KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]

KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]
51 - Liu Wei Lin (1)


__ADS_3

Sekte Lautan Awan sebenarnya adalah salah satu sekte besar di Alam Kultivasi Atas. Mereka memiliki wilayah yang meliputi tiga pulau terapung dan luas masing-masing pulau itu setara dengan sebuah kekaisaran.


Xiao Shuxiang berada di wilayah tengah Sekte Lautan Awan. Di tempat inilah para kultivator yang dikatakan berasal dari 'Alam Bawah' akan dikumpulkan. Mereka akan diberi tempat tinggal di sini sambil secara perlahan-lahan diperkenalkan dengan lingkungan wilayah Sekte Lautan Awan yang lain.


Seperti arahan dari gadis cantik itu, Xiao Shuxiang sekarang ada di belakang sebuah bangunan yang besar. Matanya menangkap sosok wanita tua yang baru saja keluar dari sebuah pintu dan terlihat memegang sapu.


??


Wanita tua itu mengerutkan kening ketika melihat ada pemuda yang mempesona dan berkarisma sedang berdiri diam sambil menatapnya. Meski membawa keranjang berisi sayur di punggung dan tangannya----ketampanan pemuda itu sama sekali tidak pudar.


"Hei, Nak? Siapa kau?"


Xiao Shuxiang sendiri dengan polosnya menjawab, "Aku membawa token dari Kakek Tua sebagai identitas. Aku diminta membawa bahan makanan ini,"


Wanita tua dengan sapu di tangannya itu berjalan menghampiri Xiao Shuxiang dan memperhatikan token yang diperlihatkan padanya. Ekspresi wajahnya berubah saat mengetahui nama 'Dao Fang An' terukir pada token hitam tersebut.


"Dasar Tua Bangka... Dia merekrut pelayan tambahan lagi. Selalu saja seperti ini, sikapnya tidak pernah berubah sama sekali...!"


Xiao Shuxiang tahu bahwa bukan dia yang sedang dirutuki oleh wanita tua di hadapannya. Dirinya pun bertanya saat wanita tersebut telah nampak tenang.


"Nenek? Jadi di mana aku harus meletakkan bahan makanan yang kubawa ini?"


"Nenek?" wanita tua itu spontan menatap garang pada Xiao Shuxiang. "Kau sebut aku 'Nenek'?! Kapan aku menikah dengan kakekmu, hah?! Panggil 'Nyonya'...! Dasar Bocah!"


!!


Sekarang giliran Xiao Shuxiang yang tersentak. Dia hanya ingin berperilaku sopan, tetapi Tua Bangka di depannya justru mengomelinya tanpa henti. Dia pun hanya bisa diam dan menunggu sampai Nenek Tua ini berhenti merutukinya.


"Entah di mana Fang An memungut Bocah sepertimu. Tidak hanya kurang sopan, kau juga tidak tahu malu dan melihatmu membuatku kesal. Meski terlihat berumur, tapi aku ini masih belum pantas di panggil 'Nenek' dan kau! Kau benar-benar anak yang kurang ajar. Tetap berdiri di situ dan tunggu sampai tua bangka itu datang. Jangan berani-berani menurunkan keranjang yang kau bawa dan mengotori tempatku. Mengerti?!"


"......"


Xiao Shuxiang tidak mengatakan apa-apa dan baru mengembuskan napas saat nenek tua itu menghentakkan kakinya dan lalu berjalan pergi. Bahkan wanita tua itu menutup pintunya dengan keras.


Dia pun mendengus dan kemudian menggeleng pelan, "Luar biasa. Apa dia sedang datang bulan? Kenapa pemarah sekali..." Xiao Shuxiang mengedarkan pandangannya dan hanya melihat pohon, semak belukar tanpa ada seorang pun selain dirinya.


"Ini serius..." Xiao Shuxiang berujar pelan, "Apa aku harus berdiri di sini sepanjang waktu sambil menggendong keranjang berisi sayur ini? Haah... Xiao Shuxiang. Kau adalah kultivator yang dijuluki Sang Bintang Penghancur dan ditakuti semua orang, tetapi sekarang justru kau malah mendapat bentakan dari wanita tua dan bahkan disuruh berdiri dengan keranjang sayur di tanganmu. Kau hebat."


Xiao Shuxiang tidak henti-hentinya menggelengkan kepala pelan dan bicara dengan nada yang seakan mengasihani diri sendiri. "Ya Tuhan, aku ini sebenarnya punya garis takdir apa? Kedua tangan yang sebelumnya selalu memegang pedang dan mengobrak-abrik isi perut seseorang kini memeluk keranjang sayur. Sebelumnya aku adalah Koki, kemudian menjadi Alkemis dan setelahnya menjadi Penempa Pedang. Tapi sekarang aku malah menjadi pelayan. Hah, kenapa tidak sekalian saja kau nikahkan aku dengan Lan Guan Zhi agar hidupku benar-benar adalah penderitaan paket lengkap. Haaiih... Semoga aku selalu panjang umur,"

__ADS_1


"Manusia di bawah langit senja..."


?!


Xiao Shuxiang mendengarnya. Ada seseorang yang bicara, namun dia tidak bisa merasakan kehadiran sosok itu. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling dan tidak menemukan siapa pun, tetapi suara asing itu datang lagi.


"Manusia di bawah langit senja,


Memikul harapan hidup di punggungnya,


Dengan garis wajah yang menawan,


Membuatku bertanya-tanya,


Apa aku bisa mengenalnya...?"


"Di atas!" Xiao Shuxiang menengadah dan langsung melihat kibaran pakaian merah. Ada seorang pria yang duduk elegan di atap bangunan di hadapannya. Sosok tersebut memainkan sebuah kipas di tangah kanannya.


"Praktik kultivasi yang tidak bisa kubaca lagi dan cara menghilangkan hawa keberadaan yang sempurna, bahkan melampauiku. Orang itu hebat," Xiao Shuxiang dalam hati merasa harus waspada.


Sosok berpakaian merah itu memiliki wajah tampan dan tatapan mata yang sepertinya juga sedang menilai Xiao Shuxiang. 


Koki Alkemis tersebut berkedip dan kemudian mulai buka suara meski dalam hati dia pastikan akan sangat malu jika mengatakan ini.


Mawar indah berwarna merah,


Jika Tuan di sana ingin mengenalku,


Kenapa tidak turun kemari?"


!!


Sosok yang berada di atap terkejut saat mendengar Xiao Shuxiang. Tidak butuh waktu lama sampai dia tertawa geli dan membuat Xiao Shuxiang terlonjak kaget.


"Ha ha ha, puisi macam apa yang kau baca tadi? Ha ha ha," kultivator tersebut menutup kipasnya dan mulai melayang turun, dia menapak lembut di tanah.


Xiao Shuxiang tidak menyangka akan mendapat reaksi demikian, "Dia sendiri membaca puisi yang aneh. Kenapa justru menertawakan saat aku juga melakukan hal yang sama? Lagipula yang tadi itu merupakan pembacaan puisi perdana Xiao Shuxiang. Jadi berbanggalah karena telah mendengarnya,"


Kultivator itu masih tertawa, dia membuka kipasnya. "Ha ha ha, kau adalah orang pertama yang membalasku seperti itu, tidak seperti murid lainnya yang sama sekali tidak mengerti seni. Meskipun kalau boleh jujur itu sangat menggelikan,"

__ADS_1


Xiao Shuxiang tersenyum pahit, dia mengangguk membenarkan. "Ini memang pertama kalinya aku berpuisi. Kau bisa menganggap tidak mendengar apa pun,"


"Ah... Jangan merendah, Saudaraku. Meski pertama kalinya, tapi itu layak dihargai...Pfft."


"Wah, aku langsung menjadi saudaranya."


"Nama kehormatanku Wei Lin, dari keluarga Liu. Boleh kutahu siapa namamu?"


"Nama kehormatanku Shuxiang, dari keluarga Xiao. Senang bertemu denganmu,"


"Saudara Xiao, kita sepertinya akan menjadi akrab. Aku merasakan kau memiliki kesamaan denganku. Ini seperti aku sudah menemukan belahan jiwa yang telah lama menghilang,"


"Apa itu sejenis puisi lagi?"


Liu Wei Lin tersenyum, dia awalnya tidak berharap banyak pada Xiao Shuxiang. Tapi tidak disangka pemuda ini begitu menyenangkan diajak bicara.


Untuk Xiao Shuxiang sendiri, dia adalah orang yang tidak menyadari memiliki bakat bawaan yang mudah akrab dengan siapa pun. Baik itu jenis manusia biasa, manusia tidak waras, kultivator dari Aliran Putih, Aliran Hitam, bahkan makhluk seperti Demonic Beast.


Liu Wen Lin, "Di Sekte Lautan Awan ini ada yang bernama Gunung Puncak Jiang. Aku tinggal di sana, lain kali aku akan mengundangmu. Aku bisa mengajarimu cara ber-syair. Kau akan belajar dari ahlinya,"


"Aku tertarik untuk melihat seperti apa Gunung Puncak Jiang, tapi aku tidak mau belajar ber-syair. Suaraku buruk pada hal sejenis itu,"


"Tidak... Sama sekali tidak begitu. Suaramu indah. Satu-satunya makhluk yang memiliki suara terburuk di dunia ini adalah keledai. Selain itu, semua suara yang ada adalah indah,"


Pembicaraan antara Liu Wei Lin dengan Xiao Shuxiang terus berlanjut. Mereka membahas kesukaan masing-masing. Sesuatu yang sederhana, tetapi sangat menyenangkan. Dari pembicaraan itu, Liu Wen Li tahu bahwa teman barunya suka bermain seruling.


Mereka bicara sangat lama, bahkan sampai hari mulai gelap. Liu Wei Lin baru tersadar ketika seorang pria tua datang mendekat padanya dan teman barunya.


Xiao Shuxiang mengenali pria tua itu. Sosok tersebut adalah tua bangka yang telah memberikannya profesi baru, yakni menjadi pelayan.


"Tuan Muda Liu? Apa yang Anda lakukan di tempat ini?"


"Aku hanya berjalan-jalan mencari inspirasi dan tidak disangka bertemu belahan jiwaku." Liu Wei Lin tersenyum dan menyentuh pundak Xiao Shuxiang, "Saudaraku. Sangat menyenangkan bisa bicara denganmu, tapi malam selalu merampas kebersamaan dua teman seperti ini. Aku akan berkunjung lagi. Lain kali, aku ingin melihatmu bermain seruling,"


"Mn, tentu. Datanglah kapan pun kau mau,"


Liu Wei Lin berjalan lima langkah dan mulai melesat dengan anggun. Pria tua yang ada di hadapan Xiao Shuxiang terlihat memberi hormat pada pemuda yang berpakaian serba merah tadi.


Xiao Shuxiang merasa agak aneh sebenarnya. Liu Wei Lin hanya berpamitan padanya dan sama sekali tidak melakukan hal yang sama pada tua bangka ini.

__ADS_1


Teman barunya juga tidak membalas hormat dari pria tua tersebut dan langsung pergi begitu saja. Rasanya mirip dengan Tuan Muda yang angkuh.


******


__ADS_2