![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
Xiao Shuxiang terdiam sejenak sebelum mulai angkat bicara, dia menyentuh bibirnya dan dengan tatapan polos berkata. "Tetua Jiao Feng, Apa menurutmu aku bisa memberikan serangan se-fatal itu pada tiga muridmu secara langsung? Mungkinkah aku bisa menghadapi tiga orang secara sekaligus tanpa... Ikut terluka parah?"
!!
Liu Wei Lin dan Jiao Feng terkejut saat mendengar ucapan Xiao Shuxiang barusan. Keduanya saling berpandangan dan memikirkan apa yang mereka dengar ini. Perkataan Xiao Shuxiang jelas sangat benar.
Liu Wei Lin memang tidak mendengar ada kabar bahwa teman barunya terluka parah. Selama ini pun, dia melihat Xiao Shuxiang justru bekerja seperti biasa.
"Tetua Jiao..." Liu Wei Lin menatap dalam ke arah pria yang berdiri di sampingnya.
Jiao Feng sendiri memandang ke arah Xiao Shuxiang, "Jujur... Melihat praktik kultivasimu ini----aku tidak akan percaya kau bisa membuat ketiga muridku terluka separah itu, tapi Ye Qin Jiu menyebutkan bahwa kaulah pelakunya. Bagaimana kau bisa menjelaskan ini?"
"Tetua Jiao, kultivator dengan praktik yang kuat bisa saja kalah jika dia terlalu meremehkan lawannya yang terlihat lebih lemah. Aku mengaku pernah bertemu dengan ketiga muridmu, tapi merekalah yang lebih dahulu menyerangku. Aku sama sekali tidak tahu apa masalah mereka hingga melakukan itu. Aku sendiri tidak pernah menganggu siapa pun. Tapi jika membuat mereka sampai terluka parah... Tetua Jiao bisa memikirkannya sendiri, apa aku sungguh dapat melakukannya?"
"Itu pasti tidak mungkin," Liu Wei Lin mengutarakan pendapatnya, "Saudari seperguruan Ye memiliki praktik di Grand Master tingkat Fana, belum lagi kedua rekannya yang lain. Mereka bertiga kuat, tapi sering bertindak ceroboh. Mereka juga selalu meremehkan lawan, jadi jika sampai kalah dengan begitu memalukan----aku tidak akan terkejut."
Jiao Feng menghela napas, dia meminta maaf pada Xiao Shuxiang. "Maafkan aku. Para muridku memang sangat nakal dan tidak bisa menghargai orang lain. Mereka telah menyusahkanmu, tapi apa kau sendiri baik-baik saja?"
"Sebenarnya jika tidak memanfaatkan pepohonan di sini sebagai tempat untuk melindungi diri----aku pastilah yang akan terluka parah," Xiao Shuxiang berkata jujur. Dia memang mengandalkan pohon-pohon di dalam hutan sebagai pembantu dari tiap gerakan dan juga serangannya.
"Kau pasti sangat kesusahan..." Jiao Feng menyentuh pundak pemuda di hadapannya, "Saat dalam pertarungan----terkadang muridku terlalu fokus pada serangan hingga melupakan kondisi sekitarnya. Mereka dalam keadaan mengeroyokmu, pastilah mereka terluka karena terkena serangan nyasar satu sama lain. Aku bersyukur karena kau bisa bertahan dalam kondisi yang sulit itu,"
Xiao Shuxiang tersenyum, Jiao Feng adalah pria yang punya pikiran terbuka hingga mampu memikirkan segala bentuk kemungkinan yang dapat saja terjadi. Dia pun berterima kasih.
Tangan kanan Jiao Feng dengan lembut terangkat dan hanya sebuah sentuhan ringan----sebuah gulungan kertas tiba-tiba telah berada di genggamannya. Dia pun meraih tangan Xiao Shuxiang dan mulai berujar pelan, "Aku tidak tahu harus memberikan apa padamu sebagai permintaan maaf, tapi kuharap kau mau menerima ini."
Xiao Shuxiang berkedip dan perlahan membuka gulungan yang diberikan oleh Jiao Feng padanya. Dia sebenarnya agak gugup menerimanya. Jujur, dia berharap isi gulungan tersebut merupakan sesuatu yang sangat berguna dan selama ini dia cari-cari. Sayang sekali, saat melihatnya dengan seksama----Dirinya pun langsung tertegun dan sangat tidak percaya.
"........."
__ADS_1
"Bagaimana? Kau suka, kan?" Liu Wei Lin tersenyum senang. Rasanya seakan dia tidak tahu bahwa saat ini dia baru saja sudah mematahkan harapan seseorang.
"Dia sampai tidak berkata-kata," Jiao Feng berkedip dan lalu menoleh ke arah Liu Wei Lin, "Sepertinya memang benar saran dari Wei Lin. Teman barunya akan sangat senang sampai tidak sanggup mengutarakan kebahagiannya,"
"........."
Dilihat dari senyum tulus Jiao Feng dan Liu Wei Lin sudah mengungkapkan jati diri kedua orang itu yang merupakan tipe manusia yang sama sekali tidak peka.
Xiao Shuxiang berusaha tersenyum, "Ini hadiah yang mengejutkan. Terima kasih, aku akan menyimpannya."
Jiao Feng, "Baguslah jika kau suka. Wei Lin yang menyarankan hadiah ini, aku sempat berpikir kau akan menolak. Dia ternyata benar, kau rupanya mengagumi seni sepertinya."
Xiao Shuxiang hanya tersenyum sebagai respon. Dia lama berbincang-bincang dengan kedua kultivator itu dan sampai saat mereka akhirnya mengucapkan kata perpisahan serta melihat dua punggung orang itu semakin menjauh----senyum Xiao Shuxiang perlahan memudar.
Pemuda tampan dan mempesona itu menghela napas sambil menggeleng pelan, "Haiih... Aku pasti sudah gila. Kenapa mereka memberikanku gulungan berisi kumpulan puisi tidak berguna ini? Aku bahkan tidak mengatakan bahwa aku menyukainya. Tsk, tsk, tsk, Xiao Shuxiang----kau sepertinya telah berubah menjadi orang baik. Kau sama sekali tidak memberikan bantahan apa pun, kau... Haah... Kau menjadi sedikit bodoh."
Xiao Shuxiang meniup keras poni rambut depannya dan menyimpan gulungan itu di dalam Cincin Spasialnya. Dia kembali menggeleng pelan, namun kali ini raut wajahnya terlihat sangat dingin.
Xiao Shuxiang memandang serius ke depan, terlihat ada secercah senyum mencurigakan yang tersungging di bibir indahnya.
"Akan kuingat ini. Pasti akan kubalas,"
*
*
*
"Kenapa Wang Zhao lama sekali?" Xiao Shuxiang sedikit menutup mulutnya saat menguap. Bulan sudah menggantung di atas sana dan pemuda yang dia suruh untuk menyeret pedang kayu memutari lingkungan Sekte Lautan Awan belum juga kembali.
__ADS_1
"Ya ampun... Di mana anak itu? Jangan bilang dia bertemu hewan buas dan mati," Xiao Shuxiang berdecak dan kemudian turun dari batu tempat duduknya.
Untuk hari ini, dia telah bolos melakukan pekerjaannya mencabuti rumput liar. Dia bahkan sudah tiga kali sembunyi ketika melihat Dao Fang An berjalan sambil mencarinya. Tetapi Wang Zhao bahkan belum menampakkan batang hidungnya.
"Anak itu tidak boleh sampai mati. Dia orang yang bisa membantuku keluar dari sekte ini," Xiao Shuxiang ingin pergi. Tapi bukan meninggalkan Alam Kultivasi Atas.
Dia hanya ingin keluar dari Sekte Lautan Awan dan bertualang di tempat lain. Dia tidak mungkin tetap tinggal dan menjadi pelayan di sekte ini. Dirinya mempunyai misi yang lebih penting.
Xiao Shuxiang memutuskan mencari Wang Zhao di dalam hutan bagian terluar dan cukup memakan waktu sampai dia menemukan pemuda itu tertidur sambil bersandar pada sebuah batang pohon. Melihatnya membuat Xiao Shuxiang menggeleng pelan.
"Saudara Wang...? Saudara Wang, ayo bangun. Kenapa kau tidur di sini?" Xiao Shuxiang menepuk pipi Wang Zhao dan membangunkannya.
Bulu mata pemuda itu mulai bergetar dan akhirnya terbuka. Wang Zhao mengerang pelan sebelum mulai mengusap kedua matanya. Dia benar-benar seperti baru bangun tidur.
Xiao Shuxiang berdecak, "Luar biasa. Aku menunggumu seharian, bahkan sampai berjemur di terik matahari dan kau justru enak-enakan tidur di sini. Waah... Luar biasa. Kau adalah satu-satunya yang bisa membuatku setia menunggu seseorang sampai seperti itu,"
"Tuan Xiao, maafkan aku." Wang Zhao berujar pelan. "Aku terlalu lelah menyeret pedang kayu yang sangat berat itu. Aku beristirahat sejenak, tetapi tanpa sadar aku malah tertidur. Aku sungguh tidak sengaja, apalagi bermaksud membuatmu menunggu lama."
"Haiih... Apa latihan yang kuberikan padamu terlalu berat?"
"Maafkan aku, Tuan Xiao. Akulah yang terlalu lemah..."
Xiao Shuxiang mengembuskan napas, "Kembalilah ke kamarmu dan istirahat. Aku ingin menjadikanmu kuat dengan latihan ini, bukan membuatmu menjadi mayat. Kita lanjutkan latihannya besok,"
"Terima kasih, Tuan Xiao. Maaf sudah merepotkanmu," Wang Zhao perlahan mulai berdiri. Kedua tangannya sampai merah dan seluruh tubuhnya sendiri pegal-pegal sekarang ini. Dia hanya ingin kembali ke kamarnya untuk merebahkan diri.
Xiao Shuxiang mengambil pedang kayu setinggi satu meter itu dan kemudian memasukkannya ke dalam Cincin Spasial. Dia sama sekali tidak kesulitan saat mengangkatnya.
Xiao Shuxiang berjalan bersama Wang Zhao dan baru berpisah jalan ketika dia sendiri melangkahkan kakinya ke arah gubuk bambu. Di sana rupanya sudah menunggu Dao Fang An dengan ekspresi wajah yang masam.
__ADS_1
******