Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
lagi-lagi bersabar


__ADS_3

tepat pukul sepuluh malam,neta beserta suaminya pamit untuk pulang,anin dan rendi mengantar kepergian keduanya,


diluar hujan sudah reda,namun sesekali masih turun rintik-rintik cukup untuk membuat basah seseorang jika berada di bawah rintiknya selama setengah jam saja.


anin melambaikan tangannya ke arah mobil sahabatnya yang mulai menjauh meninggalkan pelataran pekarangan rumah rendi.


dan anin masih setia memeluk pinggang suaminya di teras sambil menatap daun-daun yang basah di luar rumah,


sedangkan rendi masih betah merangkul pundak istrinya yang lebih pendek darinya itu.


sedangkan kakek pun mungkin kini sudah terlelap jauh ke alam mimpinya,karena sudah sejak pukul sembilan lebih sedikit kakek berpamitan untuk pergi beristirahat,dan meninggalkan para pasangan muda itu.


"sayang...kamu bisa menutup mata sebentar?"


ucap rendi pada istrinya...


"kenapa kak?masih ada hadiah kah untukku?ini sudah kejutan yang sangat amat mengejutkanku kak..."


ucap anin.


"ayo sayang...cepat lah...keburu dingin lo...nanti aku angetin deh...kalau sampai kamu kedinginan..."


ucap rendi yang langsung di turuti istrinya itu.


"sudah sayang...bukalah matanya..."ucap rendi.


lalu anin pun membuka matanya,dan ia tidak melihat apa-apa kecuali wajah suaminya yang ada tepat di hadapannya itu.


"kak rend...minggirkan wajahnya sayang..."


ucap anin pada suaminya.sambil membelai kedua sisi wajah itu dengan kedua tangannya.


"kenapa sayang?apa kau tidak menyukainya sayang?"


tanya rendi pada istrinya,dengan kedua tangan meraih jemari istrinya yang berada di wajahnya dan kemudian menggenggamnya.


"maksud kak rendi apa?"tanya anin dengan bingungnya.


"ini aku...seluruh jiwa dan ragaku semua untukmu sayang..."ucap rendi seketika.


dan itu membuat anin tersenyum dengan sangat cantiknya lalu rendi pun tak kuasa mengecup punggung tangan istrinya dengan lembut dan mengeluarkan sebuah kotak yang sangat mungil untuk istrinya.


"ini kejutan yang lain sayang...aku harap kamu menyukainya..."ucap rendi sambil menyerahkan kotak tersebut untuk istrinya itu.


"ini apa kak?"tanya anin pada suaminya.


"coba saja kamu buka sayang..."ucap rendi lagi.


lalu anin pun menuruti apa kata suaminya itu dan membuka kotak kecil nya perlahan.


anin langsung terpana terpesona menatap kilauan batu permata nan indah itu,dengan batu berlian berbentuk hati yang terpasang di tengah liontin kalung tersebut.

__ADS_1


"ini kalung dengan berlian merah delima kak rend?"


tanya anin pada suaminya.


"benar sayang...apa kau suka?aku khusus mendisain nya sendiri untukmu,dan permatanya aku datangkan langsung dari luar negeri,"ucap rendi pada istrinya itu dengan bangganya.


"kenapa aku lebih suka dan lebih terpesona pada kado yang pertama sayang...aku benar-benar menginginkannya...dan aku sangat menyukainya,"


ucap anin yang membuat mata rendi menjadi berkaca-kaca.


lalu rendi langsung menarik wajah istrinya itu dan menciumnya,sedikit memanas namun ia lalu menyudahinya,


"ayo masuk sayang...kalau yang ini selalu dari awal itu punyamu...dan ini selamanya hanya untukmu,"


ucap rendi sambil menempelkan telapak tangan istrinya ke dadanya.


lalu dengan tersipu anin melangkah berjalan mengikuti suaminya yang mengajak nya masuk kedalam rumah.


terlihat meja makan dan ruang tamu sudah bersih dan rapi lagi,tandanya bibi sudah menyelesaikan tugasnya.


keduanya masuk ke dalam kamar,


"sayang...aku mandi dulu ya...kamu istirahat saja ini sudah terlalu malam untuk jam tidurmu..."ucap rendi.


lalu rendi pun membantu istrinya itu berbaring dan menyelimutinya,


kemudian ia pun bergegas menuju lemari pakaiannya,


setelah selesai mandi ia lantas menuju ranjang yang disana anin sudah terlelap.


rendi merangkak naik kemudian ikut masuk ke dalam selimut istrinya,


sedetik kemudian terdengar suara air hujan yang sangat deras mengguyur di luar rumah.


dan rendi pun ikut terlelap dengan memeluk tubuh istrinya yang makin tambah berisi itu.


tanpa tersa pagi pun tiba...


sudah pukul enam pagi dan saat anin terbangun dari tidurnya,tangannya meraba-raba sampingnya,yang di sana ia tidak mendapati tubuh suaminya,


padahal ini hari minggu...tapi karena proyek yang hampir gagal itu rendi jadi aktif bekerja meski hari libur,bah kan jika untuk ukuran seorang pegawai ia terlalu aktif.


anin hanya bisa mendengus sedikit kesal,karena hari ini ia ada kelas senam untuk ibu hamil,dan hari ini adalah hari pertama kalinya ia tanpa suami yang mendampinginya.


"baiklah sayang...hari ini kita hanya berdua saja.. semangat sayang..."ucap anin pada buah hatinya sambil mengelus ringan di atas perutnya dan di balas tendangan yang lumayan kencang hingga membuatnya meringis dan ingin buang hajat kecil.


lalu ia pun bergegas turun secepat nya,dan berjalan menuju kamar mandi,


satu jam kemudian...anin sudah usai mandi dan sudah berdandan pula.


lalu...

__ADS_1


"tok tok tok..."terdengar pintu di ketuk dari luar kamar,


"nyonya...waktunya sarapan..."ucap bi ana mencoba memberi tahu nyonya nya.


"iya bi...baiklah..."sahut anin yang langsung bergegas berdiri dari duduknya dan berjalan ke luar kamarnya.


ia kini menuju meja makan,disana tidak ada kakek,


"bi...apa kakek belum keluar kamar?"tanya anin pada bibi.


"tuan besar ada urusan mendadak nyonya...jadi pagi tadi beliau berangkat dengan tuan muda nyonya..."


ucap bi ana.


lalu anin hanya manggut-manggut dan mrngambil ayam goreng dan nasi kuning ke piring untuk di makannya,


tepat pukul sembilan pagi,anin menunggu kabar suaminya,namun tidak kunjung ada,


"mungkin kak rendi sedang sibuk..."


ucap nya begitu pengertian.


ia sengaja memilih waktu ke sanggar senam ibu hamil di waktu agak siang...karena waktu itu mungkin agak sepi dari ibu-ibu hamil,karena kebanyakan bahkan hampir semua nya berpasangan dengan suaminya,


anin tidak mau jadi gosip ibu-ibu lagi...karena waktu gosip yang dulu itu,


suaminya hampir menuntut semua ibu-ibu itu,


jadi anin pun lebih berhati-hati lagi agar tidak terulang yang kesekian kali.


anin di antarkan pak totok menuju ke sanggar,


dan sesampainya di depan tempat parkir sanggar,


"nyonya...apa tidak apa-apa sendirian saja?apa saya antarkan saja nyonya?"


tanya pak totok kemudian keluar dari dalam mobil dan membukakan pintu mobil untuk nyonyannya itu.


"tidak apa-apa pak...saya bisa sendiri...cukup tunggui saya di sini saja...mungkin tidak sampai dua jam saya di dalam,"


ucap anin kemudian ia pun turun dan berjalan pelan menuju dalam sanggar,


ia mengira saat setengah siang di sanggar akan lebih sepi...ternyata malah makin ramai.anin mencari matras kosong paling pojok ruangan,


"bu...kok sendirian saja?mana suaminya?sudah hamil besar begini tega sekali tidak di antar bu...kalau saya jadi anda...sudah saya tendang suami saya bu.."


ucap ibu-ibu itu dengan sadis nya.


"iya bu...suami saya masuk kerja bu...jadi tidak bisa mengantar saya,"jawab anin merendah.


"suaminya kerja apa bu?kok hari minggu masuk kerja?oalah...pasti sales ya bu kerjanya...sabar bu...sekarang memang susah cari nafkah...apa lagi untuk persalinan kan butuh biaya,"

__ADS_1


ucap ibu yang di sebelah anin itu,kemudian tetlihat suami ibu itu datang dari arah belakang,dan mulai duduk di belakang tubuh ibu itu.


__ADS_2