
"Sekali lagi lo bilang papa ku mengakar di dalam ruang kantormu...aku pites pale lu..." ucap Nindi dengan sangat sadisnya.
"Iya...iya honey...kenapa jadi makin pemarah gini sih kamu...mau aku cium lagi?" ucap canda Arga dengan tangan yang masih menggandeng tangan Nindi disana.
"Cium...cium...emangnya apaan cium-cium...kenal kagak...sape lu juga kagak tahu, dan kagak pengen tahu aku!" ucap nerocos Nindi selama perjalanan.
Tanpa sadar sepanjang perjalanan menuju lift khusus milik Arga...beberapa mata menatap ke arah keduanya.
"Lu lagi syuting prank kan ya? ngaku deh...!" tanya Nindi lagi-lagi yang buat Arga gemaaas...saangaaat gemas.
"Honey...kurang kerjaan banget deh kayaknya aku sampai-sampai syuting begituan!" ucap jujur Arga.
"Lu nggak nyadar...itu semua mata menatap ke kita...pasti besok aku masuk tv nih." Ucap ngawur Nindi.
"Sekali lagi ngawur...aku cium beneran loh biar besok benar-benar terkenal." Ucap Arga dengan sadisnya. Lalu keduanya naik ke dalam lift.
Tiba-tiba ponsel Arga berbunyi, seketika ia meraih ponselnya yang ada di saku jasnya tersebut, mengambilnya lalu menatap pada layar ponselnya.
"Halo...ada apa? kamu nggak tahu aku sedang repot siang ini? masih saja menggangguku." Ucap Arga dengan nada galaknya.
"Pak Arga...tapi anda siang ini sudah aja janji...nanti nyonya besar marah pak...!ucap seseorang yang sedang berbicara pada Arga tersebut.
"Bilang sama bunda...aku sedang makan siang dengan calon mertua aku!" ucap Arga dengan entengnya lalu memutuskan sambungan telephonnya.
"What!!! kuping ku nggak salah dengar kan ya? apa lu ngomongnya yang kaya orang kesetrum?" tanya Nindi dengan sangat kagetnya. Padahal Nindi juga belum tahu orang kesetrum ngomong ngawurnya kayak apa.
"Honey...apa kamu kira aku ini bercanda?aku sungguhan!" ucap Arga serius, namun sebenarnya Arga masih bingung dengan hatinya dan perasaannya,
ia mengira perasaan itu hanya sebuah penasaran yang ingin menggali lebih dalam lagi, lagi dan lagi...tapi terkadang saat berada di dekat Nindi...hatinya begitu senang dan bahkan ia bisa tertawa lepas atas semua tekanan-tekanan yang ia alami.
Bahkan perlakuan cewek itu yang apa adanya tanpa menyanjungnya, membuat Arga lebih nyaman saat berada di sampingnya, maka dari itu Arga memilih mengejarnya sampai dapat...urusan cinta akan atau tidak akan...itu urusan belakangan...yang terpenting saat itu adalah kenyamanan Arga dan ia juga berharap cewek cantik disampingnya merasakan hal yang sama.
Tapi sepertinya tidak mudah mengambil hati cewek Nindi...apa lagi jika di lihat dari latar belakang, ia tidak kekurangan uang...tidak seperti cewek-cewek yang sudah berkali-kali Arga jumpai dan pacari, yang hanya suka shopping dan juga menghambur-hamburkan uang, jujur baru kali itu dia begitu penasaran dengan seorang gadis. Dan Arga masih ingat...saat pertama ia bertemu dengan gadis itu, Nindi mengatakan ia tidak punya uang untuk membeli selada di mini market, namun malah memberikan uangnya sebesar seratus lima puluh ribu pada Arga. Orang kaya mana yang keluar hanya membawa uang sebatas untuk beli es dan cemilan? kalau bukan ia benar-benar menghargai uang, ia juga tidak pelit...buktinya ia memberi Arga seratus lima puluh ribu. Tanpa sadar Arga pun terkikik geli ketika mengingatnya.
__ADS_1
"Kau sudah minum obat?" tanya Nindi seketika saat melihat Arga yang senyam-semyum sendiri.
"Kau perhatian sekali honey...ngomong-ngomong...obat apa yang kamu maksud honey?" tanya Arga dengan keheranan.
"Tentu obat gila...obat dari rumah saki jiwa! kau ketawa-ketawa sendiri bener-bener nggak jelas tahu!" gerutu Nindi selama perjalanan menuju ruang kerjaArga. Namun perkataan nindi malah membuatnya terpingkal. Seketika ia menatap lekat ke wajah cantik di depannya itu. Ia mendekatkan wajahnya perlahan-lahan, Arga ingin sekali mencium bibir gadis itu, sampai...sebuah jari telunjuk menghalangi bibirnya, tepat menempel di tengah bibir Arga.
"Berani kau menyentuh bibirku yang suci...ku bunuh kau!" ucap sadis Nindi yang penuh berani.
"Oke...oke...aku akan menunggunya sampai ia datang mendarat padaku dengan sendirinya." Ucap balas Arga.
"Lu kira pesawat mainan mendarat di monyong lu...enak aja kalau ngomong, aku bilangin papa biar di timpuk sama sepatu futsal papa." Ucap Nindi. Dan lagi-lagi membuat tawa Arga pecah...hingga terpingkal-pingkal kedua tangannya memegangi perutnya.
"Memangnya sepatu futsal Om se berat dan se dahsyat apa sih?" tanya Arga ingin tahu.
"Tau ah...pokoknya yang bagian bawahnya pernah aku lihat dan pegang kayak...ada tancep-tancep pan gitu dari besi...buat apa ya kagak tahu deh, eh ngapain juga aku jabarin jawaban buat lu...kurang kerjaan banget." Ucap ketus Nindi dan lagi-lagi Arga tertawa renyah dengan ucapan wanita cantik barusan.
Akhirnya keduanya sampai di ruang kerja Arga, terlihat dua orang wanita cantik dan seksi tentunya itu sekertaris Arga yang menyapa disana.
"Honey...kau berbisik sesuatu?" tanya pelan Arga saat melintas sebelum benar-benar berada di depan pintu ruang kerjanya.
"Honey...honey...sekali lagi lu bilang honey, honey di depan papa aku...beneran aku timpuk..." ucap sungguh-sungguh Nindi.
"Honey...disini nggak ada sepatu futsal...maaf mengecewakanmu honey..." ucap Arga lagi.
"Yang bilang aku nimpuknya pakai sepatu futsal ya siapa? nih pakai sepatuku...lumayan bisa merobek ini!"
ucap Nindi sambil mengangkat satu kakinya dan melepaskan sepatu heellsnya yang setinggi lima belas centi itu.
"Woow....honey..." ucap Arga sebelum ia lanjutkan.
"Kau nggak takut haaah..." ucap Nindi sambil benar-benar akan menimpuk Arga dan lelaki itu terlihat menutup wajahnya dengan kedua lengannya. Membuat kedua sekretaris ndomblong dan melongo dengan tingkah wanita yang berani menyerang atasannya itu dan bodohnya lagi atasannya itu menurut saja di aniaya wanita itu.
Dan yang membuat keduanya berhenti adalah pintu ruang kantor Arga yang tiba-tiba terbuka dari dalam, tanpa keduanya sadari.
__ADS_1
"Papah....!" ucap Nindi seketika saat melihat sosok yang ia kenal itu tengah berdiri di hadapannya. Seketika Arga menyahut sepatu heells Nindi dan membungkuk meletakkanya di kaki cantik yang jenjang milik perempuan yang ada di sampingnya itu.
Seketika Nindi pun mengerti apa yang laki-laki gagah dan ganteng itu lakukan, dengan segera kakinya pun memakai kembali sepatu heellsnya tadi. Membuat Rendi menatap kearah keduanya dengan tatapam tajam.
"Kalian...sudah saling kenal?" tanya Rendi pada keduanya.
"Honey...cepat bilang..." ucap Arga seketika yang membuat Rendi semakin mengerutkan dahinya dan memicingkan matanya karena terkejut dengan panggilan Arga pada anak gadisnya.
"Honey...honey..." ucap geram Nindi yang suaranya hampir tertelan dan hanya ia yang mendengarnya sendiri. Sedangkan dua sekretaris Arga itu masih melongo dari tadi, dan entah syoknya berhenti sampai kapan.
"Pah...ini nggak seperti yang papa bayangkan...aku nggak tahu siapa dia...siapa namanya...aku mengenalnya saat ia kesrempet mobil pah...aku hanya menolongnya..." terang Nindi pada papanya.
"Lalu...kenapa kalian bisa se akrab ini?" tanya papa Rendi lagi.
"Cowok belel ini nih yang sering muncul di mana-mana pah..." ucap Nindi menerangkan lagi.
"Tunggu...siapa tadi? si belel...jadi itu nama julukan kamu Ga? bukan nama kucing Nindi yang hilang?" tanya papa Rendi pada Arga.
"Iya Om...dia suka manggil aku itu Om..." ucap Arga seketika.
"Jadi itu kamu...Om pikir itu nama kucing Ga...Ga..." Ucap Om Rendi malah bercampur tawa. Namun Nindi dan Arga malah terdiam.
"Hiyaaa...papah...kok malah tertawa?" tanya Nindi yang membuat papanya berhenti tertawa.
"Habisnya kamu pas tidur ngigaunya si belel...nyebut nama panggilan Arga...sibelel itu kata yang kamu ucap sayang...papa dan mama kira itu nama kucing kamu yang hilang..." ucap papa Rendi menerangkan.
"Honey...kamu sudah terpesona olehku ya ternyata." Goda Arga pada Nindi.
"Ehemmm." Deheman Om Rendi.
"Kamu kira mudah mengambil harta berharga Om...tidak semudah itu Arga." Ucap Rendi dengan seriusnya.
"Papah...Nindi sayang papah...sangat sayang..." ucap Nindi sambil memeluk papanya karena senang demgan jawaban papanya.
__ADS_1