Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
Kehebohan di pagi hari


__ADS_3

"Ga....kau tersenyum?" ucap Johan seketika yang membuyarkan lamunannya tadi.


"Apa Jo?" tanya Arga sedikit kebingungan.


"Tadi tiba-tiba kamu tersenyum Ga...sadar nggak sih Ga? dan lagi ni ya...apa kamu kenal sama cewek cute tadi?" tanya Johan seketika.


"Ya kenalah...dia yang nolong aku pas aku kesrempet mobil Jo..." ucap Arga.


"Ini pertama kalinya Ga...lo di kacangin cewek." Ucap Johan sambil ngeloyor pergi duduk.


"Iya juga sih...begini toh rasanya di abaikan cewek?" gumam hati Arga, lalu berjalan mengikuti Johan dan duduk di bangku sebelahnya.


Dimobil Rendi, Rendi terlihat sesekali melirik putrinya yang tidur karena kekenyangan saat itu, betapa damainya ia, tidak ada kehebohan-kehebohan lagi.


Mobilpun melaju dengan cepat meski berhenti beberapa kali karena lampu di persimpangan menyala merah. Akhirnya sampailah mobil pada halaman luas rumah keluarga Wijaya.


"Ma...bangunin tu si Nindi..." pinta papa Rendi.


"Pah...gendong aja deh..." ucap mama Anin.


"Sayang...lihat-lihat dong...papa encok gimana entar malam?" canda Rendi.


"Idih alasan aja sih ini papa..." jawab mama. Lalu Anin dan Rendi turun dari mobil, mama membuka pintu mobil jok belakang, lalu mengusap-usap pipi halus Nindi beberapa kali.


"Sayang bangun...sudah sampai rumah ini lo nak..." ucap mama Anin.


"Si belel..." gumam Nindi yang samar-samar di dengar oleh Anin.


"Pah...pah...Nindi ngigau nih...si belel itu nama kucing atau apa sih pah? kok sampai segitunya terbawa mimpi." Ucap mama yang hanya di dengar papa seorang.


"Mama saja nggak tahu...apa lagi papa sih mah..." ucap papa Rendi. Lalu sayup-sayup Nindi membuka mata, ia melihat papa dan mamanya berbisik-bisik.

__ADS_1


"Ada apa sih pah? mah? sudah sampi kok nggak langsung masuk saja sih...pakai acara bisik-bisik segala." Ucap Nindi sambil ngeloyor berjalan menuju pintu utama rumah mereka.


"Eeeh...nih anak ya...tuh pah lihat...gemes banget deh mama jadinya." Ucap mama Anin seketika sambil berjalan menuju anak kesayangannya itu. Lalu papa Rendi pun ikut menyusul istri dan putrinya itu dari belakang.


"Mah...pah...selamat malam...Nindi tidur dulu ya...ngantuk banget nih..." ucap Nindi pada keduanya. Lalu Rendi dan istrinya itu pun berlalu menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai atas menyusul anak gadisnya itu.


Akhirnya pagi menjelang. Baru pukul enam pagi saat itu, ketika Nindi menggedor-gedor pintu kamar kedua orang tuanya dari luar.


"Ma....pa...bangun dong...lihat ni Nindi sudah siap loh...mama bangun ma....papa...." teriak Nindi dari luar kamar.


"Sayang apa aku telat hari ini? atau ini mimpi kah? anak gadis kita kenapa sudah teriak-teriak ya sayang?" ucap Rendi gelagapan sambil terduduk seketika dari pelukan istrinya. Karena biasanya putrinya itu selalu bangun terlambat...tapi pagi itu begitu tidak biasanya.


"Iya sayang...." ucap Rendi sedikit teriak agar putrinya itu mendengar. Rendi melihat jam dinding di kamarnya


"Pukuk enam....tumben anak itu." Gumam Rendi sambil menaikkan selimut istrinya yang masih tertidur. Rendi turun dari ranjangnya, ia berjalan menuju pintu kamar.


"Sssst....mamamu masih tidur...sayang...jangan berisik deh...tumben-tumbenan sih...jam segini sudah heboh." Ucap Rendi pada putrinya itu saat baru membuka pintu.


"Lihat pah...Nindi pakai baju ini ya untuk kerja...bagus tidak?" ucap Nindi sambil menunjukkan pakaian yang sudah ia kenakan di depan pintu kamar orang tuanya.


"Pah...siap dong...ini kan hari pertama kerja...jadi ya harus semangat lah pah..." ucap Nindi dengan senangnya.


"Sayang...aduh...cantiknya mama dan papa sudah cantik gini sih..." ucap mama yang menyembul dari belakang papanya.


"Ma...tapi Nindi lupa belum nyalon kemarin ma...gimana dong?" ucapnya lagi.


"Sayang...sudah cantik kok...besok minggu saja ya sayang mama anterin nyalonnya. Kan kamu liburnya hari minggu?" tanya Anin pada putrinya itu.


"Iya sih ma...minggu libur kok ma..." ucap Nindi lagi.


"Ya sudah...tunggu kami di bawah gih...kita sarapan sama-sama sebelum papa sama putrinya ngantor...mama ngantornya di rumah aja deh...nata bunga tuh di taman depan rumah...kemaren baru datang bunga-bunga baru." Ucap mama menerangkan. Lalu Nindipun berjalan sedikit cepat menuju kamarnya kembali, ia akan mengambil tas beserta ponsel dan semua perlengkapannya untuk di bawa ke kantor saat itu.

__ADS_1


"Kapan ketemu si belel lagi ya...andai ia kuliah juga...pasti aku ajakin ngelamar kerja bareng aku deh." Ucap Nindi dalam gumamannya, ia tidak tahu bahwa lelaki yang ia sebut si belel itu adalah Bos dikantornya.


"Eh....ngapain juga ingat si belel...aakkkh..." gumam lirih Nindi sambil memasukkan semuanya ke dalam tas kerjanya yang ukurannya lumayan jumbo, dan tentunya...ber merk terkenal itu.


Tiga puluh menit sudah, Nindi akhirnya keluar kamar, di susul papanya yang sudah rapi dengan setelan baju jas dan juga dasinya, serta mamanya yang berpakaian longgar nan indah itu serasa sangat serasi untuk di kenakan mamanya bersantai.


"Sayang...tolong papa ambilin tas kerja papa dong...di ruang kerja papa ya nak..." ucap Rendi meminta tolong putrinya.


"Iya papa...aku ambilkan dulu kalau begitu..." ucap Nindi yang segera bergegas naik tangga kembali menuju ruang kerja papanya. Sesampainya disana...Nindi membuka pintu ruangan tersebut, dan berjalan masuk menuju meja kerja papanya. Tanpa sadar ia pun melihat selembaran koran hari ini yang terpampang jelas wajah rupawan disana.


"Arga Sanjaya, penguasa bisnis termuda."


Gumam Nindi saat membaca artiket di depan sampul koran tersebut dan sekilas ia mengamati wajah tampan itu.


"Sepertinya pernah melihatnya...dimana ya tapi? ah...ia kan bosnya di perusahaan aku...pastilah ada fotonya disana dong..." ucap gumam Nindi seketika. Sambil Nindi mengingat-ingat namun tidak tembus juga. Kemudian ia berjalan menuju keluar pintu dan menuruni tangga menuju mama papanya berada.


"Ma...kayaknya Nindi kekurangan suplemen otak deh ma...masak mengingat-ingat wajah aja Nindi nggak bisa sih?" canda Nindi asal-asalan saat sampai di dekat kedua orang tuanya berada, kemudian ia menarik kursi di sebelah mamanya itu dan duduk di sana


"Sayangnya mama kenapa lagi sih?" tanya mama sambil memberikan piring yang berisi sarapan itu untuk putrinya.


"Nggak apa-apa sih ma...cuma bercanda aja..." jawab Nindi begitu saja sambil menerima piring yang berisi makanan itu dan meletakkannya di depan mejanya. Kemudian ketiganya melanjutkan makan mereka hingga piring makan mereka terlihat bersih tak bersisa.


"Pah...minta uang saku dong...Nindi lupa...belum ambil di Atm pah..." rengek Nindi pada papanya.


Lalu Rendi pun mengambil dompet yang ada di dalam tas kerjanya, Lalu mengeluarkan lima lembar uang ratusan ribu dan menyerahkannya pada mama Anin, kemudian oleh mama di berikannya pada putrinya itu.


"Makasih mama...makasih papa..." ucap Nindi.


"Nih mama tambahin...kasian kan nanti kalau sayangnya mama kehabisan uang lagi di jalan." Ucap mama Anin sambil menyerahkan uang tiga ratus ribu ke putrinya itu, karena Anin tahu...putrinya bukan tipe boros atau suka menghamburkan uang, ia lebih suka mengeluarkan uang seperlunya saja, bahkan jarang ia memakai kartu Atm tanpa batasnya itu karena ia lebih suka meminta pada kedua orang tuanya saja.


"Terimakasih ya ma...mama memang paling baik sedunia..." ucap Nindi sambil memeluk mamanya dengan erat.

__ADS_1


"Sayang ayo papa anterin di hari pertama kerja nak..." ucap papa menawari putrinya.


"Oke papa...besok Nindi pakai mobil sendiri ya pah..." ucap Nindi yang di angguki oleh papanya.


__ADS_2