
Arga hanya bisa melongo menyaksikan cewek cantik yang berlalu pergi begitu saja dari hadapannya dan mengabaikannya.
"Hey...beraninya ya kamu abaikan pertanyaan aku?" ucap Arga dengan nada kesalnya. Lelaki itu lalu menyusul Nindi.
"Heeey juga...memangnya siapa kamu?" tanya Nindi seketika.
"A...aku hanya ingin tahu saja." Ucap Arga singkat.
"Aku mau beli es teh tarik dulu...kalau kamu masih mau tahu jawaban aku...bawain nih belanjaan aku sama tas ransel aku, berat banget tahu dari tadi." Ucap Nindi sambil menyerahkan semuanya ke atas tangan Arga dan berlalu pergi begitu saja menuju penjual es teh tarik di tepi taman tadi yang ia singgahi. Lagi-lai Arga melongo seketika, ia ingin berteriak saat itu.
"Aaaaakkkkhhh...Arga Sanjaya bernasib membawakan belanjaan cewek nggak jelas!" teriak dalam hati Arga, mungkin saat itu ia ingin mencabik-cabik kulit pohon yang ada disampingnya, namun tidak mampu.
"Noh...sono...cari bangku kosong buat duduk...aku traktir es teh tarik deh." Ucap Nindi saat ia sudah kembali.
"Cih...dikira aku doyan es teh begituan...nggak level tahu." Gerutu Arga sambil dengan patuh ngeloyor begitu saja menuju bangku kosong yang ada di bawah pohon rindang.
"Kalau nggak gara-gara info yang sedang aku cari, nggak mungkin aku menurut begini saja." Ucap dalam hati Arga saat itu. Nindi segera datang menghampiri dan turut duduk di samping Arga dengan belanjaannya tadi.
"Nih buatmu." Ucap nindi sambil menyodorkan satu cup besar es teh tarik susu segar untuk laki-laki di sebelahnya itu.
"Terimakasih...tapi aku tidak minum es begituan." Ucap songong Arga.
"Yakali kamu milih-milih hanya minum es saja!" ucap Nindi seketika.
"Minum ni..." paksa Nindi lagi.
"Kalau kamu nggak minum sekarang...aku akan pergi berlari dengan cepat kilat, karena aku nggak mau di salahkan jika kamu pingsan atau mati kepanasan di sini." Ucap Nindi tiba-tiba.
Lalu membuat Arga pun mengambil es teh tarik kemasan cup itu dan meminumnya, meski dengan keadaan terpaksa.
"Lumayan lah...enak juga." Ucap dalam hati Arga saat itu.
__ADS_1
"Cewek ini...jelas-jelas iQ ku lebih tinggi di atas rata-rata, kenapa bisa di bujuk cewek ini dengan mudahnya sih...?"
gumam dalam hati Arga.
"Kamu beneran mau jawaban aku kenapa aku tidak beli selada di minimarket sekalian tadi?" tanya Nindi.
"Iya.. kenapa?" jawab ketus Arga disana.
"Sebenarnya untuk selada sih lebih miring di pasar...dan karena tadi uangku mepet...makanya aku beli di pasar saja. Kayak begitu. Eh...sudah ya...aku balik dulu...keburu di cari mama aku." Ucap Nindi yang langsung beranjak pergi dari tempatnya duduk. Arga pun hanya bisa menatap punggung belakang gadis itu yang kian menjauh pergi dari pandangan matanya. Arga lalu mengeluarkan telephonenya untuk memanggil pak supir.
"Pak jemput aku di tempat tadi ya." Ucap Arga pada sopirnya.
"Baru kali ini aku bertemu dengan cewek aneh, meski ia terkesan tomboi...tapi hatinya baik, dan...wajahnya lumayan cantik." Ucap dalam hati Arga saat itu yang tanpa ia sadari. Dengan sedikit senyum yang tersungging dibibirnya. Namun lelaki itu segera tersadar saat itu. Sembari satu tangannya menoyor-noyor sendiri kepalanya. Lalu Arga pun beranjak pergi menuju pasar lagi karena Johan temannya masih menunggunya di sana. Setelah urusannya di pasar sudah beres, Arga menuju ke mobilnya yang berada di tempat pertama ia turun tadi.
"Pak mari kita pulang." Ucap Arga.
Lalu pak sopir pun melajukan mobilnya menuju apartemen mewah bosnya,
Arga memilih apartemen dari pada membuat rumah, karena ia lebih suka melakukan apapun sendiri dan tidak ada yang mengganggu. Ia juga cinta kebersihan, meskipun ia sendirian...apartemennya selalu bersih dan rapi, mungkin kebanyakan anak jenius juga seperti itu.
Nindi baru saja masuk rumah dengan lunglainya.
"Papa...mama..." sapa Nindi pada kedua orangtuanya yang sedang asyik duduk di ruang keluarga. Rendi yang terlihat menikmati acara televisi bersama sang istri disana.
"Sayang...kenapa capek sekali sih sepertinya?" tanya mama Anin seketika.
"Ma...gimana nggak capek...seharian muter-muter dari tes kerjaan ke minimarket...terus ke pasar...pulang panas-panasan...naik ojol...uuugh..."
dengus Nindi sambil tidur tengkurap di sofa dekat papa dan mamanya itu.
"Terus...gimana tes nya sayang? lolos wawancara tidak?" tanya papa Rendi pada sang putri.
__ADS_1
"Putri siapa dulu dong pah...lolos lah..." ucap Nindi seketika.
"Sayang...enakan di perusahaan papalah...kenapa mesti di perusahaan lain sih? kamu di plonco disana gimana ntar?" ucap mama Anin pada anak gadisnya.
"Diperusahaan Sanjaya ma...pa...perusahaan yang sama kan besarnya dengan milik papa? mana mungkin diperysahaan elit begitu masih ada pemloncoan sih mah?" ucap Nindi seketika yang membuat Rendi terperanjat karena kagetnya. Rendi kaget...bukan karena mereka saingan...Rendi tidak berpikir demikian...hanya saja...perusahaan Sanjaya itu sangatlah ambisius...Rendi khawatir putrinya keteteran jika kerja disana.
Sesaat mata Anin dan Rendi saling berpandangan, menatap satu sama lain, lalu terlintas senyum di bibir Anin yang lembut sambil tangan wanita itu mengelus dada suaminya. Seketika Rendi pun tahu...bahwa istrinya itu meminta agar ia menyetujui apa yang di lakukan anak gadisnya itu.
"Sayang kamu yakin mau kerja di sana?tidak mau belajar di kantor papa? kamu lo nanti yang akan mewarisinya." Ucap papa Rendi.
"Tuh kan ma...papa mulai lagi...papa masih muda dan sehat...kenapa sih harus mikirnya kejauhan gitu?" ucap Nindi dengan sewotnya.
"Iya sayang, kalau kamu sudah puas ke terima kerja di sana..mama dan papa selalu dukung kok...tapi...jangan sekali-kali memperlihatkan siapa dirimu sebenarnya, apa lagi keluarga Wijaya ya sayang...itu untuk kebaikanmu saja." Ucap papa Rendi begitu saja. Dan Nindi langsung mengerti dengan anggukannya.
"Nah...gitu dong, kan papaku yang super duper baik..." ucap Nindi lalu beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya.
"Sayang...habis mandi cepat ke meja makan ya...kita makan sama-sama..." ucap mama Anin dan di sahut oleh anak gadisnya. "Oke-oke." Jawab Nindi.
"Anak gadis kita tu yang...bandel kalau dikasih tahu...suka ngeyel..." ucap Rendi.
"Loh pah...bukanya itu kamu ya yang selalu seperti itu?" balas Anin pada suaminya, dan seketika...Rendi mendekatkan wajahnya pada telinga sang istri.
"Sayang...sepertinya...Nindi pingin punya adek tu...kamu nggak kasihan...dia sampai bosan kayak tadi." Bisik lirih Rendi tepat ditelinga istrinya.
"Hmmz...kayaknya setiap malam juga selalu buat deh pah...sudah ah...nggak pake alasan lagi." Kata Anin seketika dan bangkit dari duduknya, ia menuju meja makan dan Rendi yang masih mematung di sofa itu pun hanya bisa tersenyum membalas perkataan istrinya barusan, karena memang benar kenyataannya seperti itu.
Nindi keluar dari kamarnya dan menuju meja makan, ia terlihat tampak segar...sangat segar...tepatnya setelah usai mandi dan juga berganti pakaian,
di meja makan terlihat mama Anin dan juga papa Rendi sudah menungguinya disana.
"Ma...menunya apa siang ini?" tanya Nindi pada mamanya.
__ADS_1
"Ayam bakar, ikan bakar, dan juga goreng udang." Sahut Anin pada puteriny, lalu Nindi pun bergegas mengambil piring dan mengambil nasi serta ayam bakar dengan sambal dan daun selada tadi yang ia beli. Terlihat bi Ana datang membawakan jus jeruk se teko besar untuk diletakkan di meja makan.
"Hemmmzzz...siang-siang yang panas seperti ini bibi memang sangat pengertian ya..." kata Nindi seketika yang di sambut bibi dengan senyum merekah bahagianya.