Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
Kepo


__ADS_3

Hingga hari itu berakhir seperti hari hari biasanya, dimana Arga dan Nindi hanya saling berpelukan lalu tertidur, dan sesekali ciuman hangat menghiasinya, esok berganti, saat Arga dan Nindi baru bangun dan bersiap siap akan turun, keduanya sepakat untuk langsung menuju ke tempat acara, rencana dadakan yang keduanya susun kemarin.


Lalu keduanya pun menuju kearah restoran Hotel dahulu sebelum pergi meninggalkan Hotel, sengaja akan mengisi perut untuk sarapan pagi itu, baru memutuskan untuk melanjutkan perjalananya.


"Maaf pak Arga...ini ada titipan dari kamar xxxx." Ucap salah seorang karyawan Hotel, sembari menyerahkan satu surat untuknya.


Lalu Arga pun menerima surat itu dengan segera, dan tanpa pikir panjang langsung membukanya, nampak disana tertulis atas nama Aditya Wibawa.


"Apa apaan sih kakak ini, pakai nulis surat segala, emangnya masih zamanya apa sekarang?" Ucap Arga sembari membuka lembaran kertas yang ada di tanganya dan mulai membaca tulisan yang ada di sana.


"Ga...aku dan istriku pulang dulu ya...aku tak ingin mengganggu tidur kalian." Ucap tulisan tangan Aditya yang Arga baca.


"Surat dari siapa sih ga?" Tanya Nindi yang berbalik menuju ke arah sang suami, langkahnya yang tadi sudah mendahului Arga sekarang berputar balik kembali.


"Akh...ini...biasa lah...dari penggemar..." Ucap Arga sembari menyembunyikan lembaran kertas di tanganya ke dalam sakunya, seakan ia ingin menyembunyikan sesuatu yang tidak boleh Nindi lihat, dengan jahilnya ia mengerjai sang istri.

__ADS_1


"Jangan bilang itu surat dari Manager Hotel ya ga! kalau sampai aku mengetahuinya...habis kamu!" Ucap Nindi dengan nada sewotnya, entah mengapa hatinya sedikit curiga pada sang suami.


"Akh sayang...kok kamu bisa bisanya kepancing secepat itu sih...mana ada wanita yang menggerakan hatiku selain kamu! kamu lupa itu?" Ucap Arga sembari mengambil kertas di sakunya dan memperlihatkanya pada sang istri.


"Tuh...dari kakak...lihat baik baik...Aditya Wibawa tertulis disana...!" Ucap Arga yang merasa sang istri tidak mempercayainya.


"Akh...aku kemakan cemburu!" Ucap Nindi dengan wajah tertekuk karena tidak enak pada sang suami.


"Iya...iya aku minta maaf...sudah nggak percaya sama kamu sayang...maafin ya...kalau gitu ayo sarapan terus lanjutin perjalanan oke?" Ucap Nindi dengan tangan merangkul, memeluk erat lengan sang suami, mengalung manja dan berjalan bersama sama menuju ke arah Restoran Hotel.


Arga dan Nindi tidak mengetahuinya, bahwa niat Satria dan Yura hari itu sampai hari esok, dimana keduanya mendatangi acara pesta Arga dan Nindi yang bertempat di Resort, adalah sembari melakukan perjalanan bulan madu pernikahan mereka.


"Hai...kalian...sini...!" Ucap Nindi dengan sedikir teriakanya sembari satu tanganya terangkat dan melambai ke arah Satria dan Yura, lalu dengan gembira Yura membalas panggilan dan lambaian tangan Nindi itu dengan senyumanya.


"Ayo kesana, ikut gabung mereka!" Ucap Yura pada Satria, yang kemudian di angguki oleh yang bersangkutan, Lalu keduanya pun beranjak dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah pasangan Arga dan Nindi.

__ADS_1


"Hai..." Sapa Yura yang kemudian ikut duduk di dekat Nindi, dan Satria duduk di sampingnya, di dekat Arga.


"Aku kira kalian sudah ikutan pulang tadi, ikut Aditya dan Ifa." Ucap Nindi begitu saja.


"Akh...kami masih ingin jalan jalan, toh kami disini nggak ada tempat yang di tuju selain Hotel, karena kampung halaman Satria terlalu jauh." Ucap jujur Yura sembari tersenyum menatap Satria di sampingnya.


"Kalian beneran nginap di Hotel selama di Negara ini?" Tanya Nindi yang penasaran, dan di balas anggukan keduanya, tanda mengiyakan apa yang Nindi sebutkan.


"Kalian tidur bareng?" Tanyanya lagi.


"Iya...!" Ucap Yura dengan santainya.


"Akh...apa kalian..." Ucap Nindi yang tertahan karena Arga sudah memeluknya dan mengedip ngedipkan kedua matanya, dengan wajah yang pas tepat di hadapanya dan hanya ia yang melihatnya.


Dengan segera Nindi tahu isyarat itu, bahwa ia tidak bisa bertanya lebih jauh lagi tentang kehidupan pribadi sahabatnya itu, karena memang bukan urusan Nindi juga.

__ADS_1


Nindi sadar ia terlalu kepo pada kehidupan percintaan sahabatnya itu.


__ADS_2