
"Siapa bi?" tanya Rendi dari dalam rumah yang berjalan mendekat ke arah bibi dan Arga.
"Lhoh...kamu Ga...masuk-masuk...kok kamu bisa tahu rumah om?" tanya Rendi sambil mengajak lelaki tampan itu masuk kedalam.
"Tahulah Om...banyak di muat di majalah dan koran...apa lagi CV nya Nindi...pasti ada " ucap jujur Arga. Dan terlihat Rendi hanya manghut-manggut saat itu.
"Ma....ma...ini ada tamu ma..." teriak Rendi yang memanggil istrinya yang sedang menonton televisi di ruang keluarga.
"Oh...ini...kan yang ketemu di mall itu bukan?" tanya Anin pada Arga, saat ia melihat lelaki itu.
"Benar sekali tante..selamat malam tante...saya Arga Sanjaya..." ucap Arga lalu ia pun mengulurkan tangannya, dan Anin langsung menjabatnya.
"Ayo silahkan-silahkan..." sambut hangat Anin. Arga pun berjalan masuk dan duduk di ruang tamu, karena Rendi baru saja mempersilakan duduk.
"Kamu kan yang sering masuk majalah dan koran-koran itu kan nak?" tanya Anin.
"Waduh tan...koran dan majalah yang mana itu? bukan yang kriminal kan tan?" tanya serius Arga dengan sedikit candanya.
"Oh...bukan...bukan nak...tapi koran dan majalah bisnis itu lo...gini-gini tante juga penggemarmu." Ucap jujur Anin. Dan Arga hanya tersenyum kecut untuk menanggapinya.
"Kalian ngobrol gih...tante mau bantu bibi siapkan makan malam...nak ikut makan malam sekalian ya..." ucap Anin memaksa. Dan Arga hanya mengangguk sebagai jawabannya. Namun sebelum Anin beranjak pergi dari tempatnya.
"Om...boleh foto sama-sama tidak Om...sama tante juga...apa lagi sama Nindi lebih baik lagi Om..." pinta Arga yang memohon. Dan terksan mendesak.
Rendi dan Arga sudah kenal sejak Arga masih kecil...ia sering di ajak ayahnya untuk menghadiri rapat atau sejenisnya, sedikit banyak Rendi tahu kepribadian Arga, karena memang ayah Arga dan Rendi adalah teman atau rekan bisnis, tapi itu dulu...dan setelah ayah Arga meninggal...Arga dan bundanya pindah keluar Negri, sedangkan perusahaan di pimpin paman bunda Arga, yang hubungannya semakin jauh dari Rendi dan perusahaan Sanjaya itu pula hampir bangkrut saat itu, kemudian Arga datang dan mengambil alih hingga bangkit lagi dan lebih berkembang hingg kini. Diam-diam Rendi salut akan perjuangan lelaki itu, bagi Rendi itu sungguh luar biasa.
"Untuk apa Ga?" tanya Rendi penasaran.
"Untuk buktikan ke mama...kalau Arga lagi ngejar cintanya putri Om...biar Arga nggak di jodohin Om...Arga nggak tahu yang mau bunda kenalkan gadis kaya apa...ayo lah Om...bantuin Arga, Arga mohon...Om lihat deh...di luar ada dua orang suruhan bunda ngikutin Arga kalau Om nggak percaya, bunda khawatir Arga maen ke Club malam Om dan kenalan sama cewek nggak bener...ayolah Om...atau jangan-jangan Om sudah menjodohkan putri Om atau...putri Om sudah punya pacar ya?" tanya pancingan Arga, tapi memang Arga jujur apa adanya.
"Siapa bilang dia sudah punya pacar? dan Om juga nggak sekolot itu untuk menjodohkan putri Om, Om ngasih pilihan kok sesuka Nindi." Ucap Rendi.
"Kena." Ucap Arga dalam hati dengan senangnya.
"Nanti deh Ga...saat sudah ngumpul di meja makan ya..." ucap Rendi. Dan Arga memgangguk.
__ADS_1
"Oh ya Om...aku tadi ngirim file ke ponsel Nindi...kok kekunci ya om?" tanya Arga lagi.
"Coba bawa sini ponselnya...!" pinta Rendi. Dan Arga menyerahkannya.
"WIJAYA, nah...sudah...file yang mana coba?" tanya Rendi tiba-tiba yang membuat Arga gelagapan.
"Pah...ada tamu di luar...." kata mama Nindi tiba-tiba yang langsung di sambut Rendi dengan bangkit dari duduknya. Dan berjalan menuju tamu tersebut. Sepertinya Rendi sedah menunggunya.
"Iya ma...aku datang..." sahut Rendi.
"Huuuuffft....selamaaaaat...." dengus lega Arga. Lalu ia pun segera memasukkan nomor ponselnya ke ponsel Nindi, dan sebaliknya ia juga memasukkan nomor ponsel Nindi ke ponselnya.
"Nak...papanya Nindi masih ada tamu di teras luar...kamu sama tante saja ya..." ucap Anin pada Arga lalu duduk di sofa.
"Sebenarnya Arga kesini mau menyerahkan ponsel Nindi tante...Nindinya ada?" tanya Arga seketika.
"Oh...Nindi ada di kamar nak...pasti dia juga sudah mau turun, biasanya kalau urusan makan begini dia yang selalu pertama." Ucap jujur Anin.
"Nyonya...ikannya yang mana ya yang di goreng dulu?" tanya bi Ani yang tiba-tiba datang. Anin lebih suka membantu bibi-bibinya, karena keduanya sudah tua, namun untuk dapur...bibi masih bisa, untuk belanja...kadang Anin sendiri dan Nindi...kadang juga menyuruh orang.
"Oh ya nak...daripada kamu sendirian nggak ada temannya...kamu bisa ke kamar Nindi dan panggilkan sekalian Nindi untuk turun ke bawah ya..." ucap Anin. Yang mengira lelaki itu sudah akrab dengan putrinya, mengingat semua yang suaminya ceritakan tadi saat ketiganya makan siang bersama. Anin begitu bahagia saat itu ketika putrinya tidak akan jomblo lagi.
"Baiklah tante...akan Arga panggilkan, kamarnya di sebelah mana tan?" tanya Arga.
"Naik saja...di deretan paling depan ya..." ucap Anin sambil berjalan menuju dapur dengan bi Ani.
"Kenapa hari ini mujur bener ya hidup aku...lancar-lancar gini...kekamar Nindi langsung." Gumam Arga dengan senangnya.
"Ingat Ga...jangan macem-macem...yang lu adepin orang luar biasa Ga...macem-macem pingin pala lu putus."
Dengus hati Arga saat sambil berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Nindi berada, sesampainya di depan pintu kamar Nindi.
"Tok, tok, tok..." Arga mengetuk halus pintu kamar itu.
"Masuk...masuk aja." Sahut Nindi dari dalam kamarnya. Dan benar saja...Arga membuka pintu itu dan melangkah masuk ke dalam, di sana...Arga melihat gadis yang ia cari itu sedang tengkurap di atas ranjang dengan laptop di depannya, ia terlihat sedang melakukan video call dengan seorang laki-laki. Dan Arga langsung tahu...siapa laki-laki itu.
__ADS_1
"Satria." Gumam dalam hati Arga.
Lalu rasa hatinya entah kenapa menjadi tidak suka,l.
"Honey...ayo cepat turun...papa dan mama sudah menunggu di meja makan honey..." ucap Arga dengan kencangnya agar orang yang berada di dalam panggilan video itu mendengarnya, sambil berjalan mendekat ke arah Nindi yang tengkurap dan sekarang menoleh ke arahnya. Dengan cepat Arga menunduk meraih kepala Nindi dan mengecup rambutnya di sana, dan setelah itu ia langsung menutup laptop Nindi yang ada di depannya itu.
"Key kau...kenapa ada disini? dikamar aku?" tanya Nindi dengan penasarannya.
"Kan kamu yang nyuruh aku masuk honey...apa kamu lupa?" jawab Arga.
"Arga Sanjaya...keluar kau dari kamar ku sekarang, atau aku teriak ni!" ucap ketus Nindi yang di barengi dorongan kedua tangan Nindi yang mendorong punggung Arga agar keluar kamarnya dengan segera.
"Eits...." ucap Arga, dan dengan cepat membalikkan tubuhnya hingga Nindi tertangkap ke pelukannya.
"Hemmmb...honey...sudah ku bilang kan...kamu terlalu agresif...mentang-mentang kita di dalam kamar ya...kamu menggodaku sampai seperti ini?" canda Arga.
"Aaaaaaaakkkkhhh mama....papa...siapa sih yang ngijinin cowok mesum ini kemari...?" teriak Nindi seketika yang langsung di bekap oleh tangan kekar Arga.
"Kau mau secepatnya kita di nikahkan ya?" tanya Arga dengan sedikit berbisik. Lalu Nindi refleks menggeleng-gelengkan kepalanya, karena tangan Arga masih membekapnya.
"Tenang honey...jangan bertindak sembarangan kalau kau tidak mau Om dan Tante salah paham...oke?"
ucap Arga lagi.
"Udah sono keluar..." ucap Nindi lagi yang di tururi Arga.
"Honey...ponselmu..." ucap Arga sambil menyembulkan kepalanya masuk ke dalam kamar Nindi lagi. Dan Nindi dengan ketus menyahutnya.
"Oh ya honey...di panggil Om dan tante turun tuh...mau aku gendong nggak?" canda Arga lagi.
"Buaaaakk." Terdengar sandal Nindi melayang mengenai pintu sebelah wajah Arga.
"Kekali lagi lu gangguin...nggak segan-segan ni semua sendal yang ada di rumah...aku ambil dan aku lemparin ke wajah lu." Sahut Nindi dengan sadisnya.
"Huuuuuuffffthhh....lega..." dengus Arga yang langsung menutup pintu sebelum Nindi benar-benar ngambil sendal serumah hanya untuk melemparinya.
__ADS_1
"Cewek satu ini...lincah banget ya...aku nggak lihat kapan dia ngangkat kakinya tadi, dan ngambil sendalnya...kenapa tiba-tiba tu sendal sudah melayang hampir kena mukaku pula." Gerutu Arga sambil berjalan menuruni anak tangga menuju meja makan. Dan disana terlihat tante sedang sibuk menata hidangan ke atas meja makan sedangkan Om Rendi belum kembali...masih di teras luar dengan tamunya.