KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]

KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]
268 - Penyembunyian (5)


__ADS_3

Hu Li saat ini berjalan sendirian sambil memikirkan ucapan Tuan Muda Xiao-nya. Xiao Shuxiang memberinya tugas yang cukup sulit yaitu menyelidiki bagian Kitab Pembunuh Matahari di Alam Kultivasi Atas ini dan mencurinya jika bisa.


Tugas tersebut jelas sangat berbahaya, apalagi Hu Li tahu bahwa kultivator di tempat ini mempunyai praktik yang lebih tinggi dari yang biasa dia temui. Dan karena hal itulah, pertama-tama yang harus Hu Li lakukan adalah berlatih untuk meningkatkan praktiknya sendiri.


Hanya saja, raut wajah Hu Li terlihat berbeda. Tugas yang diberikan oleh Xiao Shuxiang padanya bukan hanya itu, tapi ada yang lain dan ini membuat dirinya gelisah sebab melibatkan orang yang tidak biasa.


"Tuan muda Xiao ..." Hu Li menelan ludah, sayang sekali dia tidak bisa mengatakan ini pada siapa pun.


Dia mengembuskan napas dan lantas menatap ke langit, beberapa ingatan masa lalu terlintas dan membuatnya merasa sedih. Tenggorokannya sakit ketika mengingat apa yang Tuan Muda Xiao-nya lakukan di masa lalu.


Hu Li mencengkeram pakaiannnya dan terus melangkah. Pandangannya perlahan tertunduk dan seakan menahan sesuatu di pelupuk matanya.


"Apa yang baik dan jahat? Aku hanya melakukan apa yang kuanggap benar,"


Suara itu seperti terngiang di kepalanya, bersamaan dengan gambaran kejadian menyesakkan di masa lalu yang telah membuat setiap langkahnya berat.


"Hu Li ...?!"


!!


Sebuah seruan menyadarkan Hu Li dan pemuda berambut putih itu pun seketika mengusap wajahnya. Dia berbalik untuk melihat siapa yang memanggilnya tadi.


Hu Li berkedip, "Nona Wen?"


Sosok yang menghampiri Hu Li tidak lain adalah Yi Wen. Gadis cantik bertubuh bagus tersebut berkacak pinggang dan berkata, "Kau dari mana saja? Aku sudah mencarimu ke mana-mana, kupikir kau sudah diculik."


"Kenapa Nona Wen mencari saya? Ada apa?" Hu Li merasa bahwa dia cukup terlihat di Istana Seribu Pedang selama ini, dia pun hanya pergi beberapa saat untuk menjenguk Tuan Mudanya.


"Kamarmu di mana? Aku tanya hal itu?" Yi Wen cemberut, "Kau selalu saja berkeliaran, sulit dicari dan kau bahkan tidak pernah tinggal di satu tempat. Ada apa denganmu, Hu Li? Kau membuatku sangat mencemaskanmu."


Hu Li tertegun, dia menatap Yi Wen dan lalu mengembuskan napas. Dengan suara yang tenang, dia berkata. "Saya tidak terbiasa tidur di dalam ruangan. Nona Wen mungkin lupa, tapi saya ini Demonic Beast dari jenis rubah. Kami terbiasa tinggal di dataran tinggi dan jauh dari tempat tinggal manusia,"


Yi Wen mendengus, "Jadi karena itu aku sulit menemukanmu? Tapi bukankah kau sudah lama hidup bersama manusia? Apa kebiasaanmu itu belum menghilang?"


"Ini naluriah. Sulit dihilangkan," Hu Li tersenyum lembut dan berkata, "Nona Wen mungkin tidak memperhatikan ... Saya memang selalu seperti ini."


Yi Wen berkedip, dia memang tidak pernah tahu bagaimana kehidupan Hu Li selama ini. Perhatiannya selalu tertuju pada dirinya sendiri dan sebagiannya lagi tertuju pada kehidupan Xiao Shuxiang.


"Ya sudah," Yi Wen mengembuskan napas dan mengajak Hu Li berjalan. Dia menyilangkan tangan dan berkata, "Saat ini kau berada di Alam Kultivasi Atas karena bantuan Bocah Pengemis Gila yang dibujuk olehku. Jadi kau tidak boleh berkeliaran tanpa mengatakan apa pun. Jangan biarkan kami khawatir padamu,"

__ADS_1


"Mn, baik. Saya minta maaf,"


"..............."


Yi Wen bukannya ingin mengekang Hu Li atau memberikan batasan tentang setiap tindakan pemuda ini. Hanya saja, dialah yang mengajak Hu Li ke Alam Kultivasi Atas dan sudah menjadi kewajibannya untuk memastikan pemuda ini aman.


Hu Li adalah Demonic Beast berwujud rubah. Bukan tidak mungkin kultivator di tempat ini mempunyai niat kepadanya atau justru menginginkan kematian Hu Li. Yi Wen tak bisa untuk tidak terlihat mencemaskannya.


Yi Wen bernapas pelan, dia pun menepuk punggung Hu Li dan berkata. "Selama saudara Xiao-ku berlatih, kau adalah tanggung jawabku. Jadi jika kau ingin pergi, setidaknya bicara dulu padaku atau kepada Bocah Pengemis Gila. Kau mengerti?"


"..............." Hu Li memperhatikan Yi Wen dan merasa bahwa gadis ini sangat perhatian padanya. Dia jadi penasaran akan sesuatu.


"Nona Wen," suara Hu Li rendah dan terdengar serius. Dia pun berkata, "Saya ingin menanyakan ini sejak lama. Kenapa Nona Wen saat itu ... Memutuskan untuk bekerja sama dengan musuh dan justru mengkhianati tuan muda Xiao?"


"Apa? Kapan aku pernah melakukannya-" Yi Wen tersentak saat mendapat tatapan yang tidak biasa dari Hu Li. Dia ingat dan kemudian mengembuskan napas.


Yi Wen memaksakan senyum dan lantas berkata, "Apa aku terlihat seperti itu? Sangat jahat di matamu?"


Hu Li pernah mendengar pertanyaan yang sama di masa lalu dan kemudian menurunkan pandangannya. Dia pun bersuara pelan, "Saya tidak tahu .... Saya hanya merasa Nona sudah menyakiti tuan muda Xiao dan banyak orang yang lainnya."


Yi Wen menyilangkan tangan dan lalu memandang ke langit. Dia pun berkata, "Aku melakukan apa yang kuanggap benar..."


"..............." Hu Li memperhatikan raut wajah gadis di sampingnya tanpa mengatakan apa-apa.


Yi Wen menggigit bibir bawahnya, suara pelan terdengar. Dia berkata, "Langit tahu ... Aku tahu ... Dan sudara Xiao-ku pun mengetahuinya. Aku sama sekali tidak peduli apa yang dikatakan orang lain, bahkan jika mereka menganggap ini pengkhianatan. Apa yang kulakukan ... Adalah karena aku menyukai saudara Xiao,"


"Saya ... Sama sekali tidak mengerti," Hu Li bersuara pelan. "Nona Wen menyukai tuan muda Xiao, tetapi kenapa Nona justru menyakitinya?"


"..............." Yi Wen menarik napas dalam-dalam, dia menahan diri dan kemudian menatap Hu Li.


Yi Wen tersenyum manis dan berkata, "Kau ini masih sangat muda. Aku suka melihat saudara Xiao-ku terluka~ aura ketampanannya terpancar kuat dan itu sangat indah~ rasanya membuatku menggigil. Dia mempesona~"


Hu Li berkedip, ekspresi wajahnya buruk. Dia memberikan tatapan aneh disertai rasa tidak menyangka. Gadis ini mungkin sudah tidak waras karena selalu bergaul dengan Bocah Pengemis Gila.


Hu Li tidak mengetahui bahwa Yi Wen hanya berpura-pura. Gadis itu adalah saudara seperguruan Xiao Shuxiang, sosok yang paling dekat dengan kegilaan Koki Alkemis itu. Apa yang dia dan Xiao Shuxiang pikirkan serta lakukan tentu tidak akan bisa dipahami oleh orang biasa.


"Nona Wen ..." Hu Li masih mencoba menggali jawaban atas kegelisahannya. Namun gadis di sampingnya justru memberikan balasan yang mengejutkan.


Yi Wen mendesah pelan, "Setiap kali aku memikirkan saudara Xiao~ jantungku selalu berdetak tidak karuan. Rasanya sangat hebat dan membuatku merasa terangsang~"

__ADS_1


Hu Li terkejut bukan main. Kata-kata Yi Wen sangat vulgar, apalagi ekspresi wajah gadis ini pun benar-benar tidak tahu malu.


Dia akui Yi Wen punya tubuh bagus yang menggoda iman, namun sikap gadis ini seharusnya bisa lebih baik. Setidaknya Yi Wen dapat menjaga setiap tindakannya.


*


*


Pelatihan yang dilakukan Xiao Shuxiang berjalan lancar lebih dari biasanya. Ini mungkin karena pemuda tersebut punya motivasi yang kuat untuk berlatih.


Tetua Chen Duan Shan bahkan kagum melihat perkembangan latihan pemuda itu. Dia saat ini sedang menyaksikan Xiao Shuxiang berlatih pedang di air terjun.


Tetua Chen Duan Shan telah menyiapkan sebuah ujian kepada pemuda menawan itu. Dan tidak butuh waktu lama sampai terdengar suara gemuruh.


Xiao Shuxiang tersentak melihat aliran air terjun mulai mengalir ke arah yang berlawanan. Di detik itu juga, air terjun tersebut membentuk sosok hewan besar menyerupai ular naga dengan mata berwarna kuning-keemasan.


Xiao Shuxiang tidak gentar. Dia melesat dengan Yīng xióng di tangannya. Tetua Chen Duan Shan sampai tidak berkedip melihat gerakan berpedangnya yang memukau.


"Anak itu ..." Tetua Chen Duan Shan bernapas pelan, "Dia lambat belajar. Tapi saat berhasil melakukan sesuatu untuk pertama kali, maka dia tidak akan lupa dan justru kemampuannya meningkat."


Tetua Chen Duan Shan menyadari sesuatu sekarang ini. Teknik berpedang Xiao Shuxiang sebenarnya sudah hebat. Tapi karena pemuda ini sering tidak menghindari serangan lawan dan terlihat menerimanya hingga terluka, maka orang mana pun akan menganggap tekniknya kacau, liar, tidak beraturan, dan buruk.


!!


Tiga serangan. Dalam tiga serangan, Xiao Shuxiang berhasil menghabisi ular naga air itu dengan memakai Yīng xióng. Dia tidak melakukan gerakan berlebihan dan lebih dari itu----dia tidak membiarkan lawannya melesatkan serangan terbaik mereka.


Xiao Shuxiang berdiri di atas air dan lalu merasakan gejolak energi spiritual di dalam dirinya. Ini bukan hanya tanda bahwa praktiknya akan naik, tetapi juga tanda bahwa satu dari segel 12 Bintang telah melonggar.


Xiao Shuxiang pun menggunakan energi spiritual di dalam dirinya dan berhasil membuka satu segel itu. Dia sama sekali tidak memperlihatkan raut kesenangan, namun dalam hati dia bertepuk tangan untuk dirinya sendiri.


Hal yang paling luar biasa adalah bahwa hanya dengan lepasnya satu segel ini, Xiao Shuxiang bahkan bisa membuat longgar satu segel lagi. Ini merupakan peningkatan yang luar biasa.


Dia sudah berhasil mengendalikan hasratnya dari darah. Dia mengayunkan pedangnya dengan hati yang tenang, fokus dan tanpa nafsu membunuh.


Sebagai hasil. Jangankan melepas dua segel, Xiao Shuxiang sudah bisa membungkam Yīng xióng. Dengan ini, bahkan bila Istana Seribu Pedang ingin menyerang Sekte Lembah Hantu sekarang----dia bisa langsung pergi.


Ini bukan kondisi membanggakan diri atau sedang menunjukkan keangkuhan. Karena sekarang, Xiao Shuxiang tidak hanya bisa mengendalikan Cermin Pemindahnya dengan lebih baik, tidak hanya mengendalikan Yīng xióng, dia bahkan sudah bisa memakai Gelang Semestanya dan menggunakan teknik serangannya yang paling kuat----Dia sekarang bisa mengeluarkan Teknik Pengendalian Darahnya kembali.


******

__ADS_1


__ADS_2