Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
Goresan karena ketulusan


__ADS_3

Baju lusuh, krudung tanpa peniti dan hanya ia talikan saja melingkari lehernya, Menandakan berapa frustasinya dia disaat itu.


Dan hampir sebagian rambut lurus nan hitam miliknya mengintip di balik kerudungnya yang ia selalu jaga selama ini. Ia menjaganya dari pandangan pria lain,


Kaki yang berlari lecil tanpa alas dan hampir terlihat goresan goresan kecil seperti sayatan dan sedikit memerah karena aliran cairan merah yang keluar dari sana.


Keringat bercucuran meski keadaan masih pagi dan matahari belum sepenuhnya meninggi, Sedangkan saat itu ia baru keluar dari hingar bingar kendaraan. Asap debu polusi dari luar yang terkesan memanggang tubuhnya.


Kini ia masuk ke dalam surga dimana ia rasakan kesejukan seketika oleh pendingin ruangan. Nafasnya masih ngos ngosan dan keringat masih bercucuran sedikit meleleh di pelipisnya, Bau badan yang pasti tidak bisa ia hindari lagi karena dari semalam ia tidak mandi sama sekali.


Ifa...ya...perempuan itu tengah berusaha menuju ke kamar hotel dimana bos nya tempati. Kakinya sedikit berjinjit ketika setelah panas panasan berlarian dari luar menyentuh pelataran yang begitu panas menyengat kini berganti alas lantai yang begitu dingin dan lebih terasa seperti es di kaki yang ia pijak, Apa lagi dengan kondisi kaki yang tengah luka luka.


Ifa begitu kesakitan saat itu, Namun ia menahanya sekuat tenaga...demi sepatu bos nya itu agar sampai tempatnya terlebih dahulu daripada memikirkan kesehatanya.


Baginya ia kuat...namun...tidak untuk kondisi tubuhnya...dengan keadaan panas dingin yang bergantian begitu cepatnya membuat dirinya gemetaran dan sedikit pusing. Hingga langkahnya terhuyung sesaat setelah ia sampai di depan kamar hotel Aditya.


"Tok....tok....tok" Suara ketukanya tidak nyaring...namun begitu lambat, Ifa tengah berusaha mengetuk pintu itu dari luar kamar hotel bosnya. Dengan tubuh menyender ke pintu karena oleng akan terjatuh. Dimana ia belum memakan apapun juga dari sejak bangun tidur hingga hari menjelang siang...pikiranya hanya di penuhi sepatu...sepatu dan sepatu Aditya yang langka tersebut.

__ADS_1


Aditya segera beranjak dari duduknya dan kemudian menuju ke pintu dimana ia sebelumnya tidak melihat terlebih dahulu siapa yang tengah berada di luar pintu kamarnya tersebut.


"cklak..." Suara pintu di buka dari dalam oleh Aditya.


"Blugh....!!" Ifa terjatuh tepat di hadapanya dan langsung dengan refleksnya Aditya menopang tubuh gadis itu dalam pelukanya.


"pluk..." Satu sepatu yang ada di pelukan ifa terjatuh di lantai tepat di depan mata Aditya.


"Haaaah...itu kan...sepatu aku yang hilang? meski warnanya jadi seperti itu..." Gumam Aditya di dalam hatinya dan langsung membopong tubuh ifa untuk membawanya masuk kedalam. Tanpa sadar ia tengah menarik kerudung itu dan melepasnya karena telah menghalangi pandangan matanya.


"Dasar gadis bodoh....bisa bisanya kau menemukan sepatu sepatu itu!" Gerutunya saat ia tahu betapa bodohnya Ifa.


Ia menidurkan tubuh ifa yang lemah di atas sofa ruang kamar hotelnya. Dengan panik ia tidak tahu apa lagi yang harus ia lakukan untuk ifa yang masih pingsan.


Ia lalu mencoba menghubungi Arga, Dimana Arga lebih berpengalaman di bidang tersebut.


"Halo ga....kamu dimana? masih di hotel kah?" Tanya Aditya dengan suara sedikit paraunya.

__ADS_1


"Kak...aku udah perjalanan pulang ini...ada apa? habis ini aku masih ada acara lagi kak...!" Ucapnya yang sudah pasti membuat Aditya tidak bisa mengajaknya untuk balik lagi ke hotel tempatnya menginap.


"Yaudah ga...hati hati di jalan." Kata Aditya yang langsung memutus panggilan telephonenya.


Matanya tanpa sadar terpana melihat akan keindahan alami di depanya yang ia tahu tengah tersembunyi setiap harinya.


"Gadis bodoh!" Ucapnya yang tiba tiba terlontar dari bibirnya, terlihat gadis di depanya itu tengah tertidur pulas...Lalu pandanganya kini tertuju pada kaki telanjang ifa, Dimana mata Aditya begitu terkejutnya hingga membuatnya kian mendekat ke arah kaki tersebut.


Matanya mengawasi...dimana telapak kaki itu seperti tersayat rata...bekasnya hampir banyak yang dalam disana. Ia lupa...semalam saat ia meninggalkanya di tepi pantai...ia hanya mengenakan satu heals saja...karena yang satunya tengah hilang hanyut terbawa ombak hingga ke tengah laut.


"Gadis bodoh!" Umpatnya lagi, Sambil beranjak berdiri mengambil peralatan p3k yang ada di kamar hotelnya.


Kemudian ia memangku kedua kaki ifa di atas pangkuanya, Tanganya begitu teliti mengobati goresan goresan tersebut di sana. Di kanan kiri telapak kaki ifa.


Terlihat ifa sedikit meringis di bibirnya, Menahan perih telapak kakinya yang tengah di obati Aditya.


"Tes....tes...." Tiba tiba tanpa Aditya sadari, Tetesan air nan jernih itu menetes dari pelupuk matanya, Padahal ia tidak sedang menangis, Dan dia juga tidak ingin menangis. Namun entah mengapa cairan bening itu keluar dari sana begitu saja. Hingga Aditya mencoba menepisnya hingga bersih, Namun masih ada sisa sisanya disana, Lalu...ia pun menengadahkan wajahnya keatas melihat langit langit kamar hotelnya. Hingga cairan bening itu hilang begitu saja.

__ADS_1


"Apa yang terjadi padaku sebenarnya? aku kenapa? apakah itu tadi air mata? air mataku?" Ucap Aditya yang bertanya tanya di dalam hatinya, Dimana...ia sudah lupa caranya menangis bagaimana, Rasanya menangis seperti apa, Dan perasaan yang seperti apa yang bisa membuat air matanya keluar dan bahkan terjatuh. Sudah ber puluh puluh tahun lamanya saat ia terakhir kali meneteskan air mata karena kepergian ibunya. Hingga kini...hatinya begitu dingin...dan tanpa perasaan...namun aneh...saat ia sadari...perasaanya bisa tersentuh hanya gara gara goresan goresan ringan di kaki ifa, Namun yang pasti hati ifa tulus hingga mendapatkan goresan goresanya tersebut.


"Aku pasti sudah gila..." Ucap Aditya sambil meletakan kedua kaki ifa di sofa sampingnya, Dimana ia berdiri dan mondar mandir sambil mengacak acak rambutnya sendiri, Dengan berkacak pinggang dengan satu tangan. Ia begitu bingung dengan perasaan yang tidak biasa ia rasakan barusan. Semakin dalam ia rasakan dan pikirkan, Semakin pusing pula kepalanya ia rasakan.


__ADS_2