
Matahari mulai menampakan bias cahayanya yang baru muncul dari ufuk timur. Namun terlihat gadis cantik yang begitu anggun sudah sibuk dengan aktivitasnya, Setiap pagi ia membuatkan sarapan untuk sahabatnya itu sebelum berangkat kerja, Iya...dialah ifa...gadis yang mampu membuat Aditya menyerahkan hatinya untuknya.
"Pagi ifa...tumben kamu nggak dandan kalau mau kerja?" Tanya yura yang baru keluar dari kamar tidurnya, Lalu duduk di kursi depan dapur, Ia suka melihat ifa yang sudah seperti mamanya dahulu.
"Yura...hari ini aku mau ngundurin diri dari butik...sepertinya aku pun sekalian pamitan ya..." Ucap ifa dengan nada melemahnya, Ia khawatir membuat yura tidak suka mendengarnya, Karena keduanya sudah terbiasa tinggal bersama dan bisa di bilang teman baik.
"Loooh...kok kamu tiba tiba mau keluar kerja? mau pulang ke negara kamu? kenapa ifa? kamu nggak suka di sini? atau...aku..." Ucap yura dengan cemasnya, Hingga suara yura terhenti saat ifa memberikan sepiring roti selai dengan telur setengah matang di atasnya.
"Ra...bukanya aku nggak suka disini yura...tapi...Aditya tidak mengizinkanku disini...jadi...daripada kita bertengkar hanya karena hal ini...aku milih balik aja yura...maaf ya..." Ucap ifa sambil menggenggam tangan yura dan memastikan yura baik baik saja.
"kau bilang apa tadi fa? Aditya? Aditya Wibawa? nggak mungkin...kalian bersama? beneran?kok bisa sih fa? gimana ceritanya?"
Tanya yura yang masih dengan segudang pertanyaan pertanyaanya, Ia begitu penasaran di buatnya.
"Aaah...itu...semalam dia datang...aku juga nggak bisa bohongin perasaan aku yura...aku merindukanya...dan dia bilang...kita akan nikah." Ucap ifa dengan menyunggingkan senyum kecil di bibirnya.
"Oke baiklah...aku nggak bisa menahanmu ifa, Jika sudah menyangkut tentang cinta." Ucap yura sambil menikmati sarapanya.
Semua sudah selesai ifa rapikan, Dan kini ifa tinggal mengirim surat pengunduran dirinya ke butik tempatnya kerja.
"Ra...nanti aku nebeng ya sampai butik..." Ucap ifa dengan senyum dan jemari menangkup menyatu di depan dadanya.
__ADS_1
"ifa...jangankan ke butik tempat kerja kamu...ini kan hari terakhirmu disini...aku pasti bisa lah nganterin kamu sampai bandara..." Ucap yura dengan sungguh sunghuh. Dan ifa menyambutnya dengan anggukan senangnya. Keduanya lalu keluar dari dalam apartemen yura, Saat yura sudah selesai dengan sarapanya dan ifa memilih tidak sarapan, Karena ifa sudah terbiasa tidak sarapan setiap pagi.
"Astaga!!!" Ucap yura dan if bersamaan, Dimana saat mereka menutup pintu apartemen tersebut, Terlihat Aditya sudah berdiri mematung di samping pintu, Dengan tubuh menyender tembok.
"Kau kenapa begitu lama? hampir sejam aku disini menunggumu!" Ucap Aditya dengan nada geramnya, Hingga kedua alisnya seakan mau menyatu.
"Ah...maaf...kenapa nggak telephone atau kirim pesan aja?" Tanya ifa dengan senyum manis menyambut Aditya, Dan seketika itu pula rasa gerah Aditya yang tadi memuncak kini mencair meleleh seperti es krim yang sudah tidak berada di lemari pendingin.
"Kau lihat saja sendiri." Ucap Aditya yang lagi lagi datar dan tanpa ekspresi. Dengan patuh ifa pun mengambil ponselnya dan menatap pada layar ponsel tersebut.
Matanya langsung terbelalak saat disana sudah ada sebelas panggilan tidak terjawab dan enam pesan yang masuk, Semua dari satu orang saja, yaitu "Fix calon suami",
"Aaah...maaf tadi aku sedang mengadakan perpisahan dengan Yura...aku belum sempat mengecek ponsel..." Ucap ifa dengan kedua tangan menngkup menyatu, Istarat ia meminta maaf pada si pengirim pesan.
Meninggalkan ifa dan Aditya di belakangnya beberapa meter.
"Kau sering melihat yang seperti itu?" Tanya Aditya tiba tiba, Ia bermaksud mengisi keheningan yang dari tadi tercipta.
"Aku lumayan sering liatnya...bahkan lebih dari itu kadang kadang juga lihat." Ucap ifa yang memang benar kebenaranya.
"Kau tidak kepingin?" Tanya Aditya tiba tiba yang membuat ifa menghentikan langkahnya dan menatap dengan mata terbelalak ke arah Aditya yang sudah selangkah di depanya.
__ADS_1
"Apa? kau kebertan bawa koper? bilang dong...kenap juga melotot seperti itu kearahku...meskipun kau cantik...aku nggak mau bantu bawa." Ucap Aditya yang lagi lagi mengusir kecanggungan, Dimana ia berkata keceplosan dan asal bicara saja, Membuat Ifa salah tingkah di buatnya.
" Dimana mana itu kalau laki laki tahu orang yang di sayang lagi kesusahan...pasti di bantu kan? di film film...di novel novel romantis...kenapa hanya aku disini yang nyeret koper sendirian dari tadi?" Gerutu ifa dalam hatinya dan langkah gontai yang menyeret koper lumayan beratnya.
"Akh...gadis itu...nggak peka apa aku pingin di peluk...dia meluk aku cuma sekali namun hadiahnya tabokan berkali kali...nah aku kan jadi lupa gimana rasanya...aku pingin coba ngingetin dia, Eh malah melotot ke arah aku!"
Ucap Aditya dalam hatinya. Ia menuju ke mobilnya tanpa menyapa Satria dan yura.
Itulah kebiasaan Aditya yang tidak peduli dengan orang lain. Bahkan ia tanpa perasaan membiarkan ifa menikmati momen menyeret koper sendirian.
Akhirnya tibalah ke empat orang tersebut di bandara, Dimana yura satu mobil dengan Satria, Dan Aditya satu mobil dengan ifa.
Ifa dan yura saling berpelukan sebelum keduanya berpisah. Keduanya saling berharap secepatnya akan segera bertemu kembali.
Di dalam pesawat, Aditya duduk bersebelahan dengan ifa, Terlihat ifa begitu tidak nyaman, Bukan karena ia di dekat Aditya, Melainkan karen perutnya begitu lapar.
"Kau kenpa?" Tanya Aditya saat ia sadari ifa gelisah dari tadi.
"Ah...aku lapar...belum sempat sarapan.." Ucap jujur ifa, Dan dengan sigap Aditya memanggil seorang pramugari yang tengan membawa meja dorong yang berisi makanan dan minuman, Ia meminta kue padanya.
Dengan senang ifa menikmati kuenya, Dan minumam jus nya.
__ADS_1
"Sayang...kau sudah temukan panggilan yang kau suka untukku?" Ucap Aditya tiba tiba saat ifa tengah menikmati minumanya.
"Brusssh..." Lagi lagi ifa menyemburkan minuman dari mulutnya ke wajah Aditya, Namun kali ini Aditya sudah menutup wajahnya terlebih dahulu dengan sapu tanganya. Ia sudah memperkirakanya. Dan ifa bukan ia terkejut karena pertanyaan Aditya, Melainkan ia terkejut dan belum biasa dengan panggilan sayang yang Aditya tujukan untuknya.