
setelah habis mandi...rendi pun keluar dari dalam kamar mandi,
saat pintu di buka dari dalam kamar mandi...mata rendi terkejut...istrinya meringkuk tertidur di sofa dan belum mengenakan pakaiannya.
"sayang....sayang...nanati kamu kena flu gimana..."
kata rendi.
"rendi...kamu bodoh...sudah tahu istri lagi hamil besar bawaannya capek...sudah bawa perutnya aja capek ..kamu tambahin capek...bodoh banget kamu ini...nafsu aja kamu duluin...pake hati dan perasaan dong..."
gerutu rendi yang tidak henti-hentinya mengumpati diri sendiri.
lalu rendi mendekat ke arah tempat istrinya tertidur.
pelan-pelan ia menyelimuti tubuh istrinya itu,
memeluknya,
lalu mengangkat tubuh istrinya itu perlahan-lahan...
namun...karena aksinya itu istrinya pun terbengun dari tudurnya dan sedang berada di gendongan sang suami.
sontak saja anin langsung mencoba merangkul leher suaminya itu dan memeluknya erat.
"kenapa?apa kau merasa bersalah padaku?"
bisik anin di samping wajah suaminya,
tepatnya di telinga rendi.
lalu..."cup"
seketika kecupan rendi mendarat di bibir istrinya itu.
"iya...maafkan aku sayang...aku termakan nafsu melihatmu begitu menggemaskan tadi,"
ucap rendi dengan menurunkan pelan ke atas tempat tidur nya.
kini rendi mengurung kepala istrinya dengan kedua tangannya.
menatap lekat...wajah kelelahan disana.
"ada apa?kau mau khilaf lagi?"
tanya anin pada suaminya.
"apa kau mencoba menawariku?"
tanya menggoda rendi.
"jika kau berani...lakukan!"
ucap anin sambil matanya terpejam dan dagu terangkatnya yang memperlihatkan jenjang lehernya.
namun rendi hanya memeluk tubuh istrinya itu.
mengusap lembut wajahnya ke jenjang leher istrinya.
"cukup sayang...maafkan aku...maaf..."
kata rendi yang akal sehatnya berperan.
__ADS_1
"sayang...aku ingin mengajakmu berenang...tapi ini sudah terlalu sore...kamu bisa masuk angin...tidak apa-apakan kita tidak berenang sekarang sayang?"
ucap rendi pada istrinya.dan anin hanya mengangguk dengan senyum manis disana.
"cepatlah mandi...nanti akan aku ajak kau melihat banyak bintang sayang..."ucap rendi pada istrinya,
dan sesaat anin melihat ke arah luar jendela kamarnya,di luar sepertinya mendung,tapi kenapa kak rendi mau ngajak lihat bintang,
namun anin langsung bergegas bangun dan menuju kamar mandi,
satu jam kemudian...anin keluar dari kamar nya dan turun menuju dapur,dimana suaminya sedang memakai apron di bagian depan tubuhnya,
"kak masak apa sayang?"tanya anin pada suaminya,
namun suaminya hanya tersenyum sambil mengisyaratkan untuk datang mendekat ke arahnya.
anin pun turut datang ke arah meja makan yang tersambung ke arah meja dapur berada,
sekerika anin terkejut melihat hidangan yang begitu banyak terhampar di sana,
ada sosis goreng besar dengan sausnya,tumis pedas manis sosis dan baso,serta spageti yang terlihat sangan menggugah selera,
"malam ini kira makan ini saja ya sayang...kita hanya belanja bahan makanan ini,"ucap rendi.
dan anin pun langsung mengiyakannya.
keduanya menikmati makanan mereka sampai habis
setelah selesai dengan acara makannya,rendi meminta istrinya menunggu di kamar atau menonton tv saja,rendi lah yang mencuci piringnnya,namun anin malah menunggui suaminya itu di samping meja makan tadi,
dengan kemeja panjang yang di singsing sampai lengannya,dan peluh yang sedikit menetes di dahinya,padahal hati itu begitu dingin di puncak,dan anin memakai pakaian tebal yang nyaman untuknya,
"sayang...apa kau terpesona olehku?"kata-kata rendi yang mengagetkan anin seketika,
"apa kau sudah siap melihat bintang sayang?"
tanya rendi.
"apa tempatnya sangat jauh kak?"tanya anin.
tidak...hanya naik saja ke atas villa ini yang paling atas sayang..."ucap rendi sambil mengajak istrinya naik ke atas dan dengan senang hati anin pun ikut serta suaminya saja.
sesampainya di atas balkon,
anin tidak percata dengan apa yang di lihatnya,ia mendekat pada pagar besi yang setinggi dada orang dewasa,matanya melihat ke sekeliling dengan cerahnya, meski hari ini sedikit mendung...tapi bintang yang di maksud bintang suaminya bukanlah bintang di langit,melainkan kerlap kerlip lampu sepanjang jalan dan rumah-rumah penduduk yang sedikit lebih rendah dari puncak tempatnya sekarang.
rendi yang melihat istrinya bahagia pun ikut tersenyum dan menghampiri istrinya,di peluknya dari belakang pinggang yang makun melebar istrinya itu,
"kau suka?"bisik rendi di telinga istrinya.
namun anin hanya mengangguk dan tersenyum.
cukup lama keduanya disana dan tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam,
"sayang...ayo kita masuk...kamu bisa flu nanti kalau kelamaan disini,dan ini sudah waktunya kamu istirahat sayang..."ucap rendi.
"baiklah sayang...aku sudah cukup puas disini...mari masuk.."ucap anin pada suaminya.
tidak butuh waktu lama untuk keduanya memasuki kamarnya,
rendi membantu istrinya untuk berbaring,tidak lupa ia menarikkan selimut untuk istrinya dan menyelimutinya sampai ke dadanya,
__ADS_1
kemudian rendi turut serta berbaring di samping istrinya itu,dan lalu keduanya terlelap.
tepat pukul empat pagi rendi sudah terbangun karena alarm nya berbunyi,seketika rendi menatap wajah pulas istrinya itu,di usap-usapnya pipi mulus istrinya itu hingga anin terbangun.
"sayang...katanya mau lihat matahari terbit?jadi tidak?"
tanya rendi pada istrinya.
"sebentar kak...bantu aku ke kamar mandi dulu ya..."pinta anin pada suaminya.
duapuluh menit kemudian keduanya siap untu naik ke atas balkon,anin begitu takjub benar-benar indah matahari yang baru muncul dari celah pucuk gunung yang rendah dan cahaya yang menyorot semakin lama semakin terang,
hingga matahari benar-benar muncul,
pukul enam tepat rendi mengajak istrinya untuk masuk,
seperti semalam...rendi masak untuk keduanya,lali ini ia memasak nasi goreng dengan sosis dan telur ceplok di atasnya,serta segelas susu.
dan keduanya pun menikmati makanannya hingga habis tidak tersisa.
*****
tanpa terasa waktu pun sudah berlalu...sudah berhari-haru sejak mereka pulang dari villa milik keluarga rendi.
dan seperti biasa.
rendi melakukan aktivitasnya seperti kekantor mengurus pekerjaannya dan anin pun sesekali jalan-jalan yang di temani sahabatnya neta.
usia kandungannya pun sudah mulai memasuki tujuh bulan...beberapa waktu lalu kakek dan suaminya mengadakan acara tujuh bulanan untuk anin.
kakek memberikan donasi pada setiap masing-masing ratusan orang-orang jompo.
sedangkan rendi memberi ratusan anak-anak yatim donasi dan hadiah yang berupa uang dan barang yang mereka butuhkan.
hingga sumbangan ke tempat-tempat yang membutuhkan.
keinginannya hanya satu...istri dan anaknya selamat...serta kelancaran dalam proses persalinannya.
karena anin bersi keras ingin melahirkan dengan normal.
meski rendi tidak menolaknya...rendi hanya bisa berdoa dan meminta doa.
hanya itu yang ia bisa lakukan.
rendi dan anin sudah jauh-jauh hari mempersiapkan kamar untuk buah hati mereka,tepat di sebelah kamarnya.
dan kini...rendi sedang bersiap-siap untuk pindah kamar,
rendi khawatir jika sampai usia kandungan istrinya yang memasuki tujuh bulan ini ia harus naik turun tangga...istrinya bisa kelelahan dan kecapean...sedangkan pasti anin tidak bisa melihat jelas tangga naik atau tangga turun yang ada di depannya karena terhalang perut besar nya.
maka ia memutuskan kamar mereka berpindah di bawah saja untuk sementara ini.
jadi kamar untuk tamu keduanya akan di isi...untuk kamar mereka dan kamar calon bayi mereka.
kamar calon buah hati mereka pun sudah di disain sesuai keinginan anin...karena calon anak mereka perempuan...jadi anin lebih berperan dalam menentukan apa saja yang akan di isikan di kamar nya.
hingga warna dinding...warna kereta bayi sampai tempat tidur dan semua isi...hampir anin lah yang menentukan.
rendi hanya kebagian memilih sepasang kaus kaki bayi yang lucu.
dan yang lain sudah anin tentukan.
__ADS_1
(melas banget kak rend...sabar kak rend ya sama bumil)