Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
MASUK LUBANG JEBAKAN SENDIRI


__ADS_3

"Aaaaakkkh....mama....aku pingin nimpuk cowok songong yang mesum ini pake galon ma...." teriak hati Nindi seketika.


Nindi seketika berjalan cepat ke arah meja kerja Arga yang ada disana.


"Brak." Terdengar gebrakan yang lumayan nyaring karena ulah tanga gadis itu.


Nindi menggebrak meja depannya berhadapan dengan Arga yang ada di seberang meja, dan di sana Arga yang menatap layar laptopnya dengan heran.


"Nindi...hentikan tingkah konyolmu ini...aku sedang mengirim file penting." Ucap tegas Arga yang memperingatkan, namun Nindi yang sudah tersulut marah itu tidak mau ambil pusing.


"Kamu bisa seenaknya sendiri...aku pun bisa!" gerutu Nindi. Dan terdengar Arga berbicara disana.


"Maafkan untuk keributan ini...pasangan saya sepertinya punya sedikit masalah...jadi sedikit berisik." Ucap Arga dengan bahasa inggrisnya. Dan kebetulan Nindi yang fasih bahasa asing itu pun mengerti yang di ucapkan Arga barusan.

__ADS_1


"Kamu bilang apa? aku yang bermasalah!aku juga yang berisik!" gumam Nindi yang akal sehatnya sudah benar-benar hilang, ia tahu saar itu Arga sedang mendiskusikan sesuatu dengan kliennya dan ia berniat mempermalukan Arga di depan Kliennya dan Koleganya tersebut.


"Awas ya! rasain! akan aku buat kau nyesel sudah mengganggu dan mengerjaiku terus-terusan!" dengus kesal Nindi.


"My handsome baby bala-bala...masalah aku itu kan kamu terlalu mengabaikanku...jadi...." ucapan Nindi dengan sedikit nyaring dan tubuh yang perlahan menghampiri Arga yang lalu duduk dipangkuan lelaki itu, Nindipun menunduk dengan kedua tangan yang mencubit kedua pipi Arga disana, namun sebelum kata-katanya berlanjut...mata Nindi terbelalak menatap deretan orang yang ada di dalam layar laptop tersebut,


dan salah satu diantaranya adalah sosok yang ia kenal...ia kagumi...yang mengantarkannya tadi pagi.


"Papa...oh tidak...brengsek kau Arga Sanjaya..." dengus kesal Nindi yang merasa terjatuh kedalam lubang yang ia buat sendiri. Ia kemudian berlari dengan malunya menuju sofa lalu tengkurap disana. Ia menangis tersedu-sedu saat itu...ia sangat malu...benar-benar memalukan baginya dan terutama papanya.


"Triiiiing..." pesan masuk di ponsel Arga saat diskusi masih berlanjut. Pelan-pelan Arga melihat layar ponselnya...membuka pesannya.


"Om Rendi." Ucap Arga saat menayap pesan yang ia terima.

__ADS_1


"Tidak adakah yang ingin kamu jelaskan?" Arga membaca pesan itu lalu keringat dingin mulai merayap tubuhnya.


"Mati aku." Gerutu Arga disana dengan wajah kikuknya. Lima belas menit kemudian Arga selesai dengan diskusinya tadi, lalu ia menutup laptopnya dan berjalan menghampiri Nindi di sofa.


"Nindi...semua sudah terjadi...apa yang kamu tangisi? apa yang kamu sesali sekarang sudah terjadi? kamu menangisi kesalahan yang sudah lewat?" ucap Arga agar Nindi berhenti menangis. Lalu Nindi berbalik dan menatap Arga dengan wajah sembab dan mata sedikit bengkak.


"Semua gara-gara kamu! aku memalukan seperti ini..." ucap Nindi. Namun saat itu Arga tidak menolak atau menyanggahnya sama sekali, itu yang membuat Nindi semakin lega. Nindi menyalahkannya namun ia menerimanya saja. Karena Arga sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, membuatnya harus menerimanya.


Sambil duduk di samping Nindi dan jemarinya mengusap lelehan air mata gadis itu.


"Hey...kamu kira cuma kamu yang bernasip seperti itu...lihat nih...papamu mengirimiku pesan seperti ini...aku harus jawab apa?" tanya Arga sambil memperlihatkan ponselnya pada Nindi.


"Kamu kira apa papamu akan percaya saat aku bilang...bahwa aku bawa anak gadisnya ke apartemenku untuk mencuci bajunya yang ketumpahan teh atau...kebetulan bajunya kotor, makanya ia berganti baju memakai baju aku...dan berganti di apartemenku...menurutmu om Rendi dan tante Anin akan percaya?"

__ADS_1


tanya Arga pada Nindi. Namun Nindi hanya terdiam dan membisu. Mau ia marah sebagimanapun pada Arga, tetap saja Arga yang akan terlihat menyedihkan dan salah.


__ADS_2