Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
Niat pergi menjauh


__ADS_3

Satu jam...dua jam...tiga jam...bahkan sudah empat jam, Dimana ifa tengah terbaring menunggui Aditya kembali menuju ke tempatnya, Ia sudah melupakan candaan bos nya tadi yang baginya adalah sebuah pukulan keras yang menghantamnya. Dimana bagi ifa ucapan pernikahan adalah tabu untuknya, Ia tidak berhak menyukai seseorang atau pun di sukai seseorang. Karena pasti akan melukai hati keduanya.


Hingga terlihat seorang suster datang menghampirinya, Membawa baki kecil dengan peralatan melepas selang infus dari tanganya.


"Sus....mau nanya...apakah anda melihat seorang lelaki tampan yang tadi tengah menungguiku disini? tadi dia keluar...tapi sudah begitu lama dia nggak kembali kembali..." Ucap ifa sambil meringis sedikit menahan selang itu di cabut dari tanganya.


"Ooooh...lelaki tampan tadi ya...dia sudah pergi mbak...mungkin...tiga jam yang lalu...tapi dia sudah melunasi biaya mbak disini kok...dan malah meninggalkan beberapa lembar uang untuk mbak, Ia berpesan...jika anda sudah bisa pulang...untuk menyerahkan uang tersebut pada mbak..." Ucap si suster dengan senyum ramah yang tersungging disana.


"Baiklah mbak...sudah selesai...tunggu disini...saya ambilkan dulu uangnya." Ucap suster tersebut sambil tersenyum menatap ke arahnya, Ia lalu pergi meninggalkan ifa yang tengah duduk di tepian brangkar.


"Aaaah...aku kenapa se sedih ini sih? jelas jelas aku tahu siapa bos itu...nggak mungkin kan ia sungguh sungguh dengan kata katanya tadi...dan lagi...aku terlalu bawa perasaan setelah selama ini di ajak nemani dia kemana mana, Akh....kenapa aku se sedih ini sih? aku nggak pantas merasa sedih...aku nggak boleh kaya gini...aku bukan apa apa baginya, Aku hanya butiran debu saja ibaratnya, Kapanpun ia mau aku hilang...ia akan melakukanya."


Ucap ifa sambil meneteskan bulir bulir air mata namun bibirnya tak henti hentinya tersenyum lebar. Tanganya mulai menyeka lelehan air matanya sampai bersih, Ketika ia lihat si suster datang mendekat ke arahnya.


"Ini mbak...tadi ada orang yang datang dengan membawa pakaian ganti buat embak...dan juga sama sepatu kayaknya mbak, Mbak begitu beruntung...baju dan sepatu ini incaran para gadis lo mbak...semua ber merk terkenal lagi..

__ADS_1


saya sudah kepingin sejak lama...namun nggak sanggup beli. Pasti laki laki tadi pacar mbak ya? sampai belikan mbak barang barah ber merk seperti ini?" Tanya si perawat dengan basa basinya, Namun ifa hanya tersenyum menanggapinya. Dalam hatinya masih sedikit tersisa rasa sedih namun cenderung sakit, Ia sekuat tenaga menahan lelehan air matanya.


"Aaah suster bisa aja....dia bos saya di perusahaan suster...dia biasa baik kok sama semua staf dan karyawanya...termasuk saya..." Ucap ifa sambil mengambil pakaian dan sepatu dari tangan si suster, di tambah segebok uang yang tadi Aditya tinggalkan untuknya.


"Mbak asli mana?" Tanya si suster yang penasaran, Ia melihat begitu banyak uang di tangan ifa yang tadi di tinggalkan oleh bosnya.


"Oh...saya asli kota A suster...ya...kalau dari sini sih...bisa empat sampai lima jaman lah sus..." Ucap ifa dengan jujurnya. Lalu ifa pun pergi meninggalkan suster tersebut menuju kamar mandi, Dimana dia akan mengganti pakaiannya, Dan sebelumnya ia pun berpamitan serta berterimakasih terlebih dahulu pada si suster tersebut.


Sore itu...ifa berdiri di tepi jalan raya, Ia ingin menyetop angkutan umum untuk menuju ke terminal bus, Dimana ia akan menaiki bus saja menuju ke kotanya. Tidak lupa sebelumnya ia tengah mengisi perutnya di sebuah warung tenda pinggir jalan, Meski ia kini sendirian...namun ia juga tidak bisa mengabaikan kesehatanya. Ia harus kuat harus sehat untuk menghadapi kenyataan, Dimana ia sudah di buang oleh Aditya, Harusnya ia bahagia...ia senang...namun entah mengapa...ia malah sedih dan kehilangan...sama seperti saat ia baru kehilangan ibunya.


Persis rasanya sama...kosong...dan hampa...benar benar tidak ingin melakukan apa apa.


"Lhooooh...ifa...kamu masih disini? Sedang apa? bukanya kamu sama sama Aditya bukan kemarin?" Ucap seorang gadis cantik yang berada di sisi laki laki yang tengah berada di belakang kemudi. Ia bertanya setelah membuka penuh kaca jendela mobilnya.


"Aaah...yura...Satria...kalian masih disini...iya...kemarin aku sama bos...tapi tadi bos ninggalin aku...jadi aku sendirian sekarang." Ucap ifa sambil memperlihatkan senyumnya yang ramah.

__ADS_1


"Ayo masuk...!" Ucap yura mempersilakan masuk ifa ke dalam mobilnya. Dan dengan senang hati ifa pun turut masuk ke dalam mobil yang di tumpangi satria dan yura tersebut.


"Aditya itu tega banget sih...main tinggal aja...dasar."Gerutu yura yang sudah benar benar tidak mengerti akan kelakuan laki laki yang bernama Aditya tersebut.


"Dia ada kerjaan yura...jadi biarlah...aku cuma bawahanya saja...jadi jangan menyalahkanya ya..."Ucap ifa yang entah mengapa tidak begitu suka saat ada yang menjelek jelekan


nama Aditya di depanya.


"Atasan bawahan apanya...bukanya kamu kekasihnya? kemana mana lengket berdua gitu masih aja nggak mau ngakuin sih fa?" Ucap yura yang tengah menyudutkan ifa disana agar ia mengakui Aditya sebagai kekasihnya.


"Aaah....semua bisa melihat kami? nggak ifa...jangan mengenang apapun...dan saat saat yang pernah kamu lewati dengan Aditya. Anggap semua itu hanya mimpi ifa...bangun! bangun!...jangan pernah memimpikan hal yang tidak akan mungkin." Ucap Ifa dalam hatinya, Dan terlihat matanya berkaca kaca disana.


"Emmm....yura...apakah kau akan ke kota A?" Tanya ifa yang ingin tahu.


"Iya...kita akan kesana...barang barang kita masih ada di rumah Nindi...di rumah om Rendi...jadi kesana dulu...baru pulang ke negara asal kita." Ucap yura sambil menatap ke arah Satria. Dimana begitu kebetulan keduanya satu negara.

__ADS_1


"Apa aku boleh ikut kamu ke Negara kamu yura? aku akan bayar kok uang pesawatnya...aku ada uang ini...biarkan aku ambil Paspor sama keperluan aku yang lain ya nanti...sambil memberikan surat pengunduran diriku ke perusahaan pak Aditya."Ucapnya sambil menggenangkan air mata di pelupuk matanya, Ia berharap. Dan dengan senang hati yura pun menyambutnya,


"Kau sudah benar ifa...dia yang sudah membuangmu...dan tidak membutuhkanmu bukan? kau harus bisa menjauh sejauh jauhnya dari Aditya ifa...harus!" Ucap ifa yang memantapkan hatinya untuk pergi sejauh mungkin dari hadapan Aditya.


__ADS_2