Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
Hal konyol yang bisa terjadi saat datang bulan


__ADS_3

Malam kian larut, Saat pasangan pengantin baru tengah menunggu akan lepas landas pesawat yang di tumpanginya, Yang akan membawa keduanya ke Negara tetangga, Dimana Aditya ada tugas ke luar Negeri yang tidak bisa ia tinggalkan dan sekaligus honey moon bersama sang istri. Keduanya terlihat menikmati perjalanan pertamanya sebagai pasangan suami istri, Tampak bahagia dan selalu saling berpegangan tangan dan mengeratkan satu sama lain. Hingga keduanya terlelap dalam pesawat yang tengah mengudara dan baru saja lepas landas dari Bandara.


Berbeda dengan Nindi, Ia terlihat masih uring uringan dan berguling guling di atas tempat tidurnya malam itu, Dimana ia masih menunggui kabar dari kekasihnya, Meski papanya sudah mendapat kabar dari orang suruhanya, Namun Rendi lupa memberi kabar puterinya tersebut. Karena saking lelahnya dan menemani sang istri untuk istirahat awal pada malam itu.


Sedangkan di tempat Arga berada, Ia masih betah di depan layar laptopnya dan mengamati berkas berkas yang masih menumpuk di atas mejanya, Terlihat matanya masih terjaga menatap layar komputer di depanya, Dengan di temani segelas besar kopi di sampingnya, Yang isinya sudah hampir habis disana.


"Aaaaakh....lelahnya...." Ucap Arga sambil meregangkan tubuhnya ke belakang hingga membentur sandaran kursi belakangnya, Terlihat kedua tanganya terangkat serempak ke atas dan di goyangkanya ke kanan dan ke kiri hingga sedikit mengendur semua otot ototnya yang ia rasakan setelahnya.

__ADS_1


Matanya menatap ke arah jam di dinding yang sudah menunjukan pukul sebelas malam, Dan ia pun perlahan beranjak dari duduknya, Berjalan menuju ke kamarnya dan menjatuhkan tubuhnya disana, Ia tengkurap dan tertidur seketika di atas pembaringan dengan nyamanya. Tanpa melihat ponsel ataupun mengecek apakah ada sesuatu pada ponselnya. Matanya terasa berat dan sudah tidak dapat menahan kantuk yang bercampur lelahnya, Meski esok ia masih belum bisa datang ke kantornya atau menghadiri serangkaian acara, Namun kerjaan di rumah menumpuk untuknya kerjakan. Dan itu sudah menjadi hal yang biasa bagi Arga.


Hingga malam berganti pagi, Fajar mulai menyeruak memperlihatkan cahayanya yang menyilaukan membuat ruangan kamar Nindi yang memang dari semalaman sengaja tidak ia tutup tirainya itu tampak terang benderang, Terlihat Nindi dengan tubuh yang terduduk di atas sofa dengan kedua kaki tertekut, Ia memeluk lututnya disana semalaman, Pikiranya hanya tertuju pada Arga, Ia menghawatirkanya tanpa sebab dan alasan saat Arga tidak memberinya kabar, Ditambah lagi papanya yang mulanya akan memberi kabar padanya juga tidak kunjung memberi kabar dan bahkan terkesan menyembunyikanya padanya. Mata sembab dan lingkaran hitam pada matanya terlihat sangat jelas dan nyata. Tanganya masih memggenggam ponsel yang semalaman ia sesekali tatap, Kalau kalau ada panggilan masuk atau pesan balasan dari Arga untuknya.


Hingga Anin membuka kamar puterinya tersebut berniat akan membangunkanya dan matanya seakan tak percaya menatap sosok puterinya dengan rambut acak acakan dan wajah yang benar benar tidak karuan, Duduk di pojok sudut sofa dengan kepala yang menyandar pada kedua lututnya dan tangan yang memeluknya disana.


"Sayang....kamu kenapa? apa yang kamu lakukan sayang? kenapa sampai seperti ini sayang? apa kamu habis nonton drama menyedihkan? apakah habis nonton horor? Kenapa?" Tanya Anin yang bertubi tubi sambil berjalan menuju tubuh sang puteri dan memeluknya, Nindi pun membalas pelukan mamanya dengan sangat erat dan isakanya yang perlahan itupun mulai kencang.

__ADS_1


"Aaaastagaaaa sayang.....kamu ini...kenapa datang bulan saja bisa mempengaruhi otak kamu hingga seperti ini sayang....Arga pasti baik baik saja...Arga pasti sedang istirahat...kamu kenapa malah terjaga semalaman sampai kacau seperti ini....udah ngalah ngalahin hormon kehamilan mama ini sayang...mama aja nggak sampai segitunya...lah kamu...?" Ucap Anin yang merasa iba bercampur kasihan pada puterinya, Namun ia juga ingin tertawa atas kebodohan yang Nindi lakukan.


"Mah...Nindi belum lega sebelum tahu kabar Arga..." Ucap Nindi yang kemudian di angguki mamanya, Anin pun dengan sangat iba memapah Nindi menuju ke atas tempat tidurnya dan membaringkanya disana, Ia menutupi selimut pada tubuh puterinya dan menepuk nepuknya sampai Nindi tertidur dengan pulasnya. Setelah itu Anin meninggalkan kamar puterinya dan menuju ke meja makan dimana suaminya sudah siap di sana dengan pakaian kantornya.


"Nindi mana sayang? nggak sekalian barengan papa kalau ke kantor?" Tanya Rendi saat istrinya sudah berada di dekatnya dan turut duduk di sebelahnya.


"Pah...kayaknya...Nindi biar libur dulu deh pah hari ini...gara gara papa nih semalam yang bilang mau ngasi tahu kabar Arga, Sampai Nindi tidak bisa tidur semalaman nungguin tu kabar...anaknya baru tidur tuh pah...keadaanya kacau banget..." Ucap Anin yang membuat Rendi mengerutkan dahinya dan terkesan menyatukan kedua alisnya.

__ADS_1


"Nggak habis pikir emang tuh anak...kalau nyangkut Arga aja udah kayak hidup dan matinya...hemmmz...pingin buru buru nikahin mereka mah...ayo kapan kapan kita bahas masalah ini sama bundanya Arga, Papa yakin...mereka berdua nggak akan keberatan...toh mereka juga belum ngerti gimana mulainya acara pernikahan, Sampai mikirnya ruwet kelamaan...." Ucap Rendi dengan nada geramnya pada sang puteri, Dimana Nindi adalah seorang gadis baik baik, Namun karena cintanya pada Arga sampai sampai seperti orang gila saat tanpa kabarnya.


Dan Rendi mengerti akan hal itu, Nindi terlalu di manja dan di sayang...olehnya dan mamanya, Sampai Rendi pagi itu memutuskan sebelum ke kantor mampir dahulu ke apartemen Arga dan memastikan sendiri keadaan calon menantunya itu, Rendi sempat memberitahu kabar Nindi semalaman yang tidak bisa tidur karena memikirkan keadaan Arga, Hingga Arga harus memohon maaf pada papa Rendi karena tidak memberi kabar pada Nindi. Sampai Arga dengan segenap kemampuanya dalam kondisi yang belum pulih sepenuhnya itu memaksakan diri berkunjung ke rumah kekasihnya itu agar Nindi lega saat melihatnya dan tidak khawatir lagi seperti semalam yang ia lakukan dan rasakan.


__ADS_2