![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
Bocah Pengemis Gila menatap Xiao Shuxiang dan Lan Guan Zhi secara bergantian sebelum mulai mengembuskan napas. Dia pun menatap Lan Guan Zhi dan berkata, "Jadi... Sebenarnya anak ini kutemukan di sudut. Dia berjongkok dan menangis, terlihat sangat menyedihkan. Jadi karena tidak tega, aku membawanya ke sini."
Xiao Shuxiang berkedip dengan ucapan Bocah Pengemis Gila, dia memukul lengan pria ini dan memberinya tatapan tajam. Entah siapa yang disebut anak yang berjongkok di sudut sambil menangis oleh orang ini, dia bahkan tidak bisa memikirkan bahwa itu adalah dirinya.
"...................." Ling Qing Zhu berkedip saat mendengar ucapan Bocah Pengemis Gila. Tanpa nada, dia pun berkata. "Sebenarnya Tuan Muda Lan datang padaku dan juga terlihat menangis. Dia memintaku menemaninya untuk berbaikan dengan Shuxiang,"
Lan Guan Zhi tersentak dan spontan menoleh ke arah Ling Qing Zhu. Dia tidak percaya bagaimana bisa gadis ini mengatakan bahwa dia menangis? Dan apa-apaan Dai Chen yang mengangguk seolah setuju dengan ucapan gadis ini?! Oh, ya ampun.
"Pffft, ha ha ha." Xiao Shuxiang tertawa tiba-tiba dan membuat teman-temannya terkejut. Suaranya terdengar meledek, "Jadi Lan'Er mendatangimu dan menangis? Apa dia terlihat sangat patah hati?"
Ling Qing Zhu mengangguk, "Sangat patah hati. Aku lama membujuknya untuk berhenti menangis,"
"Nona Ling," ekspresi Lan Guan Zhi tenang, tetapi tidak dengan tatapan matanya. Entah mengapa gadis berambut putih ini dapat memberikan penjelasan sepalsu itu dan Xiao Shuxiang justru terlihat senang mendengarnya.
Ling Qing Zhu berkata, "Jadi bagaimana? Apa kau masih marah padanya?"
Xiao Shuxiang menatap teman baiknya dan lantas berkata, "Jika dia terlihat sangat sedih hingga patah hati, aku tidak punya pilihan kalau begitu."
Lan Guan Zhi ingin protes, tetapi dia tidak bisa. Dia mengurungkan niat karena melihat senyum dari teman baiknya yang sepertinya sangat senang dengan ucapan dari Ling Qing Zhu yang menjual namanya.
"Shuxiang, aku--!" Lan Guan Zhi membeku saat tiba-tiba Xiao Shuxiang memeluknya. Kali ini bukan Lan Xiao yang menyamar, tetapi benar-benar teman baiknya.
"Tidak apa-apa. Aku tahu apa yang dikatakan Kucing Putih tidak benar. Bagaimana bisa kau menangis di depan seorang gadis, itu bukan Lan Guan Zhi namanya."
Bocah Pengemis Gila terperangah dan di sisi lain Dai Chen pun tidak kalah terkejutnya. Dai Chen hendak membentak dan menerjang Xiao Shuxiang saat pergelangan tangannya diraih oleh Ling Qing Zhu hingga membuatnya kaget.
Lan Xiao menyilangkan tangan. Dia tersenyum dan membatin, "Sudah kubilang. Sangat mudah membujuk ibu A-Xiang. Dia itu sangat baik dan tidak *pelnah **malah dalam waktu lama. Aku sangat menyukai ibu A-Xiangku,"
^^^*pernah, **marah^^^
Lan Xiao menarik pakaian Ling Qing Zhu dan memberinya isyarat untuk pergi. Gadis itu berkedip dan kemudian mengangguk pelan. Ling Qing Zhu menarik Dai Chen dan kemudian ikut meraih tangan Bocah Pengemis Gila. Dia membawa teman-temannya pergi dan mereka meninggalkan Lan Guan Zhi bersama Xiao Shuxiang.
"...................." Lan Guan Zhi tidak bicara, tetapi tatapan matanya melembut saat dia mulai mengulurkan tangan dan membalas pelukan teman baiknya.
!!
Xiao Shuxiang sebenarnya memeluk Lan Guan Zhi dengan perasaan seperti orang tua yang memeluk putranya. Dia bahkan menepuk pelan dan mengusap-usap punggung teman baiknya ini, tetapi entah kenapa perasaannya tiba-tiba aneh dan merinding saat merasakan balasan dari pelukannya yang begitu lembut.
Xiao Shuxiang tertegun, dia baru akan bicara saat pelukan padanya justru semakin erat. "Lan--Lan Zhi? Kau baik-baik saja, Nak?"
"...................." Lan Guan Zhi tidak menjawab. Dia membenamkan wajahnya dan memeluk erat subjek ini seolah berpegangan pada hidupnya.
"Tidak apa-apa," Xiao Shuxiang menepuk-nepuk punggung teman baiknya dan menenangkan orang ini. Dia berujar pelan, "...... Aku-"
"Aku salah," Lan Guan Zhi menyela. Suaranya dalam dan membuat Xiao Shuxiang tersentak.
Wali Pelindung dari Ling Qing Zhu itu menarik napas dan tersenyum, "Aku juga salah. Aku bicara kasar padamu. Tapi bukankah dalam pertemanan tidak boleh ada kata 'maaf' dan terima kasih? Jadi aku tidak akan mengatakan itu. Aku bersalah.."
"............... Mn,"
*
*
"Nona Ling, kenapa kita harus meninggalkan Shuxiang dan Tuan Muda Lan hanya berdua? Bagaimana jika Shuxiang melakukan hal yang aneh pada Tuan Muda Lan?" Dai Chen pucat saat membayangkan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi.
Bocah Pengemis Gila tidak kalah paniknya. Dia berkata, "Nona Ling. Kau tidak seharusnya meninggalkan Lan'Er Gege bersama Shuxiang. Suamimu itu sangat berbahaya. Bagaimana jika dia menggerayangi Lan'Er Gege-ku dan menindihnya?! Oh astaga! Bagaimana jika Shuxiang menjamah Lan'Er Gege-ku?!"
Bocah Pengemis Gila menjambak rambutnya dan dengan serius berkata. "Tidak bisa! Aku tidak boleh membiarkannya. Kesucian Lan'Er Gege-ku dalam bahaya jika dia bersama Shuxiang,"
"Paman, kalian berdua ini tidak waras." Lan Xiao berkata, "*Bialkan saja ayah Yuan dan ibu A-Xiangku **belsama. *Meleka ayah dan ibuku, **pellu waktu ***belduaan,"
__ADS_1
^^^*Biarkan, **bersama^^^
^^^*Mereka, **perlu, ***berduaan^^^
Bocah Pengemis Gila syok dan langsung menatap anak laki-laki ini. Dia berkata, "Kau anak yang tidak waras! Tahu tidak? Xiao Shuxiang itu laki-laki. Jika dia perempuan, aku akan membiarkannya dengan Lan'Er Gege, tidak akan protes! Dan siapa yang kau sebut 'ibu' hah? Apa Shuxiang yang melahirkanmu?"
Lan Xiao menggelembungkan pipinya dan kemudian berkata, "Ibu A-Xiang yang *mengelamiku. Jadi dia ibuku,"
^^^*mengeramiku^^^
"Nak, ada masalah pada isi kepalamu." Bocah Pengemis Gila mengusap-usap wajahnya dan kemudian berjongkok. Dia serius saat sedang meluruskan benang kurus di kepala Lan Xiao, tetapi membuat Dai Chen jadi waspada karena mengingat siapa Bocah Pengemis Gila.
Ling Qing Zhu memperhatikan kedua pemuda ini dan juga Lan Xiao. Dia pun menarik napas dan menggeleng pelan menyaksikan tingkah teman-temannya ini.
Saat Ling Qing Zhu tersenyum samar, dia mendadak tersentak dan segera menengadah. Ekspresi wajahnya serius dan tatapan matanya pun tajam. Bocah Pengemis Gila, Dai Chen, termasuk Lan Xiao pun juga merasakannya.
!!
"Paman Chen, apa itu tadi?" suara Lan Xiao serius, begitu pun dengan ekspresi wajahnya. Dia berkata, "*Lasanya **sepelti ... Ada bahaya yang mengawasi."
^^^*Rasanya, **seperti^^^
Dai Chen menggerakkan jari tangannya dengan perlahan. Energi spiritual terlihat keluar dari ujung jarinya dan tanaman di samping kakinya mulai bergerak naik.
!!
Tanpa peringatan, tumbuhan kecil itu tiba-tiba masuk ke dalam tanah dan justru muncul di salah satu atap bangunan tertinggi, menyerang sosok yang asing.
Bocah Pengemis Gila pun ikut melesat. Dia menapak pada salah satu dahan pohon sebelum kakinya menendang salah satu ranting dari pohon tersebut dan meraihnya dengan tangan.
Bocah Pengemis Gila menerjang seseorang yang berjubah hitam dan pertukaran serangan terjadi. Hanya saja saat dia melakukan gerakan menusuk pada lawan, tubuh sosok berjubah hitam ini meledakkan asap dan menghilang.
"Bagaimana?!" Dai Chen baru tiba di tempat Bocah Pengemis Gila. Dia mendapatkan gelengan pelan dari pemuda ini.
"Kau yakin?"
"Sebenarnya..." Bocah Pengemis Gila mengedarkan pandangan dan bisa melihat Xiao Shuxiang dengan Lan Guan Zhi dari tempat ini. Dia pun berujar, "Aku rasa bukan mengawasi tempat ini... Tapi seseorang,"
Dai Chen pun melihatnya dan mengerutkan kening, "Maksudmu... Shuxiang?"
Mendapat anggukan dari pria di sampingnya membuat Dai Chen menarik napas. Dia pun berkata, "Jika diingat-ingat lagi... Orang itu memang selalu terlibat masalah. Ada saja yang mengincar nyawanya--!"
Dai Chen tersentak saat tiba-tiba ingat sesuatu. Dia menatap Bocah Pengemis Gila dan lantas bertanya, "Mungkinkah sosok yang barusan adalah orang yang bernama Qian Kun atau apalah itu?"
"Entahlah... Bisa saja mungkin,"
"Ini akan buruk jika sampai memang orang itu,"
*
*
Pada dasarnya pemikiran Bocah Pengemis Gila tidak benar. Sosok berjubah hitam yang dia lawan tadi saat ini berada di tempat paling jauh dari wilayah Sekte Kupu-Kupu.
Praktik sosok ini tinggi. Dia bisa saja melawan Bocah Pengemis Gila andai tugasnya sekarang bukanlah mengawasi. Dia pun mengulurkan tangan dan energi spiritual keluar dari jarinya.
Sebuah kertas kecil terbentuk dan benda itu pun langsung terbakar. Ini adalah cara sosok berjubah hitam tersebut untuk mengirimkan pesan pada seseorang yang sudah menyuruh dirinya turun dari Alam Kultivasi Atas.
Benar. Sosok ini adalah kultivator dari Alam Kultivasi Atas dan merupakan kaki tangan Wang Zhao. Pemuda yang adalah pemimpin Sekte Lembah Iblis itu sedang sangat serius mendalami perannya menjadi murid patuh dan baik hati di Istana Seribu Pedang.
Di bawah Tetua Chen Duan Shan, Wang Zhao terlihat menghafalkan Sutra Pengendalian Jiwa dengan sangat lancar dan penuh penghayatan. Para murid Istana Seribu Pedang yang belajar bersamanya, termasuk Liu Wei Lin nampak berdecak kagum dan seakan tidak percaya dengan apa yang mereka saksikan.
__ADS_1
"Luar biasa, dia benar-benar bisa menghafal semuanya."
"Bukankah Sutra Pengendalian Jiwa itu sangat tebal?! Sebenarnya dia makan apa? Otaknya encer sekali.."
"Aku saja sudah begadang untuk menghafal lima baris kata, tetapi anak ini..."
"Apa sebutannya, jenius yang langka?"
Liu Wei Lin melambaikan dengan kasar kipas merah miliknya. Telinganya panas mendengar para murid Istana Seribu Pedang berbisik tentang Wang Zhao, tepat di bawah hidungnya.
"Hebat, tidak ada kesalahan." Tetua Chen Duan Shan tersenyum. Dia menjelaskan, "Sutra Pengendalian Jiwa dapat menjernihkan hatimu dan menenangkan pikiran. Sutra ini pun dapat membantumu fokus dalam latihan. Kau sudah melampaui harapanku,"
Wang Zhao menurunkan pandangannya dan dengan gugup berujar, "Te-terima kasih. Ini semua berkat ajaran Shizun-ku dan juga pengarahan dari Tetua Chen,"
"Kalian semua harus mulai mencontoh Wang Zhao. Nah, baiklah. Sekarang aku akan mendengarkan sampai mana hapalan kalian. Zhao'Er, kau boleh pergi."
Wang Zhao mengangguk pelan. Dia pun lantas menyatukan tangan dan memberi hormat pada Tetua Chen Duan Shan. Dia berpamitan dan saat berjalan pergi, dia sedikit melirik ke arah Liu Wei Lin yang harus terperangkap bersama murid Istana Seribu Pedang.
Wang Zhao tidak langsung pulang ke Sekte Lautan Awan, dia diminta untuk tetap di sini dan belajar bersama Liu Wei Lin. Tetua Meng Hao Niang yang memaksanya tinggal dan dia tentu tidak akan menolak.
Lagipula, Istana Seribu Pedang cukup dekat dengan jarak ke sektenya sendiri dan di tempat ini pun terhubung dengan Benua Timur di Alam Kultivasi Bawah. Dia tentu saja harus dekat dengan Kitab Pembunuh Matahari meskipun saat ini pusaka itu ada di tangan orang lain.
Wang Zhao menarik napas dan kemudian berjalan ke arah Paviliun Peristirahatan. Dia sekarang ingin melakukan pekerjaannya untuk membantu para pelayan tempat ini saat sebuah titik cahaya tercipta dan membentuk kertas kecil di hadapannya.
Dengan gerakan cepat, Wang Zhao langsung mengambil kertas tersebut. Dia berjalan seolah tidak terjadi apa-apa.
Wang Zhao hanya membaca isi kertas kecil itu dan bibirnya perlahan tertarik membentuk senyuman tipis. Ukiran di kertas itu pun berganti sebelumnya akhirnya menjadi cahaya dan kemudian menghilang.
Wang Zhao menarik napas, dia mengingat pelajaran Tetua Chen Duan Shan hari ini dan mendengus pelan. "Sutra Pengendalian Jiwa dapat menjernihkan hati dan menenangkan pikirkan, kah? Lantas bagaimana jika faktanya aku tidak punya hati. Hmph, Tetua Chen Duan Shan itu... Aku jadi kasihan padanya. Rasanya ingin kuhabisi sekarang,"
Senyuman Wang Zhao merekah. Dia menyukai udara di tempat ini yang menenangkan. Rasa ini seperti saat-saat tenang sebelum badai datang. Dia pun mengeluarkan sebuah kantong kain kecil dan memperhatikannya dengan saksama.
"Pil pemberian Tuan Xiao ini sangat kuat dan dengan harga yang tidak ternilai. Benda ini bisa menjadi ancaman atas rencanaku dan itulah sebabnya informasi tentang Tuan Xiao harus lebih detail. Aku ingin tahu masa lalu dan juga kehidupannya, bahkan tentang dari mana dia mendapatkan bahan-bahan untuk pembuatan pil ini. Semuanya... Tidak boleh ada yang terlewatkan,"
Tatapan mata Wang Zhao tajam saat dia menyeringai, "Tapi cukup bagus. Tuan Xiao juga memiliki kelemahan. Sekarang hanya tinggal menunggu dan akan kubuat dia berada dalam keputus-asaan."
"Wang Zhao!"
Wang Zhao berbalik saat mendengar suara seruan. Ekspresi wajahnya dengan cepat berubah dan dia dengan ramah menyapa, "Tuan Muda Jian Yang.."
"Wang Zhao, apa kau tahu bahwa Tuan Muda Xiao dan Tuan Muda Lan sudah pulang?" Jian Yang datang sendiri dan napasnya nampak terengah-engah.
Wang Zhao mengangguk pelan dan berkata, "Aku mendengarnya mereka memang sudah pulang. Nona Wen dan yang lainnya juga, memangnya kenapa?"
"Kenapa, kau bilang?! Apa kau tidak hentikan mereka?" Jian Yang nampak frustrasi. "Astaga, kenapa Tuan Xiao pergi tanpa berpamitan padaku? Apa kita ini bukan teman?! Aku ... Kita bahkan belum melakukan banyak hal bersama,"
Wang Zhao berkedip dan kemudian mengusap pelan punggung Jian Yang. Dia berujar, "Tuan Xiao pasti memiliki alasan untuk pergi tanpa mengatakan apa pun. Bukan berarti dia tidak menganggap Tuan Muda Jian Yang sebagai temannya. Tolong jangan berburuk sangka,"
Jian Yang menatap pemuda di sampingnya yang selalu bisa berpikiran positif terhadap orang lain. Dia mengembuskan napas dan mendesah pelan, "Baiklah. Ngomong-ngomong kau mau ke mana?"
"Paviliun Peristirahatan, aku ingin membantu pekerjaan di sana."
"Kau tidak mau berlatih pedang?"
"Pedang tidak cocok untukku. Aku sama sekali tidak berani mengangkat senjata,"
Jian Yang merangkul leher Wang Zhao dan mengajaknya pergi. Dia pun berkata, "Kau ini terlalu baik. Bukankah kau sudah menjadi Pemimpin Sekte Lembah Iblis? Aku tidak melihat dengan mata kepala sendiri, tapi kudengar kau memenggal kepala pemimpin sekte lembah iblis terdahulu. Apa itu benar?"
"Ehm..." Wang Zhao menurunkan pandangan dan menghela napas berat. Suaranya sedih saat berkata, "Aku selalu menyesalinya. Aku pikir... Hal semacam itu tidak akan terjadi. Aku memiliki impian untuk menjadi pendekar yang tidak pernah membunuh, tapi... Nyatanya sulit melakukan itu."
"Kawan, kau tidak bisa terlalu baik pada orang lain. Menjadi pendekar itu tidak boleh terlalu naif, kau harus bisa menjadi kuat."
__ADS_1
"Ah... Akan kuingat," Wang Zhao tersenyum tipis. Dalam hati, dia membatin. "Tapi bukan aku yang naif, melainkan kalian. Menjadi pendekar harusnya tidak terlalu mempercayai orang lain, apalagi mempercayai seorang Wang Xuan Zhao."
******