![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
Serangan dari kain-kain merah Chu Gu Xiang menyambar begitu liar. Dia begitu marah dan bahkan tidak ragu menebas tubuh penjaga Istana Teratai Hitam.
Praktik Chu Gu Xiang berada di Grand Master tingkat Bumi dan serangan yang seakan membabi buta itu tidak memiliki celah pada pertahannya.
Para penjaga istana yang praktiknya satu tingkat di bawah Chu Gu Xiang masih bisa menghindari serangan tersebut, tetapi tidak demikian dengan penjaga lainnya yang begitu kesulitan.
"Sialan, dia benar-benar menggila."
"Jika tertangkap oleh kain merahnya itu, maka kita akan tewas."
"AWAS..!!"
!!!
Chu Gu Xiang mengepalkan tangannya, "Aku marah ... Aku marah sampai tubuhku gemetar. Kalian semua ... Beraninya kalian melakukan ini padaku!"
Chu Gu Xiang menyambarkan salah satu kain miliknya ke arah Istana Teratai Hitam dan berseru, "Qiao Nuan! Keluar kau dan hadapi aku..!!"
Sambaran kedua lagi-lagi datang dan membuat salah satu bagian istana sampai mengalami kerusakan. Liu Wei Lin yang berhasil membawa Lan Guan Zhi dan Hu Li menepi terlihat terkejut kala menyaksikan betapa brutalnya serangan Chu Gu Xiang.
"Dia sepertinya sangat marah ..." Hu Li berujar pelan dan membuat Liu Wei Lin menoleh ke arahnya.
Sambil melambaikan kipas miliknya, Liu Wei Lin berkata. "Itu bukan 'sepertinya' lagi ... Tapi dia benar-benar marah. Jika itu aku, maka aku juga akan melakukan hal yang sama. Siapa yang tidak marah jika kita dikhianati oleh rekan sendiri dan bahkan diberi hukuman yang berat? Hanya orang bodoh yang tidak akan marah setelah semua perlakuan tidak manusiawi yang diberikan padanya,"
"Memangnya apa yang sudah para penjaga istana lakukan?" Hu Li bertanya sambil mengatur napasnya baik-baik.
Liu Wei Lin menjawab, "Chu Gu Xiang dikurung dalam sebuah tempat bernama Kolam Seribu Duka. Penjara bawah tanah itu kudengar dipenuhi oleh api yang menyala-nyala. Ada yang bilang itu adalah neraka buatan yang paling ditakuti karena siksaannya yang tiada akhir,"
Hu Li menahan napas mendengarnya dan menatap lurus ke depan. Dirinya saat ini berdiri di atas dinding gerbang Istana Teratai Hitam bersama Lan Guan Zhi dan Liu Wei Lin. Dia menyaksikan serangan dahsyat yang dilakukan oleh Chu Gu Xiang.
Liu Wei Lin melambaikan kipasnya dan berkata, "Jika dia terus seperti itu---aku yakin bahwa gedung istana pasti akan runtuh,"
Lan Guan Zhi tersentak mendengarnya, binar pada matanya berubah dan ini disadari oleh Hu Li. Pemuda berambut putih itu pun buka suara, "Tuan Muda Lan? Ada apa?"
"Shuxiang ... Dia ada di dalam sana."
Liu Wei Lin menoleh, memperhatikan Lan Guan Zhi yang meski berekspresi tenang, tapi begitu peduli pada Xiao Shuxiang. Dia berkedip dan melambaikan kipas merahnya, sedikit penasaran tentang hubungan 'pertemanan' yang dimiliki oleh Lan Guan Zhi dan Xiao Shuxiang.
Hu Li sendiri tersentak, dia baru ingat bahwa Tuan Muda Xiao-nya ada di dalam Istana Teratai Hitam bersama dengan Wang Zhao. Jika Chu Gu Xiang terus menyerang istana itu, maka bisa saja Tuan Muda Xiao-nya ikut menjadi korban.
__ADS_1
"Ba-Bagaimana ini?" Hu Li menjadi cemas, "Kita tidak bisa mendekat. Kain-kain merah itu bergerak sangat liar, pola serangannya sulit ditebak."
Lan Guan Zhi memperhatikan serangan Chu Gu Xiang dan berusaha mencari jalan untuk bisa masuk ke dalam Istana Teratai Hitam. Di saat yang sama, dari kejauhan----terlihat Tetua Meng Hao Niang, Tetua Chen Duan Shan, Ling Qing Zhu, dan beberapa kultivator dari berbagai sekte lainnya.
*
*
Ling Qing Zhu menaiki pedang yang dibawa oleh Tetua Meng Hao Niang, bergerak secepat anak panah hingga tiba di tempat ini.
Untuk perjalanan memakai pedang terbang dan dengan kecepatan kultivator biasa, normalnya mereka membutuhkan waktu lebih dari sepuluh hari agar bisa tiba di tempat ini. Namun Ling Qing Zhu ikut dengan Tetua Meng Hao Niang. Mereka pun tiba lebih cepat dari yang sudah diperkirakan.
Para kultivator yang berada di wilayah perbatasan dan nampak terdesak oleh penjaga Istana Teratai Hitam melihat bantuan datang. Mereka nyaris tidak sanggup bertahan, namun sekarang dengan adanya sosok yang praktik kultivasinya---mereka pun bisa melihat peluang untuk menang.
Shen Gu, salah satu kultivator dari Sekte Lembah Iblis nampak menggeram ketika melihat datangnya bantuan dari lawan. Dia dan teman-temannya memegang kuat pedang mereka dan bersiap untuk pertarungan berikutnya.
Xiao Feng yang merupakan salah satu kultivator aliran putih nampak menekan dadanya dan terbatuk darah. Dia dan beberapa kultivator lainnya mengalami luka yang cukup parah, nyaris tiada andai pandangan lawan tidak teralihkan oleh kedatangan para tetua itu.
Seseorang yang juga ikut menyaksikan bantuan tersebut adalah mayat yang tubuhnya dirasuki oleh bayangan hitam sebelumnya, dia bersembunyi di balik salah satu pohon dan memandang ke arah kultivator yang datang sebelum pandangannya tertuju pada Xiao Feng.
Bibir pucat mayat itu tertarik membentuk sebuah senyuman. Di saat yang sama, pakaian mayat tersebut berubah menjadi seperti salah satu pakaian dari sekte aliran putih. Luka di wajah dan pucat pada bibirnya juga ikut berubah menjadi lebih cerah.
Xiao Feng kembali terbatuk darah dan terlihat mengerang tertahan. Napasnya tersengal-sengal, bahkan dirinya sulit untuk memegang pedangnya. Tangan kanannya hampir lemas ketika sesuatu melesat dan langsung meraih pinggang kanannya. Dia dibawa pergi oleh sosok berjubah putih.
Tidak seorang pun dari kultivator itu yang menyadari bahwa di antara mereka ada sosok yang seharusnya sudah menjadi mayat. Ini menjadi bukti bahwa bayangan hitam misterius yang merasuki mayat tersebut mempunyai kekuatan yang tidak main-main, bahkan mungkin sulit untuk diukur.
"Mau pergi ke mana kalian..!!" Shen Gu baru tersadar bahwa kultivator yang dia dan teman-temannya hadapi berusaha melarikan diri.
Shen Gu dan yang lainnya hendak melesat untuk menyerang mereka, namun sebuah serangan besar membuat langkahnya terhenti.
Seorang pria tua menapak di tanah, tepat di hadapan Shen Gu. Sosok tersebut tidak lain adalah Tetua Chen Duan Shan. Bantuan yang begitu besar untuk para kultivator dari sekte lain yang sudah tiba lebih dahulu ke tempat ini.
"Sepertinya aku tidak datang terlambat," Tetua Chen Duan Shan buka suara dan mulai memperhatikan sekelilingnya. Dia pun menghela napas dan berkata, "Anak muda. Kutanya satu hal padamu. Apa kau akan tetap mengikuti perintah pemimpinmu yang sekarang, atau sarungkan kembali pedangmu itu."
Beberapa rekan Shen Gu ada yang tersentak mendengar ucapan Tetua Chen Duan Shan. Para kultivator dari Sekte Lembah Iblis itu menatap Shen Gu seakan ingin menunggu perintah dari ketua mereka.
Tetua Meng Hao Niang ikut menapak di tanah, tepat di samping Tetua Chen Duan Shan dan kehadirannya membuat Shen Gu serta yang lainnya terkejut bukan main.
"Tetua Meng..!!"
__ADS_1
"Tidak mungkin ..!"
Beberapa rekan Shen Gu berseru. Para penjaga istana itu kaget melihat Tetua Meng Hao Niang berdiri tempat di hadapan mereka. Tidak ada yang bisa melupakan wajah wanita itu meskipun kini pakaiannya tidak lagi berantakan.
"............" Meng Hao Niang sama sekali tidak berbicara, bahkan ekspresi wajah yang dia tunjukkan begitu datar. Dia pun memperhatikan para kultivator dari Sekte Lembah Iblis yang melihatnya seperti sedang melihat hantu.
"Ba-bagaimana mungkin Tetua Meng bi-bisa ..." Shen Gu jelas saja kaget. Dia ingat bahwa dahulu Tetua Meng Hao Niang terluka para ketika berusaha menyelamatkan Wang Zhao. Luka itu tidak mustahil untuk pulih bahkan jika dia adalah alkemis dengan pil abadi.
Tetua Meng Hao Niang mulai buka suara. Dia berujar, "Kulihat kalian begitu penurut pada orang itu. Apa pun perintahnya, kau dan teman-temanmu akan langsung melakukannya. Sungguh hebat, hmph."
Tetua Meng Hao Niang berkata dengan nada sinis, "Memang apa yang sudah dijanjikan Qiao Nuan hingga kalian begitu setia menggoyangkan ekor dan menjilat kakinya? Apa dia menjanjikan keabadian pada kalian, huh?"
Di antara giginya yang terkatup, Shen Gu berkata. "Kami tidak menuruti perintah nona Qiao Nuan. Kami hanya menuruti perintah Tetua Sekte Lembah Iblis yang bahkan tidak bisa kau kalahkan!"
Melihat pedang Shen Gu yang terhubung ke arahnya membuat Tetua Meng Hao Niang menatap dingin pada kultivator tersebut. Alkemis wanita itu bersuara dingin, "Oh. Kau menuruti perintah Tetua Sektemu? Orang yang sudah membunuh seluruh anggota keluargamu itu?"
"Yang membunuh mereka adalah Wang Zhao! Jika Tetua Agung Huang Lianyi tidak menyelamatkan nyawaku, maka aku pun juga pasti sudah tiada."
"Omong kosong!" Tetua Chen Duan Shan membentak, "Wang Zhao ... Muridku itu tidak pernah mengambil nyawa siapa pun. Dia bahkan tidak bisa memikirkan untuk mengayunkan senjata melukai lawannya. Aku tahu karena aku sudah lama mengawasi dan membimbing anak itu,"
Shen Gu mendengus sebelum akhirnya tertawa, "Hebat sekali ... Wang Zhao begitu hebat dalam bersandiwara. Dia bahkan bisa menipu seorang tetua sepertimu. Benar-benar hebat,"
Shen Gu mengepalkan tangannya. Dia menggigit bibirnya saat mulai berkata, "Apa kau ingin tahu ... Kenapa Tetua Agung melakukan pemberontakan? Itu karena Wang Zhao! Dia adalah monster yang mengerikan. Dia membunuh siapa pun yang diinginkannya dan ayahnya yang menyebalkan itu---dia justru dengan tanpa tahu malu menyembunyikan sifat asli putranya."
Shen Gu berkata, "Tetua Agung muak dengan ketidak-adilan ini, karena itulah dia pergi ke Alam Kultivasi Bawah untuk mengumpulkan kekuatan. Jika bukan karena Tetua Agung, tempat ini pasti sudah menjadi Lembah Tengkorak sekarang."
Tetua Chen Duan Shan tidak tahu harus bereaksi seperti apa setelah mendengar ucapan dari pemuda ini. Wajah Shen Gu seperti seseorang yang pernah menjadi korban penindasan, tatapan pemuda itu seolah mengandung kebencian yang tidak ditujukan padanya.
Tanpa menoleh, Tetua Chen Duan Shan berbicara dengan Tetua Meng Hao Niang. "Bagaimana menurutmu? Apa ucapan orang ini benar?"
"............. Tidak," Tetua Meng Hao Niang berkata, "Sejauh yang kutahu ... Wang Zhao bukan orang seperti itu."
Meng Hao Niang menatap Shen Gu dan berkata, "Wang Zhao yang kau bicarakan itu sangat jauh berbeda dari Wang Zhao yang selama ini kukenal. Kau pasti sudah dipengaruhi oleh pemikiran yang dibuat orang itu. Apa kau pernah melihatnya membunuh orang, hah?"
"Dia memang tidak membunuh secara langsung!" salah seorang rekan Shen Gu angkat bicara, "Dia bisa mengambil nyawa orang bahkan tanpa bergerak dari tempatnya berdiri. Dia benar-benar monster!"
Tetua Meng Hao Niang menggeleng pelan. Orang-orang ini sudah jatuh ke dalam perangkap Huang Lianyi dan Qiao Nuan. Ini karena menurutnya sangat mudah bagi kedua orang itu untuk memanipulasi pikiran siapa pun agar bisa berpihak pada mereka.
Di saat Tetua Meng Hao Niang dan Tetua Chen Duan Shan berhadapan dengan Shen Gu serta para kultivator Sekte Lembah Iblis, Ling Qing Zhu dan beberapa kultivator yang bersamanya melesat ke salah satu kota yang nampak berada dalam situasi kacau.
__ADS_1
Ling Qing Zhu berniat untuk ke Istana Teratai Hitam dan mencari Wali Pelindungnya, tapi kondisi yang dia hadapi sekarang terlalu rumit. Dia tidak yakin bisa tiba tepat waktu ke tempat Xiao Shuxiang berada.
******