
beberapa saat keduanya sudah selesai menyantap makan malamnya,terlihat ifa dan Aditya masih bersantai di teras depan rumah ifa,sedangkan asisten Aditya ia melihat acara televisi di dalam.
"kamu nggak apa apa malam ini sendirian di rumah?"tanya Aditya membuka percakapan pada ifa.
"nggak apa apa kok pak...aku sudah terbiasa kok...malahan...beberapa minggu ini...aku jarang pulang dan nginap di rumah sakit...jadi nggak masalah kok."ucap ifa dengan terlihat sangat tegar nya,namun hati Aditya merasa...ifa tidak setegar itu.
Hingga ia teringat perkataan almarhum ibu ifa yang memintanya untuk menjaganya,yang bilang bahwa ifa terlihat sangat tegar namun sebenarnya ia cengeng,kalau cengeng pasti sudah terlihat...Aditya melihat mata ifa yang nggak bisa di buka lebar itu saja sudah tahu seberapa cengengnya gadis itu.
"bukankah...perkataan orang yang akan mati itu bisa di bilang wasiat bukan?wajib di taati bukan?"kata Aditya dalam hatinya,
"lalu cara naatinya gimana?nggak mungkin aku tinggal dan nemani dia disini...nggak mungkin aku ajak dia ke apartemen...bikin susah aja sih..."dengus Aditya dan ucapan dalam hatinya yang hanya dia yang tahu.
"hmmmz...kau dengar ucapan ibumu sebelum ia pergi bukan?"tanya Aditya pada ifa,dan ifa hanya mengangguk pelan menjawab pertanyaan Aditya.
"kalau begitu...kau tahu bukan...aku nggak mungkin malam ini tinggal disini...jadi...untuk menepati keinginan ibumu...kau harus ikut aku...ke apartemen...besok biar aku urus kepindahanmu ke apartemen sebelahku."
ucap Aditya dengan entengnya,ia tidak memikirkan perasaan ifa sama sekali.
"pak...jangan terlalu di dalami...saya tinggal disini saja...itu lebih baik...agar saya mengenang saat saat bersama ibu saya...bapak nggak perlu khawatir akan saya...saya jelas bisa menjaga diri."ucap ifa yang menolak ajakan atasannya.
ifa tahu...sebenarnya ifa berhutang banyak pada bosnya ini,meski membayarnya dengan tenaganya seumur hidup...mungkin nggak akan cukup.Dimana hutangnya saat ia tergesa gesa menabrak mobil sport Aditya...dimana operasi pemasangan ring jantung ibunya yang biayanya tidaklah murah...di tambah lagi uang untuk ibunya berobat dan menginap berbulan bulan di rumah sakit.Semua itu tidaklah murah...namun Aditya tidak pernah membahas sepeserpun nominal angka yang ia keluarkan,bahkan setiap bulan ifa bekerja menjadi pesuruh di perusahaannya pun ia di gaji,di tambah lagi jika ada pertemuan yang memgharuskannya menjadi tameng aditya saat ada banyak gadis mengincarnya,tidak segan segan ia mentransfer sejumlah uang lebih pada rekeningnya.
Kini ifa sadar...malaikat hidup yang benar benar menjaganya.
"Cukup pak...saya tidak ingin menyusahkan bapak lagi...saya akan selalu siap kapanpun bapak butuh bantuan saya..."ucap ifa dengan nada lembutnya,yang terdengar bergetar di hati Aditya saat mendengarkannya.
"kenapa rasanya wanita ini tidak berontak...tapi terkesan menolak...apa yang salah denganku?"ucap Aditya yang bertanya tanya dalam hatinya.
"okay...baiklah...aku akan pulang dulu...kamu baik baik ya sendirian di rumah..."
__ADS_1
ucap Aditya lalu beranjak berdiri dari duduknya dan berjalan keluar dari teras,tidak lupa ia mengajak serta asistennya untuk menyupirinya.ifa mengantar kepergian mobil yang di tumpangi Aditya dan asitenya pergi sampai mobil itu tidak terlihat olehnya.
ifa kemudian masuk membawa dua piring kosong ke dapur,tidak lupa ia menutup pintu rumahnya dan menguncinya.
"hening..."satu kata yang ia rasakan saat itu,meski televisi menyala dan dengan volume yang lumayan.Ifa duduk di atas kursi,matanya menatap sekeliling,beberapa hari yang lalu ia sempat menatap sekeliling itu dengan keadaan dan tempat yang sama,namun situasi saat itu berbeda...ia kira ia akan bisa melihat ibunya kembali ke rumah dan berjalan kesana kemari menutupinya melihat acara televisi,seperti saat ibunya masih sehat dan yang ibunya sering lakukan.namun siapa sangka...keadaanya malah berbeda.
ia tidur tengkurap di kursi panjang dengan melepas kerudungnya,ia menengkurapkan wajahnya di atas bantal lalu tanpa terasa bantal yang ia gunakan sudah basah oleh air matanya.
"ibu...ifa sendirian sekarang...namun ifa masih bisa merasakan sakit...ibu sendirian juga kan disana?kita sama bukan?"ucapnya dengan isakan isakan tertahan.
Aditya turun dari mobilnya ketika tepat di depan apartemen nya,
"kamu bawa mobilnya...besok pagi jemput aku."ucap Aditya pada asistennya,meski begitu di tempat parkir apartemennya masih ada mobinya yang lain lagi.
lalu Aditya pergi menuju apartemen yang ia tempati.
tibalah ia di depan pintu apartemen miliknya,
lalu ia membukanya,perlahan ia masuk lalu menutupnya kembali.
segera saja ia menyandarkan tubuhnya pada kursi yang ia tempati,matanya menatap lurus ke atas dengan wajah menengadah.
Bayangan ifa yang menangis tersedu dengan wajah jeleknya tiba tiba terlintas begitu saja.
"gadis itu akan baik baik saja kan?pasti ia baik baik saja...aku yakin..."ucap Aditya dalam hatinya.Lalu ia mengenang dimana saat ia terakhir menatap punggung ibunya pergi meninggalkannya,meski ibunya tahu saat itu ia jatuh bangun berusaha mengejarnya,saat itu masih ada harapan untuk menemukannya saja hati Aditya begitu pilu remuk redam.Bagaimana dengan ifa yang sudah tidak ada kesempatan bertemu ibu nya lagi?
pertanyaan pertanyaan itu pun muncul dan mulai mengganggu otaknya.
hingga tanpa sadar ia menyahut jas yang baru ia letakkan di sampingnya dan kunci mobil yang ada di laci biasanya.
__ADS_1
ia berjalan sedikit tergesa keluar ke arah tempat parkir,sampai sana ia tanpa bimbang lalu mengendarai mobilnya menuju ke rumah ifa lagi.
"bodoh....bodoh...otakmu kemana?bisa bisanya kau khawatir pada gadis kampung itu...siaaal...!"gerutu dan umpatan umpatan yang ia tujukan pada dirinya sendiri,namun tubuhnya seperti berlainan dengan hatinya,hatinya mencoba menolak namun tubuhnya tetap mengarah menuju ke ifa.
"tok tok tok,"ketukan dari luar pintu rumah ifa,
ifa hanya bangun dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah pintu,lalu ia putuskan untuk membukanya.
"loh...pak Aditya???bukannya tadi bapak sudah pulang?"ucap ifa saat ia baru saja membuka pintu dan melihat atasannya mematung di depan pintu.
"kunci pintuku ketinggalan...aku nggak bisa masuk...aku mau nginep sini aja..."
ucap Aditya pada gadis itu.
"sebentar pak...kita nggak boleh se rumah disini...apa lagi hanya berdua...kita harus laporan pada pak Rt dan Rw pak..."ucap ifa yang membuat Aditya tercengang mendengarnya.
"kau habis kesusahan...masak iya malam malam begini harus gedor rumah petinggi desa hanya untuk tidur saja?kita nggak ngapa ngapain."ucap Aditya dengan nada tidak mengertinya.
"oke...ayo ikut aku...jangan buat aku khawatir karenamu."ucap Aditya sambil memaksa menarik tangan ifa dan mengajaknya naik ke dalam mobilnya.
"pak tv saya masih nyala...dan pintu juga belum di tutup!"ucap ifa lagi yang membuat Aditya gemas menahan dongkol di hatinya.
lalu ia pun berjalan dengan cepat.mematikan tv dan mengunci pintu,lalu kembali masuk ke dalam mobil.
"Aditya Wibawa mau maunya di suruh cewek kampung!"gerutu dalam hatinya.
"kita mau kemana pak?"tanya ifa dengan sedikit takutnya,melihat Aditya dengan mata menyerangnya.
"pulang ke apartemenku!"ucap Aditya lalu hening....sepanjang perjalanan.
__ADS_1