![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
Konferensi Aliansi Abadi yang bahkan belum mencapai satu hari penuh itu sudah menjadi mimpi buruk bagi sebagian besar peserta.
Mereka telah bertarung dengan berbagai jenis Demonic Beast dan sudah merasa tidak kuat lagi. Sekarang pun, mereka kini hanya mengandalkan seseorang dari Istana Seribu Pedang untuk menjadi pelindung.
Langit berwarna gelap di atas sana dan bulan purnama bersinar terang. Ada juga ribuan bintang yang menghiasi langit dan terlihat begitu indah. Rasanya sungguh menenangkan, tapi sepertinya itu tidak bisa menghilangkan keresahan di dalam hati para peserta konferensi.
"Tuan Muda Lan, aku benar-benar minta maaf." salah seorang murid perempuan berujar pelan, "Kau jadi harus melindungi kami seperti ini dan perjalananmu juga menjadi terhambat."
"Bukan masalah,"
Sosok yang disebut 'Tuan Muda Lan' itu tidak lain adalah Lan Guan Zhi. Pemuda tersebut membawa belasan orang murid dari berbagai sekte bersamanya dan kebanyakan para murid itu mengalami luka hingga bahkan jalan mereka pun terlihat agak pincang.
Lan Guan Zhi berjalan di depan, pedang berada di tangan kanannya. Lokasinya sekarang adalah sebuah padang berbatu yang lumayan luas. Terdapat beberapa batu yang sangat besar di sisi kanannya dan seakan bertindak sebagai dinding.
Lan Guan Zhi terkadang melompat ke atas batu untuk mengawasi keadaan di sekitarnya. Dia kemudian memperhatikan para murid yang masih sangat muda itu saling memapah dan membantu satu sama lain. Pandangan Lan Guan Zhi pun lantas mengarah ke depan----terlihat sebuah hutan yang tidak jauh dari tempat mereka berada sekarang.
Lan Guan Zhi melihat beberapa Demonic Beast berwujud serigala dan dengan cepat melesat untuk menyerangnya. Dia hanya melakukan beberapa gerakan dan berhasil menumbangkan semuanya. Dia sangat menjaga para murid yang saat ini sedang bersamanya.
Lan Guan Zhi kembali pada para murid setelah menyelesaikan urusannya. Saat itu seorang gadis cantik dan anggun berjalan mendekatinya meski sedikit pincang. Kemungkinan kakinya sempat terkilir ketika bertarung melawan Demonic Beast.
"Tuan Muda Lan, maafkan aku karena harus merepotkanmu lagi. Tapi, apa kita bisa istirahat sebentar? Beberapa di antara kami sudah terlalu kelelahan hingga tidak mampu melanjutkan perjalanan lagi,"
Lan Guan Zhi memperhatikan para murid yang bersamanya dan memang mereka butuh istirahat, tapi tempat ini bukanlah lokasi yang cocok untuk beristirahat.
"Lokasi ini berbahaya. Tidak boleh istirahat,"
Seorang gadis lainnya maju dan berujar pelan, namun seolah sedang merengek. "Tuan Muda Lan, anda adalah orang yang baik. Tidak masalah, kan jika kita istirahat sebentar? Aku sudah tidak kuat berjalan,"
"..............." Lan Guan Zhi menarik napas dan tanpa ekspresi mengangguk pelan. Dia pun mulai menyarungkan kembali pedangnya dan mencari posisi yang baik di sebuah batu paling tinggi.
Lan Guan Zhi duduk bersila dan perlahan memejamkan mata. Para peserta yang lain mulai mengambil tempat duduk di antara bebatuan yang terlihat. Tidak sedikit dari para murid itu yang nampak memijat pelan lutut dan kakinya.
__ADS_1
*
*
Di tempat Mo Huai sekarang. Pemuda itu sudah berhasil lolos, namun ini juga karena pertarungan sudah selesai. Mo Huai tidak bisa pergi lebih jauh, apalagi meminta bantuan orang lain-----para peserta yang sejak tadi bertarung mati-matian sudah terkapar kehilangan nyawanya.
Sementara, satu-satunya kultivator yang bertahan kini hampir mengembuskan napas terakhirnya. Mo Huai yang sejak tadi terbaring dan pura-pura mati perlahan mendekati kultivator tersebut.
Mo Huai tersentak, kultivator ini juga sama dengan yang lainnya. Mereka semua terkena ilusi yang entah bagaimana bisa terjadi.
"..............." Kultivator muda itu menyadari ada sesuatu yang mendekat ke arahnya. Hanya saja, dia kesulitan bergerak saat ini. Bahkan untuk mengayunkan pedang pun dirinya sudah tidak sanggup lagi.
"Apa .... Kau---"
"Demonic Beast!"
Mo Huai kaget saat mendapat bentakan. Dia pun dengan segera mengangkat tangan dan mengibas-ngibaskannya, "A-aku bukan Demonic Beast. A-aku sama sekali bukan---"
Mo Huai tentu saja panik. Dia menarik napas dan kemudian segera memukul leher kultivator tersebut dengan cukup keras. Dia membuat kultivator itu tidak sadarkan diri, bahkan sampai membuat Mo Huai sendiri merasa mustahil akibat tindakannya.
"Dia .... Haah, syukurlah dia masih bernapas." Mo Huai merasa lega saat memeriksa kondisi pemuda yang terbaring di hadapannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Mo Huai terlihat pucat, "Orang ini tidak mendengar suaraku dan justru meneriakiku sebagai Demonic Beast. Apa dia sungguh tidak bermasalah?"
Mo Huai memikirkannya, "Tunggu .... Dia mempunyai mata yang sepenuhnya putih. Orang ini jelas terkena ilusi. Jika aku benar, maka .... Dia mungkin melihat orang lain sebagai Demonic Beast dan bahkan suara yang didengarnya pun seakan milik Demonic Beast."
Mo Huai merebut mengambil pedang kultivator itu dan mulai merobek kain pakaiannya. Dia lantas memakainya untuk menutupi kedua mata pria tersebut.
Mo Huai mengembuskan napas dan menyatukan kedua tangan kultivator asing di hadapannya. Dia pun mulai mengambil sebuah pil dan kemudian memasukkan pil itu ke dalam mulut pria di depannya.
Pil berwarna putih susu tersebut cukup lama untuk lebur, tetapi efeknya sama sekali tidak mengecewakan. Hanya butuh waktu beberapa saat sampai luka-luka yang dialami pria asing ini tertutup kembali, bahkan napasnya pun kembali normal.
__ADS_1
Mo Huai tidak menunggu lama sampai sosok tersebut mulai sadar kembali. Hanya saja kali ini Mo Huai tetap memegang kedua tangan pria tersebut agar penutup mata yang sudah dia ikat tidak dilepaskan.
"Demonic Beast--?!" Pria itu bangun dan tersentak saat kedua tangannya seperti di pegang kuat. Dia mengerutkan kening saat merasakan bahwa yang memegang tangannya adalah tangan manusia.
"Ke-kenapa begitu gelap?!" kultivator pria itu baru menyadari kondisinya sekarang, dia ingat bertemu Demonic Beast yang sangat menyeramkan.
Mo Huai bernapas pelan dan dengan penuh perhatian menepuk-nepuk punggung tangan pemuda di depannya. Dia berusaha menenangkan sosok itu sambil memberikan pengertian bahwa yang memegang tangannya saat ini adalah manusia.
"Kenapa kau tidak bicara? Apa kau yang menutup mataku ini?"
"..............."
Mo Huai tidak menjawab dan justru menulis beberapa karakter pada tangan pemuda di hadapannya. Dia menulis ulang karakter itu terus-menerus agar sosok di depannya semakin percaya bahwa dia adalah manusia bahkan tanpa membalas ucapannya.
"Apa kau bisu?" kultivator pria tersebut bertanya kembali. Ini jelas merupakan hantaman keras bagai sosok seperti Mo Huai.
"Andai saja kau tidak menggila saat aku bicara .... Itu pasti akan sangat bagus. Tapi hanya ini yang bisa kulakukan, aku tidak boleh sampai bersuara." Mo Huai kembali menepuk-nepuk pelan punggung tangan kultivator di depannya.
"..............." Kultivator itu merasa ditenangkan. Dia pun mengatur napas dan yakin bahwa sosok di hadapannya memang tidak bisa bicara.
Dari sentuhan yang dia rasakan, kultivator itu menganggap bahwa yang memegang kedua tangannya adalah seorang perempuan. Ini karena tidak mungkin ada laki-laki yang telapak tangannya bisa sampai sehalus ini.
"Nona, aku tidak tahu apa alasanmu menutup mataku dengan kain seperti ini. Tapi terima kasih karena kau sudah menyembuhkanku,"
Mo Huai tersentak dan berkedip ketika disebut 'Nona'. Dia sangat ingin protes dan meluruskan kesalah--pahaman ini, namun kondisinya sekarang tidak membiarkannya untuk bicara sepatah kata pun.
"Pertama-tama, orang ini harus diobati untuk menghilangkan ilusi yang ada padanya. Aku perlu menemukan seseorang yang ahli dalam mengendalikan ilusi,"
Mo Huai menarik pria yang dipegangnya untuk berdiri. Dia pun lantas menarik pria asing tersebut untuk berjalan pergi. Mereka harus keluar dari hutan ini untuk menemukan orang yang terkenal cukup ahli menangani ilusi.
******
__ADS_1