
satria menggandeng tangan nindi menuju puncak bukit yang tanahnya lapang dengan pemandangan yang indah perbukitan.
keduanya berjalan menurut jalan setapak yang ada di depannya lurus...meski banyak yang sudah tidak tertata dan terawat,namun jalan setapak itu cukup kokoh dan kuat untuk di lewati kaki.
sampailah keduanya pada tempat yang di tuju setelah hampir dua puluh menit berjalan sedikit mendaki naik.
satria berdiri di sisi nindi yang masih terdiam karena perasaan yang masih sesak ia rasakan.
"nah nindi....teriaklah sesukamu....maki makilah dia semaumu jika itu bisa mengembalikan nindiku yang dahulu yang riang gembira dan tidak pernah terlihat air mata nya."ucap satria yang membuat nindi menoleh menatapnya dengan mata yang berkaca kaca.
"arga.....kamu brengsek....arga...dasar playboy...aku benci kamu....aku benci...karena aku mencintaimu...aku benci karena aku terlalu mencinraimu..."teriak nindi yang ucapannya semakin melemah di akhir dan isakan yang semakin kuat.
"cukup nindi....cukup...jangan kau lanjutkan lagi kata kata mu itu nindi..."dengus satria yang menjadi kesal mendengar pernyataan nindi.
"sat...aku harus mencari kebenaran...aku nggak mau sat di gantung seperti ini...aku nggak mau terus merasa aku yang mencintainya...sedangkan dia se enaknya mengabaikanku...sat...aku harus telephone papah...aku harus meminta bantuan papah sat..."
__ADS_1
ucap nindi dengan nada cepatnya seperti orang yang sudah gila.
memang benar...saat ini nindi sudah benar benar gila...gila karena khawatir,gila karena rasa cintanya yang lebih besar mengalahkan semua yang ia rasakan.
dan satria hanya terbengong menatap gadis yang di cintainya ternyata mencintai arga setengah mati.satria hanya bisa menatapnya dengan senyum terpaksa dan air mata sesekali menetes,ia membalikan badan memunggungi nindi dan menghapus sesaat air mata yang tiba tiba menetes.ia tertawa sambil menangis.
dan nindi tidak mengetahuinya,
ia sibuk mengambil ponsel dari dalam tasnya kemudian mencoba menghubungi papa nya.
"halo sayang...ada apa?"tanya rendi pada nindi yang datar datar saja.rendi tahu putrinya saat ini sedang dalam situasi yang kacau dengan arga,namun rendi tidak bisa memihak atau menengahi keduanya,ia tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah.
"pah...siapkan pesawat pah...nindi pingin nyusul arga pah..."ucap nindi dengan jujurnya.
"kamu sendiri sayang?"tanya rendi pada putrinya.
__ADS_1
"nindi sama satria pah...sekarang..."ucap jawab nindi yang di angguki papa nya.
"baiklah sayang...kamu tahu tempatnya bukan?kamu segera saja kesana,dan jangan mikir macam macam ya..."
ucap rendi menenangkan putrinya.
"baiklah pah...sampai nanti."kata nindi dengan sangat senangnya.
"sat...ikut aku ke tempat arga ya...ayo sekarang menuju tempat pesawat sat...aku tidak mau buang waktu lagi,"
ucap nindi dengan antusiasnya,karena ia sudah menemukan titik terang di permasalahannya.
satria hanya terpaksa tersenyum sambil mengikuti kemauan nindi.keduanya berjalan menuju mobil yang mereka parkirkan tadi,lalu masuk kedalam,satria mengemudikan mobil itu dengan perlahan,karena di kanan kiri keduanya terdapat jurang,jurang yang di penuhi pohon karet.dan pohon cemara.
"tuhan...jika nindi bukan untukku...aku mohon...jangan sakiti dia,aku rwla terluka asal ia selalu tersenyum bahagia dengan orang yang dicintainya dan mencintainya."ucap dalam hati satria yang ikut senang melihat gadis yang di cintainya bahagia.
__ADS_1