Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
Dan lagi-lagi di katain lagi


__ADS_3

Setelah berpamitan dengan mamanya, Nindi berjalan keluar menuju pintu mengekor di belakang papanya. Tepat didepan teras rumah sudah siap mobil Rendi beserta Pak Sopirnya. Rendi masuk ke dalam mobil di susul Nindi yang duduk di sebelah papanya. Pak Sopir kemudian melajukan mobilnya menuju jalan besar dan masuk ke jalan Raya. Hampir satu jam mobil melaju, akhirnya berhentilah mobil yang ditumpangi keduanya di depan perusahaan besar yang bertingkat menjulang tinggi.


"Pah...Nindi kerja dulu ya..." pamit Nindi pada papanya dan berlalu keluar begitu saja dari dalam mobil, berjalan dan masuk ke dalam kantornya.


"Tok, tok, tok..." terdengar suara jendela kaca mobil di ketok. Lalu dengan cepat Rendi membuka kaca jendelanya. Rupanya mobil yang ditumpangi Rendi belum beranjak pergi dari sana.


"Pagi om...tumben pagi-pagi sudah datang ke kantor kecil Arga ini om?" sambut Arga yang tidak percaya dengan penglihatannya pagi itu.


"Mari om masuk kedalam sebentar..." ajak Arga lagi.


"Nak Arga...om lagi ngantar putri om...makanya ada disini...lain kali saja pasti om akan mampir ya, yasudah...om lanjut dulu kalau begitu." Ucap balas Rendi. Lalu Arga mengangguk sembari melambaikan tangannya mengantarkan mobil om Rendi menjauh pergi sampai tidak terlihat dari pandangan matanya.


Tiba-tiba...Nindi seketika berlari keluar kembali dari dalam kantor, karena ponselnya tertinggal di mobil papanya tadi, ia lupa.


"Yaaa....mobil papa sudah pergi..." desah kesal Nindi saat itu. Namun tiba-tiba tatapannya melihat seseorang yang tidak asing disana.


"Loh...si belel...! kamu kok bisa di sini?kamu berpakaian seperti ini...mau ngelamar kerja disini ya?" kata Nindi segera sambil menepuk lengan Arga. Dan tepukannya mampu membuat Arga sedikit terkejut saat itu. Karena ia pernah berkata jika sampai ia ketemu lagi dengan gadis itu, tandanya adalah jodoh.


"Eh kamu si cewek seratus limapuluh, kamu ngapain di sini?" tanya Arga balik dengan kebingungan.


"Aku di sini kerja lah...aku sudah ketrima loh jadi Kariawan meskipun masih kontrak." Ucap Nindi dengan senangnya.


"Oh...aku tidak tahu..." ucap Arga lagi, karena memang Arga baru tahu.


"Memangnya harus tahu ya?" sahut Nindi.


Lalu terlihat beberapa Karyawan berjalan melewati keduanya dan menundukan kepalanya menatap Arga serta Nindi, dan kemudian berlalu pergi.


"Eh...kamu kenal mereka nggak sih?" tanya Nindi penasaran...


"Masak iya mereka menunduk padaku yang hanya pegawai magang nggak penting sih? bener nggak?" ucap Nindi lagi. Yang merasa beberapa orang yang melewatinya sambil menunduk itu bukan hormat padanya.


"Cetak!...aduuuh...." suara sentilan Arga tepat di kening Nindi, dan seketika Nindi langsung mengaduh.


"Kamu ketinggian mikirnya!" ucap Arga lagi.

__ADS_1


"Aku harus segera pergi...atau para staf itu menyapa lagi." Gumam dalam hati Arga saat itu.


"Eh...aku pergi dulu deh...kamu selamat hari pertama kerja ya..." ucap Arga begitu saja lalu akan beranjak pergi dari tempatnya. Namun seketika tangan Nindi mencekal lengan Arga, membuat lelaki itu menghentikan langkahnya.


"Eiiits...jangan buru-buru dong...pinjami aku ponselmu dulu...ponselku ketinggalan tadi...aku mau mgomong sebentar sama papa aku, sedangkan disini yang aku kenali hanya kamu." Ucap memelas Nindi pada Arga. Yang membuat lelaki itu sedikit kasihan dibuatnya.


"Oke...aku pinjami...tapi jangan di sini ya..." ucap Arga sambil merangkul pundak Nindi dan mengajaknya ke samping mobil yang terparkir. Seketika itu pula semua sraf yang mulai berdatanganpun sempat melihat adegan yang di rasa jarang terjadi itu.


"Sini mana ponselmu?" tanya Nindi sambil tangannya menengadah meminta, setelah keduanya sampai di tempat sepi itu. Lalu Arga pun merogoh kantong jasnya mengambilkan ponsel dan menyerahkannya pada Nindi.


"Nih...cepetan..." ucap Arga.


"Ini...ponsel kamu?" tanya Nindi keheranan, karena ponsel itu sama seperti miliknya, dan Nindi jelas tahu...harganya tidak murah. Membuat Nindi bertanya-tanya dalam hatinya.


"Kamu kira ponsel siapa? ya ponsel aku lah..." ucap Arga begitu saja.


"Apa di sini ada kamera tersembunyi ya?apa aku lagi kena prank? kamu punya grup prank nggak sih?" tanya nerocos Nindi.


"Prank-prank maksud loh?" tanya Arga balik dengan kebingungannya.


"Pertama bertemu kamu...pakaian kamu belel...ketemu lagi di mall...jadi satpam mall...ketemu lagi di restoran Jepang, dan ketemu lagi sekarang...kamu mau ngelamar kerja, pasti prank kan? kamu syuting yang prank-prank orang itu kan ya?" tanya antusias Nindi disana. Namun sebelum di jawab Arga. Gadis itu sudah menatap jam yang melingkar dipergelangan tangannya.


"Ini pinnya apa sih?" tanya Nindi yang baru sadar ponsel yang ada di tangannya itu memakai pin pengaman, bukan sidik jari.


"Ketik saja Arga Sanjaya." Jawab Arga begitu saja. Lalu sekrtika Nindi mengetiknya dan benar saja kuncinya terbuka.


"Nama itu kayak pernah dengar...dimana sih?" pikir Nindi.


"Ah...yang panting telephone papa dulu deh ya..." ucap Nindi seketika, lalu Nindi mengetik nomer papanya di layar ponsel tersebut.


"Lhoh...ini kok nomer papa ada di ponsel kamu sih? kamu kenal papa aku ya?" tanya Nindi seketika dan masih merasa keheranannya.


"Siapa?" tanya singkat Arga. Karenaenurut Arga, hanya orang ternama saja yang masuk dalam kontak ponselnya.


"Nih...om Rendi Wijaya nama yang tertera disini..." ucap Nindi seketika. Yang saat itu mampu membuat Arga terperanjat dari tempatnya karena kaget, namun entah mengapa dihati laki-laki itu begitu lega juga.

__ADS_1


"Oh...kamu anaknya om Rendi ya ternyata...pantesan aja...om Rendi tadi kesini ngantar kamu...aku kira bohong." pikir Arga. Namun sebelum di jawab Arga, gadis iti sudah berkata pada orang didalam seberang telephonenya.


"Pah...ponsel Nindi ketinggalan tu di jok samping papa...lihat ngak?" kata Nindi yang Arga dengar.


"Lhoh ini kamu sayang? aku kira Arga...kalian saling kenal? iya ada di mobil nih ponsel kamu...tapi papa sudah ada di kantor...nanti siang saja ya papa jemput kamu untuk makan siang bersama..." kata papa.


"Oke deh pah...baiklah...kalau begitu Nindi kerja dulu pah...atasan Nindi galak orangnya...entar Nindi kena semprot pah..." ucap Nindi tiba-tiba yang tanpa sadar membuat laki-laki yang berdiri di belakangnya itu mengkerutkan dahinya.


"Sejak kapan dia tahu aku galak?" dengus kesal Arga tiba-tiba.


"Sayang...kamu kok kenal yang punya nomer ini?" tanya papa karena di layar ponsel Rendi jelas tertulis Arga Sanjaya di sana. Namun sebelum papanya selesai bicara Nindi sudah mematikan telephonenya.


"Nih...makasih ya..." ucap Nindi sambil memberikan ponselnya ke pada laki-laki di hadapannya itu.


"Kamu kenal pimpinan perusahaan ini?" tanya Arga ingin tahu. Karena Arga pikir gadis itu belum tahu siapa dirinya yang sebenarnya.


"Nngak kenal...juga belum ketemu..." balas Nindi.


"Tapi kamu tadi sudah bilang sama papa kamu kalau ak...eh...pimpinannya galak?" tanya Arga lagi yang hampir keceplosan dan masih penasaran.


"Kalau nggak gitu...papa aku nerocos terus...nggak berhenti-henti..." ucap jujur Nindi karena keseringannya dapat omelan dari papanya.


"Profesi baru kamu bodyguard pimpinan ya?" tanya Nindi lagi.


"Kamu tuh ya se enaknya saja dari pertama ketemu ngatain aku mulu...nih kenalin...Arga Sanjaya." Ucap laki-laki di depannya itu.


"Haaah...yang brner loh...nggak lagi ngeprank aku kan?" sambut canda Nindi yang masih tidak percaya.


"Sudah ah...makasih ya...aku masuk dulu...dan lagi...bangun


wooooooeee....jangan mimpi ketinggian jatoh sakit tahu!" ucap nyinyir Nindi lalu berjalan pergi menuju kantor lagi.


Namun saat itu Arga bukannya marah...tapi malah terdiam ditempatnya...seakan tidak percaya...sambil mulutnya nganga,


baru kali itu ada cewek yang meragukan identitasnya. Dan mengabaikannya se begitu sadisnya. Bukan cuma di kacangin...tapi juga di kata-katain. Bahkan hadis itu tidak terpesona demgan ketampanannya sama sekali. Arga tiba-tiba kesal saat itu.

__ADS_1


"Mama...aku kangen ma..." tangis hati Arga seketika.


"Awas kamu ya...aku pastikan kamu jatuh hati padaku...apapun caranya...jangan panggil aku Arga Sanjaya jika nggak bisa dapetin kamu, cewek seratus lima puluh." Ucap Arga dengan senyum menyeringainya. Karena ia merasa tertantang dengan karakter baru seorang gadis.


__ADS_2