Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
Terkesan gila kerja


__ADS_3

Hingga Aditya mengajak sang istri untuk pergi meninggalkan mama Anin dan papa Rendi, Aditya mengajak sang istri untuk jalan jalan di bawah pohon kelapa yang berjajar lumayan banyak dan tentunya terlihat rindang menjelang siang itu di tepian pantai.


Hingga keduanya terlihat hanya diam dan berjalan saja sampai tibalah di tepian pantai, nampak senyum senang tergambar dari raut wajah sang istri, namun berbeda dengan Aditya, ia masih sedikit tak terima, saat istrinya bilang, bahwa ia tidak mengajaknya jalan jalan atau liburan, apa lagi sang istri berkata demikian di depan mama Anin dan papa Rendi, yang membuatnya terkesan gila kerja.


"Sudah puas?" Ucap tanya Aditya pada sang istri, sembari matanya melirik ke arah Ifa yang ada di sampingnya, dengan kedua tangan yang bersedekap di dada.


"Tentu aku puas lah bby!" Ucap jujur Ifa yang ia kira bahwa sang suami bertanya, apakah ia puas dengan liburanya itu, namun yang Aditya maksud adalah puas menjelekanya di depan mama Anin dan papa Rendi.


"Apa! kamu bilang puas sayang?" Ucap Aditya dengan kagetnya, hingga kedua matanya terbelalak dan mulutnya terbuka, nampak sekali ekspresi kesal di seluruh raut wajahnya, namun Ifa tidak menoleh atau menatapnya, Ifa tidak melihat ekspresi suaminya tersebut, ia malah menatap ke tengah lautan, nampak burung burung camar dalam kelompok kecil tengah menari nari di atas ombak lautan yang tenang.


"Kamu tahu kesalahan kamu apa?" Tanya Aditya lagi, barulah Ifa dengan heranya menoleh menatap ke arah sang suami yang ada di sampingnya.


"Kok aku yang salah bby? bukanya tadi kamu yang minta maaf kan? berarti kamu kan bby yang salah...kenapa sekarang jadi aku?" Ucap Ifa yang tidak terima dengan apa yang suaminya ucapkan.


"Hah...istriku...sekarang sepertinya kau lebih keras kepala, dan kerasmu sudah melebihi batu karang!" Ucap Aditya dalam hatinya, dan dengusan kesalnya, dengan mata menyipit dan bibir mengatup rapat, ia sangat sangat gemas saat itu.


Disatu sisi, ia ingin melanjutkan perdebatan, di sisi lain, ia khawatir cek cok yang tadi sempat terjadi akan terulang lagi, tapi makin kesana sang istri makin menggemaskan dengan caranya menimpali perkataan Aditya, hingga membuat Aditya hanya bisa pasrah dan terdiam.

__ADS_1


"Pasti...lagi mengumpati aku kan bby? iya kan?" Ucap Ifa dengan tebakanya, dan memang benar adanya, Aditya tengah mengatainya seperti batu karang.


"Nggak! mana bisa aku ngatain istriku yang cantik ini, nggak lah...nggak akan!" Ucap Aditya lagi sembari menyunggingkan senyum kecut nya yang tertahan.


"Akh...benar ternyata bahwa wanita harus menang sendiri! akh...aku ngotot juga kalah...nggak ngotot juga percuma...bakalan sia sia saja...jadi ya sudahlah lah...terima saja nasib...karena aku begitu mencintainya, dan menganggap semua yang ia bilang itu benar, Apa lagi saat melihatnya tersenyum senang, semua rasa gundah dan ketidaknyamanan sirna seketika, baiklah ibu negaraku...suka suka kamu sayang...asal kamu senang...!" Ucap Aditya dalam hatinya, dan kini ia pun tengah ikut tersenyum menikmati indahnya pantai.


"Bby...kamu ganteng banget sih hari ini...baik pula!" Ucap Ifa yang tengah memuji sang suami dengan tiba tiba.


"Lah kok! ada apa ini? kenapa berbalik seratus delapan puluh derajat begini? kemana tadi istriku yang ngeyel dan nggak mau di bengkokin?" Ucap Aditya dalam hatinya, kini perasaanya campur aduk dan sedikit terkejut, bahkan kedua matanya hampir melotot saking terkejutnya.


"Coba lihat atas bby," Ucap Ifa sembari kedua jarinya, jari telunjuk dan jari tengahnya mengangkat dagu sang suami perlaham lahan, hingga wajah Aditya turut ikut mendongak menatap ke atas.


"Apa lagi ini?" Dengus Aditya yang mulai tidak karuan di dalam hatinya.


"Kelihatan nggak bby?" Tanya Ifa pada sang suami.


"Apanya yang kelihatan sayang? burung camar?" Tanya Aditya lagi dengan keherananya.

__ADS_1


"Lihat baik baik dong bby...ada apa di atas sana?" Ucap Ifa dengan nada gemasnya, karena sang suami tidak ngerti ngerti juga kemauanya.


"Apa sih sayang? ayo deh langsung bilang! nggak usah main tebak tebakan segala!" Ucap Aditya yang membuat Ifa mengerutkan dahinya dan menyipitkan alisnya, tidak lupa Ifa pun kini bisa memanyunkan bibirnya.


Hingga Aditya begitu gemas bercanpur geram pada sang istri, sampai ia pun memojokan Ifa perlahan lahan hingga punggungnya membentur ringan di salah satu pohon kelapa yang ada di belakangnya.


"Coba ngomong lagi, ulangi...kamu mau apa? ngomong yang jelas sayang...nggak usah nguji kesabaran aku di tempat terbuka kayak gini deh, kamu kira karena di tempat umum kayak gini aku nggak berani ngelakuin hal itu? mudah aja bagiku kalau kamu terus terusan menggemaskan begitu!" Ucap Aditya yang sudah hampir hilang kesabaranya, sudah hampir hilang kendalinya.


"Cegluk!" Ifa menelan ludahnya yang terkumpul seketika, dengan mata ter belalak, ia pun juga takut saat sang suami berubah seperti serigala yang kelaparan.


"Itu bby..." Ucap Ifa sembari jari telunjuknya mengacung ke atas, namun tatapan matanya menatap lekat wajah sang suami di depanya.


"Itu apa?" Tanya Aditya lagi sembari mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri, hampir saja bibir keduanya bersentuhan.


"Kelapa, aku pingin kelapa dari atas pohonya itu bby!" Ucap Ifa seketika dengan jujurnya, ia benar benar menginginkanya.


"Jeduar!" Bagaikan petir yang menggelegar di dalam kepala Adiya saat ia mendengar permintaan aneh sang istri.

__ADS_1


__ADS_2