Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
Kesalah pahaman yang telah usai


__ADS_3

Hening...sepi...malam kian larut, Saat Nindi masuk ke kamarnya dengan langkah gontai, Ia segera meraih pakaian ganti untuk tidur dan membawanya ke dalam kamar mandi, Ia mengikuti apa yang tadi Arga bilang padanya, Sungguh sedih hatinya saat merasakan mama nya yang begitu marah karena tingkahnya, Di satu sisi kata kata Arga yang menyilaukanya hingga membuatnya belanja apa yang ia mau, Di sisi lain, Mama nya benar benar marah akan sikapnya yang keterlaluan.


"Tuhan...sebegitu menyedihkanya kah sikapku? apakah benar perkataan mama tadi? apa aku begitu membuat malunya? hingga ia memarahiku di depan Arga dan papa? tuhan...benar benar sampai sebegini besarnya aku tidak berguna...apa yang bisa aku banggakan sama mama dan papa? aku hanya ngecewain mereka." Ucap Nindi dengan air mata yang mengalir seiring guyuran air yang membasahi tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Nindi sudah sadar akan sikapnya yang sudah keterlaluan, Meski tidak sepenuhnya salahnya, Tapi ia merasa semua kesalahan ada pada dirinya, Padahal yang tadi ngotot ambil ini itu adalah Arga, Yang sangat antusias belanja adalah ia, Dan Nindi hanya menurutinya saja.


Di satu sisi...prestasinya benar benar luar biasa...melebihi gadis biasa pada umumnya, Suatu kehebatan tersendiri baginya yang bisa menarik hati seorang Arga Sanjaya, Mantan play boy akut yang tengah insyaf dan hanya menetapkan hatinya pada Nindi seorang. Terbukti setelah berhubungan dengan Nindi, Tak ada sekalipun skandal yang keluar atas namanya, Dan yang menyangkut kehidupan asmaranya. Dan Nindi belum menyadari kelebihanya tersebut yang benar benar langka dan tidak bisa di bandingkan dengan gadis lainya. Hingga Arga menetapkan pilihan padanya dan berniat menikahinya beberapa bulan lagi.


Lalu Nindi keluar dari kamar mandi dan sudah mengeringkan rambutnya, Ia merebahkan tubuhnya di pembaringan, Bayangan mamanya yang tengah kecewa padanya membuatnya terus terbayang dan tidak dapat memejamkan matanya. Hingga bunyi ponselnya yang membuatnya beralih menatap keberadaan ponsel dan meraihnya.


"Iya ga...aku sudah mau istirahat...selamat malam Arga..." Ucap lemas Nindi yang akan menutup panggilan dari kekasihnya, Dimana saat itu ia sangat malas untuk bercakap cakap dan memilih menikmati perasaanya yang tengah gundah, Ia takut emosinya malah meluap dan tertuju pada Arga.


"Sayang...aku tahu...kau tidak bisa tidur bukan? Jangan merasa bersalah...mama marah karena hormon kehamilanya sayang...dan mungkin ia sedikit tak nyaman mendekati persalinan...kita saja yang berpikir kekanak kanakan...jangan di ambil hati ya...dan yang pasti kamu nggak salah...aku yang memintamu tadi untuk mengambil semua...besok pagi aku akan datang dan menjelaskan sama mama papa...sekarang benar benar beristirahat ya sayang...jangan sedih lagi...ingat...itu bukan kesalahanmu...mama hanya masih salah paham pada kita...oke...ya sudah...selamat malam sayang...sampai ketemu besok ya...jangan begadang...ingat itu!" Ucap Arga yang hanya di dengarkan Nindi dan terdengar panggilanya baru di akhiri. Nindi pun langsung mencoba memejamkan matanya dan berusaha untuk tidur, Ia sedikit lega dengan kata kata Arga barusan.


Di kamar Rendi dan Anin. Terlihat Anin menyandarkan kepalanya di pundak sang suami, Tanganya mengelus elus perutnya yang benar benar begitu besar dan membuncit, Punggungnya bersandar bantal tinggi yang tadi di tata sang suami pada sandaran tempat tidur, Sedangkan Rendi masih sibuk menatap layar laptop di pangkuanya dengan jari jemari yang mengetik ngetik sibuk disana.

__ADS_1


"Pah...apa aku begitu keterlaluan dengan Nindi?" Tanya Anin yang merasakan hatinya begitu tidak nyaman setelah ngomel ngomel pada puterinya tersebut. Dan seketika Rendi pun menghentikan ketikan jarinya di atas keyboard laptopnya, Segera saja ia menutup laptopnya dan memindahkanya ke atas meja samping tempat tidurnya, Seketika kedua tanganya memeluk tubuh sang istri yang berada di sampingnya.


"Sayang...aku kira...wajar kamu marah...aku pun ingin marah...kayak kita nggak ngasih tu anak uang aja sampai ia minta belanjain Arga sebegitu banyaknya, Tapi...papa kira mama juga sedikit kelewatan marahnya...Dengan belanjaan segitu saja buat Arga nggak ada artinya sayang...akh...kasihan anak anak itu pasti sekarang sedang ketakutan...biarlah...sekali kali senam jantung..." Ucap Rendi yang mencoba menenangkan sang istri.


"Apa sekarang mama nemuin Nindi di kamarnya pah? pasti Nindi lagi sedih saat ini...karena mama nggak pernah sekalipun marahin dia kayak tadi...apa lagi di depan kekasihnya..." Ucap Anin yang sudah akan beranjak dari tempatnya, Namun Rendi melarangnya.


"Sayang...udah besok aja...keadaan kamu kayak gini...mau naik ke lantai atas? nggak....aku nggak ngijinin." Ucap kukuh Rendi yang membuat Anin manggut manggut dan menuruti kemauan sang suami. Dan keduanya pun memutuskan untuk segera beristirahat.


"Loh...non Nindi tumben udah bangun? Non mau di buatkan apa non?" Tanya bibi yang penasaran bercampur kaget atas kehadiran nona mudanya di dapur pagi buta.


"Bik...aku mau buatin mama sup iga...kesukaan mama...bantuin ya bi..." Ucap Nindi dengan memelasnya, dan kedua bibi pun langsung mengangguk mengiyakan, Untungnya iga beku di dalam lemari pendingin masih ada, Dan Pagi itu Nindi menyiapkan sarapan untuk mamanya sebagai permintaan maaf nya.


Hingga Rendi dan Anin keluar dari dalam kamarnya, Terlihat hidangan di atas meja makan sudah lengkap, Dan Nindi yang tengah usai masak tadi langsung menuju kamarnya untuk mandi terlebuh dahulu.

__ADS_1


"Bi...ini yang masak?" Tanya Anin yang merasa sedikit heran, Karena ia merasa aneh pada sayur sup iganya, Dimana taburan bawang gorengnya sedikit gosong.


"Itu nyonya...nona Nindi bangun subuh tadi...katanya ingin masakin sayur sup iga kesukaan nyonya...dan setelah masak tadi katanya mau mandi dulu nyonya..." Ucap si bibi yang menjelaskanya. Dan dengan senyum senangnya Anin pun menyambut kebaikan puterinya.


Hingga pagi itu...Arga pun datang dan langsung menuju ke ruang makan, Dimana semua sudah berkumpul disana dan hanya Nindi yang bum ada. Dengan segera Arga menjernihkan semua kesalah pahaman antara semuanya.


Dimana semuanya adalah murni kemauan Arga yang begitu antusias dan ikut senang saat melihat perlengkapan dan mainan bayi, Ia merasa seperti ingin mengumpulkan semuanya saja saat melihatnya. Dan Anin pun juga merasa bersalah pada keduanya, Ia bisa nenerima semua yang Arga katakan barusan. Hingga Nindi turun dan melihat sang kekasih sudah duduk di antara mama dan papa nya di kursi meja makan.


"Akkkh....kenapa sup iga ini rasanya...." Ucap Anin yang terlihat menggoda puterinya.


"Akh...kenapa mah? nggak enak ya? maaf..." Ucap Nindi dengan wajah sendunya dan duduk di samping Arga.


"Siapa yang bilang nggak enak sayang...mama mau bilang...rasa sup ini begitu nikmat...karena puteri mama buatnya penuh cinta kasih..." Ucap Anin yang seketika membuat Nindi mendongakan wajahnya yang tadi menunduk terus dengan sendu. Kini tampak bahagia dan senang. Hingga pagi itu di habiskan dua pasangan tersebut dengan sarapan yang penuh ceria dan kehangatan. Karena kesalah pahaman sudah terselesaikan.

__ADS_1


__ADS_2