Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
harusnya bukan kucing tapi gorila


__ADS_3

Nindi pun sedikit berlari menuju lift yang akan ia naiki menuju lantai empat, lantai dimana yang di tunjukkan oleh petugas resepsionis kantor papa nya, ia berdiri tepat di depan lift yang masih belum terbuka, dan menungguinya sampai terbuka, hingga begitu lamanya Nindi menunggu namun lift tersebut tidak kunjung terbuka, lalu ia pun pindah ke lift sebelahnya dan barulah ia bisa masuk ke dalam nya, namun saat pintu sudah hampir tertutup...tiba tiba tangan seseorang dengan cepat menahan salah satu ujung pintu lift dan pintu itu tidak jadi tertutup,


"aaah...maaf maaf...aku sudah hampir terlambat..."ucap laki laki dengan pawakan kurus jangkung dan memakai kaca mata yang lumayan tebal.


"hai kak...saya nindi...anda dari divisi mana kak?"tanya nindi yang ingin tahu,dengan jari jarinya yang menekan angka empat pada tombol nya, dan lift pun naik menuju lantai yang di tujunya.


"aku ada di divisi keuangan...hai juga...aku Eko..."ucap laki laki cungkring di sebelahnya sambil membenahi pakaian dan rambut klimis mengkilatnya, hingga membuat nindi sedikit menelan ludah sambil matanya mengetip ngetip tidak percaya di era yang seperti sekarang ini masih ada penampakan yang ajib macam laki laki di sampingnya itu.


"kamu dari divisi mana?"tanya si Eko pada Nindi dengan sedikit lirikan menatap ke arah Nindi yang membuat Nindi sedikit mendelik lagi.


"emmmb saya karyawan baru kak...di divisi keuangan juga kak..."sahut Nindi dengan nada sedikit rendah dan hampir tertelan.


"oh...salam kenal...eh...tapi aku sudah satu bulan dalam tahap penyeleksian...dan baru ketrima satu minggu yang lalu...kenapa aku nggak lihat kamu ya?"tanya si Eko sambil pura pura menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena herannya.


namun nindi hanya membalasnya dengan senyumannya saja dan itu pun sudah membuat si Eko terdiam.


"tiiing....!"suara pintu lift terbuka, Eko terlebih dahulu bergegas keluar dari dalam lift di susul nindi yang sedikit berjalan cepat di belakangnya.


Eko langsung masuk ke ruang kantornya dan menempati tempat kerjanya dengan layar komputer yang ada di depan meja kerjanya.


sedangkan Nindi terlihat menatap kesana kemari menatap sekitar, terlihat mencari seseorang yang harusnya pertama kali ia temui.


"nak Nindi..."ucap seseorang dari arah belakangnya yang kelihatannya baru masuk ke dalam.


"aaah...sepertinya aku kenal suara ini...dan memang aku sedang mencarinya..."ucap nindi dalam hatinya sambil semua anggota tubuhnya menoleh ke arah sumber suara.


"aaaah...benar kan...pak Faiz..."ucap nindi dalam hatinya.


"oh...pak Faiz...selamat pagi pak..."ucap Nindi sambil menunduk dan malah di balas menunduk pula oleh atasannya tersebut.

__ADS_1


"apa yang bapak lakukan....jika ada yang melihat kan jatohnya aneh pak...saya mohon...perlakukan saya sama seperti karyawan bapak yang lain..."ucap Nindi dengan nada sedikit berbisik dan tangan yang terlihat menyatu memohon.


lalu pak Faiz pun mengangguk sambil tersenyum dengan ramahnya.


"baiklah nak Nindi...eh...Nindi...kamu bisa menempati..."ucap pak Faiz sambil terlihat menoleh ke arah tempat dudu kosong yang masih tersisa untuk satu karyawan.


"disana ya Nindi..."ucap pak Faiz lagi sambil menunjuk ke arah tempat yang harus Nindi tempati.


Namun sebelum Nindi duduk...pak Faiz lebih dahulu memperkenalkan nindi pada semua rekannya yang berjumlah enam orang tersebut, termasuk si Eko tadi.


"baiklah semua...perkenalkan nama saya Nindi...saya staf baru di divisi ini...mohon bantuannya..."ucap nindi yang begitu lantangnya, dan terdengar tepuk tangan dari semua rekan rekannya.


Lalu Nindi pun langsung berjalan menuju tempat yang baru di tunjuk untuknya itu, ia menempatinya dengan perasaan senang.


"baiklah semua...selamat pagi...saya harap...sesama tim...kalian bisa saling membantu satu sama lain...jika belum ada yang di mengerti bisa bertanya dengan senior senior kalian."ucap pak Faiz dengan nada yang lumayan keras hingga membuat semua staf yang ada di dalam divisi berdiri dan menghadap ke arah pak Faiz.


terlihat seseorang datang ke arah meja Nindi dengan membawa beberapa map di tangannya.


"hai...aku nana...ini kerjaan baru yang bisa kamu kerjakan...kalau kamu belum bisa menjumlahkannya...kamu cukup merincikannya saja secara detail ya...nanti aku bantu buat jumlahinnya."


ucap nana dengan nada bersahabat pada Nindi,


"hai juga kak nana...aku Nindi...salam kenal...baiklah kak...aku akan berusaha...terimakasih kak..."ucap Nindi dengan senang nya, dan menerima map-map itu kemudian mempelajarinya.


tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh siang...dan Nindi masih terlihat mempelajari berkas berkas yang baru ia terima tadi pagi, Nindi memang belum merincikannya...namun bagi Nindi cukup mudah jika hanya merinci dan mentotalnya saja, Nindi perlu mempelajarinya se detail mungkin sebelum mengerjakannya.


"ddddrrrrt....ddddrrrt...."ponsel Nindi bergetar di depan meja kerjanya, seketika nindi menatap layar ponselnya,ternyata Arga yang mencoba menelephone nya.


Namun karena Nindi masih berada di kantor dan bukan jamnya untuk mengobrol...ia lebih memilih tidak mengangkatnya.

__ADS_1


"ddddrrrrt....drrrrttt...."lagi lagi ponsel nindi bergetar, sontak nindi meraihnya dan melihat di layar nya, pesan masuk dari Arga.


"sayang....kenapa kamu nggak angkat panggiln aku sih?aku datangin nih sekarang kantor papah kamu...nggak tahu apa cowok kamu ini lagi bad mood gara gara kamu cuekin dari pagi,tahu nggak?"


ucap nindi saat membaca pesan dari Arga yang baru ia buka.


"haaaaiiizzz...pacar nggak berperasaan ini...bisa bisanya menghakimi aku secara sepihak...nggak tahu apa kerjaan aku baru masuk aja segini banyaknya..."


dengus kesal nindi di sela sela mempelajari berkas berkasnya.


"silahkan saja Arga sayang...datengin nih kantor papah...pasti aku tambahin bad mood nya kamu...aku janji..."


ucap nindi dengan nada yang terkesan senang di awal namun marah di belakang.


"ih...ni cewek...lagi datang bulan apa ya?harusnya kan aku yang marah...biasanya aja jam segini udah puluhan pesan yang kita kirimkan satu sama lain...nah hari ini...sekalipun belum...akh...gimana sih ngadepin cewek yang kayak gini harus nya?"


ucap arga dengan kedua tangan yang meraup wajahnya dan menangkupkannya beberapa saat disana, dan tanpa ia sadari...beberapa pasang mata menatap ke arahnya yang terlihat begitu khawatir.


Ternyata...Arga masih dalam ke adaan bersama kliennya.


"apakah anda baik baik saja pak Arga?"tanya salah seorang pada Arga, dan terlihat ia begitu terkejutnya atas pertanyaan yang baru saja tertuju padanya.


"aah...saya lupa belum kasih makan kucing."


ucap Arga spontan dengan bodoh nya.


dan terlihat semua manggut manggut lega karena yang mereka khawatirkan bukanlah hal yang menakutkan.


"kenapa juga nindi aku ibaratin kucing?jelas jelas dia gorila..."dengus kesal dalam hati Arga yang tanpa ia sadari.

__ADS_1


__ADS_2