![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
Wang Zhao tersentak dan menjadi gugup saat ditatap oleh Lan Guan Zhi.
Zhi Shu yang mendengar ucapan Xiao Shuxiang pun menghampiri saudaranya itu dan nampak sangat penasaran.
"Saudara Xiao, jadi Tuan Muda Wang ini juga punya dantian berakar?"
"Mn, kau tidak melihatnya?"
Zhi Shu memperhatikan Wang Zhao dengan saksama dan sadar dengan praktik kultivasi pemuda ini yang sangat rendah. Dirinya pun menggeleng dan berdecak beberapa kali, "Jika tidak dilihat lebih teliti----Tuan Muda Wang tidak nampak seperti pendekar yang lemah. Dia mempunyai wibawa yang sedikit mirip denganmu, Saudaraku. Aku juga merasakan sesuatu yang... Mmm... Entah bagaimana menjelaskannya,"
Wang Zhao semakin gugup dan nampak tertunduk karena Zhi Shu terus menatap ke arahnya dan seakan hendak menggali lebih jauh tentangnya. Ucapan gadis itu pun bahkan mengundang perhatian Lan Guan Zhi, Xiao Shuxiang dan Ling Qing Zhu.
Xiao Shuxiang melihat Liu Wei Lin melambaikan pelan kipasnya. Teman barunya itu nampak memperhatikan ekspresi wajah Wang Zhao, sebelum akhirnya mendengus dan lantas memalingkan wajah.
"..............."
Xiao Shuxiang yakin, ada sesuatu yang disembunyikan saat melihat bagaimana sikap Liu Wei Lin pada Wang Zhao. Hanya saja, dia bukan orang yang suka terlibat dalam masalah orang lain, apalagi jika itu tidak memberikan keuntungan apa pun padanya.
"Aku sangat penasaran---"
"Zhi Shu," Xiao Shuxiang menyela. "Apa kau ingin terus bicara di bawah langit yang dipenuhi petir-petir ini? Kau bisa tetap di sini dengan rasa penasaranmu dan aku akan melanjutkan perjalananku."
Zhi Shu tersentak saat Xiao Shuxiang malah melangkah pergi dan menaiki kereta kuda mereka. Dia pun memanggil pemuda itu dan mengikutinya. Ling Qing Zhu berkedip sebab Zhi Shu tanpa tahu malu terus merutuki Wali Pelindungnya.
Lan Guan Zhi sendiri mengajak Liu Wei Lin dan Wang Zhao untuk naik ke kereta. Pemuda itu juga mengajak Lin Qing Zhu. Mereka melanjutkan perjalanan menuju ke Istana Seribu Pedang.
Di dalam kereta kuda yang berjalan, Zhi Shu menatap dalam Saudara Xiao-nya sampai pemuda itu risih karenanya.
Xiao Shuxiang, "Aku tahu aku sangat tampan, Shu'Er. Tapi apa kau perlu begitu lekatnya menatap Xiao Shuxiang ini. Kau sampai tidak berkedip,"
"Saudara Xiao," pipi Zhi Shu nampak menggelembung, "Apa kau tidak mau menolong kota ini? Tempat yang tertutup awan gelap dan petir bukankah ini jadi bukti bahwa ada sesuatu yang salah?"
Xiao Shuxiang tanpa ekspresi berkata, "Zhi Shu. Perhatikan wajahku, apa kau melihat ada rasa kepedulian?"
"Saudara Xiao..!"
__ADS_1
"Lagipula, kota ini juga sudah tidak dihuni manusia. Penduduknya sudah diganti dengan para kelinci. Nama kota inilah yang harus diubah menjadi Kota Tùzǐ atau Kota Shǎndiàn atau gabungan keduanya."
"Saudaraku, kenapa kau menjadi sangat menyebalkan sekarang..?" Zhi Shu bersungut-sungut, "Rasanya sifat baik hatimu itu hanya berlangsung beberapa menit saja. Sebelumnya kau begitu baik pada Mo Huai dan kemudian pada Tuan Muda Wang. Tapi kenapa sekarang kau berubah lagi?"
"Misiku membantu Wang Zhao memang sudah lama diputuskan dan untuk Mo Huai adalah karena memang situasinya cocok dengan keahlian yang harus dia miliki." Xiao Shuxiang serius saat berkata, "Dan tidak ada yang dapat memaksaku berbuat baik jika aku sendiri tidak menginginkannya,"
Wang Zhao tertegun melihat betapa serius dan tegasnya saat Xiao Shuxiang bicara. "Aku memang tidak tahu seperti apa kehidupan yang Tuan Xiao jalani di Alam Kultivasi Bawah. Tetapi dari yang kulihat, dia memiliki reputasi yang sangat baik."
"..........." Liu Wei Lin juga memperhatikan Xiao Shuxiang dengan saksama. Dirinya memikirkan pertemuannya dengan sosok ini sebelumnya.
Saat itu Xiao Shuxiang memang tidak nampak seperti pelayan. Pemuda itu juga terikat hubungan pernikahan dengan Ling Qing Zhu. Xiao Shuxiang juga tidak takut pada Yan Tianhen bahkan mempunyai pedang pusaka yang hebat.
Liu Wei Lin melambaikan pelan kipas miliknya. Dia memang mendengar dari Zhi Shu bahwa Xiao Shuxiang adalah alkemis, tetapi perasaannya mengatakan bahwa identitas Xiao Shuxiang lebih dari itu. Apalagi sikap pemuda ini kadang tidak biasa.
"..........."
Perjalanan menuju Istana Seribu Pedang dari Kota Xiliang memakan waktu paling lama tujuh hari, itu pun jika tidak ada masalah di jalan.
Xiao Shuxiang dan teman-temannya datang tepat waktu. Konferensi Aliansi Abadi belum dimulai karena masih ada beberapa kultivator dari sekte lain yang belum datang, namun sekarang karena Ling Qing Zhu dan Liu Wei Lin sudah tiba---maka anggota Sekte Lautan Awan kini sudah lengkap.
"Kau bisa menumpang mandi di kamarku," Zhi Shu menawarkan kamar pribadinya untuk Saudara Xiao-nya.
"..........." Xiao Shuxiang menatap Zhi Shu sebelum akhirnya turun dari kereta saat kuda yang membawa mereka berhenti berjalan. Teman-temannya yang lain pun ikut turun satu per-satu.
Xiao Shuxiang, "Zhi Shu. Aku hargai niat baikmu, tapi apa aku tidak punya kamar pribadi di tempat ini?"
Zhi Shu mengerutkan keningnya, dia pun menjelaskan. "Sebenarnya para pelayan juga disediakan kamar khusus, tapi aku tidak mau Saudaraku sendiri mandi di sana."
"Hah, Kau pikir aku datang kemari sebagai.... Pelayan?"
"Mm? Bukannya kau bekerja sebagai tukang cabut rumput di Sekte Lautan Awan? Itu juga 'pelayan', kan?"
Xiao Shuxiang tersentak, dia baru saja akan membentak Zhi Shu saat sebuah seruan terdengar.
"XIAO SHUXIANG...!"
__ADS_1
Liu Wei Lin dan teman-temannya kaget, mereka segera menoleh ke asal seruan itu dan melihat ada dua orang pria yang salah satunya tinggi berotot. Kedua pria itu sedang berjalan mendekati mereka.
Liu Wei Lin mengenali kedua pria itu. Mereka tidak lain adalah saudara seperguruannya sendiri----Yan Tianhen dan Wen Gao Chong.
"Tuan Muda Yan..?" Wang Zhao juga mengenali dua pria itu. Yan Tianhen merupakan murid dari Tetua Wang Jing Li, sementara Wen Gao Chong adalah murid Tetua Xie Yanran.
"Xiao Shuxiang, apa yang kau lakukan di tempat ini?!" wajah Yan Tianhen nampak buruk. Dia sebenarnya hanya berjalan-jalan biasa dengan Wen Gao Chong dan justru tidak sengaja melihat sosok yang mirip Xiao Shuxiang.
Namun ketika memperhatikan sosok itu dengan baik, Yan Tianhen yakin dengan penglihatannya. Dia pun mendekat dan benar saja, pemuda yang dia lihat adalah Xiao Shuxiang.
Yan Tianhen menatap Liu Wei Lin dan mendengus kesal. "Kau benar-benar sudah berani, apa pantasnya kau membawa dua pelayan ini kemari?"
"Saudara Yan, tidak bisakah kau bicara sedikit lebih tenang?" Liu Wei Lin membuka kipasnya.
"Bagaimana bisa aku tenang saat melihat wajah pemuda menyebalkan ini..!" Yan Tianhen menunjuk Xiao Shuxiang, dia pun berkata ketus. "Apa kau tidak tahu malu menempeli Wei Lin seperti benalu. Dan kau, Wang Zhao! Kau bahkan lebih buruk darinya!"
Wajah Wang Zhao memucat karena ikut ditunjuk oleh Yan Tianhen. Dia bahkan tidak berani mengucapkan sepatah kata pun untuk membalas perkataan Yan Tianhen.
Wang Zhao mungkin saja mempunyai sesuatu yang mirip dengan Xiao Shuxiang, namun dia belum bisa menyamai keberanian pemuda itu dalam mencari masalah.
Xiao Shuxiang berjalan dan kemudian meraih telunjuk Yan Tianhen hingga membuat teman-temannya dan Yan Tianhen sendiri terkejut.
Xiao Shuxiang berujar dingin, "Seseorang yang berani mengangkat telunjuknya di depanku kebanyakan sudah kehilangan kemampuannya dalam menggunakan tangan. Kau .... Sadarilah batasanmu,"
Yan Tianhen menarik kasar tangannya saat merasakan bahwa Xiao Shuxiang seakan ingin mematahkan jarinya. Wen Gao Chong yang berada di sampingnya pun tersentak sebab mampu merasakan hal yang sama.
Wen Gao Chong memperhatikan Xiao Shuxiang dan yakin bahwa pemuda ini perlu diwaspadai meski praktik kultivasi yang terlihat begitu rendah. Apalagi, bagi Wen Gao Chong----hanya seseorang yang berkemampuan yang dapat membalas sikap Yan Tianhen tanpa ragu.
Xiao Shuxiang menarik napas sebelum akhirnya berkata pada Yan Tianhen, "Aku sebenarnya tidak suka mencari masalah dengan Bocah sepertimu. Tapi jika kau tetap saja menganggu, maka jangan salahkan aku atas apa yang akan menimpamu."
Wen Gao Chong melangkah dan menyilangkan tangannya, dia berdiri di depan Xiao Shuxiang yang tinggi pemuda itu hanya sebatas bahunya. Dengan suara yang berat, dia berkata. "Bukan seperti itu cara pelayan berbicara dengan majikannya. Kau harus .... Menundukkan pandanganmu."
!!
Mo Huai merinding ngeri melihat tatapan pria besar yang berotot tersebut. Tanpa sadar, tubuhnya sampai gemetaran. Zhi Shu dan Ling Qing Zhu pun kaget, meski suara yang mereka dengan nampak biasa saja----namun tatapan Wen Gao Chong seakan menandakan bahwa pria itu bisa membunuh seseorang meski tanpa menggerakkan tangannya.
__ADS_1
******