
anin berlalu dari tempatnya ia duduk,
"apa perlu aku temani nin?"
tanya neta pada sahabatnya.
namun bi ani mencegahnya,
bi ani mengisyaratkan dengan gelengan kepala,
"kenapa?"
tanya neta tak tahu.
"tuan ada di kamar sekarang,"
bisik bi ani.
yg langsung di balas "ooooow",
oleh neta.
"nin...habis ini aku pulang ya...."
ucap neta pada anin.
anin hanya menoleh lalu tersenyum,
"makasi ya net...sudah menemaniku...."
ucap anin pada neta.
"biasa aja nin..."
sahutnya.
"besok kesini lagi kan??"
tanya anin pada neta.
"tergantung besok lah...."
balas neta dengan makanan penuh di mulutnya,
anin lalu tersenyum dan berlalu pergi menuju kamarnya,
ia membuka pintu kamar,lalu masuk ke dalam,
ia masih belum mengamati seisi kamar,
__ADS_1
anin berjalan menuju meja yg ada laci di samping tempat tidurnya,
ia mengambil beberapa vitamin lalu meminumnya.
kemudian di rasakannya rintik hujan di luar jendela yg mulai deras mengguyur...
anin menoleh...melihat ke arah jendela luar,
"tadi sangatlah cerah...meski tidak panas...namun juga tidak mendung...kenapa tiba2 hujan..."
gumam anin.
rendi yg sedari tadi melihat tingkah istrinya pun ingin sekali menghampirinya,namun ia masih ingin mengamati lebih lagi.
anin pun masih belum menyadari keberadaan suaminya yg melihatnya sedari tadi.
anin mendekat ke jendela yg lebar...terpampang begitu indah guyuran hujan.
sambil mengelus perutnya,
"sayang....indah sekali ya...andai papamu disini...pasti akan menambah indahnya suasana."
ucap anin dengan lelehan di pipinya.
rendi yg menyaksikannya dari tadi pun sudah tak bisa membendungnya,
"untungnya papamu ada disini sayang..."
sambil kecupan khas di pipi istrinya.
anin melonjak kegirangan....
ia terkejut,terperanjat dari tempatnya,lalu berbalik menatap suaminya.
matanya berkaca2 hampir meleleh,
ke2 tangannya tepat mengelus wajah suaminya,
memastikan ini benar2 nyata,
"sayang ini kamu??benar2 kamu??atau aku sedang berimajinasi?"
ucapnya pada suaminya.
rendi hanya tersenyum melihat tingkah istrinya yg ia rindukan sekali beberapa hari ini.
tanpa fikir panjang...rendi memiringkan wajahnya dan mengecup lembut bibir istrinya.
beberapa saat kecupan,
__ADS_1
rendi lepas ciumannya,
jemarinya mengelus pipi istrinya yg memerah,
"apa kau sudah percaya?"
ucap suaminya.
anin hanya menggeleng di bawah pegangan tangan suaminya.
rendi menyunggingkan senyum melihat tingkah istrinya,
lalu di ulang lagi ciumannya,
sesaat kecupan2 lembut rendi mendarat di bibir anin,dan kecupan itu berubah menjadi ciuman panas keduanya,
tangan anin melingkar di leher suaminya,
anin menyudahi sebentar ciumannya,
menatap lekat wajah suaminya,
sesaat mata mereka bertemu,penuh kehangatan terpancar disana.
lalu rendi memeluk tubuh istrinya lebih erat kedalam pelukannya,
membimbing istrinya untuk memiringkan wajahnya,
dan lagi2 ciuman itu mangganas,tanpa terasa peluh membasahi tubuh keduanya,
"kau kepanasan sayang?"
di sela pelukan dan ciuman nya,
anin hanya mengangguk,
perlahan melepas resleting yg ada di punggung istrinya menuju kebawah,terlalu panjangnya resleting itu hingga hampir ke pinggul istrinya,
melepaskannya ke bawah dengan menyusuri lengan istrinya sampai pakaian anin melorot ke bawah,
meski begitu ciuman merekapun tak ada jarak,
dengan sigap rendi membimbing istrinya sampai tepi ranjang dan menidurkannya,
keduanya larut dalam kerinduan yg menghanyutkan,
keduanya kelelahan dan saling memeluk satu sama lain,
tertidur di bawah guyuran air hujan yg semakin deras di luar jendela.
__ADS_1