Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
KEMUNCULAN PESAING.


__ADS_3


Rendi Wijaya.



Anindira putri.



Arga Sanjaya.



Nindi Wijaya.


"Hah...om Rendi...ngagetin aja..." ucap Arga seketika.

__ADS_1


"Ayo kamu turun Ga...makan sarapan sama-sama. Nindi...kamu mau makan sarapan kamu itu atau turun makan sama kita?" tanya Rendi pada Nindi.


"Aku makan ini aja pah, Arga biar di sini pah..." ucap Nindi seketika saat Arga akan beranjak berdiri dari tempat duduknya. Dan saat itu, hati Arga bergetar dan berbunga. Karena Nindi memintanya tinggal saat ia akan pergi.


"Sayang...sejak kapan kamu jadi bergantung sama Arga...? Arga juga butuh makan...bukan hanya nyuapi kamu...! sudah jangan manja deh..." ucap Rendi dengan tegas nya.


"Iya, iya...kalau gitu Nindi makan sama-sama aja di bawah kan rame...disini Nindi nggak bisa nelan pah."


Ucap Nindi seketika.


"Ayo Ga...turun sama om...biar Nindi nyusul nanti." Ajak Rendi, lalu Arga pun beranjak berdiri dari samping tempat tidur dan berjalan mengekori Rendi yang sudah berhalan keluar kamar dan menuruni anak tangga menuju lantai bawah.


"Ga...Nindi biasa setiap bulan selalu ngalem kaya gitu...kamu itu jadi laki harus tegas..." ucap Rendi lagi. Di sela-sela perjalanannya.


"Hmmmz...gimana harus tegas...? kalau orang yang di sukai kesakitan kaya gitu. Om Rendi juga kalau tante Anin begitu pasti cemas..." ucap Arga dalam hati.


"Kamu dengar om ngomong nggak Ga?" ucap Rendi yang sedikit mengagetkan Arga.

__ADS_1


"Iya om...Arga dengar..." jawab Arga seketika.


"Ga...kamu sudah dengar salah satu pengusaha yang banyak meng akuisisi perusahaan-perusahaan pemasok? mereka menaikkan bahan lebih tinggi dua sampai tiga kali lipat, dan apa bila perusahaan pembeli itu tidak terima...mereka tidak segan-segan untuk memutus kontrak kerja. Untuk om tidak masalah...om berbisnis di kuliner dan universitas...tapi kalau untuk kamu...di bidang perhotelan dan rumah sakit...apa tidak apa-apa Ga? atau jangan bilang perusahaanmu belum terjamah mereka Ga?" tanya Rendi serius dan Arga pun menanggapi dengan serius pula.


"Sebenarnya...sudah satu bulan ini om...Arga mengulur waktu mencari material pengganti om...tim Arga masih mengusahakan, tapi jika dapat pun...tidak sebanyak yang kantor Arga butuh om. Mungkin pilihan terakhir kerja sama kami akan terus berlanjut, dan menyetujui harga yang mereka tawarkan. Dan itu benar-benar berat di pengeluaran anggarannya." Ucap Arga di sela menuuruni anak tangga. Lalu Rendi seketika berhenti.


"Ga...kamu kenal siapa dia Ga?" tanya Rendi tiba-tiba. Namun aslinya Arga sangat mengenal orang tersebut.


"Aditya wibawa om..." ucap Arga seketika.


"Kau tahu orangnya Ga?" tanya Rendi lagi.


"Papa...Arga...kok malah ngobrol disini sih...? ayo dong turun makan sama-sama..." ucap Nindi tiba-tiba dari atas sebelum Arga menjawab pertanyaan Rendi.


"Sayang...papa dan Arga menunggumu turun nih...ayo turun sama-sama." Ucap Rendi sambil mengajak Nindi dan Arga turun menuju meja makan dimana Anin dan bunda Arga yang sudah terlebih dahulu duduk di sana.


"Mah...nih piring nya aku bawa turun...aku mau ikut sarapan sama-sama ma..." ucap Nindi seketika saat sudah sampai di dekat mamanya yang lalu di tarikkan kursi nya oleh Arga, agar kekasihnya itu duduk di sana. Dan kelima orang itu pun mulai menikmati makanannya.

__ADS_1


__ADS_2