Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
Kedatangan yang tanpa di sadari


__ADS_3

Dan benar saja, Sepanjang malam hanya Aditya isi dengan menonton acara televisi dan juga bermain ponsel di atas ranjang di samping sang istri, Matanya enggan untuk terpejam, Mungkin karena ia merasa ada sesuatu yang belum tersalurkan, Dimana ia hanya bisa menahan dan menelan ludah.


Sampai pukul tiga dini hari, Saat sang istri terbiasa bangun dan melakukan aktvitasnya seperti biasa, Ia terbangun untuk beribadah sunah malam nya. Hingga sampai ifa menyelesaikanya dan menghampiri sang suami, Dimana Aditya terlihat masih terjaga dengan mata sayu yang belum tidur dari semalam.


"Bby...kenapa nggak bangunin aku sih? mau aku buatin kopi? atau susu hangat?" Tanya ifa sambil mendekat ke arah sang suami, Dan dengan sigap Aditya menarik sang istri dalam pelukanya.


"Sayang...aku menahan kantuk ku semalaman untuk ini...apa kau akan tega membiarkanku sendiri menikmati rasa ini?" Tanya Aditya sembari kecupanya menghujani bibir sang istri, Dan ifa hanya bisa tersenyum, Ia menyadari keinginan sang suami yang belum tersalurkan, Hingga menjelang subuh itupun keduanya larut dalam balutan hangat penuh cinta yang membuaikan.


Di kediaman Rendi wijaya, Terlihat sang istri tengah merasa mulas mulas di bagian perutnya pagi itu, Rendi yang masih di luar sedang joging pun tidak mengetahuinya, Sampai suara gelas terjatuh dan pecah seketika karena tersenggol tangan Anin pun membuat kaget se isi rumah.


Terlihat Nindi dengan segera berlari ke bawah menuju sumber suara, Dari kamar mamanya di lantai bawah, Terlihat bibi juga pada berlarian menuju kesana.


"Maah.....mama kenapa mah? ada apa? apa adek sudah waktunya keluar? mama sabar ya...Nindi panggilin dokter dulu..." Ucap Nindi yang langsung menghubungi dokter kandungan biasanya mamanya periksa, Dan syukurnya Bu dokterpun langsung siap dan segera meluncur ke kediaman Rendi Wijaya.


"Kalian tolong panggilin papa...cari papa cepetan..." Ucap Nindi yang meminta tolong pada para asisten rumah tangganya dan langsung di laksanakan, Terlihat dua orang tengah berlari keluar mencari Rendi. Dan yang lain menunggui Nindi serta Anin di dalam ruangan.


"Sayang...mama nggak apa apa...tadi mules mules...tapi nggak tahu kenapa sudah hilang..." Ucap Anin yang membuat kekhawatiran Nindi sedikit berkurang.


Dan terlihat Rendi berlarian menuju kamar sang istri, Dimana saat itu ia dapati istrinya sedang bercanda dengan puterinya di atas ranjang.


"Sayang...apa yang terjadi? kamu baik baik saja? apa dia nakal padamu?" Ucap Rendi seraya berjalan mendekat ke arah sang istri dan jongkok di samping Anin yang tengah rebahan di atas ranjang. Kedua tanganya seketika menggenggam jemari sang istri, Membuat Nindi tersenyum senang saat melihat kedua orang tuanya yang selalu hangat dan romantis.


"Aaakh...mama sama papa terlalu manis...Nindi mau keluar aja...takut gangguin kalian noh...lagian Nindi nggak mau kena diabetes", Ucap Nindi yang asal bicara saja sampai seorang Dokter wanita datang dan langsung Nindi persilakan masuk ke dalam kamar mamanya.

__ADS_1


"Bagaimana ke adaan istri dan calon anak kami dokter?" Tanya Rendi yang tengah khawatir,


"Tuan...istri dan calon buah hati anda baik baik saja...sepertinya tadi hanya kontraksi berlebih yang terjadi, Mungkin nyonya Anin kecapekan atau kelelahan belakangan ini..." Ucap sang dokter yang membuat Rendi mengerti, Karena itu pastilah ulahnya kemarin malam.


Hingga dalam hatinya ia merasa begitu bersalah dan sangat sangat bersedih, Karenanya sang istri saat itu merasakan keram bercampur kontraksi yang membuatnya kesakitan sampai seisi rumah gempar di buatnya.


Hingga sang dokter pun berpamitan dan undur diri, Rendi masih setia mendampingi sang istri di sampingnya,


"Sayang...maaf ya...pasti karena aku kan kamu jadi seperti ini...maaf ya...aku nggak bisa nahan keinginan aku", Ucap Rendi lalu memeluk tubuh sang istri,


"Pah...bau kecut keringat tuh...mandi dulu gih baru nemani kami lagi...Lalu Nindi kemana pah?" Tanya Anin yang ingin tahu,


"Emb...sementara Nindi papa suruh masuk kerja...biar bisa ngawasi dikit dikit kerjaan orang kantor...papa mau cuti aja sampai mama lahiran...papa nggak mau ninggalin mama sendirian lagi kaya hari ini...di sepanjang jalan pulan hatiku rasanya sudah mau copot nggak tahu kemana saat dapat kabar kamu kayak gitu tadi sayang...udah nggak ada bantahan lagi...nggak bisa di tawar lagi." Ucap Rendi dengan tegasnya. Ia lalu pergi masuk ke dalam kamar mandi, Dan beberapa saat terdengarlah air yang mengguyur tubuhnya. Anin hanya bisa diam dan patuh dengan apa yang di ucapkan suaminya barusan, Dimana kalau Rendi sudah bilang A...dia juga nggak bakalan bisa berubah jadi B atau pun Z.


Di Kantor Arga, Terlihat ia tengah sibuk rapat dengan beberapa orang staf kantornya, Hingga beberapa kali panggilan dari Nindi terabaikan, Bukan karena ia tidak mengangkatnya atau pun sengaja menolaknya, Melainkan memang ponselnya saat itu sedang dalam mode getar.


Dengan pakaian kantor yang trendi dan super berkelasnya,


Rok sepan hitam selutut yang ketat, Namun terdapat belahan naik sedikit di bagian paha kananya, Di tambah atasan putih lengan panjang bergaris hitam yang ber tali pita di bagian kerahnya, Di padukan dengan heels wana putih susu, Membuat aura cantiknya kian terpancar.


Nindi langsung masuk menuju ke arah bagian resepsionis kantor Arga. Semua mata tertuju ke arahnya, Apa lagi para pegawai laki laki yang tengah tanpa sengaja lewat lalu lalang disana.


"Apakah Arga Sanjaya ada di ruanganya?" Tanya Nindi saat ia baru sampai.

__ADS_1


"Apakah anda sudah buat janji terlebih dahulu?" Tanya si petugas dengan ramahnya,


"Tanpa buat janji juga kalau dia tahu aku yang nyari pasti dia langsung datang kemari." Ucap Nindi dengan dengusan kesalnya, Karena ia yakin Arga selalu mengutamakanya.


"Baiklah nona...silahkan anda tunggu ya...saya akan berusaha memberi tahu sekretaris pak Arga." Ucap karyawan tersebut sambil mempersilakan tamu bos nya untuk duduk menunggu.


"Kasihan bos ganteng...tiap hari banyak gadis cantik yang nyariin...nggak sekali dua kali yang ngaku jadi pacarnya...pasti yang ini juga salah satunya..." Bisik si perugas yang ternyata tidak menyampaikan apa yang tengah ia katakan tadi, Ia membiarkan Nindi menunggui Bos nya tanpa kepastian yang jelas.


"Biar tahu rasa cewek kayak gitu...dandanan nya aja yang berkelas...moralnya nggak ada", Bisik salah seorang lagi.


Mungkin keduanya berlaku demikian karena cemburu dengan gadis gadis yang tengah dekat dengan bos nya.


Hingga hampir satu jam Nindi menunggu dan mulai bosan di buatnya. Ia pun beranjak dari duduknya dan menuju ke bagian resepsionis lagi.


"Mbak...kok Arga lama sih? Mbak yakin sudah memanggilnya?" Tanya Nindi dengan dengusan kesalnya.


"Iya mbak sudah...mungkin bos nggak ingin bertemu dengan mbak...jadi...mbak pergi aja ya...besok aja kesini lagi...siapa tahu bos besok berubah pikiran." Ucap si petugas dengan nyantainya. Dan Nindi sungguh tidak bisa berkata kata lagi saat mendengar perkataan dari karyawan tersebut.


"Aku akan menunggunya disini!" Ucap Nindi dengan tegasnya, Ia masih ingin penjelasan sari calon suaminya tersebut.


Di tempat ruangan Arga yang masih terlihat sibuk dengan rapatnya, Namun masih istirahat untuk sepuluh menit ke depan.


"Ga...sepertinya...di lobi ada seorang artis cantik yang mencarimu...dia sudah nunggu sejam loh disana...dan dia terlalu kukuh untuk gadis yang mengejarmu." Ucap teman Arga yang ikut dalam rapat juga.

__ADS_1


"Aku nggak kenal artis siapa yang kamu bicarakan itu." Ucap Arga lagi dengan nada datarnya.


"Banyak tuh staf cowok yang mencoba mengajaknya berkenalan atau sekedar tanya tanya, Namun di cuekin ga...tuh rame di grup chat perusahaan." Ucap teman Arga lagi. Namun lagi lagi Arga membiarkanya saja dan tidak tertarik sama sekali dengan gosip.


__ADS_2