Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
Pasangan yang legendaris


__ADS_3

Di kediaman Rendi Wijaya, Nampak Rendi terlihat tengah sibuk menggendong Evan dalam pelukanya, Sambil meninang nimang pada buah hatinya tersebut, Dimana sang istri tengah sibuk dengan persiapanya yang akan di bawa ke acara pesta kedua puterinya, Nampak ia repot kesana kemari, Sambil membawa gendongan bayi yang mengalung di pundaknya, Berlalu lalang di depan sang suami dan puteranya, Kesana kemari, Dimana ia sendiri yang menyiapkan perlengkapan bayi, Mulai dari popok sampai pakaian dan tentunya pakaianya dan sang suami.


"Sayang...pelan pelan...atau minta bibi buat ambilin...kamu nanti capek duluan sebelum sampai sana...mau?" Ucap Rendi pada sang istri, Dimana Anin seketika langsung berhenti dan berjalan pelan sembari melempar senyuman pada sang suami.


"Van...lihat tuh mamamu...begitu nurut kalau di bilangin papa," Ucap Rendi pada puteranya, Namun saat itu mungkin Evan hanya kebetulan senyum saja menatap papanya, Karena sudah pasti Evan belum mengerti yang papanya ucapkan barusan.


Sampai...terlihat satu koper besar yang penuh sudah Anin seret ke ruang keluarga, Dimana suami dan puteranya itu berada.


"Huft...udah semua pah...kita tinggal berangkat ntar...semua keperluan papa dan Evan sudah masuk ke dalam," Ucap Anin pada suaminya.


"Loh...kok cuma punya papa dan Evan sih sayang...punya kamu juga sudah belum?" Tanya Rendi pada Anin, Dan seketika itu pula Anin teringat, Bahwa ia baru memasukan pakaian pestanya saja, Dan belum pakaian gantinya, Pastilah esok juga ia akan membutuhkan pakaian ganti, Karena pasti menginap di sana.


"Akh....papah...kenapa baru ngingatkan sih..." Dengus Anin seketika sembari dengan segera beranjak dari tempat duduknya dan bergegas pergi meninggalkan sang suami dan puteranya. Hingga beberapa saat...

__ADS_1


"Pah...masih pagi kan sayang?" Ucap Anin dengan nada sedikit manjanya pada sang suami, Lalu berjalan mendekat menuju ke arahnya dan duduk di sampingnya.


Dan dengan segera Rendi terlihat tanganya sudah melambai isyarat memanggil bibi pengasuh Evan agar mendekat ke arahnya, Dan segera saja Rendi menyerahkan Evan pada bibinya, Barulah Rendi dengan tenang bisa mendengarkan keluh kesah sang istri.


"Apa sayang...ada apa? bicaralah?" Ucap Rendi dengan antusiasnya, Dimana ia sudah empat bulan lamanya berpuasa setelah sang istri melahirkan, Mungkin saat itu sang istri tengah memberi kode padanya, Atau lampu hijau padanya, Hingga ia begitu antusias menanggapinya.


Namun sebelum Anin menjawabnya, Rendi malah bangkit dan menarik tangan sang istri hingga mengajaknya masuk kedalam kamar, Mendudukanya ke tepian ranjang.


"Sudah...sekarang baru jawab...ada apa sayang? mau apa? saat ini memang masih pagi...dan belum waktunya berangkat ke tempat pesta...kamu mau apa?" Tanya Rendi dengan wajah berbinar senangnya, Ia mengira istrinya bersikap manis karena ada sesuatu yang ia ingin lakukan denganya.


"Iya...apa sayang? kenapa emb anu emb anu?" Ucap Rendi lagi sembari menarik pundak sang istri mendekat ke arahnya sampai menempel padanya, Dan Anin dengan manjanya malah meraih wajah sang suami di depanya dengan kedua tanganya dan mengusap usap lemput pipi sampai ujung telinga suaminya.


"Sayang....belum cukuran?" Tanya Anin tiba tiba saat merasakan telapak tanganya sedikit geli dan menyentuh kasar.

__ADS_1


"Ayo ada apa sayang? nggak usah bahas cukuran dulu deh...sekarang bahas selanjutnya aja ya..." Ucap Rendi yang sudah mengerat dan mencium sang istri hingga beberapa kali, Dalam hatinya begitu sangat senang karena puasanya mungkin akan segera berakhir, Karena empat bulan yang lalu, Setelah Anin melahirkan, Sang istri bilang bahwa ia harus puasa paling nggak enam sampai hampir satu tahun lamanya.


Hingga ciuman panas itu pun tersudahi, Barulah Anin membuka suaranya.


"Sayang...tadi aku nyari nyari pakaian ganti yang cocok buat ke pantai...ternyata nggak ada...anterin ke butik ya bentar buat beli...bentar aja kok pah...bisa kan?" Ucap Anin yang membuat sang suami melongo hampir tak percaya, Apa yang ia bayangkan ternyata berbeda dari kenyataanya.


"Astaga...aku kira tadi aku dapat lampu hijau sayang...bisa bisanya buat ku deg degkan kayak jatuh cinta aja!" Ucap Rendi dengan senyuman yang ia paksakan.


"Akh...lama lama semua lampu merah aku beli...aku ganti lampu ijo!" Ucap Rendi dalam hatinya, Karena kesal yang tanpa sebab dan alasan.


"Ayo...mau aku anterin kapan sayang? sekarang apa nanti?" Ucap Rendi yang sudah begitu gemasnya.


"Akh...biarkan sebentar lagi kalau gitu..." Ucapnya yang langsung menyerang ke bibir sang istri dan menciuminya untuk beberapa saat, Dan Anin hanya terpesona seakan tersihir oleh kelakuan sang suami, Yang makin berumur namun makin laki saja menurutnya.

__ADS_1


"Hah...kenapa aku biarkan diriku tersihir olehnya? lain kali pasti aku yang akan membalasnya," Ucap Anin yang masih duduk mematung di tepian ranjangnya, Sembari menatap punggung yang baginya masih yang terindah itu berjalan menjauh pergi meninggalkanya.


__ADS_2