Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
Satu minggu menuju hari H


__ADS_3

Setelah Arga mengantar Nindi sampai ke rumahnya, Dan ia pun langsung berpamitan untuk balik ke apartemenya,


Hingga waktu pagi pun menjelang, Nampak pagi itu Arga sudah bersiap siap dan berkemas, Ia memang akan berangkat dengan penerbangan pagi.


"Bund...Arga pamit dulu ya bund..." Ucap Arga sembari mengecup pipi bundanya lalu bersalaman, Dan bunda membalas dengan mendoakan keselamatan puteranya sampai ke tempat yang di tuju dan pulang dengan selamat sampai apartemen.


Sedangkan Nindi hanya memegangi ponselnya saja, Ia khawatir jika akan mengganggu perjalanan Arga pagi itu.


Hari itu...keduanya tidak saling bertemu satu sama lain, Karena waktu Arga sudah mepet, Ia hanya berharap Nindi bisa memahaminya saja.


"Sayang...aku udah di dalam pesawat...aku akan segera berangkat...aku matikan ya ponselnya...sampai nanti sayang...I love you", Ucap pesan yang Arga kirim ke pada Nindi, Dan ia pun dengan segera membacanya, Nampak senang yang terpancar di wajahnya, Dimana ia sudah lega akan kabar sang kekasih.


Hingga tepat lima hari lamanya, Arga berada di luar negeri, Dan hanya sesekali saja ia mengirim pesan pada Nindi, Ia juga menelephonenya hanya sekali sehari, Itu pun saat malam dan Nindi sudah tertidur.


Hati Nindi terlalu merindukan Arga, Begitu pula Arga, Dimana Nindi tidak tahu betapa sibuknya ia menyelesaikan masalah di negara orang, Arga hanya berharap...secepatnya bisa menuntaskan semua sebelum acara pernikahanya, Agar ia tidak perlu meninggalkan sang istri saat ia sudah menikah kelak. Dan untungnya Nindi pun begitu percaya pada sang kekasih, Ia tidak mau berpikir macam macam di kepalanya yang bisa mempengaruhi mood nya yang bisa membuatnya stres dan berat badanya turun.

__ADS_1


Kemarin, Saat keduanya masih bersama, Sudah janjian dan sepakat ketemu pemilik butik pukul sembilan pagi waktu setempat, Namun sampai pukul sembilan lebih Arga tak kunjung datang juga, Hingga Nindi khawatir saat akan menelephonya, Ia khawatir kalau Arga masih di dalam pesawat. Hingga ia putuskan saja untuk berangkat ke butik di antar oleh pak supir, Dimana ia harusnya di pingit dan tidak boleh keluar, Namun karena acara fitting gaun pengantin itu, Akhirnya ia pun di izinkan keluar oleh mama dan papanya, Namun harus di temani pak supir, Andai Arga ada, Pastilah lebih mudah saat bersamanya, Namun saat itu sudah lewat waktu yang keduanya janjikan, Hingga Nindi khawatir kalau pemilik butik pun sudah ada janji dengan calon pengantin yang lainya. Karena setahu Nindi, Butik kondang tersebut tudak pernah sepi pengunjung dan job.


"Sayang...kamu kemana? semoga...nggak ada apa apa ya sayang...aku menunggumu..." Ucap Nindi dalam hatinya, Tatapanya menatap kearah keluar jendala kaca mobil, Saat mobil yang tengah di kendarainya melaju kencang.


Hingga sampailah di tempat parkir butik yang di tuju, Namun mobil Arga pun belum terlihat ada di jajaran mobil yang tengah terparkir.


"Aku hanya berharap...tidak ada kendala apapun menuju pernikahan kita sayang...cepatlah datang...aku merindukanmu..." Ucap Nindi lagi dengan mata yang sudah berkaca kaca, Di saat itu ia sangat merindukan Arga ada disana, Di sisinya.


Hingga Nindi pun masuk kedalam bitik, Dimana pak supir tengah menungguinya di tempat parkir mobil.


"Nona...bisakah tirainya saya buka sekarang?" Tanya penjaga butik yang membantu Nindi memakai gaun pengantin tadi. Seketika dalam hati Nindi sangat sedih kala itu, Kenapa karyawan bicara demikian, Jika ia tahu di balik tirai itu pun tidak ada calon suaminya,


"Kenapa harus repot repot mbak...calon suami saya saja tidak ada disana", Ucap Nindi dengan raut wajah sendu nya. Dan seketika itu pula, Nindi akan turun dari tempatnya, Namun Dengan cepat si penjaga yang berada di samping tirai itu pun menarik tirainya hingga terbuka sempurna.


Nampak sosok gagah nan tampan tengah duduk di atas sofa nya dengan kaki menyilang dan satu tangan menopang dagunya. Tampak lekat memandangnya dan terkesan mengawasinya.

__ADS_1


Dan seketika Nindi mengenali lelaki tampan tersebut.


"Arga...." Teriak Nindi dengan suara girangnya, Dan seketika Arga pun beranjak dari duduknya, Berjalan mendekat ke arah calon istrinya yang tengah berdiri mematung di depanya.


"Mbak...bisakah kau tinggalkan kami sebentar?" Ucap Arga pada penjaga yang tadi telah menarik tirai biru di depanya, Dan nampaknya si penjaga pun mengerti dan dengan segera meninggalkan keduanya.


"Sayang...kamu tampak cantik sekali...maaf...aku sedikit terlambat...ada kendala kecil tadi sebelum pulang...syukurnya sudah terselesaikan sayang..." Ucap Arga dengan tangan yang memeluk Nindi dan mendekapnya. Satu tanganya mengelus lembut rambut Nindi, Sedangkan Nindi tak bisa berkata kata lagi, Ia sibuk dengan isakan isakanya di dada sang kekasih.


"Aku sudah janji kan...kalau kau sedang mengenakan gaun pengantin, Aku pasti selalu ada disana, Dan aku tak akan mengungkiri janjiku sayang..." Ucap Arga dengan lembutnya, Yang membuat Nindi terjaga mendongak menatap wajah tampan di hadapanya.


"Aku udah disini...jangan sedih lagi ya...aku sudah nggak akan kemana mana lagi sayang...aku akan menemanimu...disisimu selalu..." Ucap Arga sembari kedua tanganya menopang wajah cantik yang terlihat bersedih, Dengan lelehan air mata yang di sapu oleh kedua ibu jari Arga di pipi kanan kiri Nindi, Hingga ciumanya mendarat di bibir sangkekasih, Beberapa saat keduanya saling membalas, Sampai...deheman pemilik butik membuat keduanya menyudahinya.


"Baiklah...sudah pas semua gaunya...terus pertahankan ya cantik bentuk idealnya..." Ucap pemilik butik yang membuat keduanya sedikit malu. Hingga hari itu berakhir, Tampak Nindi dan Arga bahagia, Karena pakaian yang akan mereka kenakan di hari bahagia mereka sudah beres.


Tinggal menunggu satu minggu lagi menuju pernikahan.

__ADS_1


__ADS_2