehidupan manusia awam sehingga jika mereka dalam kesulitan---maka murid sekte ini bisa dengan mudah membantu.
Namun jika Sekte Pedang Langit dipindahkan, lantas siapa yang akan mendengar keluhan dan membantu mereka yang kesulitan? Dan bahkan meski demonic beast tidak datang menyerang sesering dahulu, namun tetap saja masih banyak bahaya yang mengincar.
Lan Guan Zhi tahu bahwa para guru dan juga Patriarch serta GrandElder saat ini sedang ikut berpikir. Mereka memang harus membuat pertimbangan yang benar-benar matang dan tidak merugikan pihak mana pun. Mereka harus bisa membuat keputusan malam ini juga.
Benar apa yang dipikirkan oleh Lan Guan Zhi. Saat ini di dalam kediaman Patriarch Ketiga Sekte Pedang Langit---Feng Ying bisa melihat Alkemis Zhou Yan duduk di depan kertas kanvas dengan alat lukisan di sampingnya.
Sudah lama dia memperhatikan sosok bercadar tebal tersebut duduk dengan pandangan yang mengarah pada kanvas kosong di depannya. Dia menarik napas dan berjalan membawakan teh untuk alkemis yang terkenal sangat hebat ini.
!
Feng Ying berkedip saat mendengar helaan napas Alkemis Zhou Yan. Dia menuangkan teh untuk sosok ini, namun tidak mengatakan apa-apa. Selama tinggal di tempat ini, Feng Ying memang tidak pernah mengajak sosok bercadar tebal ini berbicara. Dia selalu merasa canggung berada di dekat Alkemis Zhou Yan, bahkan di masa lalu pun tetap seperti ini.
"Bagaimana pelajaranmu?" Alkemis Zhou Yan tiba-tiba buka suara, nadanya terdengar tenang.
".............. Baik," Feng Ying menjawab seadanya.
"Kudengar Xiao Shuxiang kembali. Apa anak nakal itu mengunjungimu?"
__ADS_1
"............. Tidak. Aku bertemu dengan Saudara Xiao saat membantu murid Sekte Pedang Langit."
"Di mana dia sekarang?"
"Mungkin ada di Sekte Kupu-Kupu,"
"Jika bertemu dengannya, suruh dia datang mengunjungiku."
"............. Baik," Feng Ying hendak berjalan pergi, namun langkahnya terhenti saat ada di bibir pintu. Dia pun menoleh dan menatap alkemis Zhou Yan.
Feng Ying buka suara, "Patriach. Apa Sekte Pedang Langit... Akan dipindahkan?"
Alkemis Zhou Yan menoleh saat mendengar pertanyaan pemuda ini. Dia bernapas pelan dan lantas bertanya, "Bagaimana menurutmu? Apa lebih baik jika dipindahkan?"
Feng Ying tersentak melihat bahwa Alkemis Zhou Yan menatap ke arahnya. Dia bernapas pelan dan kemudian berkata, "Aku tidak tahu apa itu adalah pilihan yang tepat. Tapi jika Sekte Pedang Langit dipindahkan, bukankah warga Kota Bintang Biduk bisa dalam bahaya setiap saat?"
"Kan masih ada kau,"
"Aku?" Feng Ying berkedip. "Maksud Patriach.."
"Meski Sekte Pedang Langit dipindahkan, aku tetap akan di sini. Tentu bila kau ingin tinggal bersamaku, aku tidak akan melarang. Tapi jika kau ingin pulang ke sektemu, aku pun tidak akan menghalangimu."
Feng Ying memperhatikan sosok bercadar tebal di hadapannya. Dia sudah lama tinggal di tempat ini, bahkan bisa dikatakan dirinya tumbuh besar dalam pandangan Alkemis Zhou Yan dan sosok ini merupakan orang yang dia hargai seperti Saudara Xiao-nya.
Feng Ying menarik napas dan berkata, "Aku sebenarnya khawatir karena Patriarch tidak pernah bisa istirahat dengan baik. Namun jika hanya kita berdua yang tetap tinggal... Tidakkah itu terlihat begitu sombong?"
"Aku cukup percaya diri. Apa kau meragukan pelatihan yang kuberikan padamu?"
"Tidak. Maksudku tidak seperti itu," Feng Ying berkata, "Aku sebenarnya memikirkan... Bahwa alasan seseorang menjadi pendekar adalah untuk menolong dan melindungi orang-orang. Namun jika para murid Sekte Pedang Langit pergi dan hanya fokus pada kultivasi mereka, maka saat mencapai tingkatan yang tertinggi sekalipun.... Rasanya kemampuan itu tidak akan berguna."
"Aku berlatih kultivasi tidak untuk menjadi abadi atau lebih kuat daripada siapa pun," Feng Ying berkata, "Aku ingin bisa menjadi orang yang bermanfaat dan menggunakan bakat yang kumiliki untuk melindungi banyak orang. Ini... Memang terdengar seperti impian yang naif, tapi selama ini rasanya... Sangat jarang kultivator mempunyai impian ini."
"Tentu saja," Alkemis Zhou Yan meminum teh miliknya dan berkata, "Jarang orang yang mempunyai impian yang sama sepertimu. Apa kau tahu alasannya? Karena itu adalah impian yang berat."
"Saat kau lemah, kau bermimpi untuk menjadi kuat dan melindungi orang yang paling kau kasihi." Alkemis Zhou Yan menghela napas dan berujar, "Namun saat kau menjadi kuat, maka kau akan mulai dipenuhi ambisi untuk meraih puncak tertinggi hingga melupakan alasanmu berjuang. Dan saat kau sadari... Semuanya sudah terlambat. Aku melihat... Banyak dari kultivator yang mengalami hal ini."
Alkemis Zhou Yan melanjutkan, "Menjadi orang yang benar-benar baik bukanlah perkara mudah. Kebaikan... Selalu berada di atas jalan yang sulit. Sementara saat kau ingin bertindak sebaliknya, melakukan kejahatan atau hal buruk apa pun---tidak akan ada rintangan apa pun yang menghalangimu. Itulah mengapa ada pepatah yang mengatakan, 'Dunia ini lebih banyak di dominasi oleh orang-orang yang buruk.'"
"..................."
Meski tidak pernah melihat rupa asli dari Alkemis Zhou Yan, namun Feng Ying masih bisa merasakan emosi dalam tatapan mata dan suara yang tenang itu. Dia merasakan sebuah kekecewaan yang sepertinya ditujukan pada seseorang.
Feng Ying diam-diam menurunkan pandangan dan mengepalkan kedua tangannya. Dia memejamkan mata sejenak sebelum mulai menarik napas.
__ADS_1
******