KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]

KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]
234 - Sekte Lautan Awan (4)


__ADS_3

Keadaan di lokasi yang terdampak dari serangan Hei Lian berusaha diperbaiki. Para murid yang terluka diobati dengan baik, termasuk mereka yang bagian tubuhnya meleleh karena terkena cairan asam.


Dari sini bisa terlihat keahlian yang sebenarnya dari Tetua Meng Hao Niang. Wanita yang selama ini hanya meminum arak dari kendi labunya dan mabuk-mabukan sekarang terlihat begitu serius.


Tetua Meng Hao Niang hanya perlu menggunakan energi spiritualnya untuk mengobati kultivator yang terluka. Dia bahkan tidak perlu mengeluarkan Pil Abadi buatannya yang sangat terkenal itu.


"Sepertinya kawan baikmu sudah mengobati lukamu ..." Tetua Meng Hao Niang berujar saat memeriksa tangan Lan Guan Zhi, hanya saja nada suaranya mengandung ledekan.


Salah seorang murid perempuan dari Sekte Lautan Awan mendengarnya dan berkata, "Xiao Shuxiang itu hanya melihat tangan Tuan Muda Lan. Menyembuhkan saja bahkan tidak dia lakukan."


"Itu benar, dia sangat menyebalkan." murid lainnya ikut berpendapat.


"..............." Lan Guan Zhi sendiri nampak tidak terlalu peduli. Dia lebih memikirkan tentang ke mana perginya teman baiknya dan keberadaan Ling Qing Zhu saat ini.


Tetua Meng Hao Niang tidak membalas ucapan dari murid Sekte Lautan Awan barusan. Dia fokus mengalirkan energi spiritual untuk mengobati luka di tangan Lan Guan Zhi dan perlahan luka tersebut pun mulai sembuh.


Tetua Meng Hao Niang sebenarnya tahu bahwa luka akibat asam dari Hei Lian tak bisa diobati dengan sembarangan. Dia sejujurnya cukup terkesan sebab Xiao Shuxiang tidak memaksakan diri untuk merawat luka Lan Guan Zhi karena jika salah penanganan sedikit saja----maka dampaknya akan sangat buruk.


Untuk luka yang disebabkan oleh asam ini memang hanya Tetua Meng Hao Niang yang tahu cara mengobatinya. Bahkan secara tegas wanita itu tidak membiarkan murid yang lain ikut membantu.


Tetua Chu Sheng Nan yang sebelumnya baru datang pun kini nampak membantu tetua yang lain untuk mengatur murid-murid mereka. Yang terluka berkumpul di tempat yang telah disediakan, sementara murid yang dalam keadaan baik diminta merapikan kamar untuk pemulihan.


Bocah Pengemis Gila dan Yi Wen juga terlihat ikut membantu. Kemampuan mereka membuat para murid Sekte Lautan Awan terpukau.


Ketika Xiao Shuxiang datang, dia pun tidak tinggal diam. Dia melihat masih banyak kabut yang mengandung asam dan memutuskan untuk melakukan sesuatu yang membuat semua orang terkejut.


Tanpa peringatan, Xiao Shuxiang mulai menghentakkan kakinya dan kemudian menggunakan sebuah teknik yang bisa membuat tanah terangkat.


!!?


Tetua Dao Fang An dan seluruh murid Sekte Lautan Awan, termasuk Bocah Pengemis Gila nampak sangat terkejut. Tanah yang mereka pijak tiba-tiba saja bergetar dan tidak sedikit yang mengira ini adalah serangan lain dari musuh.


"Tuan Xiao, apa yang kau lakukan?!" Wang Zhao tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Tanah yang merupakan tempat berdiri bangunan-bangunan Sekte Lautan Awan terangkat setinggi sepuluh meter, tepat di hadapannya.


Hei Lian pun sama kagetnya. Dalam waktu sekedipan mata saja, apa yang dia lihat sekarang sudah nampak seperti bukit. Dirinya sampai terperangah dan menatap tidak percaya ke arah pemuda mempesona ini.


Xiao Shuxiang sendiri terlihat sama sekali tidak kagum dengan apa yang dia lakukan, justru dirinya seperti tidak terlalu puas dengan hasil tekniknya.


"Kupikir aku bisa membuatnya lebih tinggi, ternyata memang sulit untuk melakukannya dengan praktikku yang sekarang."


"Tu-Tuan Xiao ...." Wang Zhao berekspresi pucat. Dia bahkan kesulitan menelan ludah. Dirinya terbata saat bertanya, "Apa ya-yang saat ini sedang ka-kau lakukan?"


"Kita harus menghindarkan kabut asam yang masih tersisa. Para murid itu ada di sana dan tidak ada seorang pun yang memasang penghalang. Aku hanya bisa melakukan ini, atau apa kau punya saran yang lain?"


Wang Zhao berkedip dan kemudian menggeleng. Ekspresi wajah pemuda yang dia lihat nampak biasa saja dan seperti tidak melakukan sesuatu yang besar.


Padahal, mengangkat tanah semacam ini dan sampai menciptakan bukit bukanlah teknik yang mudah. Bahkan Wang Zhao yakin Shizun-nya pun tidak mungkin akan terpikirkan untuk melakukan sesuatu yang semenakjubkan ini.


"Tuan Xiao. Sebenarnya sejauh mana kekuatanmu...? Kenapa aku merasa .... Itu sesuatu yang tidak terukur,"


"Baiklah, sekarang bantu aku naik ke sana. Aku terlalu banyak memakai tenaga tadi dan tidak bisa bergerak,"


"Apa?" Wang Zhao terkejut. Dia memang tidak akan bisa mengerti Xiao Shuxiang.


Di saat dia mulai memahami pribadi pemuda tampan ini, maka di saat itu pula dia tidak bisa memahaminya.


Satu pertanyaan berhasil Wang Zhao temukan jawabannya, namun di waktu bersamaan dia menemukan pertanyaan yang lain.


Sosok dengan pribadi yang tidak terukur. Pribadi yang sulit ditebak. Pribadi yang menyimpan banyak rahasia dan pribadi dengan segala keunikannya. Xiao Shuxiang memang tidak sama seperti orang-orang yang biasa Wang Zhao temui. Dia benar-benar bertemu dengan sosok yang begitu luar biasa.


*


*


"Tanahnya terangkat..!"


Sebuah seruan dari seorang murid Sekte Lautan Awan mengejutkan para murid yang lain. Mereka pun mulai bergegas ke pinggir dan terkejut saat yakin bahwa tanah yang mereka pijak benar-benar terangkat.


"Tetua Wang, apa ini juga serangan dari musuh?" seorang murid bertanya pada Tetua Wang Jing Li. Jantungnya berdebar tidak karuan saat ini.

__ADS_1


Tetua Wang Jing Li menarik napas, "Aku tidak merasakan adanya bahaya. Ini .... Kurasa bukan serangan musuh,"


Murid Sekte Lautan Awan itu hendak bicara kembali saat melihat pedang terbang yang melayang ke arahnya. Dia tersentak ketika tahu orang yang sedang menaiki pedang itu adalah Wang Zhao. Pemuda itu bahkan membawa dua orang bersamanya.


Tetua Dao Fang An juga melihatnya, dia yang sejak tadi nampak membahas sesuatu dengan Tetua Liu Lang pun mulai menghampiri Wang Zhao.


"Shizun," Wang Zhao memberi hormat saat melihat Tetua Dao Fang An. Dia juga memberi hormat pada Tetua Wang Jing Li dan Tetua Liu Lang.


Tetua Wang Jing Li menggumam sebagai balasan hormat, sementara Tetua Liu Lang mengangguk pelan sebagai tanda bahwa dia menerima salam hormat itu.


Tetua Dao Fang An menarik napas dan mulai menanyakan keadaan Wang Zhao. Dia sedikit tidak tenang sebelum bisa mendengar sendiri jawaban dari pemuda ini.


Tetua Dao Fang An bertanya, "Kau baik-baik saja, kan?"


Wang Zhao mengangguk, "Aku tidak apa-apa, Shizun. Bagaimana dengan Anda sendiri?"


"Mn, tidak terlalu buruk." Tetua Dao Fang An berjalan dan memegang bahu Wang Zhao. Dia pun berkata, "Aku ingin bicara sesuatu padamu."


?!


Wang Zhao tersentak, dia mengangguk pelan saat melihat betapa seriusnya wajah dari Shizun-nya ini. Tetua Dao Fang An tidak seperti biasa dan kemungkinan memang ada yang penting untuk dibahas.


Wang Zhao memegang tangan Hei Lian dan kemudian mengikuti ke mana Tetua Dao Fang An membawanya. Dirinya sedikit menoleh ke arah Xiao Shuxiang yang ternyata pemuda itu sudah pergi dan terlihat memanggil-manggil Kucing Putihnya.


Wang Zhao mengembuskan napas dan lalu menggeleng pelan. Dia pun lantas menoleh ke arah Tetua Dao Fang An yang sejak tadi hanya diam dan nampak melihat ke arah gadis kecil yang bersamanya.


"Shizun, apa yang ingin Anda bicarakan?" Wang Zhao bertanya lebih dahulu karena khawatir jika Tetua Dao Fang An lebih dulu menanyakan identitas Hei Lian.


"Aku ingin bicara berdua denganmu," Tetua Dao Fang An kembali menatap Hei Lian dan lantas berkata, "Anak yang kau bawa ini .... Siapa dia?"


?!


Pada akhirnya memang tidak bisa lari dari pertanyaan tersebut. Wang Zhao pun mengembuskan napas dan kemudian buka suara, "Namanya Hei Lian. Dia .... Itu Shizun, aku ...."


Tetua Dao Fang An mengerutkan kening saat menyadari kegugupan pemuda ini. Dia sudah lama tinggal bersama Wang Zhao dan tahu benar karakter anak ini.


Jika Wang Zhao bisa bersikap demikian, maka itu membuktikan bahwa identitas gadis kecil yang dibawanya bukanlah orang biasa.


Tetua Dao Fang An berkedip, kurang lebih dia sudah bisa mengerti situasinya. Wang Zhao tentu tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya, tepat di hadapan Hei Lian.


"..............." Tetua Dao Fang An menarik napas dan meletakkan tangannya di belakang punggung. Dia pun mulai berkata, "Aku sudah membicarakan ini dengan tetua Liu Lang .... Kau dan Xiao Shuxiang akan pergi ke Istana Seribu Pedang,"


"Shizun," Wang Zhao tersentak.


"Aku tahu. Kau pasti bertanya-tanya tentang hal ini," Tetua Dao Fang An berujar, "Aku telah memikirkannya. Kita akan mempercepat pengajaran padamu,"


Tetua Dao Fang An berkata, "Setelah apa yang terjadi .... Kabar bahwa sekte ini telah diserang pasti akan menyebar. Kita sudah kehilangan banyak orang dan sekte ini tidak bisa menjadi sekte yang terbesar kembali. Perlu waktu yang lama untuk dapat pulih seperti semula,"


"..............." Wang Zhao tertunduk. Dia kesulitan menelan ludah, ekspresinya jelas merasa bersalah.


"Jangan menyalahkan diri sendiri," Tetua Dao Fang An berujar tenang, dia seakan sadar dengan apa yang dirasakan oleh Wang Zhao sekarang ini. "Sifat buruk yang ada padamu adalah kau selalu saja menyalahkan dirimu atas semua yang terjadi."


"Tapi .... Sekte ini tidak mungkin menjadi seperti sekarang jika bukan karenaku,"


"Tidak seperti itu." Tetua Dao Fang An berkata, "Meski kau tidak tinggal di sini. Tempat ini pun tetap akan menjadi target serangan. Jika harus ada yang merasa bersalah, itu adalah aku dan para tetua. Kami .... Dengan kekuatan yang sekarang pun tetap tidak bisa melindungi tempat ini,"


"Shizun, itu semua tidak benar. Tolong jangan merasa bersalah,"


"..............." Hei Lian mengerutkan kening. Sejak tadi dia memperhatikan dan Wang Zhao memang memanggil pria tua asing ini sebagai 'Shizun'.


Dia mengawasi keadaan di sekitarnya dan mendengarkan percakapan antara Wang Zhao dengan pria tua ini tanpa berniat untuk ikut dalam pembicaraan tersebut.


*


*


"Kucing Putih..! Kau ke mana saja?!" Xiao Shuxiang akhirnya bisa menemukan Ling Qing Zhu. Gadis berambut putih itu baru saja menapak di tanah dan diikuti oleh Liu Wei Lin.


Xiao Shuxiang tersentak melihat bahwa Ling Qing Zhu tidak datang sendiri. "Apa maksudnya ini? Kenapa Saudara Liu juga ada bersamamu?"

__ADS_1


Yi Wen melihat Xiao Shuxiang dan lantas menyenggol Bocah Pengemis Gila. Dia pun berkata, "Sepertinya ada yang seru di sana. Ayo,"


"He-hei..! Lepaskan tanganku, aduh..!" Bocah Pengemis Gila tersentak saat ditarik oleh Yi Wen begitu saja. Dia pun mendengar suara dari Liu Wei Lin.


"Saudaraku, jangan pikirkan hal yang bukan-bukan. Aku menyelamatkan Nona Ling, itu saja." Liu Wei Lin berusaha untuk memberikan penjelasan.


Xiao Shuxiang mendengus. "Saudara Liu, kau lihat matahari yang sudah terbit itu? Kau dan Kucing Putih datang dari arah sana. Siapa yang tahu kalian pergi semalaman dan baru saja kembali. Haruskah aku mengatakan isi pikiranku saat ini?"


"..............." Ling Qing Zhu sadar bahwa Wali Pelindungnya seperti sedang mencari pertengkaran dengan Liu Wei Lin. Dia pun bernapas pelan dan lantas mengulurkan tangan.


Xiao Shuxiang menoleh ketika tangannya dipegang oleh Kucing Putihnya. Dia pun menatap Ling Qing Zhu dan bertanya, "Apa yang kau lakukan?"


"Tuan Muda Liu hanya menolongku,"


"Kucing Putih.." Xiao Shuxiang mengusap kepala Ling Qing Zhu dan berujar lembut. "Aku percaya padamu, tapi sama sekali tidak percaya padanya. Bagaimana jika Saudara Liu melakukan sesuatu yang bukan-bukan denganmu?"


Liu Wei Lin berkedip, dia membuka kipas merah miliknya dan menggeleng dengan ekspresi yang tidak percaya. Meski dia akui sangat tertarik dengan Ling Qing Zhu, namun dirinya bukanlah pria yang berengsek. Dia juga punya harga diri.


Ling Qing Zhu berujar tanpa nada, "Tuan Muda Liu tidak melakukan apa pun. Dia hanya menggendongku,"


!!!


Liu Wei Lin nyaris terjatuh karena ucapan tanpa nada dari Ling Qing Zhu. Dia baru saja menghindarkan diri untuk tidak mengatakan apa pun yang membuat suasana hati Xiao Shuxiang menjadi buruk, tetapi justru gadis ini malah mengatakannya dengan singkat dan menimbulkan kesalah-pahaman.


"Liu Wei Lin..!" Xiao Shuxiang berseru, "Kucing Putih. Tahan aku atau aku benar-benar akan memukulnya,"


Xiao Shuxiang memeluk pinggang Ling Qing Zhu dan menendangkan kakinya ke arah Liu Wei Lin. Masalahnya, tingkah itu seperti anak yang ingin berkelahi namun juga takut melakukannya.


"Saudara Xiao," Liu Wei Lin mendesah pelan dan menutup kipasnya, "Aku--"


"Kau apa?" Xiao Shuxiang menyela, "Apa kau ingin merahasiakan tentang kau menyentuh Kucing Putihku? Kau ini-"


"Hei, siapa yang menyentuhnya?" Liu Wei Lin menyela dan sebenarnya mulai kesal, "Yang kulakukan hanya menggendong istrimu, kapan aku menyentuhnya?!"


"Hah, apa kau pikir menggendong itu tidak menyentuh? Kau benar-benar ingin dipukul, yah..! Bahkan istri teman sendiri pun kau mau mengambilnya, dasar..!"


"Saudara Xiao, aku bersabar untukmu. Kau jangan memancing emosiku atau aku juga tidak akan tinggal diam," Liu Wei Lin menutup kipasnya dan lalu menoleh untuk meminta salah satu saudaranya agar ikut menahannya.


"Kalian berdua sebaiknya jangan bertengkar," Bocah Pengemis Gila mulai berdiri di antara Xiao Shuxiang dengan Liu Wei Lin. Dia baru saja berniat baik untuk melerai kedua pemuda itu namun justru yang terjadi adalah bokongnya mendapat tendangan dari Xiao Shuxiang.


"Minggir atau aku akan memukulmu,"


"Shuxiang, kau sudah memukul..!" Bocah Pengemis Gila hampir menyerang andai tidak segera ditahan oleh Yi Wen.


Pertengkaran ketiga pemuda ini menarik perhatian para murid Sekte Lautan Awan. Ada yang terkejut karena baik Liu Wei Lin, Xiao Shuxiang dan Bocah Pengemis Gila melontarkan kata-kata yang kasar.


Ada juga yang ingin ikut melerai, namun justru mendapat tendangan. Di sisi lain, Ling Qing Zhu tersentak sebab kepalanya terkena jitakan akibat perkelahian kekanakan antara Wali Pelindungnya dengan kedua pemuda ini.


"..............." tatapan mata Ling Qing Zhu menjadi lebih dingin dari yang biasanya dan dia pun menarik keluar Baiyi.


!!!


Detik itu juga, tiga sambaran petir tiba-tiba muncul dari tanah dan membuat kaget semua orang. Bocah Pengemis Gila, Liu Wei Lin bahkan Xiao Shuxiang spontan mundur dan syok berat dengan apa yang menimpa mereka.


Bocah Pengemis Gila kaget bukan main, ekspresi wajahnya pucat saat sambaran petir tadi nyaris mengenai sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.


Liu Wei Lin dan Xiao Shuxiang pun kaget. 'Masa Depan' mereka hampir terancam karena lesatan petir yang tiba-tiba itu. Rasanya .... Jantung mereka nyaris melompat keluar di telinga.


Ketiga pemuda itu tanpa sadar menahan napas dan mulai menatap gadis yang sudah memberi serangan tidak terduga yang hampir merubah identitas mereka menjadi kasim.


Yi Wen pun sampai membuka mulut lebar. Yang barusan itu sungguh nyaris saja. Dia menatap sosok yang memberi serangan tadi dan tidak lain adalah Ling Qing Zhu sendiri.


Yi Wen berkedip, dia kesulitan menelan ludah. Tidak disangka bahwa Ling Qing Zhu yang setenang air bisa seberbahaya ini. Apalagi serangan barusan itu jelas bukan menakut-nakuti. Rasanya seakan gadis berambut putih itu benar-benar menargetkan untuk mengebiri ketiga pemuda ini.


"..............."


Tidak ada yang tahu satu rahasia kecil ini. Ling Qing Zhu sebenarnya tidak masalah tentang hal yang lain, apalagi bila kakinya diinjak atau tangannya terluka. Namun akan berbeda cerita jika ada yang membuat rambutnya berantakan.


Bagi mereka yang berasal dari keluarga bermarga 'Ling', rambut yang berwarna putih ketika masih muda dan akan berubah hitam saat usia senja adalah ciri khas yang tidak semua orang bisa memilikinya.

__ADS_1


Karena keistimewaan ini, tentu saja Ling Qing Zhu sangat menghargai rambutnya. Lagipula ini pun termasuk mahkota bagi wanita dan berani sekali para pemuda ini merusaknya. Sungguh sangat lancang!


******


__ADS_2