
Terlihat Arga sudah menyelesaikan makan sarapanya pagi itu, Dengan pakaian santainya ia bersiap siap akan pergi ke tempat Nindi, Dan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu pada sang kekasih maupun pada mamanya.
Matanya sudah berbinar bahagia meski keadaanya saat itu masih belum membaik benar, Ia masih dalam keadaan yang kurang fit. Namun karena kata kata papa Rendi padanya tadi pagi, Membuatnya semangat untuk mendatangi sang kekasih di rumahnya.
Arga mengenakan kaos polos lengan pendek warna putih, dengan outher luaran jeans lengan panjang yang ia singsing sampai siku dengan menawan, Di tambah celana jeans selututnya yang makin tampak membuatnya cool pagi itu, Tak lupa sepatu yang senada dengan kaus dalaman yang ia kenakan, Dan tak ketinggalan jam tangan edisi terbatasnya yang selalu melingkar setia di pergelangan tanganya, Rambutnya yang tidak di beri gel dan hanya di urai se nyamanya, Membuat tampilanya tak mampu di elakan para mata yang menatapnya sengaja maupun tidak sengaja, Terutama Nindi.
Tidak butuh waktu lama perjalanan Arga sampai di kediaman papa Rendi, Arga segera turun dari dalam mobil keluaran terbarunya, Dengan wangi maskulin dan menyegarkan ia berjalan percaya diri menuju ke pintu utama rumah megah tersebut. Ia berharap Nindi sudah duduk cantik dan masih menanti kabarnya disana.
"Ting tong!" Arga memencel bel pintu itu sekali saja, Dan disana nampak si bibi yang membuka pintu lebar tersebut dengan wajah yang ramah dan senyum merekah.
"Eh tuan Arga...mari masuk tuan....silahkan..." Ucap bibi yang mempersilakan Arga untuk masuk kedalam, Dimana bibi sudah paham saat Arga tiba pastilah tuan, Nyonya nya dan nona mudanya pasti menyambutnya dan tidak pernah menolaknya.
"Iya bi....makasih ya...Nindinya ada bi? mama mana bi?" Ucap arga yang ikut bibi masuk kedalam dan mulai duduk di sofa ruang tamu, Dan saat bibi akan menjawabnya, Nyonya nya sudah terlebih dahulu menyapa dan menyahut perkataan calon tuan mudanya tersebut. Hingga bibi pun langsung meninggalkan keduanya dan mengambilkan minuman serta makanan ringan untuk calon tuan mudanya tersebut tanpa harus di perintah terlebih dahulu.
Bibi sudah hafal dengan apa yang harus ia lakukan tanpa harus di perintah terlebih dahulu.
__ADS_1
"Eh...anak gantengnya mama..." Sahut Anin saat baru keluar dari kamarnya, Dan langsung berjalan mendekat ke arah Arga dengan kedua tangan yang memegangi pinggang bagian belakangnya, Terlihat Anin sangat kelelahan dengan perutnya yang makin membesar di bawanya.
Dengan segera Arga pun berdiri dan membantu memapah calon mertuanya itu untuk ikut duduk di sofa,
"Mah...berat ya? kenapa mama nggak di kamar aja mah? Arga lihatnya nggak tega mah..." Ucap Arga yang mendapat jeweran ringan dari tangan calon mertuanya.
"Dasar anak sekarang...ini nikmatnya mengandung Arga...kelak kalau Nindi kayak gini...jangan ikutan nangis ya..." Canda Anin yang membuat Arga nyungir seketika.
Dimana ia tidak dapat membayangkan Nindi dengan perut buncit membesar dan berjalan perlahan seperti seorang puteri yang kalem. Karena setahu Arga ke ahlian sang kekasih itu adalah melakukan hal hal konyol dan terkesan lincah sebagai seorang anak gadis.
"Mama nggak mau di ambilin apa apa...kamu pasti nyariin Nindi ya? Tuh semaleman Nindi mikirin kamu...sampai lupa tidur...nggak tahu tuh apa dia udah bangun apa belum...mestinya sih belum bangun...tapi...lebih baik...kamu bangunin gih...dari pada ia melewatkan sarapanya...nanti perutnya makin sakit." Ucap Anin yang membuat Arga mengangguk mengerti dan meminta izin untuk pamit menuju ke kamar kekasihnya.
Arga berjalan perlahan menaiki anak tangga menuju ke kamar sang kekasih, Ia sedikit mematung sesaat setelah sampai di depan pintu kamar Nindi, Hingga ia putuskan untuk mengetok pintu depanya itu dari luar.
Beberapa kali ketokan namun tidak ada sahutan dari dalam apa lagi pintu di buka, Segera saja ia masuk kedalam dengan perlahan lahan, Terlihat memang kamar yang selalu rapi itu sudah terang benderang, Dan Nindi yang masih meringkuk nyenyak di atas tempat tidurnya dengan selimut tebal berbulunya yang menyelimuti tubuhnya sampai dadanya. Tanganya masih menggenggam ponsel di sana, Hingga Arga putuskan untuk mendekat dan duduk berjongkok di samping tempat tidur Nindi, Tatapanya menatap lekat wajah cantik Nindi namun terlihat kusut dan kelelahan. Tidurnya hingga pulas dan terlihat nyenyak, Tanpa sadar jemari Arga menyeruakan rambut lembut yang menutupi sebagian wajah Nindi disana. Senyumnya tersungging saat pelan pelan Nindi membuka matanya dan menatap sesaat sejurus ke arahnya, Keduanya saling berpandangan sampai jemari Nindi perlahan menyentuh wajah tampan di depanya. Tatapanya makin tajam dan mata Nindi makin melotot tak percaya saat orang yang ada di pikiranya itu ternyata nyata dan bukan halusi nasinya saja.
__ADS_1
"Aaaakh.....pergiii....keluaaaarrrr!" Teriak Nindi dengan histerisnya, Ucapan pertama dari bibirnya saat ia menatap wajah Arga di depanya. Dengan kedua tangan yang menarik selimutnya seketika dan menutupi tubuhnya seutuhnya disana.
"Loh...sayang...kok kamu malah nyuruh aku pergi saat aku ada disini?" Tanya Arga yang tidak mengerti dengan apa yang di pikirkan kekasihnya tersebut. Arga mengira Nindi akan senang dan bahagia saat bisa bertemu denganya dengan keadaan yang sudah baik baik saja.
"Aku tahu...aku salah...maaf...sudah mengabaikan panggilan panggilanmu...maaf sudah tidak membalas semua pesan mu...dan maaf sudah membuatmu khawatir sayang...sungguh aku merasa bersalah....aku salah....aku tahu kamu akan marah....maaf ya..." Ucap Arga dengan tulusnya. Dan kini ia bangkit dari jongkoknya dan beralih duduk di tepian ranjang Nindi di samping tubuh meringkuk sang kekasih.
"Aku bilang pergi dulu ga...aku nggak siap kalau kamu mendadak ada disini...." Ucap Nindi dengan tulusnya.
"Hei...kenapa kamu bisa sampai se marah ini sih sayang...aku udah minta maaf...aku jauh jauh kemari kamu suruh pergi lagi...gimana sih?" Ucap gerutu Arga lagi dengan tangan yang berusaha membuka selimut uang menutupi tubuh Nindi.
"Aku nggak marah ga...aku hanya malu menemuimu yang sudah ganteng seperti itu, Tapi aku masih awut awutan nggak karu karuan kaya gini...aku malu ga...tolong...keluarlah ga...jangan buat harga diri aku jatoh gara gara kalah cakep sama kamu..." Ucap konyol Nindi yang membuat Arga ingin tertawa namun menahanya sekuat tenaga. Kedua tanganya mulai merangkul tubuh yang berbalut selimut tebal itu dan mendekapnya.
"Bagaimanapun dan seperti apapun bentuk kamu sayangku...aku nggak akan pernah menang bersaing melawanmu...bagiku kau paling sempurna di saat situasi apapun...dan aku paling mengagumimu saat kau sedang melakukan hal hal konyol seperti ini yang tidak pernah aku duga duga. Baiklah...aku keluar dulu...jangan lama lama ya...aku merindukanmu..." Ucap Arga lalu melepaskan dekapanya dan beranjak pergi dari tempatnya dan berjalan keluar meninggalkan kamar kekasihnya.
Dimana Nindi dengan senyum senang dan bahagianya membuatnya setimpal merasakan apa yang semalam ia harus rasakan.
__ADS_1