Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
Arti lampu hijau yang lain


__ADS_3

Nindi terbangun tepat pukul enam petang waktu setempat.


Diamana yang ia cari cari pertama kali adalah ponselnya, Ya...dia sedang mencari ponselnya karena penasaran apakah kekasihnya itu sudah menghubunginya atau pun memberi kabar padanya, Nyatanya...ia ingin tahu.


Tanganya mulai mencari cari ponselnya dimana mana, Namun tak juga ia dapati. "Aaah...aku tahu...ada di meja dekat sofa...!" Ucapnya langsung saat ia sudah mengingatnya. Ia pun segera bergegas turun dari ranjangnya dan mulai melangkah menuju meja sofa.


"Ah...kenapa belum ada kabar darinya sih?apa dia marah padaku? biasanya ia tidak seperti ini...kenapa juga ia sampai seharian nggak ada kabar begini?" Gerutunya saat matanya menatap layar ponsel namun tak ia dapati kabar Arga.


Dengan langkah gontai ia pun berjalan menuju ke arah kamar mandi, Pikiranya mulai khawatir...ia khawatir sesuatu telah terjadi pada Arga, Namun lagi lagi ia menepianya begitu saja. "Orang orang Arga ada di mana mana...manamungkin ia akan kenapa napa, Nggak mungkin!" Ucapnya lagi memantapkan hatinya.


Ia pun segera berlari menuju ponsel yang ada di atas meja dekat sofa saat ia mendengar dering ponselnya.


"Halo Ga....kamu kenapa nggak kasih kabar aku seharian sih...?" Ucap pertama Nindi saat ia baru saja mengangkat panggilan telephone yang masuk ke ponselnya, Tanpa ia sadari siapa yang sedang menelephonenya sekarang.

__ADS_1


"Sayang...ini mama nak...mama mau ngabarin...kalau tiga puluh menit lagi...mama sama papa jemput ya sayang..." Ucap Anin pada puterinya, Dalam hatinya entah mengapa begitu khawatir, Ia merasa bahwa puterinya sedang ada masalah. Namun apalah daya jika ia ikut campur...dan ia juga tahu, Pasti puterinya itu bisa melewati masalahnya apapun itu.


"Ah...mama...iya ma...Nindi masih mau mandi dan siap siap ma...eh...Nindi udah janjian sama Arga ma tadi...jadi...mama sama papa duluan aja ya...Nindi nungguin Arga aja ma..." Ucap Nindi dengan mantapnya.


Ia begitu yakin bahwa kekasihnya itu akan menepati kata katanya.


"Kamu yakin sayang? kamu nggak akan kecewa nanti jika Arga nggak datang?" Ucap Anin yang coba membuat goyah kepercayaan Nindi. Dimana ia tidak ingin puterinya itu nanti bersedih atau bahkan bisa kecewa jika Arga tidak datang untuk menjemputnya.


"Semoga itu hanya dalam anganku saja dan dalam pikiran kalutku saja." Ucap Nindi dalam hatinya, Kemusian ia pun menutup panggilan mama nya. Setelah Anin memberi izin dan mengiyakan keinginan sang puteri.


"Ada apa sayang? kenapa manyun? jelek ih mukanya di tekuk begitu...!" Ucap Rendi sambil menghampiri istrinya yang tengah duduk di tepi jendela kaca lebar di dalam ruang kamar hotelnya. Tangan kekarnya memeluk sang istri dengan hangatnya. Kehangatanya yang membuat nyaman seketika perasaan Anin yang saat itu dilanda rasa tak menentu karena ulah puterinya. Lalu ia kembali mengingat akan perjalanan cintanya dengan sang suami dimana lebih parah dan terjal yang keduanya lalui. Dan Anin yakin...jika memang keduanya adalah jodoh...pasti keduanya pun bisa melewatinya.


"Pah...kita kesini...ke kota ini...bukankah untuk menghadiri acara bahagia rekan bisnis papa kan? tapi kalau hati orang yang kita sayang juga lagi bersedih...bisakah kita pura pura bahagia di depan mereka yang tengah bergembira merayakan pesta pah?" Tanya Anin begitu saja, Kata katanya tiba tiba muncul dari bibirnya begitu saja.

__ADS_1


"Ada apa sayang? kenapa kamu tahu kalau aku lagi sedih? kamu kan tega nggak ngasih jatah aku seminggu sudah...pastilah aku merasa sedih...ouh makasih sayang...kamu memang istri yang paling pengertian sedunia...ayo...mau sekarang?" Ucap ngawur Rendi yang membuat tinju ringan terkesan menggelitik dari tangan Anin ke perutnya. Mendarat tepat sasaran di samping sisi kanan perutnya, Hingga membuatnya melepaskan pelukan kedua tanganya dari tubuh sang istri.


"Emangnya aku salah gitu?" Tanya Rendi dengan bibir meringis yang ia rasakan. Sakit yang dominan geli disana ia rasakan.


"Pah...bisa nggak sih kalau nggak bercanda gitu? tuh liat anak gadis udah galau seharian karena coganya nggak ada kabar...apa lagi terkenal dengan mantan playboy nya pula...mana bisa aku nggak khawatir sih pah...!" Gerutu Nindi saat suaminya sudah mulai pulih sepenuhnya.


Kini ekspresi wajah Rendi terlihat mulai seriusnya. Dengan tatapan tajam menatap ke arah sang istri, Dan Anin yang merasakan tatapan mematikan sang suami hanya bisa melengos dan tidak menanggapi tatapanya.


"Apa? Arga nggak ada kabar? seharian? yang bener sayang? barusan aja dia bilang mau jemput Nindi kok sama aku...dan dia izin juga mau jemputnya itu." Ucap Rendi dengan keherananya, Namun tanpa Rendi sadari...ekspresi sang istri berbalik seratus delapan puluh derajat dari yang tadi. Senyum merekah berbinar senang di tambah ceria baru saja terlihat disana, Membuat Rendi makin terpesona menatapnya.


"cupt", Kecupan Anin tiba tiba mendarat di bibir suaminya. Sontak membuat Rendi terpaku beberapa saat.


Jangankan ciuman yang Anin berikan beberapa hari ini, Melainkan petasaan bad mood bawaan bayinya. Dan kini ia sudah kembali ceria, Ia normal lagi...itu artinya lampu hijau untuknya malam ini.

__ADS_1


__ADS_2