KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]

KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]
169 - Pertimbangan


__ADS_3

Tetua Wang Haoran dan tetua lainnya menunggu jawaban dari Xiao Shuxiang. Mereka sebenarnya tahu, pemuda ini pasti sangat syok. Siapa pun tentu tidak membayangkan dapat ditawari dengan kesempatan langka seperti ini.


"Bagaimana, Nak?" Tetua Chen Duan Shan bertanya. Dia merasa bahwa pemuda di hadapannya ini terlalu banyak berpikir, padahal apa yang ditawarkan sama sekali tidak merugikan.


".......... Aku sebenarnya tidak tahu harus mengatakan apa dan tidak tahu caranya memberikan respon.." Xiao Shuxiang berujar pelan. Dia berkata, "Aku tidak ingin menyinggung para Tetua, tetapi .... Apa yang para Tetua lihat dariku hingga aku diberi kesempatan berguru pada kalian? Kupikir, tidak ada kultivator lain yang mendapat perlakuan semacam ini sebelumnya,"


Tetua Besar dari Sekte Bunga Surgawi, yakni Huan Gui Fei berkata. "Bukankah kau sendiri bisa memikirkannya?"


Xiao Shuxiang mengembuskan napas, dia dengan tenang berkata. "Memang benar aku mempunyai segel yang seperti dikatakan oleh Tetua Besar Shang. Aku memiliki kekuatan yang tidak terkendali. Namun jika dengan belajar di bawah naungan para Tetua bisa membuatku mengendalikan kekuatan ini, maka itu pasti akan sangat baik."


"Aku tentu akan membantumu," Tetua Besar Shang berujar. "Kau bisa berlatih di bawah bimbingan kami, tidak perlu merasa ragu."


"Ini kesempatan yang memang ingin diberikan para Tetua padamu," Tetua Meng Hao Niang mengembuskan napas, "Kau tidak perlu khawatir atau merasa terbebani. Jika selama bimbingan kau menjadi tidak nyaman atau sesuatu yang terasa tidak sesuai dengan keinginanmu, maka kau bisa berhenti. Kami tidak akan memaksa, namun kau harus serius untuk memikirkan tawaran ini."


Tetua Chen Duan Shan dan Tetua Wang Haoran mengangguk pelan. Keduanya juga mengutarakan pendapat yang sama dan sama sekali tidak memberi paksaan pada Xiao Shuxiang. Mereka memberikan pilihan, tetapi tentu jika pemuda ini tidak mau menerimanya----maka itu akan jadi kerugian yang besar.


Xiao Shuxiang menarik napas dan lalu mengangguk pelan, "Aku berterima kasih. Tetapi ini memang sesuatu yang sangat mengejutkan. Aku minta maaf karena tidak bisa memberikan jawaban saat ini. Apa .... Boleh jika aku memikirkannya baik-baik terlebih dahulu?"


"..............."


Jika yang ditawari adalah kultivator lain, maka orang itu pasti tidak akan menolak bahkan tidak akan meminta waktu untuk berpikir. Kultivator itu pasti akan langsung setuju dan mengangguk tanpa berkedip, sangat berbeda dengan Xiao Shuxiang.


Tetua Chen Duan Shan mengangguk pelan, "Tentu saja kau bisa memikirkan dan mempertimbangkannya baik-baik. Jika kau sudah membuat keputusan, kau bisa langsung menyampaikannya pada Tetua Meng."


"......... Mn, terima kasih." Xiao Shuxiang tidak menyangka akan mendapat respon sebaik ini. Padahal dia sempat berpikir akan berakhir dengan didesak.


Cukup lama Xiao Shuxiang bersama para Tetua itu. Dia ditanyai tentang bagaimana hidupnya berjalan di Alam Kultivasi Bawah dan Xiao Shuxiang menjawab dengan gayanya sendiri.


Pemuda mempesona itu menjelaskan tentang hidupnya di Benua Tengah yang hanya bertualang ke sana kemari dan juga mengunjungi Penginapan Seribu Tahun milik temannya, Nie Shang.


Xiao Shuxiang juga mengeluhkan aturan Sekte Pagoda Langit yang sangat ketat, bahkan mengadukan sifat dingin dari Kucing Putihnya. Dia menceritakan banyak hal-hal umum, tetapi sama sekali tidak menyinggung kehidupannya di Benua Timur.


Yang paling membuat para Tetua kaget sampai memberi Xiao Shuxiang tatapan tidak percaya adalah saat pemuda itu berkata paling menyukai berkunjung di rumah Bordil. Tetua Meng Hao Niang sampai tersedak arak yang diminumnya karena ucapan tersebut.


Di saat itu juga, Xiao Shuxiang langsung mendapat ceramahan dari Tetua Besar Chen Duan Shan dan para tetua yang lain. Pemuda mempesona tersebut seakan berhasil memancing protes para Tua Bangka yang tidak pernah sekali pun menginjakkan kaki ke tempat di mana 'Kesenangan Dunia' berada.


Xiao Shuxiang baru bisa keluar dari ruangan itu setelah empat jam berlalu.


*


*


Dalam perjalanan ke kamarnya kembali, Xiao Shuxiang terlihat berjalan pelan dan sampai berpegangan pada dinding di sekitarnya. Kaki dan bokongnya benar-benar mati rasa.


"Shuxiang,"


Xiao Shuxiang tersentak. Dia melihat seorang pemuda berpakaian serba putih dengan pita dahi berjalan ke arahnya. Dia sangat mengenal pemuda tampan itu.


"......... Lan Zhi,"


"Kau kenapa?" Lan Guan Zhi bertanya ketika telah berada di dekat teman baiknya.


"Bokongku pegal karena terus duduk. Haiih... Ini menyebalkan," Xiao Shuxiang mengeluh. Dia baru akan bicara kembali saat tiba-tiba dikejutkan dengan tindakan teman baiknya.

__ADS_1


Segera, Xiao Shuxiang spontan menepis tangan Lan Guan Zhi dan menatap horor pada pemuda di dekatnya. "Kau mau melakukan apa, Lan'Er?"


".......... Membantumu meringankannya,"


"Lan Zhi..! A-aku tidak butuh bantuan yang seperti itu, Kawan." Xiao Shuxiang nampak syok berat, "Bokongku tidak perlu perlakuan khusus darimu, oke?"


"Lalu kenapa mengeluh padaku?" Lan Guan Zhi tanpa nada bertanya. Dia membuat Xiao Shuxiang kembali tersentak.


"Karena kau bertanya, makanya kujawab! Apa aku salah?"


"......... Mn, tidak." Lan Guan Zhi sekarang tidak dalam suasana hati ingin mendebat teman baiknya. Dia memegang lengan Xiao Shuxiang dan membantu pemuda itu berjalan.


Xiao Shuxiang tidak menolak bantuan temannya. Dia bahkan kembali berkata, "Jika bisa memilih. Aku lebih suka bila harus bertarung sehari semalam tanpa henti daripada harus duduk di kursi kayu selama berjam-jam,"


Xiao Shuxiang bertanya, "Lan Zhi. Apa kau tidak pernah kesulitan jika harus duduk selama empat jam lebih, huh?"


".......... Mn, tidak."


"Hmph, stamina murid Sekte Pedang Langit memang mengerikan."


"..............." Lan Guan Zhi bernapas pelan sebelum berkata, "Kau punya stamina yang hebat ketika bertarung. Tapi kenapa saat duduk malah tidak bisa?"


"Karena kakiku tidak diajari untuk diam." Xiao Shuxiang menjawab, "Kakiku ini diajari untuk mendobrak pertahanan lawan dan menginjak-injak tubuh mereka, sangat jauh berbeda darimu atau pun Kucing Putih."


"........... Maka kau harus belajar duduk tenang seperti nona Ling,"


"Itu siksaan! Tidak mau," Xiao Shuxiang menolak dengan keras. Dia protes sambil terus dituntun oleh Lan Guan Zhi, meski pegal pada bokongnya secara berangsur-angsur mulai menghilang.


"..............."


Beberapa murid yang berlalu-lalang terlihat mengerutkan kening saat menyaksikan betapa dekatnya Xiao Shuxiang dengan sosok Lan Guan Zhi.


Mereka jadi bertanya-tanya tentang hubungan kedua pemuda itu. Tidak sedikit yang mengira bahwa Lan Guan Zhi dengan Xiao Shuxiang adalah Kakak dan Adik angkat. Sementara ada juga yang melihat hubungan kedua orang itu dari sisi yang lebih unik.


"A-Yuan?"


Lan Guan Zhi dan Xiao Shuxiang menoleh saat mendengar suara asing yang cukup dekat dengan mereka. Keduanya lantas melihat Tetua Jing Yufeng yang berjalan dengan tangan kanan yang memegang kipas putih berada di belakang pinggang.


"......... Paman," Lan Guan Zhi dengan sopan memberi hormat pada Tetua Jing Yufeng yang dibalas senyuman ramah oleh tetua Istana Seribu Pedang itu.


"A-Yuan, tidak biasanya kau terlihat sesenang ini. Apa mungkin karena kehadiran Tuan Muda Xiao?"


Xiao Shuxiang tersentak mendengar ucapan Tetua Jing Yufeng. Dia sampai berkedip dan memperhatikan Lan Guan Zhi dengan saksama.


Dari yang terlihat, ekspresi wajah teman baiknya tetap tenang dan datar. Sama sekali tidak memperlihatkan wajah yang diliputi kesenangan. Jadi bagaimana bisa Tetua Jing Yufeng tahu Lan Guan Zhi sedang merasa 'Senang' saat ini?


Xiao Shuxiang menggeleng pelan dan seolah berusaha mencerna situasinya. Dia menatap Tetua Jing Yufeng dan kemudian bertanya, "Tetua? Siapa 'A-Yuan' yang kau maksud ini?"


"Mn?" Tetua Jing Yufeng mengerutkan kening dan menggunakan tatapan matanya untuk menunjuk Lan Guan Zhi. Dia membuat Xiao Shuxiang tersentak sampai tidak sadar membuka mulutnya.


"Lan Zhi..." Xiao Shuxiang menatap teman baiknya dan seakan hendak melakukan konfirmasi pada sesuatu.


Lan Guan Zhi bernapas pelan dan dengan tatapan yang teduh di berkata, "Yuan merupakan nama kecilku."

__ADS_1


Xiao Shuxiang tersentak, "Benarkah?! Kenapa aku bisa tidak tahu?!"


"Tidak ada yang pernah menyinggungnya dan kau pun tidak bertanya."


"Ah .... Sepertinya aku memang tidak pernah memikirkan hal sedetail ini sebelumnya." Xiao Shuxiang mengulum senyum dan berkata, "Tapi kau cocok dengan panggilan itu. Mulai sekarang, aku pun akan memanggilmu 'A-Yuan',"


Lan Guan Zhi tersentak, namun ekspresi wajahnya tetap sama. Dia jelas melihat senyuman aneh dari teman baiknya itu dan merasa bahwa Xiao Shuxiang kini sedang menggodanya.


Lan Guan Zhi bersuara dingin, "Tidak perlu lakukan itu."


"Kenapa?" Xiao Shuxiang berekspresi polos, dia pun tersenyum. "Memanggil dengan nama kecil akan membuat kita semakin dekat. Aku juga akan memberitahukan nama kecilku, hm? A-Yuan,"


"..............." Lan Guan Zhi menahan napas dan lalu membalas ucapan pemuda di dekatnya. Dia berujar dengan nada yang membuat Xiao Shuxiang kaget karena merinding.


"A-Xiang,"


"Lan Zhi..!"


Tetua Jing Yufeng sampai tersentak dan berkedip beberapa kali. Panggilan Lan Guan Zhi pada Xiao Shuxiang sungguh bisa menggetarkan hati. Dia bahkan sampai tidak ragu bila menyebutnya sangat intim.


Lan Guan Zhi mendengus pelan melihat reaksi teman baiknya, "Aku menang lagi."


"Jadi kau baru saja balas dendam padaku?" Xiao Shuxiang menggeleng dan berdecak pelan, "Wah .... Luar biasa. Aku memang tidak bisa mengalahkan candaan anak muda zaman sekarang,"


"Kini kau bersikap seperti orang tua,"


"Lan Zhi, kau mulai lagi---"


"Kalian berdua ini mesra sekali," Tetua Jing Yufeng menyela dan akhirnya buka suara, "Aku sampai tidak tahu harus berekspresi seperti apa melihat kalian."


"Tetua Jing, tolong jangan katakan hal aneh-aneh semacam itu." Xiao Shuxiang geli mendengarnya, "Aku tidak mau lagi pertemananku dengan anak ini kembali disalah-pahami,"


"Mereka hanya menggodamu. Tidak ada yang serius menanggapi hubungan di antara kalian. Semua orang tahu kau teman baik A-Yuan," Tetua Jing Yufeng tersenyum. Dia membuat Xiao Shuxiang tersentak.


"Tetua Jing ...." Xiao Shuxiang berkedip,


"Yah .... Kurasa A-Yuan cukup sering membahas tentangmu kepadaku," Tetua Jing Yufeng mengusap pelan dagunya, "Awalnya kupikir dia sedang merindukan kekasihnya, tapi ternyata orang bernama 'Shuxiang' adalah laki-laki."


"Tetua Jing," Xiao Shuxiang menahan diri untuk tidak berseru. Dia pun berkata, "Apa Tetua berpikir 'Shuxiang' itu perempuan? Aku ini laki-laki tulen, tahu. Anak ini sudah menganggapku 'Kakeknya',"


Xiao Shuxiang memberikan penekanan pada kata terakhir yang dia ucapkan. Dirinya melanjutkan sambil menatap Lan Guan Zhi, "Itulah kenapa orang ini sangat perhatian padaku. Di matanya mungkin aku adalah Tua Bangka yang perlu diurus dengan sangat baik,"


".......... Mn, bukan." Lan Guan Zhi tidak berpikir demikian.


"Lalu? Kenapa kau sangat perhatian padaku?"


"........... Kau ingin aku mengatakannya?"


Xiao Shuxiang tersentak, "Tidak perlu! Aku bisa merasakan kau akan membuat harga diriku jatuh lagi,"


"Mn, baiklah." Lan Guan Zhi tersenyum samar.


Xiao Shuxiang sendiri sepertinya sudah menyerah untuk berurusan dengan hal semacam ini dengan Lan Guan Zhi. Itu karena semakin dia membalas teman baiknya, justru dirinya-lah yang akan makin di posisi tidak menguntungkan.

__ADS_1


Xiao Shuxiang mengembuskan napas dan berbicara cukup lama dengan Tetua Jing Yufeng sebelum akhirnya dia diantar oleh teman baiknya kembali ke kamar.


******


__ADS_2