
"Sayang kamu tidak apa-apa?" tanya Rendi pada putrinya itu.
"Nggak apa-apa pah...papa sih...ah...Nindi mau balik kerja saja pah....dan Pak Bos...terimakasih...atas makan siang yang membahagiakan ini..." ucap Nindi pada Arga begitu saja sambil berdiri dari duduknya dan berjalan pergi.
"Sayang...ponselmu..." kata papa Rendi dengan sedikit berteriak. Namun putrinya itu tidak mendengarkannya.
"Om...biar Arga saja yang nanti berikan pada Nindi." Ucap Arga seketika dan Rendi pun langsung menyerahkan ponsel puterinya itu pada Arga.
"Ga...bagaimana kabar bundamu?" tanya Rendi pada lelaki tampan didepannya.
"Bunda baik-baik saja Om...sekarang ia menetap di luar Negeri Om...dan Arga tinggal sendiri di sini...bunda sebenarnya khawatir...dia sibuk menjodohkanku dengan anak-anak teman bunda Om...Arga di kejar-kejar terus sama orang suruhannya bunda, tapi Om jangan khawatir...Arga beneran suka Om sama Nindi...Arga harap Om juga tidak menghalangi Arga untuk mendekati Nindi..." ucap jujur Arga. Karena Arga tahu watak Rendi itu...Rendi lebih suka orang yang jujur apa adanya dari pada sembunyi-sembunyi...karena konon setahu Arga, masa lalu Rendi dan istrinya yang sembunyi-sembunyi kala ia masih muda dulu tidak berkalan lancar, hingga saat Rendi yang hampir di jodohkan kakek dengan bundanya. Namun...Arga senang lelaki didepannya itu tidak jadi suami bundanya...karena jika benar terjadi...mungkin Nindi...gadis cantik itu...tidak akan ada di dunia ini dan bahkan...Arga pun tidak. Apa lagi...bundanya sangat menyukai almarhum suaminya, yaitu papa Arga, hanya syukur yang bisa Arga ucapkan bukan dendam dan benci.
"Om nggak pernah melarang siapapun yang mau mendekati putri Om...dan Om juga nggak pernah melarang putri Om dekat dengan siapapun...asal keduanya menjaga norma...tidak melanggar aturan...itu sudah cukup." Ucap Rendi.
Dan Arga sadar...sejak pertama kali bertemu Nindi...gadis itu terlihat biasa saja dengan Arga yang berpakaian lusuh dan tidak ada perasaan yang membedakan antara orang gembel dan orang kaya disana. Dari sanalah perasaan nyaman Arga mulai tumbuh. Bahkan setelah tahu jika dirinya adalah Bosnya sekalipun Nindi tidak ada perasaan ingin cari perhatian atau baik yang dibuat-buat untuk mendapatkan perhatian dari Arga.
"Tapi si Nindi itu kebangetan....kalau ngasih julukan...masak iya orang ganteng kaya Arga Sanjaya gini di julukin si belel...hanya gara-gara baju yang tak kucelin itu." Gerutu Arga di hatinya.
"Satu lagi Ga...putri Om itu terlalu Om dan tante manja...makanya ia seperti itu...dia tidak menurun padaku atau istriku wataknya, dia lebih menurun pada kakek yang suka ceplas ceplos kalau bicara Ga...ya...seperti itu...sejak kecil ia tidak bisa jauh dari kakeknya Ga...jadi jika ada kata-katanya yang menyinggungmu, jangan diambil hati ya..." terang Rendi pada Arga.
"Oh...pantesan Nindi suka nyablak." Gerutu Arga yang samar di dengar Rendi.
__ADS_1
"Apa Ga? kamu bicara apa barusan?" tanya Rendi seketika yang membuat Arga sedikit tersentak.
"Eh Om...Nindi cantik...Om..." ucap Arga seketika karena yang ia ingat hanya kata-kata itu.
"Tentu lah Ga...kamu ini...ngomong-ngomong...mata kamu oke Ga...sebelum kamu tahu Nindi putriku...kalian sudah dekat tanpa tahu latar belakang masing-masing." Ucap jujur Rendi, dan memang Rendi bingung...kenapa putrinya dan Arga bisa kebetulan ketemu dan dekat tanpa mereka sadari status dan latar belakang keduanya.
"Siapa tahu jodoh Om.." ucap Arga begitu saja.
"Walau begitu Ga...setiap jodoh putriku...tidak luput dari pengawasanku...karena putriku adalah harta berharga kami." Ucap Rendi tiba-tiba yang membuat Arga merinding, bulu kudunya seperti tertiup angin.
"Kamu kira aku tidak tahu...skandalmu di luar Negeri dengan banyak gadis itu?" ucap Rendi tiba-tiba.
"Eeeh Ooom...bukan seperti yang Om bayangkan...itu...hanya kecelakaan...dan lagi Nindi juga sudah mengembalikan ciuman yang aku berikan di pipinya...ia mencium pipiku balik." Ucap jujur Arga.
"Apppaaaa! kalian sudah sampai tahap cium-cium pipi?" teriak Rendi dengan histerisnya.
"Aduh...kenapa bisa keceplosan sih..." dengus kesal Arga.
"Om...maafkan Arga...Arga salah Om...maaf..." ucap maaf yang benar-benar tulus dari Arga, lelaki itu sendiri tidak tahu...kenap ia tadi ingin sekali menggoda Nindi. Hingga terjadi insiden itu.
"Om tahu Ga...sudahlah...lupakan...kalian juga sudah dewasa...Om ngelarang juga percuma kalau di belakang Om kalian nyuri...nyuri, asal ingat! jangn lakukan hal bodoh sebelum kalian menikah." Ucap Rendi karena Rendi sendiri juga pernah muda...pernah mengalami apa yang di namakan jatuh cinta...dan begitu sulitnya mengendalikan diri kala itu.
__ADS_1
"Om...itu berarti...Om merestui Arga kan?Om merestui aku sebagai calon menantu bukan?" ucap Arga dengan sungguh-sungguh dan mata berbinar senang.
"Merestui-merestui gundulmu...kejar dan dapatkan itu hati putri Om dengan kemampuanmu sendiri...Om tidak bisa memutuskan kalau ia sendiri tidak mau." Ucap jujur Rendi.
"Baiklah Om...Arga pastikan mengejar Nindi sampai dapat, apapun caranya!" ucap mantap Arga.
"Maksud dari apapun caranya Ga? bisa di jelaskan?" tanya Rendi dengan tampang seriusnya.
"Oooh...maksudnya bukan dengan cara yang menyimpang Om...tenang saja..." ucap balas Arga.
"Nodo kok di pelihara Ga...Ga...dari tadi keceplosan mulu...jaga tu mulut!" gerutu dalam hati Arga yang mengumpati kebodohannya sendiri.
"Yasudah Ga...Om pamit dulu ya...Om masih ada kerjaan...kamu jaga baik-baik putri Om ya..." ucap Rendi sambil beranjak berdiri dari duduknya, lalu Arga langsung mengulurkan tangannya menjabat tangan Rendi dan Rendi sesekali memeluk Arga, kemudian keduanya berjalan keluar menuju lift untuk turun ke bawah.
Arga mengirim Rendi sampai lantai dasar dan berjalan sampai pintu keluar hingga Rendi masuk ke dalam mobilnya dan Arga masih melambaikan tangannya sampai mobil Rendi tidak teihat.
"Baik lah Ga...kamu sudah dapat dukungan dari papanya...kamu harus lebih semangat mendapatkan hati putrinya. Ingat....jangan pakai cara kotor...pakai cara yang sejalur...tapi tadi Om Rendi hanya bilang nggak boleh dengan cara kotor kan ya...bukan cara jahil atau cara nakal." Ucap dalam hati Arga dan tanpa sadar senyum licik keluar dari bibirnya.
"Mari kita mulai honey..." ucap Arga dengan lirihnya. Kemudian ia beranjak pergi dari tempatnya dan berjalan menuju pintu masuk perusahaannya itu kembali.
Tidak lupa kedua penjaga pintu di depan pintu masuk itu pun menyapanya dan membukakan pintu masuk untuk atasannya itu. Arga pun dengan langkah santainya masuk ke dalam kantor.
__ADS_1