![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
"Tuan Xiao itu... Qiao Yue pernah bertemu dengannya," suara Yun Qiao Yue teramat lembut. Dia juga merupakan murid terbaik dari salah satu Puncak Gunung Suci Sekte Lautan Awan.
Liu Wei Lin menoleh ke arah gadis cantik berpakaian merah itu. Dia berkata, "Nona Yun ternyata tahu tentang Saudara Xiao-ku. Apa Nona Yun memiliki pendapat tentangnya?"
Yun Qiao Yue membelai pelan pipinya dan sedikit menunduk. Dia seperti kupu-kupu cantik yang pemalu. "Tuan Xiao itu... Qiao Yue tidak yakin, tapi sepertinya dia punya sesuatu yang tersembunyi darinya. Tuan Xiao mempunyai pribadi yang ramah, tapi juga misterius. Qiao Yue sulit memberi tahu sifatnya pada Senior Liu,"
"Dia pemuda yang menyenangkan."
!!
Yun Qiao Yue, Wang Gao Chong dan Liu Wei Lin seketika menolehkan pandangan saat mendengar Yu Zuanshi bicara.
Saudara seperguruan mereka yang sejak tadi begitu serius dan sibuk sendiri dengan alat musik Liuqin miliknya itu tak disangka juga ikut bersuara, meskipun sampai sekarang dia tetap fokus pada alat musiknya.
Yun Qiao Yue bertanya. "Zhuanshi Shixiong, apa kau pernah bertemu Tuan Xiao itu?"
Yu Zhuanshi tetap pada alat musiknya saat berkata, "Tidak. Tapi jika orang bernama Xiao Shuxiang ini bisa menarik perhatian Liu Wei Lin, maka pasti dia pemuda yang menyenangkan."
Liu Wei Lin tersenyum cerah, "Itu benar. Saudara Xiao-ku ini punya ketertarikan sendiri pada 'seni'. Ah... Meski amatir, tapi dia tahu sedikit cara berpuisi. Dia orang yang menyenangkan,"
Yu Zuanshi mulai mencoba memetik senar pada alat musik Liuqin miliknya dan kemudian berkata dengan nada suara yang tenang, "Kurasa dia satu-satunya orang yang memberikan balasan saat kau berpuisi,"
Yu Zuanshi melirik ke arah Liu Wei Lin dan mendapatkan respon dari pemuda tersebut. Dia bisa melihat betapa Liu Wei Lin begitu senang karena menemukan belahan jiwanya untuk hal yang menurut dirinya sangatlah menggelikan.
Liu Wei Lin tidak pernah benar dalam berpuisi, dia hanya memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Namun tidak ada siapa pun selain Yu Zuanshi dan Wen Gao Chong yang berani menyampaikan kritikan padanya.
Seseorang paling tidak mempedulikan apa pun kemungkinan hanya satu orang ini, dia adalah Zhang Xiao Lian. Murid dari Gunung Puncak Bai dan satu-satunya gadis yang berpakaian putih di tempat ini.
"........"
Zhang Xiao Lian tidak pernah buka suara sejak tadi, bahkan saat Wen Gao Chong membahas tentang pencabut rumput baru di sekte mereka. Dia hanya fokus menikmati aroma teh yang lembut dan merasakan setiap lambaian angin yang menerpanya.
Ada tujuh tempat duduk yang tersedia, namun hanya lima yang mempunyai pemilik. Satu tempat duduk merupakan milik Yan Tianhen, sementara satunya lagi tidak pernah ada orang yang mengisinya.
Liu Wei Lin, Wen Gao Chong, Yu Zuanshi, Yun Qiao Yue dan Zhang Xiao Lian adalah lima terbaik yang disebut-sebut sebagai pewaris dari Puncak Gunung Suci Sekte Lautan Awan. Yan Tianhen pun demikian, hanya saja pemuda itu memang jarang berkumpul bersama mereka di sini.
__ADS_1
*
*
*
Xiao Shuxiang, "... Setiap murid Sekte Lautan Awan mempunyai sifat yang berbeda-beda. Tidak dapat dipungkiri bahwa meski tinggal di alam yang begitu hebat bisa membuat keserakahan menghilang dari dalam diri mereka. Biar bagaimanapun, kultivator di tempat ini juga masih tergolong makhluk fana."
Mo Huai begitu serius memperhatikan Xiao Shuxiang dan tanpa sadar tidak membantu pemuda itu mencabut rumput kembali. Dia berujar, "Tapi bukankah tetap saja keterlaluan jika mereka yang lebih dahulu membuat masalah, namun justru melampiaskan kemarahannya padamu?"
"Yah, memang keterlaluan. Tapi mau bagaimana lagi...? Mereka masih terlalu muda," Xiao Shuxiang menghela napas dan kemudian tersenyum, "Anggap saja mereka iri karena aku jauh lebih tampan dan mempesona,"
Mo Huai mendengarnya dan terdiam beberapa lama. Tanpa sadar dia berkata, "Kau sudah banyak berubah."
"Mn?" Xiao Shuxiang menoleh dan menatap pemuda di sampingnya, "Apa maksudmu?"
"Ah, i-itu..." Mo Huai baru menyadari kesalahannya. Dia harusnya tidak bicara seformal ini pada Xiao Shuxiang, tetapi sepertinya pemuda di sampingnya tidak mempermasalahkan gaya bicaranya.
Tatapan Mo Huai sedikit tertunduk saat berkata, "Aku hanya merasa bahwa kau sudah banyak berubah, Tuan Muda Xiao. Kupikir... Hatimu kini telah melembut,"
Belum sempat melanjutkan ucapannya----Mo Hua yang menoleh tiba-tiba melihat raut wajah Xiao Shuxiang yang tidak biasa. Pemuda itu seperti sangat terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar. Ini membuat Mo Huai merasa keheranan.
"Tuan Muda Xiao?"
"Kau ingin bilang... Bahwa aku sudah menjadi lemah, kan?"
"Bu-bukan begitu. Aku tidak bicara seperti itu, su-sungguh."
"Kau bilang tadi bahwa hatiku kini telah melembut, bukankah itu artinya sama dengan aku menjadi lemah?"
Mo Huai kelabakan, dia khawatir dengan ucapannya yang kemungkinan besar sudah menyinggung Xiao Shuxiang. "Tuan Muda Xiao, aku tidak bermaksud begitu---"
"Kenapa kau panik?" senyum terlukis di wajah Xiao Shuxiang, "Aku sama sekali tidak menyalahkanmu. Justru sangat bagus jika kau melihatku sebagai orang yang lemah, itu berarti aku sudah bisa membuat mereka meremehkanku sekarang,"
Sebenarnya apa yang direncanakan pemuda ini? Mo Huai tidak mengerti. Namun senyuman tipis yang terlihat itu jelas mengandung niat tersembunyi dan terasa sedikit jahat.
__ADS_1
Jika dingat-ingat lagi, Xiao Shuxiang adalah pemikir yang gila. Sebelumnya dia bisa menjual teman-temannya untuk sebuah undangan ke Alam Kultivasi Atas, jadi bila melakukan hal yang lebih buruk lagi maka----Xiao Shuxiang jelas tanpa ragu bisa melakukannya.
"Dia..." sebuah kata baru saja terlintas di pikiran Mo Huai saat dirinya mendengar sebuah suara asing.
"Permisi,"
Xiao Shuxiang menoleh, dia melihat seorang pemuda yang memakai pakaian pelayan seperti Mo Huai. Orang itu tidak dikenal Xiao Shuxiang dan bukan bagian dari kultivator yang dibawa kemari.
Xiao Shuxiang berdiri dan menatap pemuda yang terlihat gugup tersebut, "Apa yang kau inginkan?"
!!
Melihat betapa mengagungkannya postur tubuh dan penampilan Xiao Shuxiang membuat pelayan itu terpesona beberapa saat sebelum dengan hati-hati bersuara.
"Aku sedang dalam perjalanan menebang kayu, namun tidak ada seorang pun yang bisa membantu. Para pelayan semuanya sibuk, jadi Tuan Dao memintaku untuk menemuimu. Aku..."
Xiao Shuxiang kurang lebih mengerti apa yang ingin disampaikan pelayan yang terlihat masih sangat muda ini. Dia bisa melihat bahwa tubuh kurus pemuda di hadapannya akan sangat menyulitkan dalam menebang sebuah pohon.
"Tua Bangka itu..." Xiao Shuxiang mengembuskan napas dan lalu menggeleng pelan. Jika saja dia tidak ingat tujuannya datang kemari, maka sudah sejak awal dia membuat keributan di tempat ini.
"Mo Huai, apa kau bisa membantuku dengan rumput-rumput itu?" Xiao Shuxiang menatap ke arah Mo Huai yang membuat pemuda itu sedikit tersentak.
Melihat Mo Huai mengangguk pelan membuat Xiao Shuxiang kembali berujar, "Aku akan pergi sebentar. Kau tunggu saja di sini,"
"Tuan Muda Xiao? Kau sungguh akan pergi dengannya?" Mo Huai tidak bisa mempercayai ini.
Seorang Xiao Shuxiang, yang biasanya sangat anti menolong orang lain----kini justru mengulurkan tangan membantu seorang pelayan. Tidak mungkin!
Mo Huai menatap punggung Xiao Shuxiang yang mulai berjalan pergi bersama pelayan muda itu. Dia terus memperhatikannya sampai tidak lagi melihat mereka.
"........"
Ekspresi Mo Huai sulit ditebak, tetapi dari yang terlihat----sebuah senyuman terlukis di wajahnya. Tentu saja, siapa pun akan merasa bahagia jika melihat perubahan pada seseorang yang selama ini tidak pernah bisa dipisahkan dari darah.
Banyak yang menginginkan perubahan pada diri Xiao Shuxiang. Banyak orang yang menyayangi pemuda itu. Mungkin saja ini adalah awal dari ditaklukkannya hati yang begitu pekat.
__ADS_1
******