
rendi mengusap kepala anin dengan lembut,membimbingnya bangun dari sofa nya,
lalu mengajaknya berjalan keluar kamar,menuruni anak tangga,hingga sampai di dekat teras belakang.
"sayang...tunggu ya...aku pamit kakek dulu,"
ucap rendi,lalu anin mengangguk tanda mengerti,sambil menunggu suaminya kembali...
"ayo sayang...kakek nanti harus keluar kota lagi sayang.."
kata rendi yang baru muncul dari belakang anin.
"aku harus pamitan pada kakek dulu kak rend...kalau gitu."
ucap anin dan tiba-tiba kakek nya sudah berjalan mendekat ke arah nya.
"pergilah nak...cepat periksa,"
ucap kakek,dan anin pun langsung menyalami kakeknya.
"kami pergi dulu ya kek...nanti kakek harus hati-hati juga ya."ucap rendi.
lalu keduanya berlalu pergi,berjalan beriringan menuju mobil yang ada di depan pintu rumah,
"pak totok...biar saya sendiri saja,pak totok nanti antar kakek saja,"perintah rendi pada pak sopirnya.
rendi pun bergegas masuk ke dalam mobilnya,
tak cukup waktu lama untuk ke rumah sakit terbesar di kotanya,
sesampainya di rumah sakit,rendi tidak mengambil kartu antrian,karena rendi sudah menelephone terlebih dahulu.
"ayo langsung masuk sayang..."ucap rendi pada istrinya.
semua yang berjejal mengantri pun ikut melongo melihat pasangan yang baru tiba itu di persilahkan masuk dengan mudahnya.
seseorang pun protes pada petugas yang ada disana.
lalu petugas baru itu pun menyetop rendi dan anin sebelum mereka masuk ke dalam ruang periksa.
__ADS_1
"maaf pak...anda baru datang pak bu...mohon ambil nomor antrian dahulu...dan silahkan antri sesuai nomor,"
kata staf baru itu.
"kamu staf baru disini??"tanya rendi dengan penuh wibawa.
"iya pak...baru dua minggu,"ucap petugasnya,
"oooh....pantesan..."jawab rendi dengan sedikit dongkol.
"sudahlah kak...mari antri saja..."kata anin.
lalu dari belakang petugas datanglah perawat yang sudah lama dan mengenal rendi saat datang mengantar kakeknya yang waktu itu sedang berlangsung rapat pemegang saham.
"maaf tuan maaf atas kelalaian staf kami,"ucap nya.
dan rendi hanya mengangguk sambil tersenyum,
dokter kandungan pun keluar karena mendengar ribut-ribut di luar ruangan prakteknya,
"pak rendi..."sapanya sambil menyalaminya,
"saya sudah menunggu anda pak...silahkan..."
dan petugas itupun hanya melongo melihatnya tak percaya.
"apa...saya masih harus mengantri dan menunggu panggilan?"geram rendi dengan menatap staf baru itu.
"oh tidak-tidak pak...kita sudah janjian pak mari..."
sahut dokternya.
"maaf tuan...maaf..."kata petugas tersebut.
anin hanya mengelus lengan suaminya yang dari tadi di peluknya itu.ia khawatir rendi bertindak lebih.
rendi dan anin melangkah masuk ke ruang pemeriksaan.
sedangkan petugas itu masi mematung di tempatnya,
__ADS_1
di tepuknya pundak kirinya oleh perawat yang lebih lama bekerka di tempat itu.
"kau tahu siapa yang kau cegah tadi??"tanya perawat itu.
petugas baru itu hanya menggeleng tak tahu.
"dia cucu dari pemilik saham terbesar rumah sakit ini!! dan kakeknya sudah akan pensiun...makanya satu bulan yang lalu...sudah di sahkan beliau yang menjadi penerusnya."
dan petugas baru itu pun menunduk malu...karena tadi termakan oleh omongan pasien lain.
"makanya sebelum menyetop orang...tanya dulu...sudah ada janji belum..."
kata staf lama dengan geram,dan berlalu pergi.
di dalam ruang periksa,anin berbaring di selimuti sampai ujung kaki dan ke atas sampai perutnya,
petugas medis yang lain mencoba membantu anin memperlihatkan perutnya,dan dokter menekan perut anin lembut dengan alat di tangannya,
sedangkan rendi di samping anin menggenggam jemari istrinya.
di lihatinya dan di tatapnya monitor sebelah kanan anin.
"lihat lah pak...istri bapak sedang mengandung lima minggu pak..."
ucap dokter kandungan tersebut.
terlihat senyum merekah di wajah keduanya,
"gimana keadaan anak kami dok??"
tanya rendi ingin tahu karena istrinya dari pagi tidak mau makan dan selalu muntah.
"kesehatannya normal pak semua,"
jawab dokternya,
dan rendi benar-benar bahagia dengan tanpa sadar di kecupnya kening istrinya itu tanpa malu-malu,meski di dalam ruangan itu terdapat dokter dan staf nya,
hingga membuat seisi ruangan yang melihat pun jadi salah tingkah,
__ADS_1
"kita akan punya anak kak rend...kita akan jadi orang tua..."bisik anin di telinga suaminya.
lalu rendi nengelus rambut istrinya itu dan dengan senyum senang mengembang di bibirnya.