
"Arga....banguuun...." Suara teriakan bunda dari luar pintu kamar Arga, Di sertai gedoran dari sana.
"Akh...bunda...kayak Arga ngebo aja sih tidurnya...jelas jelas
kalau bunda nggak disini...Arga juga udah bangun..."
Ucap Arga sembari turun dari ranjangnya dan tidak menggubris teriakan serta gedoran bundanya, Ia sengaja ingin menjahili sang bunda yang sudah lama tidak ia jahili.
Hingga dengan geram bundanya membuka pintu kamar Arga, Ia merasa jengkel, Karena puteranya tidak menyahut disana. Sampai...bunda berhenti tepat di samping ranjang puteranya, Nampak onggokan selimut masih masih rapi menutupinya.
"Arga...bangun nggak? cepet bangun...udah siang nih...mama udah laper...ayo sarapan..." Ucap bunda yang lagi lagi tidak di gubris puteranya. Hingga dengan tabokanya mencoba menabok isi dalam selimut puteranya tersebut. Dan betapa kagetnya saat ia rasakan empuk disana, Sampai ia menarik paksa selimutnya dan melemparnya.
"Argaaaa...dasar nih anak!" Ucap bunda dengan geramnya, Saat ia tahu hanya guling yang ada di bawah selimutnya. Arga sengaja menjebaknya.
"Bye bye bunda...Arga joging bentar ya..." Ucap Arga dengan tiba tiba dari arah kamar mandi yang baru keluar dari sana dengan pakaian jogingnya, Tawanya tak bisa berhenti saat ia tahu jahilanya pada bundanya tengah berhasil.
"Suamiku...apa kau lihat? puteramu sudah mau nikah tapi tabiatnya masih se jahil itu...bagaimana kelak kalau dia punya anak?" Ucap bundanya dengan tangan yang memegangi kepalanya karena pusing dengan ulah Arga barusan.
"Nindi...yang sabar ngadepin Arga sayang..." Ucap bunda dalam hatinya, Dan saat itu bunda tidak tahu bagaimana jengkelnya Nindi karena ulah Arga semalam. Namun di mata bunda...Nindi adalah pasangan yang paling sempurna untuk puteranya.
Hingga beberapa saat, Akhirnya Arga kembali dari jogingnya, Ia terlihat begitu bugar dengan peluh dan keringat yang membasahi pakaian yang ia kenakan.
"Bunda...Arga mandi dulu ya baru sarapan..." Ucap sapa Arga saat melihat bundanya tengah nonton televisi pagi itu.
"Lapar juga kan akhirnya..." Dengus bunda dengan perasaan yang masih kesal.
Hingga setelah Arga usai dengan membersihkan dirinya, Ia pun siap menuju meja makan, Dimana disana terdapat nasi mie soto.
__ADS_1
"Bund...ini bunda yang masak? Arga nggak yakin deh bund..." Ucap Arga yang membuat bundanya mengernyitkan alisnya.
"Sejak kapan bundamu pinter masak? ya beli lah...tadi bunda sambil jalan jalan...eh itu ada penjual di pinggir jalan yang ruame ga...bunda beli aja..." Ucap bunda yang lansung beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke meja makan, Dimana disana Arga sudah duduk terlebih dahulu.
"Emang aku ini lupa apa lagi ngigau sih...jelas jelas bundaku nggak bisa masak...masih aja aku tanyakan...Akh...kangen masakan mama..." Ucap Arga dalam hatinya.
"Pasti kamu lagi kangen masakan mama calon mertuamu kan? udah terlihat dari wajahmu...." Ucap bunda yang sudah bisa menebak apa yang Arga pikirkan, Dan ternyata begitu tepat sekali.
"Mama ada keturunan dukun beneran kali ya?" Ucap Arga dalam hatinya, Dengan wajah bengong dan mata melototnya, Ia menatap ke arah bundanya.
"Nggak usah bingung...udah keliatan di wajah kamu kalau kamu sering numpang makan disana kan?" Ucap bunda yang membuat Arga meneguk ludahnya, Dimana memang benar kenyataanya demikian, Meski sebenarnya Arga kesana hanya untuk menjemput Nindi atau mengantarkan Nindi pulang, Namun calon mama mertuanya itu terlalu baik padanya, Bahkan sering memberinya bekal sarapan ataupun makan siang, Meski Arga tidak memintanya.
"Aaakh...bunda bisa aja...ayo bund sarapan..." ucap Arga yang mencoba mengalihkan perhatian bundanya agar tidak menebak nebak lagi. Hingga usai sarapan keduanya, Bunda terlihat bersiap siap akan meminta antar Arga untuk belanja barang barang apa saja yang akan ia bawa ke rumah calon besanya.
"Sayang...sini deh...bunda mau kasih lihat kamu sebentar..." Ucap Bunda yang meminta Arga untuk datang mendekat padanya, Dan Arga pun segera mendekat mengikuti isyarat yang bundanya katakan.
Ia hanya mematung dan tak percaya dengan penglihatanya, Padahal niatnya masih dua hari lagi untuk mencari gaun pengantin, Namun ternyata bundanya sudah mempersiapkanya.
"Bunda...ini cantik banget...Arga nggak tahu lagi harus komentar apa...pasti Nindi menyukainya...makasih bund..." Ucap Arga sambil memeluk bundanya. Saat itu perasaanya benar benar sangat bahagia.
"Arga dan Nindi sepakat untuk mengadakan resepsi pernikahan di tiga tempat berbeda bund...makasih atas gaunya...kami tinggal membeli beberapa lagi bund..."
Ucap Arga yang membuat bundanya bahagia, Karena puteranya sudah tergolong pengusaha termuda yang sukses kala itu. Membuatnya tidak harus memikirkan masadepan keduanya, Karena pastilah Arga sudah mengaturnya sendiri. Dengan tabiat puteranya itu...Arga tidak mungkin menerima bantuan dana dari bundanya, Namun bundanya tidak kehabisan ide, Alhasil...ia memesan gaun pengantin dari desainer ternama di Negaranya.
"Apa perlu Arga beritahu Nindi sekarang bund?" Tanya Arga yang sudah merogoh ponsel dalam saku kemejanya.
"Jangan nak...ini nanti kita bawa kesana sayang...ayo kalau gitu segera kita berangkat membeli yang lainya." Ucap bunda yang langsung di laksankan Arga, Dimana ia memasukan kembali ponselnya ke dalam saku kemejanya lagi.
__ADS_1
Keduanya berangkat ke mall pagi setengah siang itu, Dan hari itu Arga lagi lagi lupa belum memberi kabar kekasihnya.
"Bund...ini niat bunda ngajak aku shopping cuma untuk bawa belanjaan? akh...tahu gitu ajak aja pak supir bund...masak cowok ganteng di suruh nenteng beginian sih bund? mana banyak, Lagi...nggak cuma satu dua tas doang..." Gerutu Arga di sepanjang perjalananya.
"Sayang...kan jarang jarang kamu nemanin bunda belanja...pake ngeluh lagi...nggak cowok banget deh!" Ucap balasan bunda yang membuat Arga mengernyitkan dahi dan menyunggingkan bibirnya.
"Yang nggak cowok banget tuh ya yang lagi nenteng belanjaan gini bund..." Ucap balasan Arga namun tidak di hiraukan oleh bundanya, Dan bundanya masih terlalu sibuk dan begitu antusiasnya dengan belanja belanjaan yang ada di catatanya, Sedangkan catatan yang bundanya bawa itu sudah se panjang rel kereta.
"Bund...kapan selesainya sih ini? Arga capek bunda...atau...gini aja...bunda aku tinggal dulu ke cafe ya...kalau udah selesai ntar kabarin Arga...okay...nih belanjaan aku taroh mobil dulu ya bund..." Ucap Arga yang langsung ngibrit pergi tanpa persetujuan bundanya terlebih dahulu, Dimana ia pun langsung menuju ke cafe yang ada di mall tersebut setelah menaruh belanjaan di mobil. Cafe yang pernah ia dan Nindi datangi, Dan lumayan sering.
Hingga langkah kakinya terhenti saat memasuki cafe tersebut, Ia berdiri mematung disana. Saat ia lihat gadis cantik yang ia kenal tengah berdiri di depan barista cafe dengan satu gelas Milk tea di tanganya.
Segera saja Arga bergegas menuju ke sana, Menghampiri gadis tersebut dengan segera. Seketika tanganya menyahut gelas milk tea yang ada di tangan gadis tersebut dan langsung meminumnya.
"Kau...kenapa kau ambil minumanku? atau nggak sanggup beli sendiri?" Ucap sang gadis dengan nada marahnya.
"Belikan aku juga...aku mau..." Ucap Arga yang langsung di tolak oleh si gadis. Hingga terlihat sedikit cek cok siapapun yang melihatnya, Dan si baristapun angkat bicara.
"Maaf tuan...tapi anda tidak sopan dengan gadis ini!"
Ucapnya yang berlagak jadi pahlawan.
"Kenapa? ada apa kau ikut campur? dia pacarku...ouh calon istriku...kau mau apa?" Ucap Arga yang langsung menarik tangan gadisnya untuk pergi meninggalkan cafe. Dan terlihat si barista tengah bengong di tempatnya.
"Apaan sih ga...buat masalah aja di tempat umum." Dengus Nindi dengan kesalnya.
"Kamu yang nggak langsung beliin aku tadi...masih tawar menawar..." Dengus Arga pula. Dan keduanya masih terlihat sedang marahan karena rahasia yang Arga sembunyikan darinya.
__ADS_1