Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
Bos datar


__ADS_3

"Gila...ini bener bener gila...apa apan Aditya maen nikah nikah aja...anak orang di garap kayak gitu...haaaiiizzzz!" Dengus Arga saat ia sadari apa yang di ucapkan kakaknya itu nyata, Karena selama ini dia tidak pernah berkata bohong, Demikian juga Arga, Ia selalu jujur satu sama lain.


Arga mengingat dimana saat sabtu pagi harinya, Aditya seperti orang nggak waras. Seriap gerakanya tanpa nyawa, Setiap pandanganya kosong, Dan ia sudah seperti mayat namun hidup. Bahkan bisa Arga ibaratkan seandainya ia menyuruhnya untuk lompat dari atas tebing pun pasti Aditya lakukan. Hingga tanpa sadar Arga mengusulkan untuk melihat dengan mata kepala Aditya sendiri bagaimana keadaan pujaan hatinya, Mungkin dengan demikian hati Aditya bisa lebih lega lagi saat secara langsung menyaksikan kebahagiaan Ifa di sana.


Namun tanpa Arga tahu, Aditya melihat ifa begitu menyedihkan, Sendirian menangis terisak di sudut taman, Dimana banyak pasangan muda mudi tengah bersenda gurau dan membuatnya tak mampu mengendalikan dirinya sendiri sampai ia memperlihatkan diri menghampiri ifa. Dan Arga tidak mengetahui akan hal itu.


Sampai disaat Aditya mencoba menghubungi Arga karena perasaan bahagianya, Namun ekspresi Arga malah terkejut dan tidak percaya.


"Loh...sayang...kamu kenapa? ada apa kok menutupi wajah dengan tangan kayak gitu?" Tanya Arga saat baru menyadari kekasihnya begitu malu di depanya, Dan tatapanya menatap ke arah sekitar yang sepertinya sejurus menatap ke arah mejanya.


"Turunkan tanganmu ga...jangan berkacak pinggang..." Dengus Nindi sambil mengibas ngibaskan tanganya isyarat Arga mengerti, Dan memang benar Arga mengerti apa yang di inginkan kekasihnya itu.


Tanpa pikir panjang...Arga meletakkan beberapa lembar uang di mejanya, Jumlahnya lebih banyak dari total mekanan yang terhidang di meja yang belum keduanya sentuh. Dengan sedikit bergegas, Arga meraih jemari Nindi dan mengajaknya keluar meninggalkan restoran tersebut.


"Arga...kau kenapa sih? kau berteriak pada ponselmu...tapi...orang orang mengira itu aku, Malu tahu ga..." Ucap Nindi dengan tangan yang lagi lagi menangkup ke depan wajahnya. Tanda ia benar benar malu di buatnya.


"Sayang...maaf...Aditya mau nikah katanya...aku kan jadi syock mengetahuinya sayang....karena tadi pagi, Ia masih seperti orang gila...tiba tiba sekarang ngasih tahu kalau mau nikah..." Ucap Arga sambil mempersilakan Nindi untuk masuk ke dalam mobilnya, Dan di susul Arga yang turut serta ikut masuk ke dalam.

__ADS_1


"Mau makan dimana sayang?" Tanya Arga begitu lembutnya, Dengan mata melirik ke arah Nindi yang tengah duduk di sampingnya.


"Tiba tiba aku nggak laper ga..." Ucap serius Nindi.


Lalu hening seketika untuk beberapa saat.


Sampai Arga menghentikan mobilnya di tepi jalan, Memarkirkanya disana.


"Kok berhenti disini?" Tanya Nindi yang sudah mulai bosan.


"Aku pengen berduaan aja sama kamu...kamu sekarang sepertinya bosan ya sama aku sayang?" Tanya Arga yang asal ngomong saja. Dengan kedua tangan menyilang di atas kemudi, Kepalanya ia sandarkan disana, Arga memiringkan wajahnya dan menatap lekat wajah cantik kekasihnya yang tengah berada di sampingnya.


"Ngomong apaan sih ga...nggak...kenapa juga aku harus bosan saat kamu selalu bikin tingkah heboh yang tanpa terduga seperti barusan." Ucap jujur Nindi, Meski ia sadari itu sedikit berlebihan.


"Aku tak sabar untuk meminangmu...setiap harinya aku selalu menyilang tanggal agar tepat waktu yang seperti kau katakan kemarin...aku takut jika belum apa apa kau sudah bosan padaku, Aku khawatir...disini hanya aku yang mengharapkanmu!" Ucap sungguh sungguh Arga.


"cup", Kecupan Nindi mendarat di pipinya tiba tiba, Dengan senyum yang terpancar di bibirnya,

__ADS_1


Membuat Arga enggan membuka matanya.


"Ga...tiba tiba aku lapar...aku juga pingin nonton...ayo...sebelum kemalaman..." Ucap Nindi yang membuat Arga kembali bersemangat. Dan terlihat Nindi pun ikut senang saat melihat Arga tidak mengeluh lagi, Atau protes disana.


Di tempat Aditya, Semua yang ia lakukan mungkin saat itu di luar kendalinya, Namun yang pasti ia capek untuk terus berlari mencoba menghindar dari perasaanya pada ifa.


"Em....anu...itu...aakh..." Ucap ifa dengan terbata batanya, Ia begitu takut saat akan bertanya apakah di rekeningnya itu uang yang di berikan bosnya tersebut.


"Ada apa? kau ini...ona anu ona anu...mau tanya apa?" Ucap Aditya yang mulai gemas.


"itu bos..." Ucap ifa yang langsung terhenti dan matanya menatap ke arah Aditya, Dimana disana Aditya tengah menatap tajam ke arahnya.


"Aku harus panggil apa dia? Bos nggak bisa...mas dia nggak mau..." Dengus dalam hati ifa.


"Sebentar...aku mau bicara...aku ingin tanya...anda memanggilku apa? ifa bukan? lalu...apakah aku harus memanggil anda aditya? nggak mungkin kan? jelas jelas anda lebih tua dariku...aku terlalu bingung saat akan memanggil anda..." Ucap ifa dengan jujur, Dan dia pun ingin tahu Aditya akan memanggilnya bagaimana.


"Sinikan ponselmu...mana?" Tanya Aditya, Dan saat itu pula ifa memberikan ponselnya padanya. Alangkah terkejutnya ia saat menatap layar ponsel tersebut, Dimana disana tertera nomornya dengan nama "Bos datar",

__ADS_1


__ADS_2