Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
pemikiran tanpa batas


__ADS_3

tanpa sadar...anin menatap lekat suaminya dudah cukup lama,


lalu tanpa terasa...rendi mengulurkan tangannya yang sedang memegang sendok makan yang berisi itu menyuap ke ujung bibir istrinya,


dengan refleks anin pun membuka mulutnya dan menerima suapan dari suaminya itu,


tanpa terasa anin pun mengunyahnya,dengan masih menatap suaminya.


anin tersadar saat dilihatinya rendi sedang tertawa renyah,dan kakek seperti ingin tertawa tapi takut dosa.


kakek hanya menahan tawanya saja.


anin pun tanpa sadar hanya terus mengunyah sambil menatap kedua orang itu bergantian dengan keheran-heranannya.


lalu anin menatap piringnya...ingin menyuap lagi makanan yang sama persis seperti yang di kunyahnya,


saat tangannya mulai mengambil sendok...dan meneliti setiap lauknya...sungguh tidak ada yang sama seperti yang ia kunyah,


anin pun menatap kakek,


kakek tertawa menutup mulutnya.


lalu bergantian menatap suaminya,


yang masih dengan tawanya.


"kenapa sih kak?"


tanya anin keheranan.


tiba-tiba kakek angkat bicara,


"rend...jangan ganggu istrimu...cepat suapi dia lagi",


kata kakek.


sebelum kakek selesei bicara,


rendi sudah menyuapkan satu suapan besar ke ujung bibir anin,


dan istrinya itu pun menerima dengan polosnya.


"ooooohhh...jadi ini dari piring kak rendi?"


tanya anin seketika.


lalu...ia tersedak terbatuk-batuk.


"jadi dari tadi aku tidak sadar kek?"


tanya anin pada kakeknya,lalu di beri minum oleh suaminya,


mamun kakeknya benar-benar sudah tidak bisa menahan tawanya lagi.


"sungguh lucu pasangan ini",

__ADS_1


gumam kakek begitu saja,sampai air mata setetes mengiringi kebahagiaan itu.


"sudah-sudah....cepat habiskan makanannya,jangan ganggu istrimu lagi.atau....."


kata-kata kakeknya belum sampai selesei,


rendi sudah menyahutnya,


"baik lah kakek...kami akan makan dengan tertib",


ucapnya seketika.


karena ngeri dengan jeweran kakeknya.


anin pun dengan wajah benar-benar malu nya pun melanjutkan makan malamnya.


sampai selesei.


selesei makan malam,kakek mengajak cucu cucunya menuju teras depan,


anin dan rendi mengikuti kakeknya dari belakang,


rendi membukakan pintu untuk kakeknya,


setelah kakek keluar...kakek berjalan menuju kursi yang sudah ada di teras,


ia duduk disana,lalu menyusul rendi dan anin.


sesaat kemudian,


"nak...apa belum waktunya tujuh bulanan?"


tanya kakek pada kedua cucunya tersebut.


"kalau usia kandungan sekarang enam bulan hampir habis kek...bukankah tuju bulanannya itu harus nunggu awal bulan depan ya kek?"


ucap anin mengira-ngira.


"baiklah...kau jangan khawatir...kakek akan menanggungnya,kau mau acara yang seperti apa nak?"


tanya kakek pada anin.


rendi hanya tersenyum senang mandapati keduanya sangat akrab dan kompak seperti ini.


"ayow sayang...mumpung di tanyai kakek...mau acara seperti apa dan di mana?


bilang saja sayang..."


ucap rendi pada istrinya itu.


"kak rend...kakek...."


kata anin dengan nada lembutnya.


"anin terbiasa hidup susah...anin mengerti...bagaimana hidup serba kekurangan,dan setiap hari itu menjadi makanan anin...waktu itu...setiap hari...yang anin doakan hanya (semoga setiap hari tuhan selalu memberi anin uang banyak)."

__ADS_1


ucap anin dengan mata berkaca-kaca.


rendi pun dengan sigap mengambil jemari istrinya untuk di genggamnya.


"lalu?"


tanya kakek...


"maaf kakek...untuk sebelumnya...apakah kakek akan marah...jika tidak ada pesta?"


kata anin yang membuat kakek dan suaminya bingung.


"lebih rincinya nak?"


tanya lakek lagi ingin tau.


anin pun menerangkannya.


"bagaimana jika pestanya tidak untuk orang-orang kaya kek?"


tapi...sekali-kali untuk anak yatim dan piatu kek...


untuk kaum dhuafa...dan untuk fakir miskin kek...


mereka pasti senang...jika mendapatkan hadiah dan makanan,apalagi sedikit uang kakek...anin akan minta doa mereka untuk keselamatan anin dan anak anin kek...apa kakek setuju dengan pemikiran anin?


kalau kita bisa membuat mereka senang...bahkan hanya sesaat saja...doa mereka akan sangat manjur kakek...bukankah begitu?"


tanya anin pada kakek dan suaminya.


namun...kedua orang yang diajaknya diskusi malah bengong,


lebih tepatnya terpesona atas kata-kata dan pemikiran anin.


kakek malah berfikir untuk mengadakan pesta makan-makan besar untuk kolega dan rekan bisnisnya,


sedangkan rendi memikirkan pesta di tepi pantai dengan nuansa yang romantis untuk istrinya itu.


mamun lagi-lagi keduanya malah menolak ide-ide gila mereka,


mereka sangat-sangat setuju dengan pemikiran anin.


"itu lebih utama nak...kakek akan bantu semaksimal mungkin nak...kamu janga khawatir ya..."


ucap kakek.


sedangkan rendi...semakin terpesona dan jatuh cinta dengan pemikiran istrinya itu.


baginya hal yang terpenting adalah keselamatan istri dan calon anaknya.


tanpa sadar tiba-tiba rendi beranjak berdiri dari duduknya,mendekatkan tubuhnya pada kursi yang di duduki istrinya,ia kemudian jongkok di depannya dan sedetik kemudian memeluk tubuh sang istri.


kakek yang melihat tingkah kedua cucunya pun mengerti akan harunya mereka.


diam-diam kakek berdiri meninggalkan keduanya yang sedang saling menghangatkan kedua hatinya itu.

__ADS_1


__ADS_2