
Di sudut ruang ganti pakaian, Ifa terduduk di pojok ruangan, Pikiranya tidak karuan, Tidak seperti wanita kebanyakan yang begitu bahagia dan mendambakan berada di posisinya saat ini, Ia malah merasa serba salah...
Ifa tidak seperti Anin dahulu, Anin begitu percaya diri dengan dirinya, Karena berawal dari kesepakatan dengan Rendi, Yang ada malah saling menguntungkan satu sama lain di benak keduanya, Hingga tanpa terasa perasaan cemburu mulai ada dan perasaan cinta mulai tumbuh dengan sendirinya pada keduanya.
Sedangkan situasi dan kondisi ifa dan Aditya saat ini...keduanya atas dasar saling suka dan mementingkan perasaan orang yang di cintainya di atas sikap egoisnya, Apalagi ifa...yang baru pertama mencintai Aditya dengan tulus. Dan Aditya pun sama tulusnya, Hingga ia ingin secepatnya menjadi pelindung halal baginya.
"Tok tok tok", Suara ketokan ringan dari luar pintu ruang ganti.
"Sayang...kamu sudah begitu lama di dalam...apa kamu baik baik saja? atau aku masuk?" Tanya Aditya yang ternyata begitu menghawatirkan calon istrinya tersebut.
"Aaah...aku nggak apa apa bby...aku baik baik saja,"
Ucap ifa segera yang membuat Aditya lega mendengarnya, Suara sahutan yang begitu menyejukan Aditya dengar.
Lalu ifa pun kemudian keluar dari ruang ganti, Ia menghampiri Aditya yang tengah duduk di sofa ruang tunggu butik.
"Maaf ya...lama nungguinya...ini aku udah dapat..." Ucap ifa sambil memperlihatkan gaun panjang merah marun dengan kerudung gold yang ia pilih untuk menghadiri acara nanti malam.
"Bby...aku mau bicara sama kamu dengan sedikit pribadi...ayo cari tempat..." Ucap Ifa yang terus terang, Baginya berterus terang adalah kunci kelangsungan hubungan keduanya kelak. Ifa tidak ingin ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Maupun di hati Aditya padanya.
Aditya pun langsung mengiyakan apa yang di inginkan calon istrinya tersebut, Dimana hatinya sedang tidak karuan...Aditya terlalu berpikir macam macam...dan ia takut ifa berpikiran sama denganya. Lalu ifa pun berpamitan pada pemilik butik sekaligus bos di tempatnya kerja tersebut.
Hingga sampailah keduanya di sebuah cafe terbuka yang berada di tempat paling tinggi, Dimana keduanya bisa menatap ke segala arah dengan di temani hembusan angin sore, Sejuk dan membuat hati nyaman disana.
__ADS_1
Aditya sengaja memilih tempat tersebut untuk berduaan dengan ifa, Aditya paham bahwa ifa tidak se tegar yang ia lihat, Memang benar kenyataanya seperti apa yang di ucapkan almarhumah ibu ifa dahulu sebelum ia pergi.
Hingga datanglah pesanan keduanya yang di antar oleh petugas cafe, Aditya memesan lime citrus soda, Karena Aditya tergolong penikmat soda. Sedangkan ifa memesan strawberry smoothie. Untuk cemilanya keduanya sepakat memilih jamur enoki goreng crispy dan kentang goreng.
"Baiklah sayang...kamu mau bicara apa? jangan buat hatiku tak karuan seperti ini." Ucap tegas Aditya disana.
"Bby...jujur...kamu beneran mau ngajak aku ke acara keluarga seperti itu...dengan memperkenalkanku sebagai calon istri?" Tanya ifa yang sesaat membuat Aditya menatap tajam ke arahnya.
"Kenapa? ada masalah?" Tanya Aditya yang terlalu singkat dan datar seperti biasanya, Hingga membuat perasaan ifa sedikit tidak enak di buatnya. Ifa terdiam untuk beberapa saat.
"Kita bersama sama bukan hanya sekali ataupun dua kali untuk menghadiri acara resmi...kenapa kamu berkata begitu saat aku ingin sungguh sungguh semua tahu kamu adalah calon istriku? kenapa kamu seperti tertekan saat aku bicara seperti ini? kamu tidak suka?" Tanya Aditya dengan nada sedikit meninggi. Dan dengan mata berkaca kaca ifa menatap ke arahnya, Air matanya sudah berkumpul disana, Ia takut karena mendengar suara Aditya yang dulu ia dengar kembali kini.
"Aaah...maaf...bukan maksud aku membentakmu sayang..."
"Andai waktu bisa berhenti sebentar saja...ingin sekali aku memelukmu saat ini." Ucap dalam hati Aditya. Karena saat ini ia tidak bisa berbuat apa apa kecuali maaf.
"Nggak apa apa...aku hanya khawatir jika ada kata kata yang menyakitimu kelak setelah kau beritahu semuanya bahwa aku calon istrimu bby..." Ucap ifa dengan menyunggingkan senyumnya untuk menutupi kesedihanya.
"Aku akan ambil konsekuensi apapun demi kamu!" Ucap Aditya yang membuat lega hati ifa, Dan sesaat senyum tulus yang anggun tergambar di wajahnya.
Malam mulai tiba saat kediaman Rendi Wijaya terlihat begitu indah dengan tiga lilin besar yang tertata di atas meja makan panjangnya. Ditambah bunga mawar yang terangkai indah di sekelilingnya, Dengan hidangan hidangan mewah yang tersusun di piring piring saji atas meja makanya.
"Nindi....kamu malah tidur...yang lain pada sibuk sayang...."
__ADS_1
Ucap Anin dengan sedikit teriakanya saat mengecek kamar putrinya dan ternyata Nindi malah tiduran di atas ranjangnya.
"Mama...bukankah itu tamu papa...rekan kerja papa...ngapain aku ikut ikutan...aku disini aja ma..." Ucap Nindi dengan polosnya. Dan tangan yang menarik selimut menutupi tubuhnya.
"Ini acara kamu juga sayang...ayo bangun...cepet mandi...pakai gaun yang kita beli kemaren...awas kalau sampai nggak!!" Kata Anin dengan dengusan kesalnya, Ditambah kedua tangan yang menarik paksa selimut putrinya.
"Haaah...mama...jangan jangan...mama dan papa mau jodohin aku sama rekan bisnis papa ya ma? apa kantor papa lagi sekacau itu? Nindi lihat di drama, Sering seperti itu ma...kalian tega ngianatin Arga? Nggak ma...Nindi nggak mau...mama sama papa aja yang nemuin mereka..." Ucap Nindi dengan nada kagetnya. Dan membuat Anin menyunggingkan senyum geli di buatnya, Karena racun drama sudah menjangkit otak putrinya tersebut.
"Mama nggak mau tahu...setengah jam lagi...kamu harus sudah siap...kalau nggak...mama ungsiin kamu ke luar Negeri." Ancam Anin dengan sadisnya. Dan Nindi paling anti luar negeri...dimana perutnya turunan dari Anin dan almarhum kakeknya, Nindi tidak bisa mencerna makanan dari luar. Dengan bantingan pintu kamar Nindi, Anin meninggalkan Nindi sendirian di dalam kamarnya.
Dengan cepat...Nindi mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Arga, Bahkan saat itu...Arga sudah berada di tempat parkir apartemenya, Disana terlihat pula Aditya dengan ifa yang sudah menantinya.
"Iya sayang ada apa? kamu kenapa? nangis? ada apa?" Tanya Arga dengan sedikit bingung bercampur khawatir saat mendengar Nindi terisak isak.
"Ga...cepat kesini culik aku...bawa aku kabur dari rumah ga...di rumah sedang kacau...aku mau kawin lari sama kamu aja ga...aku nggak mau nikah sama selain kamu...kamu percaya kan?" Ucap Nindi dengan begonya, Dan entah mengapa Arga malah ingin tertawa disana.
Arga tahu...ternyata belum ada yang memberitahu Nindi perihal kedatanganya.
"Baiklah...aku jemput...aku culik sesuai keinginan kamu...setengah jam lagi aku sampai...capat siap siap pakai pakaian yang cantik...aku tak ingin menculikmu kalau kamu tidak cantik!" Ucap Arga dengan tawa yang ia tahan. Lalu tawanya pecah saat telephone itu sudah di matikanya.
"Kau...ketawa seperti orang gila kenapa ga?" Tanya Aditya yang sudah hampir masuk kedalam mobilnya, Aditya memilih membawa mobil sendiri, Dan Arga pun sama.
Di temani dua mobil lagi yang berisi tiga orang di tiap tiap mobilnya, Orang orang tersebut sengaja Arga suruh untuk membawa barang barang ke rumah Nindi.
__ADS_1
"Aaah...sudah lah kak...aku mau nyulik princess sekarang kakak...ayo kita berangkat...!" Ucap Arga setelah tawanya berhenti.