
"pagi sayaaang..."
sapa rendi dengan tubuh miring dan bertumpu pada satu tangan menyangga kepalanya,
ia menatap lekat wajah istrinya itu yang menggeliat karena sinar cahaya pagi yang masuk menembus jendela kaca.
anin pun mengerjap-ngerjapkan matanya yang belum terbuka sempurna,
di lihatinya wajah tampan itu.
"pagi kak..."
sahut anin seketika dengan tangan yang sudah mengelus dagu suaminya yang di tumbuhi sedikit rambut.
tiba-tiba...
"kak...itu rambut di dagu di bersihkan dong kak...sebelum bersih...jangan cium aku ya..."
kata anin yang langsung terbangun dan duduk di samping suaminya,
tiba-tiba...
"cup..."
kecupan rendi mendarat di pipi istrinya.
"ya...lupa belum aku bersihkan yank...eh...ni bibir udah keburu nyosor aja,"
canda rendi dengan jahilnya.
"ih kak...kamu tu ya...gak bisa di kasi tau...ih sebel aku ,"
ucap anin tiba-tiba yang langsung beranjak berdiri dari tempat tidurnya.
kini ia berjalan menuju kamar mandi.
membuka pintunya lalu masuk ke dalam...tak lupa ia membawa pakaian gantinya sekalian.
karena anin tak mau...kecolongan seperti biasanya.
"yank...ikut donk...aku mau sekalian nyukur rambut jenggot nie..."
ucap rendi.
"gak mau kak rend...semalam aja...kamu bilang gak akan macem-macem...eh...taunya sampai berapa ronde...kali ini gak mau deh...gak mau kecolongan lagi,"
ucap jujur istrinya yang sudah ada di dalam kamar mandi,dan sedetik kemudian...terdengar guyuran air.
"bilang aja enggak-enggak...eh...alhasil menikmati juga...trus aja yank jual mahal...aku makin suka..."
gumam rendi dengan wajah yang sumringah.
rendi terlihat mengangkat gagang telephon yang ada di samping tempat tidurnya.
menempelkannya di telinga.
sesaat kemudian...
"bi siti...tolong bawakan susu istriku dan kopi hitam ke kamar ya bi..."
ucap rendi di telephon.
lalu terdengar suara dari seberang...
"baik tuan...bibi akan segera siapkan."
limabelas menit kemudian...pintu kamar di ketok.
saat rendi membuka pintu...bik siti sudah berdiri di depan pintu kamar dengan membawa dua gelas di tangannya dan cemilan di piring.
rendi pun mengambilnya lalu menutup pintunya saat bi siti sudah berlalu pergi.
di letakkannya nampan di tangannya itu di meja balkon.
cukup lama dari biasanya anin di dalam kamar mandi,
rendi pun sudah tak sabar...kenapa istrinya bisa sangat lama...hampir...setengah jam dia di dalam sana.
rendi pun berjalan menuju pintu kamar mandi,
"tok tok tok"
ketukan tangan rendi dengan cepat.
"sayang...kamu sedang apa?kamu tak apa-apa kan?"
tanya rendi benar-benar khawatir.
lalu tanpa balasan pintu kamar mandi pun terbuka dari dalam.
__ADS_1
tampak istrinya itu keluar kamar mandi dengan rambut yang sudah agak kering dan sudah berpakaian lengkap.
"sayang...kamu tu bikin khawatir saja!"
dengus kesal rendi...karena yang bersangkutan tidak merespon sama sekali.
"ada apa sih kak rend...kayak kebakaran jenggot saja!"
sahut anin.
"ia lama-lama kalau kamu kayak gini lagi...bisa-bisa ku bakar ni jenggot!"
sahut rendi dengan nada sedikit naik.
namun di sahut cekikik oleh istrinya itu.
"kak...aku tu...lagi ngeringin rambut tadi sekalian...kan keluar gini jadi enak...udah gak basah..."
kata anin menerangkan.
"ia udah...sekarng ke balkon...kamu minum susu dulu...temani aku minum kopi,"
pinta rendi sambil mengajak istrinya itu menuju balkon.
"kak...kenapa kita tidak minum kopi dengan kakek di bawah saja?"
tanya anin ingin tahu...
"tadi aku lihat pagi-pagi sekali...kakek sudah jalan-jalan dengan tetangga."
ucap rendi.
"nih...minum dulu susunya sampai habis,"
kata rendi sambil memberikan segelas susu untuk diminum istrinya.
dengan senang hati anin pun menerimanya.
lalu meminum susu segelas itu sampai habis tak tersisa.
rendi pun menikmati kopi hitamnya...sambil membaca koran pagi ini.
tiba-tiba matanya menatap tajam ke arah...koran.
lalu beranjak berdiri tergesa-gesa menuju kamar dan menyambar telfon genggamnya.
anin hanya mengawasi gerak suaminya.
ucap dalam batin anin.
saat rendi sudah selesei menelfon...dan kembali duduk di samping istrinya itu,
anin pun mulai ingin tau...
"kak...ada apa?kelihatannya serius sekali?"
tanya anin pada suaminya.
namun...rendi hanya tersenyum menatapnya sambil mengelus rambut istrinya itu.
"bukan masalah sayang...tapi tangkapan besar,"
kata rendi dengan wajah berbinarnya.
namun lagi-lagi...anin tidak mengerti.
"ya sudah lah ya...yang terpenting...bukan masalah,"
desah anin dalam diamnya.
tak begitu lama...terdengarlah suara kakek dari bawah balkon.
lalu rendi beranjak dari duduknya...berjalan mendekat pembatas balkon.
ia melihat ke arah bawah,dan ternyata disana kakek baru pulang jalan-jalan pagi nya.
"sayang...tunggu sebentar ya...aku mandi dulu...nanti sama-sama kita turun untuk sarapan."
ucap rendi lalu melangkah masuk ke dalam kamar,
tak lupa ia mendaratkan kecupan di puncak kepala istrinya itu,baru ia benar-benar masuk kedalam kamar mandi.
anin hanya menikmati aktivitas paginya itu dengan riyang.
"setiap hari selalu di manja suami...tapi kenapa aku bosan?"
kata anin dalam batinnya.
"sayang...cepatlah keluar...mama bosan ni..."
__ADS_1
dengus anin sambil mengelus perutnya.
lalu terdengar pintu di buka, suaminya ada di sana berdiri dengan handuk menutup lutut sampai pinggangnya.
"kebiasaan ni orang...bikin gemas aja..."
guman anin.
anin pun beranjak dari duduknya...lalu datang menghampiri suaminya.
"pamer perut rata ni ceritanya?"
kata anin sambil melewati suaminya dan masuk ke dalam kamar,untuk mengambilkan pakaian suaminya.
"kak...kaosnya kayak nya belum di setrika deh kak...pake kemeja lengan pendek aja mau?"
sambil memilih-milih pakaian di dalam lemari pakaian.
tiba-tiba...rendi pun memeluk tubuh istrinya dari belakang dengan manjanya.
"aku mau pakai apa saja...asalkan kamu yang memilihkannya,"
ucap suaminya.
lalu....
"nih kak...pake ini...warnanya bagus..."
kata anin sambil menyodorkan pakaian pada suaminya.
seketika rendi pun tersentak...ia hampir melonjak...
"ya kali aku pakai baju hamil yank...kira-kira dong..."
ucap rendi seketika.
namun di balas tawa oleh istrinya.
"katanya mau pakai apa saja asal aku yang pilih..."
canda anin pada suaminya.
lalu...
"braaaakkkk",
suara kedua tangan rendi menggebrak pintu lemari pakaian dengan anin yang ada di dalam kurung kedua tangan suaminya.
terlihat senyum devil di bibir rendi.
rendi merapatkan wajahnya ke wajah anin.
di tatapnya bola mata istrinya yang berbinar itu.
"sayang...sepertinya kau sudah lama belum aku hukum...apa kau mencoba...mengingatkanku pada hukuman itu?"
kata rendi dengan suara yang serak.
anin hanya bisa menelan ludahnya dan tersenyum kecut di sana.
"maksud hukuman itu yang seperti apa sih...bukankah dia setiap malam selalu menghukumku?dasar,"
kata dalam hati anin.
"maaf kak...bukan maksudku seperti itu...aku hanya bercanda...kau sering juga kan bercanda padaku..."
kata anin dengan wajah memelasnya.
lalu...
"cup",
bibir rendi sudah menempel di bibir istrinya.
melumat lalu setelah istrinya terlena...
"auh...."
terdengar anin mengaduh karena gigitan suaminya.
anin hanya mengelus bibirnya...dan memgusap-usapnya.
sedangkan rendi melepas tangannya dan tersenyum cekikiknya.
"dasar...kamu tu ya..."
gerutu anin.
"sana pilih dan ambil sendiri bajumu,"
__ADS_1
kata anin sambil menepis tangan suaminya berlalu meninggalkan rendi yang kini berkacak pinggang dengan bangganya.