Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
Khayalan yang nyata


__ADS_3

Arga benar benar kasihan pada kakaknya tersebut. Ia lebih memilih menahan dirinya untuk menyatakan cinta pada orang yang di cintai karena memikirkan semua hal, Arga tahu kenapa Aditya lebih memilih memendam perasaanya daripada mengungkapkanya. Dimana ia sudah menjaga nama baiknya dan perusahaanya selama ini, Jika ada sesuatu yang tercium media pastilah mempengaruhi usahanya yang tengah ia bangun selama ini. Berbeda dengan Arga...dia sudah pasti makin tenar kerena mengencani puteri satu satunya dari grup Wijaya.


"Kak...kasihan kamu...tidak bisa memilih pasangan hidupmu sampai se tua ini..." Ucap Arga saat berada di belakang punggung Aditya.


"Atau...kakak kencani saja ifa itu kak...kalau ada berita miring pasti aku bantu cekal kak..." Ucap Arga menawari bantuan yang mungkin bisa membantu Aditya.


"Nih...." Tiba tiba ucap Aditya sambil menyodorkan ponsel miliknya pada Arga,


"Appaaaa!! Ini Ifa kak?" Tanya Arga dengan ekspresi terkejutnya, Dimana disana ia lihat foto ifa tengah berbahagia tertawa lepas di tempat barunya. Di sebuah butik ternama yang memang Aditya yang pasti sudah mengaturnya untuk menerima ifa kerja disana.


"Apa aku tega padanya Ga? jawab aku...disana dia terlihat begitu bahagia...ia senang bisa lepas dari genggamanku...ia senang bisa bebas tanpa kekanganku...apa aku bisa merusak kebahagiaanya demi ke egoisanku Ga?" Ucap Aditya sambil mengambil kembali ponselnya dan menatap wajah cantik yang ada di layar ponselnya. Baginya bisa memandangnya saja dan melihatnya bahagia sudah cukup...walau bagaimanapun ia akan terus menjaga ifa karena pesan almarhum ibu ifa, Meski ia terlihat cuek, Namun Aditya selalu memberi perlindungan yang ifa butuhkan.


Hingga tanpa sadar....wakru sudah berlalu begitu saja, Dua minggu pun berlalu saat ifa tengah pergi dan ingin menetap di luar Negeri, Hari itu karena butik tempatnya bekerja cukup ramai...hingga ia mendapatkan gaji pertamanya. Dia begitu terkejut saat nominal angkanya begitu banyak ketika ia lihat di layar mesin ATM.


"Apa bos salah kirim gajiku? kenapa gajiku bisa lima kali lipat begini?" Ucap ifa sambil mengernyitkan alisnya, Lalu ia pun memutuskan untuk menghubungi bosnya, Ia benar benar tidak ingin gajinya di lebihkan dari karyawan lain, Apa lagi ia adalah karyawan baru disana.


"Bos...benarkah bos mengirim uang ke akun saya sebesar....bla bla bla...." Ucap ifa sambil mendengarkan perkataan bosnya tersebut. Dan betapa terkejutnya ifa saat bosnya memberitahukan bahwa ifa mendapatkan gaji sama nominalnya dengan karyawan yang lain. Sampai sampai bos nya mengirimkan rincian gaji karyawan untuknya.


"Kenapa bisa seperti ini? kenapa uangku begitu banyak? apa mungkin bos Aditya yang memberikanya padaku? tidak...tidak....tidak mungkin...Aku masih berhutang banyak padanya...nggak mungkin dia malah ngasih uang bulanan lebih padaku...nggak mungkin!" Ucap ifa sambil berjalan pulang menuju apartemen yura. Sepanjang perjalanan pikiranya tidak karuan, Bayangan Aditya yang kini ia coba tepis malah memenuhi otaknya. Hingga sampai di depan pintu apartemen, Ia pun bergegas membuka pintu apartemen tersebut, Ia mengira Yura masih belum pulang dari kantornya. Tanpa aba aba ia pun langsung masuk kedalam apartemen.

__ADS_1


"Astaga!" Ucapnya seketika saat kedua matanya menatap dua sejoli tengah bermesraan di ruang tamu. Siapa lagi kalau bukan Satria dan Yura. Dengan cepat dan langkah kaki berjinjitnya ia pun keluar dari dalam apartemen yura.


Dan untungnya kedua orang tersebut tidak menyadari kehadiranya tadi.


"Astaga...mereka...berciuman nggak kenal tempat." Ucapnya merasa tidak enak karena menatap langsung adegan dewasa itu.


"Aaah...mereka sudah tepat...aku yang nggak kira kira...jelas jelas ia sudah berada di rumahnya, Aaakh aku yang jadi pengganggu mereka." Ucap ifa sambil berjalan menuju ke taman dekat apartemen. Ia mencari tempat duduk dan memutuskan untuk sejenak melepas penatnya.


Dimana di sepanjang taman ia melihat adegan yang sama, "Aakh...mataku...kenapa aku bisa nyasar ke tempat ini?...aku lupa hari ini malam minggu bukan? Ya sudahlah ya...anggap bioskop nyata tanpa layar." Ucap ifa lagi, Dengan tangan yang merogoh ke dalam tas yang ia bawa dan mengambil sesuatu dari dalam, Ia mengambil ponselnya dan headset, Lalu ia menyalakan musik disana. Tanganya merogoh lagi ke dalam dan mengambil sebungkus roti sandwich coklat yang tadi ia beli saat perjalanan pulang.


"Aaakh malam minggu dinner sendirian pakai roti, Ya...hidup perlu dinikmati...anggap saja lagi di cafe mahal dengan alunan musik nan merdu..." Ucapnya sambil menatap ke kanan dan ke kiri ternyata disana hanya ia sendiri yang seorang diri. Tiba tiba bayangan Aditya sekelebat muncul di benaknya. Tersenyum lembut yang membuat wajah tampanya makin ifa kagumi.


"Bos....aku merindukanmu bos...bisakah kau sekali saja menghubungiku? Bisakah kau sekali saja mengirim pesan padaku? Atau menanyakan bagaimana kabarku? Aaah...tidak perlu...jika itu menyita waktumu...bisakah kau sekali saja memikirkanku?" Ucap tangis ifa dengan isakanya yang makin menjadi jadi disana.


"Aku sudah melihat banyak gadis yang menangis dan terlihat jelek. Namun mereka tidak sejelek dirimu!" Ucap seorang laki laki dengan suara dingin dan datar, Suaranya khas....dan ifa bisa langsung mengenalinya.


Perlahan ifa membuka kedua telapak tangan yang menangkup di wajahnya, Matanya mengintip dari ujung kaki laki laki yang tengah berdiri di hadapanya, Perlahan lahan naik hingga hampir menatap wajah lelaki yang sangat gagah dan tinggi di depanya itu. Namun ia belum berani menatapnya dan memastikanya.


"Tidak...ini pasti aku sedang halusi nasi saja...nggak mungkin bos disini bukan....dan jika benar nanti yang aku lihat adalah wajah bos Aditya...sudah di pastikan Aku berhalusi nasi lagi sekarang." Ucap ifa dalam hati. Lalu ia perlahan menatap tepat ke arah wajah laki laki tersebut.

__ADS_1


Benar saja itu adalah wajah bos lamanya. "Aditya Wibawa." Bos yang selama dua minggu ini menghantui pikiranya, Membayangi geraknya dan membuatnya susah untuk menatap kedepan.


"Aaakh...aku halusinasi lagi....sudahlah...kau jangan mengikutiku terus...bayangan saja se nyata ini...andai aku bisa langsung memelukmu..." Ucap ifa sambil berdiri dari duduknya dan akan melangkahkan kakinya untuk pergi, Agar bayangan laki laki tersebut secepatnya pergi ketika ifa menghindar. Dan setiap saat selalu seperti itu.


"Aaah...apa salahnya aku memeluk bayangan? bisakan aku membayangkanya ketika aku peluk? toh bukan nyata bukan..." Ucap ifa sambil berbalik dan menatap lekat wajah tampan di depanya.


"Haaah kau hanya bisa diam dan tersenyum bukan? baiklah...biarkan aku memelukmu oke..." Ucap ifa dan seketika berhambur memeluk tubuh Aditya, Dimana ia yakini adalah halusinasinya dan hanya bayangan yang akan menghilang seketika.


Hingga Aditya hanya terbelalak matanya karena kaget atas apa yang tengah ifa lakukan. Jangankan berpelukan...memegang nya saja harus dengan alas kain baru ia bisa terima.


"Apa dia sudah gila atau tidak waras? kenapa hanya dalam waktu dua minggu saja ia se agresif ini padaku?"


Ucap Aditya yang hanya mematung di tempatnya dan tanpa membalas pelukan ifa. Ia takut ifa akan syock jika mengetahuinya, Bahwa Aditya pun merindukanya.


"Drrrrrrttttt....dddddrrrrtttt" Tiba tiba ponsel Aditya bergetar. Sontak membuat ifa terkejut seketika.


"Kenapa khayalanku se nyata ini? bisakah khayalan membawa ponsel di kantongnya?" Ucap dalam hati ifa, Namun ia masih merasa nyaman bersandar di sana.


"Bahkan wangi parfumnya pun aku bisa membayangkanya nyata, Ini sangat menenangkan...." Ucap ifa sambil mengendus bau wangi yang ia cium.

__ADS_1


"Hei lepas...aku mau angkat telephone." Ucap Aditya yang sontak membuat ifa menjerit se jadi jadinya disana. Dimana semua pasang mata menatap ke arahnya dengan bersamaan.


__ADS_2