
Untungnya Arga melintas sesaat di pikiran Aditya, hingga membuat Aditya ingin meminta bantuanya, dan karena ke cemerlangan otaknya, pastilah Arga mampu membantunya, pikir Aditya, lalu ia pun mengambil ponselnya, dan mencoba menghubungi sang adik, hingga beberapa saat Aditya menghubungi, namun belum tersambung juga.
"Ayolah ga...anglat panggilanku!" Ucap Aditya yang terlihat berusaha mencoba menghubungi Arga lagi, hingga panggilanya itu tersambung oleh sang adik.
"Halo kak ada apa?" Tanya Arga seketika, setelah menerima panggilan dari kakaknya.
"Ga kamu bisa manjat nggak?" Tanya Aditya pada sang adik yang langsung dan tanpa basa basi lagi.
"Bisa kak...cuma nggak ahli, emang kenapa sih? pertanyaan kakak itu aneh tahu!" Ucap Arga sembari mengernyitkan alisnya.
"Emb...gini ga...aku nggak tahu kenapa, tapi kakak iparmu, akhir akhir ini suka cari perhatian ku ga, ya...mungkin karena aku terlalu sibuk kali ya, makanya dia seperti itu, aku juga nggak bisa nyalahin dia kalau dia mau balas aku, atau nguji kesabaran aku ga! masalahnya..." Ucap Aditya yang belum terselesaikan, namun sudah di potong oleh Arga saja yang sudah merasa telinganya panas.
"Kok kakak malah curhat sih? ada apa? langsung aja ngomong ke intinya kak." Ucap Arga yang menimpali curhatan kakaknya.
"Kamu tuh nggak ada simpati simpatinya tahu!" Ucap Aditya yang ikut kesal pula.
__ADS_1
"Aku tutup nih kalau nggak cepat ngomong!" Ucap Arga dengan sadisnya, itu menurut Aditya.
"Iya iya ga...ini intinya ga...istriku mau kelapa muda dari atas pohon tepi pantai ga...masalahnya aku nggak bisa manjat...kamu bisa kan katanya tadi...bisa tolong panjatin nggak ga? satu aja deh...ambilin satu buah kelapa aja ga...!" Ucap to the point Aditya seketika.
"Akh...gitu aja bingung kak....beli aja di pinggir jalan kenapa sih kak?" Ucap balasan Arga seketika.
"Masalahnya dia nggak mau ga...dan lagi...dia tahu pohon kelapa ini loh...kalau aku beli di pinggir jalan...nanti dia datang kesini lagi dan menghitung buah kelapa di atasku ini gimana? gimana kalau dia hafal berapa biji buahnya dan masih utuh nggak berkurang?" Ucap Aditya yang membuat Arga ikut berpikir hingga beberapa saat.
"Akh...biar aku suruh orangku aja kak untuk datang kesitu, kakak dimana?" Ucap Arga yang menurutnya punya solusi jitu.
"Kok nyuruh orangnu kesini sih? buat apa? aku di tepian pantai..." Ucap Aditya yang belum mengerti jalan pikiran sang adik.
"Emangnya orang kamu bisa manjat pohon kelapa ga?" Ucap tanya balik Aditya pada sang adik.
"Hohoho...jangan tanya itu kak! jangankan manjat pohon kelapa yang tingginya lima belas meter kak, manjat gedung yang tingginya puluhan meter saja orang ku semua bisa kak!" Ucap Arga yang terlihat membanggakan orang orang yang bekerja denganya, atau bisa di bilang para pengawal tersembunyinya.
__ADS_1
"Oke...oke...baiklah...cepatlah ga...aku tunggu ya...kakak iparmu sudah nungguin di kamar hotel soalnya!" Ucap jujur Aditya, dan Arga hanya memberi jawaban " oke " pada sang kakak, lalu panggilan itu pun di akhiri oleh keduanya.
"Siapa sayang?" Tanya Nindi yang keherananya, karena sang suami sampai menyendiri saat menerima panggilan telephonenya.
"Akh...kakak tadi, aku kira mau bicara hal penting, nggak tahunya sepele aja!" Ucap Arga yang menerangkan pada sang istri.
Hal yang menurut Arga sepele itu, buat Aditya tadi adalah hal yang sangat membingungkan sekali, namun Arga belum tahu rasanya gimana saat istrinya punya kemauan yang langka, namun kelak Arga pun pasti mengalaminya, suatu kemauan di luar nalarnya.
"Lalu sekarang gimana sayang?" Tanya Nindi lagi yang ikut penasaran.
"Sudah beres lah sayang!" Ucap Arga dengan santainya, karena ia sudah memberi tahu satu orangnya untuk datang membantu sang kakak tadi lewat pesan singkatnya.
"Terus...kakak mau apa sih ga?" Tanya Nindi lagi yang masih penasaran, masalah apa hingga sampai Aditya meminta bantuan suaminya.
"Akh...kenapa kita jadi bahas kakak dan kakak ipar sih sayang? kenapa kita nggak bahas masalah kita sendiri? sepertinya...masalah kita lebih parah dari pada masalah kakak!" Ucap Arga sembari menarik dagu sang istri agar mendongak menatapnya, karena ia berada di ayunan depan Arga, dengan tangan yang memegangi kedua sisi lengan sang suami yang dari tadi mengalung di lehernya.
__ADS_1
"Cup " Nindi inisiatif menciumnya terlebih dahulu, Nindi paham betul apa yang mau di bahas sang suami.
"Jangan di bahas sayang...kalau belum waktunya mau gimana lagi sih...aku juga nggak bisa apa apa!" Ucap Nindi dengan memelasnya, dan membuat Arga merasa makin bertambah sayangnya pada sang istri, jarang jarang Nindi bersikap lembut dan manis seperti saat itu, hingga Arga makin mengeratkan pelukan tanganya memeluk leher sang istri.