Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
cantik cantik ngaco


__ADS_3

Nindi masih terlihat mematung di tempat nya,meski mobil Arga sudah tidak nampak lagi,dengan pipi merona ia pun masih senyam senyum sendiri.sampai ia putuskan untuk masuk ke dalam rumahnya,ia berjalan perlahan,langkahnya sesekali terhenti dan berjalan lagi,dengan perasaan yang senang.


"sayang...kamu kenapa?"suara mama Anin membuyarkan lamunannya.


"emmmb nggak kenapa napa mah...Nindi ke kamar dulu ya ma...pa..."pamit Nindi pada keduanya dengan wajah yang masih bersemu.


"pah...nindi kenapa sih pah?"tanya Anin pada suaminya yang melihat tingkah dan wajah putrinya.


"sayang...kayak kamu nggak pernah muda aja sih?mau aku kasi contoh lagi apa?"


ucap Rendi yang membuat anin baru mengerti.


"pah...tuh Nindi nggak kita nikahin aja sama si Arga pah?kayaknya keduanya udah lengket kaya perangko gitu..."ucap Anin pada suaminya,namun suaminya hanya menanggapinya dengan senyum kecut dan tatapan tanpa menoleh ke arah istrinya.


"pah...kok nggak jawab sih...gimana tuh jadinya pah?"tanya Anin dengan penasarannya.


"mah...kamu tuh ya...anak kita tuh cantik...banget malahan...pendidikan...oke...dari keluarga kita pula...ngapain bingung bingung nikahin dia coba...mau ambil dia dari kita...nggak semudah itu...kita besarkan dia sampai kayak sekarang aja butuh pengorbanan kasihsayang...cinta kasih...semua tercurah untuknya...enak aja udah gede mau ambil gitu aja."ucap Rendi yang membuat Anin melongo dan terbelalak mendengarnya.


"suamiku...kenapa kau tumben begitu mengagumkan...kali ini...aku benar benar sangat menyukaimu suamiku..."ucap lebay Anin seketika sambil memeluk lengan suaminya.


"kenapa baru kagum sekarang sayang?kemaren kemana aja?"dengus Rendi dengan cubitan kecil di hidung istrinya.


"hmmmz...tadi aja nyuruh mereka cepet nikah...sekarang aku bilang gitu...terpesona...sebenernya mama tu mihak aku apa mereka sih?"tanya Rendi balik,karena ia tidak percaya dengan ucapan istrinya barusan.yang Rendi pikir...istrinya hanya mencoba mengambil hatinya saja.


"emmmb...aku ada di pihak papa dong...aku baru sadar saat papa bilang begitu barusan...suer..."ucap Anin dengan mata berbinar menatap ke arah suaminya.


"okay sayang...aku butuh bukti...ayow...ke kamar..."ajak Rendi yang terlalu mendadak untuk istrinya,Anin tahu apa yang di maksud suaminya itu,namun ia juga tidak bisa menolaknya karena itu lah yang membuat keluarganya selalu penuh dengan kehangatan.dan Rendi...sejak istrinya hamil pun tidak pernah melampaui batasannya.


Anin pun selalu nyaman di buatnya.


hingga keduanya masuk ke dalam kamar nya dan melepaskan semua beban seharian disana.


hari senin pagi yang sangat cerah,semalam habis turun hujan,dan tengah malam masih dengan rintik rintiknya yang mengguyur,hingga pukul lima pagi embun masih menyelimuti area pekarangan rumah Rendi,dimana kabut tebal masih membatasi pandangan mata memandang.

__ADS_1


para ayam ayam tetangga pun seakan masih lelap dalam tidurnya,karena kokok nya yang biasa terdengar sampai telinga orang orang rumah Rendi kini tidak terdengar sama sekali,yang ada sunyi senyap belum tercampur asap kendaraan bermotor.


hingga...suara alarm di ponsel nindi berbunyi dengan nyaringnya,seketika Nindi pun meraih ponsel yang ada di meja samping tempat tidurnya dan dengan mata yang sedikit memicing menatap ke arah layar ponselnya dan mematikan alarm nya.


lalu ia pun menarik selimutnya lagi sampai menutupi seluruh tubuhnya,ia pun lalu tidur meringkuk dengan nyamannya.


di dapur,Anin sudah terlihat sibuk ikut memasak di bantu bibi bibi asisten rumah tangganya.


tepat pukul setengah tujuh pagi,Anin terlihat menatap pada jam dinding yang ada di dapur,Anin merasa heran,jam segini suaminya belum terlihat bangun,apa lagi putrinya dan juga para tamu nya.


Ia lalu bergegas menuju kamar nya,


terlihat suaminya masih tertidur pulas dengan hanya mengenakan selimut saja yang menutupi tubuhnya.


Anin berjalan mendekat ke arah suaminya,lalu ia pun duduk di tepian ranjang di samping suaminya tertidur dengan pulasnya.


"pah...bangun pah...bukankah hari ini mau ngajarin nindi kerja pah...ayo bangun pah..."


ucap Anin sambil mengelus pipi suaminya.


"heem pah...ini sudah siang...sudah setengah tujuh pah...bangun ya..."ucap Anin lagi,


lalu suaminya pun terbangun dan turun dari ranjangnya menuju kamar mandi,tidak lupa sebelumnya ia mengecup kening istrinya.


di kamar nindi,nindi sontak membuka mata seakan merasa terkejut,seketika ia pun menatap jam dinding di kamar nya yang sudah menunjukkan pukul setengah tujuh lebih,


"gawaaat....benar benar gawaaat...aku bangun kesiangan...aduh...gaji tahunanku bisa di potong papah nih..."ucap nindi dengan bergegas bangun dari tidur nya dan berlari masuk ke dalam kamar mandinya.


sepuluh menit saja...hanya sepuluh menit saja..nindi mandi keramas dengan secepat kilat.ia memakai baju sambil mengeringkan rambutnya dengan mesin pengering rambut.


atau lebih di sebut hair dryer.


Nindi hanya memoles tipis bedak di wajahnya,dan lipstik yng senada dengan pakaiannya.rok sepan selutut dengan warna peach dan baju lengan panjang biru muda yang bagian bawahnya ia masukkan kedalam rok nya.di lengkapi sepatu heals warna peach dan jam tangan bermerk yang melingkar di pergelangan tangannya,tidak lupa tas jinjing bermerk pula yang ia bawa,dengan rambut hitam pekat panjang nan lurus tanpa gelombang...pagi ini Nindi siap untuk berangkat ke kantor papa nya untuk bekerja.

__ADS_1


"mama...papa...maaf...Nindi kesiangan lagi di hari pertama kerja pah..mah..."ucap Nindi dengan antusiasnya.


Nindi merasa senang...karena ia tidak butuh cv atau persyaratan lainnya untuk melamar kerja ke kantor papa nya,ia langsung lolos tanpa seleksi dengan adanya papa nya.mesti begitu nindi dahulu adalah kariawan terbaik di kantor arga,tepatnya di divisi dimana ia bekerja.


"sayang ayo...sarapan dulu..."ucap Anin pada putrinya dan terlihat Rendi menikmati sarapannya pula dengan nyantainya.


dan satria serta yura yang hanya melempar senyum ke arah nya.


"mah...nanti titipin papah aja ya mah sarapannya...nindi keburu mau telat nih..."


ucap Nindi sambil bergegas sedikit berlari menuju garasi mobilnya dan memilih mobil yang biasa biasa saja disana yang akan ia tumpangi ke kantor hari ini.


terlihat jalanan masih cukup padat merayap hingga mobil nindi sampai di depan kantor papa nya lalu memarkirkannya di tempat parkir mobil.


Ia turun dari dalam mobil nya dan berjalan perlahan menuju lift naik ke lantai pertama kantor papa nya.


sampai disana...Nindi menuju tempat Resepsionis dan bertanya disana.


"bisakah saya tahu dimana letak divisi keuangannya?"tanya Nindi dengan senyum seramah mungkin.


"anda mau apa tanya divisi keuangan?"


tanya balik petugas yang sedang berhadapan dengan nya.


"oh...saya mulai kerja hari ini di tim divisi keuangan yang di kepalai oleh pak Faiz."ucap Nindi dengan santainya.nindi sudah tahu nama ketuanya dari papa nya.


"maaf mbak...tapi...setahu saya...yang kerja di sana...semua ikut tahap seleksi...dan saya...baru melihat anda hari ini...apa saya bisa percaya perkataan anda?"tanya petugas Resepsionis dengan nada yang sedikit meninggi.


"ayowlah mbak...saya nggak ada waktu lagi...saya akan telat sekarang..."ucap Nindi dengan nada memelasnya.


"baiklah...anda naik ke lantai empat...dan tanyalah disana ya..."ucap petugas tersebut.


dan tanpa basa basi lagi...Nindi bergegas naik ke lantai empat yang di beritahukan tersebut.

__ADS_1


"cantik cantik kok ngaco sih...mana ada di divisi keuangan tanpa seleksi."ucap petugas tersebut dengan petugas yang lainnya.


__ADS_2