
Hingga sampailah mobil peetama yang di kendarai papa dan mama Anin ke tempat yang di tuju, Dan tak lama kemudian menyusul mobil kedua, Mobil yang di kendarai Aditya, Ifa serta bundanya. Hingga mobil terakhir, Mobil Arga dan Nindi yang baru masuk pelataran parkiran restoran.
"Akh....itu...yang mau nraktir udah tiba...ayo masuk...nunggu apa lagi?" Ucap papa Rendi yang menggendong Evan dan sang istri yang merangkul lenganya.
"Mari malam ini kita buat bangkrut si Arga", Ucap Aditya yang kemudian mendapat sambutan tawa dari semua yang mendengarnya, Namun malah mendapat tabokan ringan dari sang istri di sampingnya.
Hingga Arga dan Nindi yang baru keluar dari mobilnya, Berjalan mendekat ke arah keluarga yang tengah berkumpul, Nampak ia dan Nindi sedikit penasaran, Sebenarnya apa yang membuat semua tertawa sampai demikian.
"Ada apa? apa yang lucu? apa cuma kita yang ketinggalan?" Tanya Arga setelah mendekat ke arah semua orang yang berkumpul.
"Kami hanya menunggumu...dan nggak ada yang lain", Ucap Aditya, Lalu Arga pun mengajak masuk semua keluarganya, Terlihat meja dan kursi yang mereka pilih, Pas tepat untuk tujuh oranag, Dengan meja yang berukuran besar dan panjang, Dengan tungku bakaran tiga buah di atas meja depan ke tujuh orang tarsebut.
Setelah makanan terhidang, Nampak para pasangan tengah sibuk menyuapi pasangan masing masing, Apa lagi Rendi dan Anin yang tak kalah antusiasnya, Karena sang suami yang tengah menggendong Evan, Otomatis ia yang menyuapi Rendi dengan bertahap.
Sedangkan Aditya dan juga ifa, Nampak harmonis, Bak pengantin baru saja, Meski usia pernikahan keduanya sudah lima bulan jalan.
Dan Arga yang bersikap manis dengan calon istrinya, Dimana Arga menyuapi Nindi dengan bertubi tubi sampai mulut Nindi penuh dengan makanan yang Arga berikan.
Nampak lucu dan manis oleh semua orang yang memandangnya.
__ADS_1
"Astaga...kalian semua membuat iri saja...la terus bunda siapa yang nyuapin ini?" Ucap Bunda yang membuat semua mata menatap ke arahnya sejurus se arah, Dan menghentikan seketika aktivitasnya, Apa lagi Nindi yang mengunyah makananya pun ikut terhenti seketika.
"Oh...bundaku...." Ucap Arga dan Aditya secara bersamaan, Dan Nindi serta ifa yang seketika menyumpit daging bakar ke arah mangkuk bundanya, Tampak empat orang tersebut kompak mengisi mangkuk bundanya dengan daging daging yang berukuran lumayan besar dan tebal, Hingga ke empat orang tersebut saling menatap satu sama lain, Lalu tawa semuanya pecah seketika menanggapi kekonyolan ke empat orang anak, Menantu serta calon menatunya tersebut.
"Sudah sudah...bunda hanya bercanda saja...kalian ini...pulang dari sini bunda bisa bisa gendut ntar", Ucap Bunda yang ikut tertawa pula.
Hingga makanan yang di hidangkan di atas meja pun terlihat habis di makan semuanya, Dan terlihat semua telah kenyang menikmatinya, Meski merogoh uang yang tidak sedikit dan lumayan banyak, Namun bagi Arga tidaklah menjadi masalah, Ia senang saat melihat semua orang tersayang merasa puas dan bahagia malam itu.
Hingga semua orang berkumpul di depan tempat parkir mobil mereka masing masing, Setelah keluar dari dalam restoran, Semua akan berpamitan untuk pulang satu sama lain.
"Sayang...kamu sekalian ikut mama dan papa ya? kasian tuh Arga nanti nganterin kamu lalu balik lagi, Dan jaraknya lumayan jauh...lebih baik kamu pulang sama mama dan papa saja", Ucap Anin yang membuat Nindi menyadari, Bahwa ia benar benar membuat Arga dalam kesulitan saja,
"Ma...Arga nggak apa apa kok mah...dan lagi...besok Arga akan ke luar negeri lagi, Untuk urusan bisnis, Dan mungkin setelah itu...Arga luang hingga waktu yang tak tertentu..." Ucap Arga yang mengisyaratkan akan mengantar Nindi pulang denganya. Karena esok Arga benar benar ke luar negeri dan itu jujur, Arga akan kembali sehari sebelum fitting terakhirnya. Dan kata kata Arga membuat Nindi harus menatap lekat ke arahnya, Hingga seketika itu pula Arga mengerti, Lalu mengambil jemari Nindi dan menggenggamnya, Agar Nindi tidak merasa bersedih akan ucapanya barusan.
Sedangkan Anin serta Rendi tidak bisa menolak permintaan calon menantunya itu, Karena keduanya mengerti, Bagaimana rasanya rindu itu berat.
Hingga mobil Anin dan Rendi pun meninggalkan tempat parkiran, Keluar duluan dari arah parkir, Serta di susul mobil yang di kendarai Aditya bersama sang istri dan bundanya. Namun terlihat mobil yang di kendarai Arga dan Nindi belum bergerak dari tempatnya.
"Kenapa sayang? Apa kata kataku membuatmu sedih? kenapa diam saja?" Ucap Arga sembari masih menggenggam jemari calon istrinya di sampingnya.
__ADS_1
"Nggak apa apa sayang...aku cuma kaget aja...aku kira besok masih di rumah...aku masih kangen..." Ucap Nindi dengan rengekanya yang terlihat menggemaskan.
"Baiklah baiklah...nanti setelah pulang...kau bisa kasih hukuman, Oke? senyum dong..." Ucap Arga yang membuat Nindi tersenyum menatapnya.
"Tapi berjanjilah padaku kau akan pulang tepat waktu ya sayang...jangan membuatku kepikiran...harus selalu kasih kabar aku meski sedang sibuk..." Ucap Nindi yang di sambut anggukan Arga, Sembari tangannya meraih kepala Nindi dan mengecup puncak kepalanya.
"Sejak kapan kau jadi se dewasa ini sayang? aku kira kau akan ngambek dan nggak mau tahu kabarku lagi", Ucap Arga dalam hatinya, Sembari menjalankan mobilnya dan melajukanya menuju ke arah kediaman Rendi Wijaya.
"Mau jalan jalan dulu nggak di taman?" Tanya Arga yang tiba tiba ingin menikmati cahaya bulan yang terang malam itu.
"Nggak usah sayang...besok kan kamu berangkat pagi...apa nggak lebih baik buat istirahat awal saja?" Ucap Nindi lagi, Ia sadar selama ini sudah egois dengan keinginanya dan tidak memikirkan calon suaminya itu.
Hingga Arga menepikan mobilnya ke tepi jalan raya, Menghentikan mobilnya seketika disana, Dan melepas sabuk pengamanya.
"Kau yakin? beneran nggak mau jalan sebentar saja sayang?" Tanya Arga yang langsung di angguki Nindi yang masih duduk di kursinya dengan sabuk pengaman yang masih melekat pada tempatnya.
Hingga perlahan Arga mendekatkan wajahnya, Dan melihat kedua mata Nindi yang langsung terpejam di kedua sisinya. Dengan cepat namun perlahan, Arga meraih tengkuk Nindi hingga mengarah padanya, Lalu mengucup bibirnya sesaat, Sampai ciuman yang kedua kalinya Nindi baru menyambutnya.
Pastilah malam perpisahan itu akan menjadi malam yang sendu namun membahagiakan, Keduanya akan berpisah dalam waktu yang cukup lama, Bahkan hampir lima hari lamanya, Rekor terlama dalam sejarah percintaan mereka, Meski dahulu saat hubungan keduanya pernah renggang karena salah paham dan berpisah dalam waktu satu bulan, Namun saat itu penuh dengan ke egoisan masing masing, Dan menyatu kembali makin erat, Hingga dua minggu lagi akan menuju ke hari pernikahanya.
__ADS_1