
Arga tidak menyangka, putri dari keluarga Wijaya sungguh di luar perkiraan lelaki itu. Arga mengira ia akan sombong, angkuh dan juga tidak tahu menolong orang lain. Tapi nyatanya Nindi jauh dari kata itu semua, gadis itu mampu mematahkan pemikiran buruk Arga untuk sosok wanita.
"Sungguh luar biasa." Ucap Arga seketika dengan senyum di ujung bibirnya, hingga membuatnya penasaran, karena baru kali itu ia merasakan penasaran pada seorang gadis.
Arga berlalu masuk ke dalam kantornya, semua orang menunduk dan menyapanya sepanjang perjalanan. Ia terus berlalu sesekali menatap sekeliling...matanya mencari-cari keberadaan si cewek seratus lima puluh,
namun tidak kunjung ketemu, lalu ia masuk kedalam lift khusus untuknya dan menuju ruang kantornya yang ada di paling atas gedung tersebut.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, Arga mengambilnya dari kantong jas yang ia kenakan saat itu, ia melihat pada layar ponselnya.
"Om Rendi." lalu ia pun bergegas mengangkatnya.
"Halo Om...ada yang bisa Arga bantu?"
tanya Arga begitu saja.
"Oh ya nak...kamu kenal putri om? yang tadi sepertinya pinjam ponsel kamu buat menghubungi Om." Tanya Rendi pada Arga.
"Oh....si Seratus....eh kenal Om cuma belum tahu namanya saja Om...dan lagi...sepertinya putri Om juga belum kenal Arga siapa deh om..." ucap jujur Arga, dan saat itu hampir keceplosan.
"Kalau begitu...nanti siang...kita makan siang bersama bisa? sekalian om nganterin ponsel putri om yang ketinggalan di mobil tadi." Ucap Rendi.
"Boleh-boleh Om...nanti makan siangnya di sini saja Om...biar Arga siapkan di balkon atas, samping ruang kerja Arga."
Ucap Arga yang antusias senang.
"Baiklah sampai ketemu nanti ya nak..." ucap Rendi lalu mematikan sambungan telephonenya.
"Baiklah honey...kita mulai pendekatan..." gumam Arga dengan senyum menyeringai disana. Arga tidak bermaksutd mengejar cmgadis itu, namun Arga makin kesini semakin penasaran dengan ke renyahan dan ke terbukaan cewek yang telah menolongnya tempo hari itu. Mengingat gadis itu melihat irang lain tanpa pandang bulu.
Setelah sampai didepan ruang kantornya, ia pun meminta pada Sekretarisnya untuk mengambilkan arsip karyawan magang baru yang berjenis kelamin perempuan,
lalu ia pun berjalan masuk ke ruangannya setelah selesai meminta Sekertarisnya tersebut.
Arga mulai memainkan jemarinya pada telephone yang ada di atas meja ruang kerjanya, ia menghubungi sekretaris satunya lagi, lalu sebentar saja sekretarisnya itu pun datang.
"Ada apa pak Arga ada yang bisa saya kerjakan?" tanya sekretaris itu pada Bosnya.
"Tolong kamu siapkan makan siang untuk tiga orang di atas balkon nanti ya, saya mengundang pimpinan perusahaan Wijaya untuk makan bersama disini." Ucap Arga, dan sekretaris itu pun langsung melaksanakan perintah pimpinannya.
Tanpa terasa...waktu berjalan cepat, jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Terlihat Nindi begitu sibuk dengan aktivitasnya.
"Eh anak magang...ambilin kita-kita kopi dong di tempat kopi sana." Ucap salah seorang.
__ADS_1
"Nih sekalian kamu foto copy kan pula dua puluh lembar." Ucap seorang lagi sambil memberikan lembaran kertas pada Nindi.
"Iya, baiklah...tunggu sebentar ya kak..." jawab Nindi dan berlalu pergi menuju tempat kopi. Disepanjang lorong jalan...ternyata Nindi berpapasan dengan Arga disana.
"Eh...kamu lagi..." ucap Nindi tiba-tiba yang membuat Arga berhenti disana. Di lorong depan Devisi Nindi.
"Hey...sepertinya kita berjodoh deh." Ucap Arga seketika dengan jahilnya.
"Jodoh-jodoh...jodoh pale lu..." ucap sewot Nindi yang membuat Arga sedikit terkikik.
"Eh...kamu sudah lama kerja di sini?" tanya Nindi sambil menarik lengan Arga yang ada di depannya agar sedikit mendekat kearahnya. Nindi khawatir kata-katanya ada yang dengar. Namun tarikannya begitu kuat membuat Arga tidak bisa menahan tubuhnya.
"Hueeemph..." dengus Nindi saat menubruk punggung Arga yang tiba-tiba berhenti di depannya.
"Hey cewek seratus lima puluh...sepertinya kamu terlalu ingin dekat denganku ya...hingga suka sekali menarik-narik bajuku!" ucap Arga sambil menatap tajam Nindi yang lebih pendek darinya itu.
"Mari pak...." sapa dua orang staf yang tiba- tiba sedang melintas. Namun Arga hanya menoleh sekilas saja, ia lebih suka bermain dengan kucing liar di depannya saat itu.
"Ngaconya kamu makin parah deh, dan lagi...kamu ternyata kaki tangan kesayangan bos ya? hingga semua staf yang melihatmu menyapamu, aku juga gitu nggak? harus hormat dan menyaoa setiap kali bertemu?" cap canda Nindi.
"Sudahlah...ada apa? lama-lama di dekatmu bisa kena struk aku ntar." Ucap Arga tiba-tiba.
"Lhoh kenapa jadi aku yang nyebapin struk coba..!" ucap timpal balik Nindi yang membuat Arga sedikit geram.
"Kamu masih nggak mau ngomong? atau jangan-jangan kamu suka ngobrol denganku ya?" tanya Arga dengan jahilnya.
"Minggirin nih tangan..." ucap Nindi sambil mencoba menepis tangan Arga yang menyentuh tembok sampingnya.
"Aku kan di suruh ngambilin kopi tu sama orang-orang satu divisi...la aku nggak tahu dimana ngambil kopinya..."
ucap jujur Nindi.
"Dan kamu mau disuruh-suruh?" Tanya Arga lagi. Dan Nindi hanya mengangguk.
"Lalu...kamu mau ambil kopi kenapa bawa lembaran kayak begini?" tanya Arga penasaran.
"Aku sekalian bawa...mereka nyuruh aku foto copy juga dua puluh lembar...jadi ya aku bawa aja deh...siapa tahu tempat kopi sama copy dekat...syukur-syukur satu tempat sekalian...kan
sambil menyelam minum air...eh kopi..."
ucap Nindi seketika.
"Ayo ikut aku...di divisi mana kamu?" tanya Arga sambil menarik paksa pergelangan tangan Nindi saat itu, Arga merasa tidak enak mengingat siapa sebenarnya Nindi itu.
__ADS_1
"Eh....eeeh....tunggu...tunggu....dasar cowok belel...se enaknya saja rarik-tarik...iya...aku akan nurut...lepasiiin...." ucap Nindi dengan berontaknya, namun tidak juga Arga lepas.
"Tu...di Divisi keuangan sana." Ucap Nindi lagi.
"Ayo kesana..." ajak Arga dengan ketusnya. Dan Nindi pun dengan langkah gontainya mengekor mengikuti Arga yang berjalan terlebih dahulu di depannya.
Sesampainya di depan Divisi keuangan.
semua gelagapan dengan pekerjaan yang berantakan di atas meja masing-masing, karena tidak ada tanda-tanda Bos besarnya akan berkunjung langsung ke Divisi kecil itu.
Semua berdiri berjajar mendekat ke depan Arga dengan membentuk barisan panjang yang berjajar rapi menutupi meja-meja yang berserakan berkas di belakang tubuh mereka.
"Ada yang bisa kami kerjakan pak?"
tanya salah seorang pada sosok tampan dan gagah di depannya itu. Nindi mengintip orang yang berbicara itu dari belakang tubuh besar tegap yang penuh wibawa itu.
"Siapa yang menyuruh gadis ini untuk ngambil kopi?" tanya Arga pada orang-orang yang berjajar itu.
"I...it...ittu...saya pak...saya..." kata seseorang itu sebelum berlanjut. Arga sudah menyetopnya.
"Cukup.? ucap Arga seketika.
"Lalu siapa yang menyuruh gadis ini untuk memfoto copy kertas nggak penting ini sampai dua puluh lembar?"
tanya Arga pada orang-orang di depannya itu sambil meraih san mengangkat pergelangan tangan Nindi yang memegangi kertas nggak penting kata Arga itu.
"I...ittu...i...tu...saya pak..." ucap salah seorang wanita di antara deretan sebelas orang itu.
"Betul mereka yang menyuruhmu honey?"
tanya Arga pada Nindi yang membuat semua mata terbelalak tidak percaya. Yang membuat semua orang melongo dan sedetik kemudian ada yang saling berbisik-bisik. Begitu pula Nindi yang sontak melotot menatap Arga.
"Aku umumkan...siapapun...mulai detik ini...yang berani menyuruh pacarku ini untuk sesuatu yang bukan pekerjaannya...saat itu pula...aku akan mengeluarkannya dari perusahaan Sanjaya ini." Ucap mantap Arga.
"Cup..."sebuah kecupan mendarat di pipi Nindi yang membuatnya melotot dengan ekspresi kagetnya.
"Honey...aku tinggal dulu ya...sampai ketemu lagi..." ucap Arga lalu berlalu pergi begitu saja. Sedangkan para staf yang lain ada yang pura-pura ambruk ada yang saling sikut...dan Nindi...yang dari tadi hanya berdiri mematung tidak percaya atas apa yang ia alami barusan.
Tiba-tiba...
"Wooooeee...cowok belel...se enaknya aja ya main nyosor pipi orang!" ucap Nindi dengan teriakan karena ia baru sadar sudah di cium pipinya.
"Mama...papa...pipi nindi sudah nggak suci lagi....huuuuaaaaa." Teriak campur tangis di hati Nindi saat itu, lalu ia pun berjalan menuju kursi dan meja kerjanya kembali, terduduk di sana sambil menatap boneka kucing yang menempel di atas komputer di meja depannya.
__ADS_1