KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]

KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]
209 - Xiao Shuxiang (7)


__ADS_3

Xiao Shuxiang menapak lembut di tanah ketika tidak ada lagi daun-daun bambu yang harus ditebas. Dia mengembuskan napas dan kemudian berjalan ke arah Tetua Xie Yanran.


Xiao Shuxiang berkata, "Aku melakukan apa yang kau inginkan. Jadi jika tidak ada yang lain lagi, aku mau pergi beristirahat."


"Kau pikir, kau memiliki waktu untuk itu?" Tetua Xie Yanran bersuara dingin. Dia agak mendongak saat bicara dengan pemuda di hadapannya.


Xiao Shuxiang tersentak dan langsung protes, "Ayolah Tetua. Kau tidak lihat hari hampir gelap? Aku juga butuh istirahat,"


"Tidak ada waktu melakukannya," Tetua Xie Yanran bersikeras, dia pun menoleh ke arah Wang Zhao dan berkata. "Kau selanjutnya,"


Wang Zhao tersentak, dia sulit menelan ludah. Dirinya pun berujar dengan suara yang terdengar gugup, "Aku .... Tapi aku belum tahu caranya berdiri di atas air seperti yang Tuan Xiao lakukan."


"Itu masalahmu dan aku tidak mau tahu. Sekarang lakukan,"


Xiao Shuxiang tersentak dengan betapa ketusnya cara bicara Tetua Xie Yanran. Wang Zhao sendiri terlihat mulai menarik pedangnya dan kemudian melesat untuk melakukan gerakan berpedang.


Xiao Shuxiang menatap anak perempuan di sampingnya dan berkata, "Apa kau tidak bisa bicara sedikit lebih lembut? Sebagai seorang Tetua, kau harusnya bisa memberi beberapa arahan pada Wang Zhao. Bukan malah mengatakan hal semacam itu,"


"..............." Tetua Xie Yanran tidak bicara, dia hanya fokus memperhatikan Wang Zhao dan mulai mengibaskan tangannya.


Angin bertiup kencang dan daun-daun bambu mulai berguguran. Wang Zhao tidak bisa berdiri di air, tetapi dia masih mampu melakukan teknik meringankan tubuh. Pemuda itu menggunakan helai daun bambu yang sudah dia tertebas sebagai pijakan.


"........ Daripada kau memprotesku, lebih baik kau perhatikan gerakan berpedang orang itu." Tetua Xie Yanran akhirnya buka suara, dia bertanya. "Apa kau tahu apa yang pemuda itu miliki, sementara kau tidak memilikinya meski kekuatanmu jauh lebih besar darinya?"


Xiao Shuxiang tersentak dan kemudian memperhatikan Wang Zhao. Dialah yang mengajarkan teknik berpedang itu dan juga teknik meringankan tubuh. Pedang kayu di tangan Wang Zhao pun adalah buatannya. Jadi tentu saja dia tidak tahu apa yang dimiliki oleh pemuda itu dan tidak dia miliki.


"Kau melihatnya?" Tetua Xie Yanran bertanya kembali.


"..............." Xiao Shuxiang cukup lama terdiam dan kemudian menjawab, "Wang Zhao memiliki hati yang lembut, dia juga cengeng, terlalu baik, dan aku ragu dia bisa menebas kepala orang lain."


Tetua Xie Yanran mendengar penuturan Xiao Shuxiang. Dia pun lantas menatap pemuda di sampingnya dan lalu berkata, "Jadi kau ingin bilang----bahwa kau kebalikan dari sifat pemuda itu?"


"Tentu saja, aku dan Wang Zhao tidak bisa dibandingkan. Dia berada sangat jauh di bawah Xiao Shuxiang,"


"Hmph, tidak tahu malu." Tetua Xie Yanran menyilangkan tangan dan fokus pada Wang Zhao yang sedang berlatih pedang.


Xiao Shuxiang sendiri memang tipe orang yang sangat percaya diri. Dia tidak akan pernah ragu untuk memberikan pujian pada dirinya sendiri, meski hal itu cukup tabu dilakukan oleh orang lain.


Di sisi lain, Wang Zhao berlatih pedang dan melakukan apa yang dirinya bisa. Pedang kayu di tangannya selalu dia bawa ke mana pun dan dijaga seperti nyawa sendiri.


Meski senjata itu hanya pedang kayu yang terlihat biasa, namun ketajaman bilahnya tidak bisa dipandang sebelah mata. Wang Zhao bisa menebas daun-daun bambu yang melayang jatuh di sekitarnya.


Hanya saja memang, ada beberapa daun bambu utuh yang terjatuh ke air. Wang Zhao sendiri sesekali mendarat di pinggir danau buatan sebelum kembali melesat. Jika saja dia tahu caranya berdiri di air, maka sudah pasti penampilannya dalam berlatih pedang akan semakin baik.


Tetua Xie Yanran memperhatikan Wang Zhao dan kemudian berkata pada Xiao Shuxiang, "Perbedaan antara kau dengan pemuda itu ada dari cara kalian memakai pedang. Dia sendiri yang mengendalikan setiap gerakan pedangnya, dialah yang memimpin. Sementara kau justru terlihat dikendalikan oleh pedangmu,"


Tetua Xie Yanran berujar, "Aku melihatnya dan tahu bahwa kau sebenarnya cukup bisa memakai senjata dengan baik, tapi sepertinya memang ada yang salah dari pedangmu. Mungkin ... Ini karena senjatamu bukanlah Pusaka Spiritual,"


Xiao Shuxiang tersentak, namun dia mengerutkan keningnya. "Pedangku setingkat dengan Pusaka Langit, memang apa bedanya dengan Pusaka Spiritual yang kau maksud?"


Tetua Xie Yanran memperhatikan Xiao Shuxiang dan lantas menjelaskan, "Pusaka Langit .... Akan mempunyai perubahan tergantung dengan orang yang memakainya. Jika kultivator Aliran Hitam, maka pusaka itu akan dipenuhi oleh Aura membunuh. Tetapi Pusaka Spiritual sangat berbeda. Pusaka jenis ini akan semakin kuat tergantung dari seberapa besar praktik pemiliknya,"


Tetua Xie Yanran, "Pusaka Langit pun masih bisa hancur, tetapi Pusaka Spiritual-----dia baru akan hancur jika pemiliknya sudah tiada. Bahkan dari beberapa kondisi, Pusaka Spiritual tidak bisa digunakan orang lain. Ia hanya akan bisa dipakai oleh pemiliknya sendiri,"


Xiao Shuxiang tersentak dan kemudian langsung bertanya. "Dari mana aku bisa mendapatkan Pusaka Spiritual itu?"

__ADS_1


"Tidak didapatkan, tetapi dibuat. Namun orang lain tidak bisa membuatkannya untukmu, kau harus membuatnya sendiri."


"Bagaimana caranya? Dan apa pedangku ini bisa dijadikan Pusaka Spiritual?" Xiao Shuxiang sangat penasaran. Dia merasa bahwa Pusaka Spiritual-lah yang selama ini dirinya inginkan. Dia membutuhkan pedang yang bisa diayunkan sesuka hati.


"..............." Tetua Xie Yanran cukup lama terdiam sebelum mulai bicara, "Kau bisa membuat pedangmu menjadi senjata spiritual. Tapi kau perlu mengendalikan kekuatanmu terlebih dahulu. Emosimu harus lebih terkendali,"


"..............."


"Hapalkan sutra pertama dan kedua dari Kitab Pengendalian Jiwa dan pahami isinya dengan baik. Jika kau bisa lakukan itu, maka kau tidak akan kesulitan untuk memperbaiki teknik dasarmu dalam berlatih pedang. Kau juga akan mudah melakukan perubahan yang lain,"


".......... Tapi aku butuh waktu lama untuk melakukannya. Tidak bisa terburu-buru,"


"Sekte Lembah Iblis tidak akan memberikanmu lebih banyak waktu. Kau harus mempelajarinya dengan sungguh-sungguh sebelum mereka kembali mengambil tindakan,"


Xiao Shuxiang mengepalkan tangannya. Dia merupakan kultivator dengan cara belajar yang paling lambat. Membuat racikan pil saja membutuhkan banyak latihan dan puluhan kali gagal sebelum akhirnya berhasil, apalagi dengan harus menghapalkan sutra semacam ini.


"..............." Xiao Shuxiang bernapas pelan, dadanya berdenyut dan agak sesak bila memikirkan tentang mempelajari hal yang sejenis dengan siraman kalbu.


*


*


Wang Zhao berhenti berlatih saat hari sudah benar-benar malam. Tetua Xie Yanran memberinya beberapa nasehat dan tidak jauh dari ucapannya kepada Xiao Shuxiang.


Wang Zhao pun berpisah jalan dengan Xiao Shuxiang karena harus pergi ke Paviliun Pengobatan. Dia menderita cukup banyak luka meski tidak terlalu parah. Sementara itu, Tetua Xie Yanran sudah sejak tadi kembali ke kediamannya.


Xiao Shuxiang sendiri memutuskan untuk kembali ke gubuk bambunya. Hanya saja dia tersentak saat dalam perjalanan----dia justru melihat seorang gadis yang tak lain adalah Ling Qing Zhu.


"Kucing Putih..?"


?!


Xiao Shuxiang menghampiri Kucing Putihnya dan lantas bertanya, "Apa yang kau lakukan dengan berjalan sendirian di malam hari seperti ini? Di mana yang lainnya?"


"..............." Ling Qing Zhu sebenarnya tidak menyangka bisa bertemu dengan Wali Pelindungnya. Dia pikir, pemuda di sampingnya ini masih mengurung diri.


"Kucing Putih, kenapa tidak menjawab?" Xiao Shuxiang bertanya kembali.


".......... Tuan muda Lan, nona Wen dan 'senior' ada di kamarku,"


"Senior?" Xiao Shuxiang mengerutkan kening dan tersandar saat melihat Kucing Putihnya mengangguk pelan. Kata 'senior' yang disebut Ling Qing Zhu pasti tidak lain adalah Bocah Pengemis Gila.


Ling Qing Zhu memperhatikan pemuda di sampingnya dan tanpa nada bertanya, "Kau tidak mau ke sana?"


Xiao Shuxiang menggeleng pelan dan lalu menjawab, "Jika kau tidak mengatakan Yi Wen ada di kamarmu, mungkin aku akan langsung ke sana. Aku mengkhawatirkan Lan Zhi jika ditinggal berdua dengan Bocah Pengemis Gila,"


"..............." Ling Qing Zhu bernapas pelan dan mulai berjalan. Wali Pelindungnya ikut dan berjalan di sampingnya.


Ling Qing Zhu pun berujar, "Senior tidak akan berbuat apa pun pada suamimu,"


"Kau bilang apa?"


"Tidak ada,"


"Aku mendengar kau mengataiku,"

__ADS_1


"Tidak mungkin,"


"Tapi aku mendengarnya,"


"Hanya perasaanmu."


"Benarkah? Apa hanya perasaanku?"


"Mn,"


Xiao Shuxiang berkedip kemudian menggaruk pelan telinganya. Dia pun bergumam, "Mungkin karena aku terlalu banyak mendengar siraman kalbu seharian ini jadi pendengaranku sedikit bermasalah,"


"..............." Ling Qing Zhu memperhatikan Wali Pelindungnya dan tersenyum samar.


Dia pun mengulurkan tangan dan sedikit memegang ujung pakaian pemuda di sampingnya. Ling Qing Zhu kemudian bertanya dengan nada yang tidak goyah.


Suara Ling Qing Zhu tenang, "Apa kau terluka?"


?!


Xiao Shuxiang menaikkan sebelah alisnya dan melihat lengan pakaiannya yang sedikit sobek karena goresan dari daun bambu saat dirinya berlatih tadi.


Dia pun dengan cepat langsung bereaksi. Xiao Shuxiang memegang lengannya dan meringis, "Aduh ... Ini memang terluka."


"..............." Ling Qing Zhu menyentuh luka di lengan kanan Wali Pelindungnya dan tersentak saat tiba-tiba Xiao Shuxiang merintih.


Ling Qing Zhu, "Apa sangat sakit?"


"Akh, jangan disentuh. Aku ... Aku bisa menahannya," Xiao Shuxiang berjalan pelan dan terlihat menahan ringisan.


Xiao Shuxiang berujar lemah, "Kau .... Pergi dan beristirahatlah. Aku akan kembali ke gubuk bambuku yang .... Gelap dan dingin. Aduh..."


"Shuxiang?" Ling Qing Zhu merasa bahwa Wali Pelindungnya sedang berpura-pura. Ini karena nada bicara Xiao Shuxiang sebelumnya nampak biasa saja dan tidak seperti ini.


Tetapi saat memperhatikan pemuda di sampingnya dari atas sampai bawah, Ling Qing Zhu bisa melihat bahwa Xiao Shuxiang benar-benar sedang terluka.


"Apa lukamu beracun?" Ling Qing Zhu bertanya kembali dan membuat Xiao Shuxiang tersentak.


"Kucing Putih, apa kau ingin aku tiada?"


"......... Tidak,"


"Lalu kenapa kau menanyakan itu? Kau harusnya membantuku berjalan. Aku sudah menahan diri untuk tidak ambruk di sini,"


".......... Mn, tapi kau bilang tidak mau disentuh?"


"Jangan pegang tanganku. Rangkul dan peluk pinggang, seperti yang pernah kau lakukan sebelumnya. Hati-hati,"


"Mn. Apa seperti ini?"


"Benar, kau baik sekali. Untung kau ada Kucing Putih,"


"Mau kugendong?"


"Tidak perlu. Rangkul saja aku yang erat, aku takut jatuh."

__ADS_1


******


__ADS_2