
Nindi turun dari atas tangga yang menghubungkan kamarnya dengan lantai dasar kediaman Wijaya, Dimana ia tidak mengganti pakaianya dan hanya membawa jaket jeans nya di tambah sepatu kets putih pasangan dengan yang Arga kenakan hari itu. Rambut pun hanya ia urai seadanya dan tanpa sanggulan atau kunciran seperti tadi.
"Ayo ga...kita berangkat...." Ucap Nindi yang sudah menghampiri Arga dan menarik tanganya, Namun Arga hanya mematung dan malah menghentikan langkah sang kekasih. Dengan cara tidak ikut berjalan, Sontak membuat Nindi ikut berhenti.
"Sayang....ini sudah pukul sepuluh pagi loh...kamu belum sarapan kan? harus sarapan dulu ya...biar nggak sakit perutnya nanti...aku nggak kuat loh kalau harus gendong kamu naik gunung atau nurunin lembah..." Ucap Arga yang terkesan bercanda namun memang demikian kenyataanya agar Nindi mau menurutinya.
"Tapi...kalau nggak segera berangkat...nanti kelamaan di jalan malah nggak enak ga...capek..." Ucap Nindi lagi.
"Emb...gini aja deh...aku buatin bekal aja ya sayang...duduk gih...aku siapin sebentar..." Ucap Arga yang langsung menuju ke meja makan dan melihat ada hidangan apa saja di atas mejanya. Segera saja ia meminta si bibi untuk mengambilkan kotak bekal makan untuk ia menempatkan makanan yang akan keduanya bawa dan agar Nindi bisa memakanya saat dalam perjalanan. Terlihat Nindi mengamati setiap gerak yang Arga lakukan untuk menempatkan bekal bekal itu pada tempatnya, Hingga usai dan keduanya memutuskan untuk berangkat.
Sengaja Arga tidak mengajak supir, Hanya berdua dengan Nindi.
"Ga...sini buka mulutnya aku suapin..." Ucap Nindi setelah menyuap beberapa suapan di mulutnya dan ingin bergantian memberi suapan pada Arga yang tengah asyik menyetir mobilnya, Terlihat matanya menatap lurus ke arah jalan depanya.
"Sayang...tadi aku udah di bawain sarapan sama papa loh...kamu aja yang makan...aku udah kenyang..."
Ucap jujur Arga dengan sunggingan senyum di bibirnya.
__ADS_1
Hingga Nindi manggut manggut dan merasa tidak tahu bahwa mama dan papa nya se dekat itu pada kekasihnya, Dan membuat hati Nindi diam diam bahagia karenanya.
Di perjalanan pun sama...keduanya belum menentukan kemana tujuanya, Sampai Nindi pun menghabiskan bekal makan sarapanya sampai habis.
Porsi pas untuk Nindi sarapan pagi itu.
Jadinya kita mau kemana sayang?" Tanya Nindi yang belum tahu mau ke arah pegunungan apa pantai yang akan mereka tuju, Karena ke pantai pun harus melewati pegunungan jika di tempatnya.
"Emmmb....mau main air sama pasir apa mau nyantae aja nikmatin pemandangan dari atas bukit?" Tanya Arga sambil melirik Nindi yang mulai terlihat duduknya tak nyaman di sampingnya, Karena tanpa sadar sudah hampir dua jam perjalanan yang mereka lalui.
"Bukit Cinta", Bukit dimana Arga pernah mengambil ciuman pertama keduanya, Bukit yang pernah menjadi tempat bermalam bersama. Bukit penuh kenangan yang membuat Arga tak bisa melupakan tempat teduh dengan suasana redup nyaman, Apalagi saat musim panas seperti saat itu, Pasti menyenangkan bisa bersantai di saung saung dan di bawah pohon pohon rindang dengan pemandangan alam plus paralayang yang terbang menjulang tinggi di atas awan, Mengelilingi bukit bak burung raksasa tengah mencari mangsa.
Tiba tiba Arga terkikik geli saat teringat hal konyol yang pertama Nindi lakukan di depanya, Dimana Nindi menangis kala tanpa sadar sudah kehilangan kelopak kelopak bunga mawarnya, Dan menjadikan dasinya sebagai pengelap ingusnya kala itu, Membuatnya teringat selalu hal itu sampai sekarang. Hingga Nindi menatap menoleh ke arahnya dengan tatapan heran yang ingin tahu, Sebenarnya apa yang tengah kekasihnya itu ingat sampai membuatnya terkikik geli.
"Ga...kamu kenapa senyum cekikikan sendiri? lagi ingat siapa sih ga?" Tanya Nindi yang sudah penasaran akan apa yang Arga ucapkan sebagai jawabanya.
"Aku teringat gadis bodoh yang menjadi cinta pertamaku....dimana gadis itu begitu konyol...namun bisa bisanya aku mencintainya sampai seperti mau gila rasanya saat tidak tahu kabarnya...dan aku merasa sesak seperti tercekik saat melihatnya sedih maupun terluka karena aku.
__ADS_1
Gadis bodoh yang sekarang tengah duduk di sampingku dan memeluk lenganku sangat erat seperti akan kehilanganku, Padahal aku selalu ada di sampingnya..."
Ucap Arga yang membuat Nindi tersipu malu, Hingga tangan Nindi akan beringsut pergi beralih dari lengan Arga dan berganti posisi karena sindiran sang kekasih.
"Disini aja...nggak usah pindah...aku rela kok kesemutan karnamu..." Ucap sayang Arga, Dengan lengan yang makin mengapit tangan Nindi saat ia akan memindahkanya, Tanda Arga memintanya pada posisi yang sama, Memeluk lenganya meski terasa tak nyaman.
"Aaakh....aku tahu tempat ini..." Ucap Nindi yang langsung terjaga dan menatap sekelilingnya, Dimana banyak pohon pohon pinus dan cemara di sepanjang jalan, Perkebunan karet...dan kebun aneka macam bunga bunga nan indah.
Mermbuat segar pandangan mata yang menatapnya.
"Ga....aku suka tempat ini...." Ucap Nindi dengan girangnya, Hingga Arga melajukan mobilnya dengan perlahan lahan agar Nindi bisa menikmati pemandangan yang langka itu.
"Aku pingin....banget punya villa disini...pasti indah, Saat liburan bersama keluarga dan kamu...berkunjung kemari dan menikmati udara yang bersih dari polusi seperti ini ga..." Ucap Nindi dengan tatapan bahagia menatap ke arah luar kaca jendela.
"Pasti aku kabulin sayang...apapun yang bisa membuatmu senang..." Ucap Arga dalam hatinya.
Jangankan hanya villa...namun Resort mewah pun Arga sudah punya...itupun berada di Luar Negeri...butuh waktu lama, Atau memakan waktu jika harus mengajak Nindi kesana, Namun jika di tempat yang Nindi sebut tadi...hanya memakan waktu dua jam sudah sampai tempat, Membuat Arga makin memikirkan cara secepatnya bisa mewujudkan impian sang kekasih. Dimana impian itu pula yang menjadi impianya.
__ADS_1